NovelToon NovelToon
Komplotan di Malam Basah

Komplotan di Malam Basah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang
Popularitas:870
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Larasati dikenal seantero kalangan sosialita sebagai **cewek matre kelas kakap**. Demi bisa naik kelas dan menikahi anak konglomerat, ia rela jadi **simpanan** Galih Prasetyo, taipan muda yang cukup ternama.

Malam itu, di apartemen SCBD yang gelap gulita, Laras menyelinap masuk dan langsung memeluk mesra pria yang ia kira kekasihnya—

*"Sayang… kucing liarmu pulang, nih~"*

Tapi begitu lampu menyala, Galih justru berdiri kaku di ambang pintu. Dan pria yang barusan ia peluk erat-erat, yang lehernya baru saja ia cium… adalah **Narendra Hardjanto**—**saudara angkat Galih sejak kecil**, konglomerat berdarah dingin yang paling muak pada perempuan matre.

Laras baru saja meraba-raba **kakak angkat kekasihnya sendiri.**

Ia pikir insiden memalukan itu akan berlalu begitu saja. Nyatanya, keesokan harinya Naren menyudutkannya:

*"Rayuanmu semalam murahan sekali. Berani-beraninya nempel ke saudaraku. Gimana kalau… kulatih biar becus?"*

Ia menolak. Tapi Naren sudah menggenggam rahasia yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya. Dan syaratnya paling keji: **di depan umum, Laras tetap jadi perempuan Galih. Diam-diam, ia milik Naren.**

Sekali, dua kali, tak terhitung lagi—di malam-malam basah yang penuh dosa, mereka berdua jadi **komplotan**: sepasang pengkhianat yang menikung saudara sendiri, dan sama-sama membencinya diri sendiri.

Yang tak Naren tahu: di balik topeng "perempuan matre" itu, **setiap rupiah yang Laras kumpulkan mengalir ke sebuah rumah singgah untuk anak-anak perempuan yang dibuang keluarganya.**

Dan yang tak Laras tahu: pria dingin yang menyanderanya ini ternyata **menyimpan rahasia yang sama persis dengannya.**

Sampai rahasia mereka pecah, persaudaraan hancur, dan seluruh Jakarta menudingnya sebagai **perebut, bekas simpanan sahabat**—di hari Laras akhirnya memutuskan pergi, Naren mencengkeram bahunya, untuk pertama kalinya kehilangan seluruh kendali:

*"Kuberikan seluruh hartaku padamu. Jangan pergi—bisa, nggak?"*

Ternyata, sang penguasa tertinggi… rela menunduk, rela mengkhianati saudaranya sendiri, demi satu perempuan.

——
*Dongeng penyelamatan ala Cinderella dewasa. Yang paling dingin, ternyata yang paling nekat mencintai.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10

Perempuan yang Bisa Diganti

Gaun yang dipilih Laras malam itu bukan miliknya.

Hotel menyediakannya melalui butik mitra setelah koper acara Laras terlambat dikirim. Kain hijau tua memeluk tubuhnya dengan sempurna, tetapi label harga di balik kerah membuatnya merasa sedang mengenakan cicilan satu tahun.

Naren menunggu di depan lift.

Tatapannya berhenti pada Laras lebih lama daripada seharusnya. “Kopermu?”

“Belum datang.”

“Gaunnya cocok.”

“Bukan pujian yang kreatif.”

“Aku bukan penyair.”

“Saya tahu.”

Pintu lift terbuka. Mereka masuk dengan jarak sopan, kembali mengenakan peran sebagai rekan bisnis yang dititipkan Galih. Malam tanpa akting di kamar seolah tidak pernah terjadi.

Ruang perjamuan dipenuhi perwakilan perusahaan lintas negara. Lampu kristal, gelas tinggi, suara bahasa Inggris dan Indonesia bercampur dengan musik pelan. Naren langsung dikerumuni beberapa pengusaha. Laras berdiri setengah langkah di belakang, mengamati dan mencatat nama untuk laporan Galih.

