NovelToon NovelToon
SELIR DI DALAM TUBUH NAYA

SELIR DI DALAM TUBUH NAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dide_Lara

Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*

lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.

Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.

*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

. AYAH NAYA MASIH HIDUP

Diam. Hening. Puri dan Alex menatap mataku dengan tatapan iba.

"Ada apa dengan kalian? Aku baik-baik saja. Entah sedih, senang, atau kecewa, aku tidak peduli pada ayahku. Orang tua yang tega membuang anaknya sendiri di panti asuhan," ucapku.

"Naya, apa kau yakin?" tanya Puri dan Alex bersamaan.

Aku mengangguk. "Sudahlah. Besok kita selesaikan lagi pencarian bukti tentang Hans. Jangan lupa, Lex, masukkan penyadap suara itu ke dalam dompet Mely."

Alex mengangguk dan kami semua pergi beristirahat.

Angin malam mulai berhembus. Suasana hening, hanya terdengar suara napas dan detik jam. Tidak ada aktivitas sama sekali.

Aku gelisah, tidak bisa memejamkan mata. Aku duduk terbangun.

Kreeek... suara pintu kamar dibuka. Aku menghampiri Choco, anjing coklat yang kubawa saat ke perumahan Hans.

Aku berbisik pada Choco, "Choco, ayo kita jalan-jalan ke taman." Sambil memakaikan kalung pada Choco.

Kreeek... suara pintu rumah terbuka. Ceklek... pintu kututup.

Cuaca malam ini terasa dingin. Butiran salju kecil berjatuhan, membuat suasana hatiku sedikit lega. Aku berjalan sambil menadahkan tangan. Hhhh... napasku berasap.

"Apa peduliku jika memang ayah Naya masih hidup? Dari dulu aku sudah hidup tanpa ayah. Ayah seperti apa dia sampai tega membuang putrinya sendiri?" Aku menendang kaleng kosong dan mengenai kepala seorang pria.

"Auuuch!" Pria itu mencari asal kaleng yang mengenai keningnya.

"Kauuuu!" Dia datang dengan emosi.

"Apa?" Aku menyolot dengan badan mungilku. _Tunggu, dia bukannya pria yang hampir mencuri Choco?_ batinku.

"Kau yang ingin mencuri Choco dariku, kan?"

"Aku mencuri anjingmu? Hah?" Dia memegang dada dengan tangan kanan. "Kamu harusnya berterima kasih padaku. Kalau bukan karena aku, anjingmu sudah hilang."

"Terserah, mana ada maling ngaku," timpalku sambil berjalan. Tali Choco lepas dari genggamanku dan Choco langsung berlari. Tiba-tiba sebuah mobil datang mengejutkanku, membuatku hampir terjatuh.

Aku ditangkap oleh pria yang kutuduh mencuri anjing dan terkena kaleng hasil tendanganku. Kami saling tatap.

"Lepaskan aku, dasar mesum!" Aku mendorongnya dan langsung berlari.

Pria itu mengernyitkan dahi. "Bodoh. Untuk apa aku menolongnya? Biarkan saja dia tertabrak mobil."

Aku kembali ke rumah setelah membawa Choco jalan-jalan. Suasana hatiku sudah mulai membaik. Waktunya beristirahat untuk rencana esok.

Kreeek... pintu dibuka. Greeek... pintu ditutup.

"Choco, kamu istirahat ya. Aku juga akan istirahat, badan ini cukup lelah." Aku berjalan menuju kamar.

Malam telah berlalu. Suara burung bernyanyi, angin berhembus lembut. Seperti biasa, cahaya matahari menusuk mata.

Puri sudah terbangun lebih dulu, tidak ada di sebelahku. Kreeek... pintu kubuka. Aku berjalan dengan rambut berantakan menuju meja makan dan mengambil air minum.

"Naya, kamu sudah bangun? Aku dan Alex akan siap-siap pergi kerja. Makan dulu makananmu," perintah Puri.

Aku mengangguk.

"Oh iya, Alex, kamu tidak lupa kan tugasmu?" _Meletakkan penyadap suara di dompet Mely._

Alex mengacungkan jempol. "Aman, Naya."

