NovelToon NovelToon
14 Days

14 Days

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: justjeha

Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.

Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.

Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Say Love

Day 4

Ara berlari menuju kelas karena hampir saja lupa kalau siang ini masih ada kuliah. Setelah semalaman menulis tentang Bara di buku hariannya, ia kembali bangun kesiangan karena tumben sekali tidak ada yang membangunkannya hari ini.

Orang tuanya ternyata sudah berangkat kerja sejak pagi, sementara Biru kebetulan sedang ada kuliah pagi.

Begitu sampai di depan kelas, Ara langsung melihat Sora yang sedang duduk santai di bangkunya.

"Ra, lo ngapain lari-lari? Dosen kita tercinta cuma ngasih tugas, kok. Beliau nggak masuk kelas."

Ara hanya bisa mengumpat dalam hati sambil mengatur napasnya.

Gue udah lari-lari kayak orang kesurupan, ternyata dosennya nggak masuk?

Ia kemudian berjalan menuju bangku yang masih kosong di sebelah Sora dan menjatuhkan tubuhnya di sana.

"Astaga! Capek gue lari-lari ke kampus, tapi ternyata kosong. Waktu lagi semangat kuliah, dosennya nggak masuk. Waktu lagi nggak mood, eh malah masuk. Tugasnya apaan, emang?"

"Tugas kelompok berdua. Tugasnya nyari data di lapangan."

Sora tersenyum penuh kemenangan.

"Lo gue jadiin sekelompok sama Bara. Kurang baik apa coba gue?"

"Hah?!"

Ara langsung menoleh.

"Nggak usah kaget gitu. Gue tahu di dalam hati lo pasti ngerasa senang."

Jujur, iya. Tapi karena kejadian kemarin, rasanya jadi canggung. Padahal waktu gue di sini juga nggak banyak.

"Nggak usah kelamaan ngelamun. Samperin tuh si Bara di bangku belakang. Itu anak diem mulu dari tadi."

Ara menoleh ke belakang.

Benar saja. Bara hanya duduk sambil menopangkan wajahnya di atas tangan. Tatapannya kosong, seolah sedang melamun memikirkan sesuatu.

Dengan hati-hati, Ara berjalan mendekat. Ia menggeser kursi di samping Bara, lalu duduk di sana.

Tanpa banyak berpikir, Ara menepuk punggung Bara. Bara yang semula tertidur langsung terbangun. Ia menoleh dan memberikan senyuman kecil kepada Ara.

"Baru datang, Ra? Kelasnya kosong, tapi."

"Iya, tahu. Lo sekelompok sama gue, kan?"

"Hm."

Senyum Bara perlahan menghilang.

"Lo nggak suka kalau sekelompok sama gue? Kalau mau ganti partner juga silakan. Gue nggak masalah."

Raut wajah Ara yang tadinya masih sumringah seketika berubah datar. Ia benar-benar heran kenapa Bara selalu berpikiran negatif seperti itu. Ara bahkan sudah lelah terus menangisi lelaki bodoh di hadapannya ini.

"Bara, jangan mulai lagi. Kayaknya kita perlu bicara berdua."

Ara berdiri.

"Sekarang kita ke atap. Nggak enak kalau bicara di sini."

Tanpa menunggu jawaban, Ara langsung menarik tangan Bara dan membawanya pergi, meninggalkan teman-temannya yang hanya bisa menatap mereka dengan tatapan heran.

Bara hanya bisa pasrah ketika dirinya ditarik Ara menuju tempat yang biasa ia gunakan untuk menyendiri. Atap kampus.

Sesampainya di sana, Ara langsung berbalik menghadap Bara. Tanpa ragu, ia menangkupkan kedua tangannya di wajah Bara dan menatap lekat lelaki di hadapannya itu.

"Berhenti berpikiran negatif sama gue, bisa nggak?"

Bara hanya diam.

"Kenapa lo selalu bilang kalau gue benci sama lo? Emang lo bisa baca perasaan gue?"

Ara menghela napas.

"Lo juga udah janji mau nemenin gue dan nurutin kemauan gue sebelum gue pergi. Artinya, lo harus selalu nempel sama gue, Bara."

"Maafin gue, Ra."

Bara menundukkan kepalanya.