“Mas Naren?”

Perempuan yang memanggilnya mengenakan gaun putih tanpa satu kerutan. Wajahnya mengingatkan Laras pada foto di ponsel Prita, meski bukan orang yang sama.

Naren menoleh. “Mbak Nirmala.”

“Sudah lama sekali.” Nirmala menjabat tangannya, lalu beralih kepada Laras. “Dan ini?”

“Larasati. Mewakili kepentingan Galih untuk proyek ini.”

Naren tidak menyebut status mereka. Nirmala justru tersenyum makin halus.

“Oh, kamu Laras.” Ia mengulurkan tangan. “Saya sering dengar soal perempuan yang ada di dekat Mas Galih. Tidak menyangka ternyata masih sangat muda.”

Muda. Kata netral yang dipasangkan dengan pandangan dari rambut sampai sepatu pinjaman.

“Semoga yang Anda dengar bagus,” jawab Laras.

“Tentu. Mas Galih selalu punya selera menarik.”

Bukan baik. Menarik.

Nirmala menjelaskan bahwa keluarga Wibowo dan Prasetyo telah dekat selama dua generasi. Ia baru makan siang dengan Bu Endah bulan lalu. Ia dan Galih bahkan pernah sekolah musim panas bersama. Semua disampaikan seperti percakapan biasa, tetapi setiap detail menegaskan tempat yang tidak pernah bisa Laras miliki.

“Bu Endah masih menyimpan foto kami waktu kecil,” lanjut Nirmala. “Katanya lucu, dari dulu kami selalu dipasangkan kalau ada acara keluarga.”

“Anak kecil sering dipasangkan tanpa diminta pendapatnya.”

“Benar. Tapi saat dewasa, beberapa pasangan memang masuk akal.”

“Untuk siapa?”

“Untuk keluarga, bisnis, dan masa depan.” Nirmala menyesap minuman. “Cinta bisa menyusul. Stabilitas lebih sulit dicari.”

Laras mengenali logika itu. Galih juga pernah mengatakan hubungan mereka nyaman karena tidak ada tuntutan. Orang kaya menyebut transaksi sebagai stabilitas ketika mereka berada di pihak yang menentukan syarat.

“Kalau Mas Galih setuju, saya akan mengucapkan selamat,” katanya.

“Kamu tidak keberatan?”

“Kenapa saya harus menjelaskan perasaan saya kepada Anda?”

Nirmala tersenyum. “Karena perempuan biasanya ingin tahu kapan harus mundur dengan anggun.”

“Perempuan juga biasanya tidak perlu meminta izin dari calon penggantinya.”

Jari Nirmala mengencang pada tangkai gelas. Untuk pertama kalinya, permukaan ketenangannya beriak.

“Mas Galih bilang Anda sibuk di Jakarta,” kata Laras.

“Kami sering berkabar.” Senyum Nirmala tidak berubah. “Keluarga memang begitu.”

Laras merasakan ujung kukunya menekan telapak. Ia berhenti sebelum kulit terluka.

Seorang tamu memanggil Naren. Ia meminta izin meninggalkan dua perempuan itu. Sebelum pergi, tatapannya singgah pada tangan Laras yang mengepal, tetapi ia tidak mengatakan apa pun.

Nirmala mengajak Laras ke meja hidangan. “Jangan tegang. Saya tidak sedang menginterogasi.”

“Saya tidak merasa diinterogasi.”

“Bagus.”

Laras mengambil sate lilit. Karena tak ada piring kecil di dekatnya, ia memegang tusukannya dan menggigit langsung. Sedikit saus menempel pada ujung jari.

Nirmala melihat.

Gerakannya mengangkat gelas berhenti sangat tipis. Ia kemudian menoleh kepada dua istri pengusaha di sebelahnya dan membisikkan sesuatu. Kedua perempuan itu melirik Laras, lalu tersenyum menahan tawa.