"Kalian hati-hati, jangan terlalu mencolok," perintahku pada Puri dan Alex.

"Oke," jawab Puri dan Alex seraya keluar rumah.

Aku kembali ke meja dan mengambil laptop. Di layar, masih terbuka beberapa dokumen yang sebelumnya kami kumpulkan dari flashdisk pemberian Alea dan foto dokumen artis-artis yang terlibat.

Ada sesuatu yang mengganjal pikiranku sejak tadi. Informasi yang kami temukan terlalu berisiko untuk diabaikan, tetapi aku juga tidak ingin bertindak gegabah.

Tiba-tiba, ponselku bergetar.

Brrr... Brrr... Alex menelepon.

Aku segera meraihnya dan mengangkatnya.

"Naya, aku kesulitan memasukkan benda kecil ini ke dalam dompet Mery. Dari tadi tasnya selalu dipegang oleh asistennya," ucap Alex.

"Jangan buru-buru, Lex. Tunggu mereka lengah. Jika tidak berhasil hari ini, kita pakai cara lain."

"Baiklah." Alex mematikan telepon.

Tiba-tiba suara pintu diketuk.

Tok... tok... tok...

Aku membeku.

"Siapa?" tanyaku.

Tidak ada jawaban. Ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih keras.

TOK... TOK... TOK...

Aku melangkah perlahan mendekati pintu. Aku menahan napas. Seseorang di luar sana tahu bahwa aku sedang berada di rumah.

Dan yang lebih menakutkan... mungkin seseorang itu sedang berdiri tepat di balik pintu. Aku perlahan mendekati pintu dan mengintip dari jendela.

Seorang pria berbadan tinggi, memakai kacamata, berpenampilan rapi. Memakai jas, wajahnya terlihat sekitar umur 50-an.

Kreeek... pintu kubuka.

"Paman siapa?"

"Apakah aku boleh masuk? Ada yang ingin aku sampaikan," ucap pria berkacamata itu.

"Silakan."

Aku langsung membereskan semua bukti yang ada di meja dan menyuruhnya duduk. Aku tidak memberinya air minum atau menawarinya minum, aku tidak ramah dengan orang yang belum kukenal.

"Naya, kenalkan, aku Frans," katanya seraya memberi kartu nama. "Aku kemari atas perintah Alea. Alea menyuruhku membantumu. Kau tidak mengenal Hans, Naya."

"Pengacara?"

"Aku mengenal ayahmu, Naya," ucap Pak Frans.

Aku terdiam. Kartu nama yang sejak tadi berada di tanganku perlahan kuturunkan. Nama Frans Wijaya - Pengacara tercetak jelas di atas kertas putih itu.

Aku menatap wajahnya, mencoba mencari jawaban dari sorot matanya.

"Ayahku?" tanyaku pelan.

"Ya, Naya. Aku mengenal ayahmu jauh sebelum kamu lahir."

Jantungku berdegup lebih cepat.

"Kalau Bapak mengenal ayahku, kenapa baru sekarang datang? Kenapa selama ini aku tidak pernah mendengar apa pun tentang dia?"

Pak Frans terdiam sejenak. Ia meletakkan sebuah map cokelat di atas meja, tetapi belum membukanya.

"Karena ada hal-hal yang sengaja disembunyikan darimu."

"Disembunyikan? Oleh siapa?"

Pak Frans menatapku dengan serius.

"Sejujurnya, aku tidak tahu harus mulai dari mana. Alea memintaku membantumu karena dia khawatir keselamatanmu. Dan setelah melihat apa yang terjadi beberapa hari terakhir, aku rasa kamu berhak mengetahui kebenarannya."

"Pak, tolong jangan berputar-putar. Aku sudah terlalu lama hidup tanpa tahu siapa keluargaku."

Ia menghela napas, lalu membuka map yang dibawanya.

Bersambung...

1
Rosdianah 🌷
revisi kak, pelayan ku.
Nurull Sef Az: oke ka makasih
ya ka
total 1 replies
Nurull Sef Az
plotwis banget
muhammad fikriaz
suka sama alur ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!