"Gue kira lo bener-bener makin benci sama gue. Apalagi kemarin lo nangis setelah gue pergi. Gue ngira lo marah sama gue."

Ara langsung terdiam.

"Hah? Lo tahu gue nangis?"

"Iya."

Bara menatapnya.

"Lo beneran nangis karena gue?"

"Nangis karena lo?"

Ara mendengus, berusaha menyembunyikan kegugupannya.

"Dih, kok lo kepedean banget, sih? Orang gue kemarin cuma kelilipan sampai mata gue berair. Ya udah, gue nangis aja sekalian."

Bara mengernyit.

"Terus kok sampai mukul-mukul dada lo segala?"

"Oh, itu nggak sengaja keselek pas minum. Ya udah, sekalian aja. Nanggung."

"Bener?"

"Iya."

Ara memalingkan wajahnya.

"Gue cuma pengin memperbaiki hubungan sama lo sebelum gue pergi. Jadi tolong, jangan rusak suasananya. Gue nggak mau punya kenangan buruk sama lo."

Bara terdiam beberapa saat.

"Oke."

Suaranya terdengar lebih lembut.

"Sekali lagi, maafin gue. Gue bakal berusaha nggak bikin mood lo jelek lagi. Gue janji."

Tanpa berpikir panjang, Bara menarik Ara ke dalam pelukannya. Ara sempat terkejut, tetapi tidak menolak. Justru kedua tangannya perlahan melingkar di pinggang Bara dan membalas pelukan itu dengan erat.

Pelukan hangat yang selama ini hanya bisa Ara bayangkan. Pelukan dari lelaki bodoh bernama Bara yang ternyata sangat dicintainya.

Untuk sesaat, Ara hanya ingin waktu berhenti. Ia ingin tetap berada di sana, dalam pelukan Bara, tanpa harus memikirkan hari keempat belas. Tanpa harus mengingat bahwa waktu mereka tidak akan pernah benar-benar cukup.

"Oh, jadi ini tempat kalian lagi pacaran?"

Suara seseorang tiba-tiba terdengar dari belakang.

Ara dan Bara sontak menoleh.

"Gila, ya, Ra! Jadi selama ini lo udah pacaran diam-diam di belakang kita? Sama si Bara?"

Ara langsung melepaskan pelukannya. Ia menatap Yuvin yang datang bersama Yohan dan Sora dengan wajah panik. Kemudian, pandangannya beralih kepada Sora yang terlihat berusaha menghindari tatapan tajamnya.

Bara juga tidak kalah terkejut. Lelaki itu bahkan terlihat salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa.

"Lo pada kenapa sih kayak nggak suka sama Bara?"

Ara akhirnya angkat bicara.

"Dia juga teman kalian! Teman sekelas! Sekali-kali ajak dia ngobrol, makan bareng, atau apa kek. Bukannya malah dijauhin."

"Kan dia selalu jahatin lo, Ra. Lo lupa?"

"Itu semua udah jadi masa lalu buat gue, Yohan."

Ara menatap mereka satu per satu.

"Ingat, udah jadi masa lalu. Sekarang dia juga udah mau berubah. Apa salahnya kalau gue kasih dia kesempatan?"

"Ya, tapi-"

"Coba kalau gue balik, Han."

Ara memotong perkataan Yohan.

"Lo yang jadi Bara. Lo nggak bisa nyari teman, lo sendirian, lo dijauhin, lo kesepian, dan lo cuma bisa ngusilin teman lo karena cuma itu cara lo buat berteman. Gimana?"

Ara melipat kedua tangannya di depan dada.

"Sanggup?"

Yohan dan Yuvin sontak menggeleng sambil menundukkan kepala. Selama ini mereka memang sering mendiskriminasi Bara di kelas. Mereka menganggap Bara sebagai anak nakal yang sering absen dan hanya suka membuat masalah. Tanpa pernah benar-benar mencoba mengenalnya.

"Ara, udah."

Bara akhirnya angkat bicara.

"Nggak usah lo terusin. Gue juga udah terbiasa."

"Nggak bisa, Bara."

Ara menggeleng.

"Guys, sekarang minta maaf sama Bara."

Yohan dan Yuvin saling berpandangan.