“Ada yang lucu?” Laras bertanya.

“Tidak.” Nirmala mengambil serbet dengan penjepit, lalu memberikannya. “Saya cuma bilang suasana malam ini lebih santai dari biasanya.”

Laras menerima serbet. “Syukurlah. Berarti cara saya makan tidak mengganggu nilai saham siapa pun.”

Salah satu perempuan tertawa pendek sebelum menutup mulut. Wajah Nirmala tetap manis.

“Kamu lucu juga. Pantas Mas Galih betah.”

“Semoga dia betah lebih lama daripada rencana keluarga.”

Untuk pertama kalinya, mata Nirmala mendingin. “Rencana keluarga biasanya bertahan lebih lama daripada kesenangan sesaat.”

Kalimat itu tepat mengenai tempat yang paling Laras sembunyikan. Ia tahu hubungannya dengan Galih punya tanggal akhir. Ia bahkan tidak pernah menginginkan cinta Galih. Namun mendengar dirinya disebut kesenangan sesaat di depan orang lain tetap terasa seperti ditelanjangi.

Naren berdiri beberapa meter jauhnya. Ia pasti mendengar. Wajahnya tidak berubah. Ia tidak datang.

Diamnya lebih menyakitkan daripada ucapan Nirmala.

Laras meletakkan tusuk sate dan tersenyum. “Permisi, saya ke toilet.”

“Silakan.”

Ia berjalan tanpa tergesa sampai keluar dari pintu aula. Begitu koridor kosong, ia mempercepat langkah menuju toilet. Di depan wastafel, Laras menggosok noda saus dari jari sampai kulitnya merah.

Pintu terbuka. Salah satu perempuan yang tadi bersama Nirmala masuk dan berdiri di depan cermin lain.

“Mbak Nirmala tidak bermaksud jahat,” katanya sambil membetulkan lipstik.

“Saya tidak bilang dia jahat.”

“Dia dan Mas Galih memang sudah dijodohkan dari dulu. Semua orang tahu. Jadi, jangan terlalu dimasukkan hati.”

“Terima kasih informasinya.”

“Kamu pasti juga sudah tahu posisi kamu.”

Laras mematikan keran. “Saya tahu. Yang lucu, orang yang yakin posisinya aman biasanya tidak perlu menjelaskannya di toilet.”

Ia keluar sebelum perempuan itu menjawab.

Di aula, Nirmala sedang berbicara lagi tentang masa kecil Galih. Ketika melihat Laras kembali, ia tersenyum. “Sudah baikan? Saya takut makanan tadi kurang cocok.”

“Makanannya cocok. Percakapannya yang agak hambar.”

Beberapa kepala menoleh. Nirmala membuka mulut, tetapi Naren tiba-tiba berdiri di samping Laras.

“Mbak Nirmala,” katanya, “Laras datang sebagai tamu yang aku bawa untuk urusan bisnis. Tolong bicara dengan layak.”

Ruangan kecil di sekitar mereka langsung sunyi.

Nirmala berkedip. “Saya hanya mengobrol.”

“Kalau begitu pilih obrolan yang tidak membuat tamuku perlu membersihkan tangan sampai merah.”

Tatapan orang-orang turun ke jemari Laras. Bekas gesekan masih jelas.

“Mas Naren membelanya?”

“Aku menjaga martabat acara.”

Alasan yang rapi, tetapi Naren berdiri terlalu dekat. Laras bisa merasakan panas lengannya tanpa menyentuh.

Seorang direktur tua mencoba mencairkan keadaan. “Anak muda, jangan serius-serius. Kita semua teman di sini.”

“Teman tidak menjadikan asal seseorang bahan hiburan,” kata Naren.

Beberapa tamu yang tadi tersenyum langsung menunduk. Naren mengangkat tangan kepada pelayan dan mengambil piring kecil. Ia meletakkan dua tusuk sate lilit di atasnya, lalu menyerahkan piring itu kepada Laras.

