NovelToon NovelToon
SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA


Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.

Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.

Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Cuaca siang itu terasa sangat panas dan menyengat kulit.

Halaman Kos Putra Putri Melati tampak cukup sepi karena sebagian besar penghuninya sedang beraktivitas di luar.

Di teras depan, hanya ada Maya yang sedang mengetik tugas di laptopnya.

Sementara itu, Rina duduk di kursi kayu sambil menyuapi Dimas kecil yang baru sembuh dari demam.

Suasana tenang itu tiba-tiba pecah oleh suara deru mesin motor yang sangat memekakkan telinga.

Brummm! Brummm!

Sebuah motor bebek dengan knalpot modifikasi berhenti tepat di depan gerbang kontrakan.

Dua orang pria berbadan gempal dengan wajah sangar turun dari motor tersebut.

Pria yang berjalan di depan memakai jaket kulit hitam dan memiliki tato naga di lehernya.

Pria itu adalah Bang Jali, preman pasar yang paling sering memeras warga sekitar.

Di belakangnya mengekor seorang anak buah berambut gondrong yang membawa tongkat kayu.

Bang Jali melangkah masuk ke area halaman kontrakan dengan gaya yang sangat sombong.

Ia sengaja menendang kaleng cat kosong yang ada di tanah hingga membentur tembok.

Trang!

"Selamat siang para penghuni kos yang budiman!" teriak Bang Jali dengan suara seraknya.

Maya langsung terperanjat kaget dan refleks menutup layar laptopnya.

Rina yang ketakutan segera menggendong Dimas kecil dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya.

"A-ada keperluan apa ya, Bang?" tanya Maya dengan suara bergetar pelan.

"Seperti biasa, ini sudah masuk awal bulan."

"Waktunya kalian bayar uang keamanan lingkungan biar hidup kalian tenang," jawab Bang Jali sambil tersenyum licik.

"Satu kamar lima puluh ribu, cepat kumpulkan sekarang juga!" bentak anak buah yang berambut gondrong.

Rina menelan ludah dengan susah payah mendengar nominal tersebut.

"Bang, saya benar-benar tidak punya uang lagi bulan ini."

"Uang saya sudah habis untuk berobat anak saya kemarin," mohon Rina memelas.

"Alasan saja kamu, janda miskin!"

"Kalau tidak bisa bayar, serahkan saja cincin kawin di jarimu itu!" ancam Bang Jali melotot.

"Tolong jangan Bang, ini satu-satunya peninggalan almarhum suami saya."

Rina menyembunyikan tangannya ke belakang punggung sambil menangis tertahan.

"Lalu kamu, anak kuliahan!"

"Cepat bayar atau laptopmu itu aku bawa sebagai jaminan!" Bang Jali kini beralih menunjuk Maya.

Maya mundur selangkah dengan wajah pucat pasi.

"S-saya belum dapat kiriman dari kampung, Bang."

"Tolong beri kami waktu beberapa hari lagi," ucap Maya ketakutan.

Di dalam kamar nomor satu, Rahman Affandi sedang asyik menghitung uang koin dari bisnis mesin cucinya.

Telinganya yang tajam mendengar semua keributan di luar dengan sangat jelas.

"Preman-preman pasar itu datang lagi rupanya."

"Biarkan sajalah, bukan urusanku kalau penyewa harus kehilangan uang mereka," gumam Rahman tidak peduli.

Baginya, selama para preman itu tidak meminta uang kepadanya, ia tidak akan pernah mau ikut campur.

Ia baru saja akan memasukkan koin-koin itu ke dalam kantong plastik ketika suara dengingan muncul.

Ting!

[Sistem mendeteksi ancaman keamanan terhadap para penyewa.]

[Misi Utama Harian: Lindungi para penyewa dari pemerasan preman.]

[Syarat Khusus: Selesaikan masalah tanpa membayar uang sepeser pun dan tanpa adu fisik.]

[Hadiah: Tambahan umur 5 hari dan Skill Pasif Aura Tuan Tanah.]

[Kegagalan: Pengurangan umur 5 hari dan penyitaan 50 persen uang di dalam brankas.]

Mata Rahman langsung membelalak lebar melihat ancaman kegagalan di layar biru itu.

"Sita separuh uang brankas?!"

"Sistem siluman ini benar-benar tahu titik kelemahanku yang paling fatal!" rutuk Rahman panik.