"Terus kalian juga harus jadi teman dia mulai sekarang. Oke?"

Mereka bertiga akhirnya mengangguk. Tanpa aba-aba, Yohan, Yuvin, dan Sora langsung memeluk Bara bersama-sama. Persis seperti Teletubbies yang sedang berpelukan.

Bara hanya bisa membeku. Entah harus tertawa atau menangis. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tidak pernah ia sangka akan ia rasakan.

Selama ini ia selalu berpikir bahwa dirinya akan terus sendirian sampai akhir hidupnya. Namun, hari ini, untuk pertama kalinya, ada orang-orang yang bersedia menerimanya. Dan semuanya berkat Ara.

"Makasih, Ra."

Ara hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia senang melihat teman-temannya akhirnya mau membuka hati kepada Bara.

"Jadi..."

Yuvin menyipitkan matanya.

"Kalian pacaran?"

Ara langsung menoleh.

"Hah?"

Ia menatap Sora, lalu Yohan dan Yuvin.

"Gue nggak tahu, Vin. Tanya aja sama si Bara."

"Bara, emang lo sama Ara pacaran?"

Yohan langsung ikut bertanya.

"Sejak kapan? Kalau nggak pacaran, kalian nggak mungkin peluk-pelukan di tempat sepi kayak gini."

Bara hanya tersenyum.

"Hm. Kalian setuju kalau gue sama Ara ada hubungan?"

"Setujuuuu!"

Mereka bertiga menjawab serempak.

Loh, kenapa malah jadi kayak gini? Mati gue! Si Bara mau jawab apa?

Yuvin kembali bertanya.

"Lihat, kan? Kita semua setuju. Jadi sekarang jujur, lo udah berapa lama pacaran sama Ara?"

Ara hanya bisa menggigiti bibirnya. Entah kenapa, ia mendadak panik ketika teman-temannya menanyakan hubungan mereka kepada Bara.

Ia yakin Bara pasti akan menjawab kalau mereka tidak memiliki hubungan apa-apa. Dan setelah itu, teman-temannya pasti akan mem-bully dan menertawakannya selama seminggu penuh.

Bara melirik Ara. Gadis itu terlihat sangat tegang. Senyuman kecil muncul di wajah Bara. Kemudian, tanpa diduga, Bara menggenggam tangan Ara dan menatap teman-temannya satu per satu.

"Kita baru jadian kemarin."

Ara membelalakkan mata.

"Maaf, soalnya niat awal kita emang mau pacaran diam-diam. Tapi karena udah terlanjur ketahuan, ya udah. Jadi sekarang kita nggak perlu sembunyi-sembunyi lagi."

"Kayak buronan aja lo pakai sembunyi segala."

Yuvin tertawa.

"Kita sih senang-senang aja, asal Ara bahagia. Gue masih nggak nyangka, yang awalnya musuhan malah bisa jadian gini."

Yohan menepuk bahu Bara.

Ara hanya bisa tersenyum kecut sambil menatap Yohan, Yuvin, dan Sora secara bergantian. Kemudian ia mencubit perut Bara. Pelan, tetapi cukup untuk membuat Bara meringis.

Berani banget dia bikin pengakuan mendadak kayak gini!

Entah Bara benar-benar menganggap Ara sebagai pacarnya atau hanya sedang membantunya karena Ara tadi sudah membela dirinya. Yang jelas, untuk saat ini Ara sepertinya harus mengikuti alur permainan Bara.

Bara menoleh kepadanya sambil tersenyum.

"Makasih, teman-temanku tercinta."

Yuvin langsung bersorak.

"Wah, traktiran!"

Bara mengangkat tangan santai.

"Traktirannya silakan pesan makanan apa pun di kantin."

Mereka bertiga langsung bersorak senang.

"Tapi bayar sendiri-sendiri."

"Baraaa!"

Teriakan mereka langsung menggema di atap kampus.

Sementara Ara hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka. Untuk pertama kalinya, ia merasa Bara tidak lagi sendirian.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya juga, Bara memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar waktu.

Teman-teman. Serta seseorang yang diam-diam mencintainya dengan seluruh hatinya.

1
Justjeha
Kisah fantasi yg pokoknya tidak akan mengecewakan
Justjeha
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!