“Kalau ada piring, pakai. Kalau tidak ada, makan dengan tangan juga bukan kejahatan.”

Tindakan sederhana itu lebih keras daripada bentakan. Orang-orang melihat seorang pemimpin Grup Wibisana berdiri di samping perempuan yang barusan mereka remehkan, bukan di samping Nirmala.

Laras menerima piring. “Terima kasih.”

“Makan.”

“Jangan memerintah saya di depan umum.”

“Kalau begitu anggap saran.”

Percakapan lirih mereka terlalu akrab. Nirmala memperhatikannya, dan Laras segera mengambil satu langkah menjauh.

Nirmala tersenyum lagi, kini tanpa kehangatan. “Tentu. Saya minta maaf kalau Laras merasa tidak nyaman.”

“Permintaan maaf diterima,” jawab Laras.

Ia tidak mau berdiri di sana lebih lama. Setelah meminta izin kepada koordinator acara, Laras keluar ke teras.

Udara malam Singapore lembap. Ia bersandar pada pagar, menarik napas sampai rasa panas di matanya surut. Gaun mahal, hotel mewah, tiket kelas satu. Semuanya tidak mampu mengubah satu kenyataan: ia tetap perempuan yang bisa diganti ketika keluarga selesai bermain.

Pintu kaca terbuka di belakangnya.

“Laras.”

“Kenapa baru bicara setelah saya keluar?”

Naren berhenti beberapa langkah dari pagar. “Aku bicara di dalam.”

“Setelah Anda menonton cukup lama.”

“Aku sedang bersama mitra.”

“Selalu ada alasan yang masuk akal.”

“Kamu ingin aku membuat keributan sejak kalimat pertama?”

Laras menoleh. “Tidak. Saya cuma ingin tahu Anda berdiri di sisi mana.”

“Aku berdiri di sisiku sendiri.”

“Tentu saja.”

Naren mendekat satu langkah. “Nirmala tidak punya hak memperlakukanmu begitu.”

“Tapi dia benar. Kalau nanti Mas Galih benar-benar menikah dengannya, saya ini apa?”

Naren diam.

Ia bisa saja mengatakan Laras tetap mendapat uang. Bisa mengatakan Galih akan mengurusnya. Bisa menawarkan apartemen, pekerjaan, atau rekening baru. Semua jawaban itu tersedia bagi pria yang terbiasa menyelesaikan masalah dengan aset.

Tak satu pun menjawab pertanyaan sebenarnya.

“Aku tidak akan membiarkan mereka membuangmu,” katanya akhirnya.

“Itu bukan jawaban.”

“Itu yang bisa kuberi sekarang.”

“Saya tidak tanya apakah Anda akan memberi saya kompensasi. Saya tanya siapa saya.”

Naren membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Di matanya ada sesuatu yang hampir menyerupai takut, bukan takut kehilangan kendali di perusahaan, melainkan takut memberi nama pada sesuatu yang sudah telanjur hidup.

“Jawab.”

Rahangnya menegang. Matanya beralih ke kota di bawah teras.

Laras menunggu, tetapi satu-satunya jawaban adalah bunyi musik dari balik kaca.

Ia tertawa kecil, pahit. “Nah. Bahkan Anda tidak bisa menemukan kata yang cukup bagus.”

Laras berjalan kembali ke aula. Naren tidak menahan.

Di pintu kaca, bayangan mereka terpisah oleh bingkai hitam: Laras di dalam cahaya, Naren sendirian di teras, masih menatap malam tanpa jawaban. Di antara keduanya, pantulan gaun pinjaman Laras tampak seperti kulit mahal yang besok pagi harus dikembalikan kepada pemilik butik tempat itu.

1
𝐀⃝🥀Weny
niat hati ingin bermesraan sama pacar.. eee.. ternyata salah orang, gara² lampu gak di nyalain/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!