Ia tidak bisa diam saja jika separuh harta pensiunannya terancam lenyap.

Dengan langkah tergesa-gesa, Rahman segera membuka pintu kamarnya.

Ceklek.

"Hei, preman-preman tengik!"

"Berani-beraninya kalian membuat keributan di tanah kekuasaanku!" teriak Rahman dengan suara baritonnya yang menggema.

Semua orang di halaman langsung menoleh ke arah sumber suara.

Bang Jali tersenyum meremehkan melihat bapak kos tua itu keluar dari sarangnya.

"Oh, ada Pak Rahman si tuan tanah pelit rupanya."

"Baguslah bapak keluar, sekalian bapak bayar jatah keamanan untuk bangunan bapak ini," tantang Bang Jali.

Rahman berjalan mendekati Bang Jali dengan kedua tangan dilipat di belakang punggung.

Tubuhnya yang kembali bugar berkat sistem membuatnya bisa berdiri tegak tanpa terlihat gemetar sedikit pun.

"Bayar uang keamanan padamu?"

"Kau pikir kau ini siapa berani menagih pajak di tanah milikku?" balas Rahman dingin.

"Saya ini penguasa wilayah sini, Pak Tua!"

"Kalau bapak tidak mau bayar, saya bisa suruh anak buah saya merusak kontrakan bapak setiap malam."

Bang Jali menepuk dadanya sendiri dengan bangga.

"Coba saja kalau berani."

"Tapi sebelum kau merusak apa pun, aku tanya padamu, kau mau merampas uang dari janda dan anak kuliahan ini?" Rahman menunjuk Rina dan Maya bergantian.

"Tentu saja, mereka tinggal di wilayahku jadi mereka harus bayar!" jawab Bang Jali ngotot.

Rahman tiba-tiba tertawa keras, tawa sarkas yang membuat bulu kuduk Maya sedikit merinding.

"Hahahaha, kau ini preman tapi bodohnya tidak ketulungan."

"Apa bapak bilang?!" Bang Jali langsung mengepalkan tangannya marah.

"Kau pikir mereka punya uang lima puluh ribu untuk memberimu makan?"

"Dengar baik-baik, anak janda ini berhutang jutaan padaku untuk biaya sewa mesin medis."

"Mahasiswi ini juga menunggak uang air dan listrik selama berminggu-minggu padaku."

1
REY ASMODEUS
sistemnya pelit kasih hadiahnya bisa gini thor : 1 . peremajaan kulit
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.

ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...
REY ASMODEUS
lanjutkan........ pilih nomor 2..... 🤣🤣🤣
Nissa Safira: SIAP KAK! Nomor 2 emang paling memuaskan 🤣🤣
Lanjut ya kak, besok Budi bangun lihat gepokan duit di bantal + surat "jangan mabuk lagi atau sewa naik 3x lipat" pasti nangis kejer peluk kaki Rahman.
Makasih kak udah pilih nomor 2! malam ini saya lanjutin lagi misi renovasi kamar mandi gratisnya 🤣🤣😁🙏
total 1 replies
REY ASMODEUS
saya akan lawan,,, hidup rahman💪💪💪💪💪
REY ASMODEUS
siap tuan takur 🤣🤣
Nissa Safira: Siap! Bagus. Karena kamu siap, uang sewa komen naik 100rb ya. Bayar pake love & bintang 5. Jangan lupa setoran! 🤣🤣
total 1 replies
REY ASMODEUS
rasain loe tuan takarrrr🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: Rasain emang kak 😂 50rb aja pelitnya minta ampun, giliran sisa umur 7 hari baru panik. Tungguin kak bakal nangis tuh si rahman 🤣🙏
total 1 replies
Diana Lely
semangat thor
Nissa Safira: Semangat juga buat kakak! 🔥🔥
Makasih banyak kak udah mampir di kos pelitnya Pak Rahman🥰
Doain Rahman biar gak jantungan lagi pas disuruh sedekah🤣🤣
total 1 replies
xebeck D ron
Yoo novel baru
Nissa Safira: Hallo kak 🤣🔥 Iya kak novel baru😂
Selamat datang di kos-kosan dan kontrakan paling pelit se-Indonesia
Kenalin kak, ini Rahman 68 tahun bapak kos paling perhitungan, surga neraka baginya cuma soal uang sewa🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!