NovelToon NovelToon
Bangkitnya Putri Terbuang

Bangkitnya Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Ruang Ajaib
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.

Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.

Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.

Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Kereta kuda perlahan berhenti di gerbang besar yang megah, gerbang kediaman Jenderal Wen, tempat yang dulu penuh kehangatan sebelum kesedihan merenggutnya. Jenderal Wen turun lebih dulu, lalu berbalik ke arah pengawal yang setia menemani mereka sepanjang perjalanan.

"Kawal Nona Feng Wu masuk ke kediaman, pastikan ia beristirahat dengan tenang. Jangan biarkan siapa pun mengganggunya," perintahnya tegas. "Aku sendiri akan segera menghadap Kaisar untuk melaporkan segala hal. Setelah itu, aku akan kembali ke sini."

Feng Wu mengangguk lembut. "Hati-hati, Kakek. Jangan terlalu lelah."

Jenderal Wen tersenyum singkat, lalu menaiki kuda yang telah disiapkan, bergegas menuju istana kekaisaran. Sementara itu, Feng Wu melangkah masuk ke halaman kediaman Wen yang luas dan indah.

"Benar-benar luas dan indah, orang dizaman ini pada kaya-kaya. Sungguh hebat" batin Feng Wu.

Langkah kaki Feng Wu diiringi kesunyian yang perlahan berubah menjadi keributan pelan. Para pelayan yang berjalan di koridor tertegun, nampan di tangan mereka hampir terjatuh. Mereka saling berbisik, mata membelalak tak percaya.

"Itu... siapa wanita itu?"

"Wajahnya... persis seperti mendiang Nona Wen Ning!"

"Tidak mungkin... Nona Ning sudah lama tiada!"

Berita kehadirannya menyebar cepat ke seluruh penjuru kediaman. Tak lama kemudian, orang-orang mulai berdatangan seperti tetua, paman, sepupu, dan kerabat jauh dari pihak ibu. Mereka berjalan mendekat dengan ragu, namun semakin dekat, wajah mereka semakin berubah pucat dan terkejut.

Seorang pria paruh baya, berjalan gemetar mendekati Feng Wu. Matanya terbelalak, napasnya tertahan. Ia menatap wajah gadis itu lekat-lekat, dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Ning... Ning'er?" bisiknya serak, tangannya gemetar hendak menyentuh namun takut. "Apakah kau... kau kembali dari kematian?"

Di belakangnya, para sepupu dan kerabat lainnya juga tak kalah terkejut. Mereka tahu betul wajah mendiang Wen Ning, wanita yang menjadi kebanggaan keluarga Wen. Dan gadis di hadapan mereka ini... persis sama. Bahkan senyum tipis itu, tatapan mata itu, semuanya identik.

"Kakek.." Panggil Feng Wu lembut namun jelas. "Saya bukan Ibu, saya Feng Wu. Putri dari Wen Ning."

Kata-kata itu seakan membangunkan semua orang dari keterkejutan. Tetua Wen gemetar hebat, air mata tiba-tiba membanjiri wajahnya yang tegas. Ia berlutut di hadapan Feng Wu, memegang kedua tangan gadis itu erat-erat seakan takut jika dilepaskan, ia akan hilang.

"Feng Wu... kau cucuku... kau benar-benar ada..." isaknya, bahunya terguncang hebat. "Kami semua mengira... mengira kau sudah binasa bersama nasib malang itu. Selama ini kami tak berani bertanya, takut mendengar jawaban yang menyakitkan..."

Seorang wanita tua pun berlari mendekat, menangis tersedu-sedu. Ia memeluk Feng Wu tanpa ragu, seakan memeluk kepingan hati mendiang Wen Ning yang telah lama hilang.

"Persis... persis seperti Ning'erku..." tangisnya memecah keheningan. "Saat kau masuk tadi, aku hampir berlutut mengira anakku telah kembali. Wajahmu... senyumanmu... semuanya sama persis."

Para sepupu yang dulu pernah mendengar cerita tentang bibi mereka yang cantik dan baik hati, kini menatap Feng Wu dengan mata berbinar campuran antara takjub, haru, dan rasa hormat. Mereka bukan lagi orang asing baginya, dan ia pun bukan lagi anak yang tak dikenal. Darah yang sama mengalir di tubuh mereka.

"Selamat datang dikediaman, Wu'er," ucap salah satu sepupunya dengan tulus. "Ini rumahmu. Dan kami semua adalah keluargamu. Tak ada yang berani menyakitimu di sini."

Feng Wu yang sejak tadi menahan haru, akhirnya tersenyum lembut. Air mata pun menetes di pipinya, bukan karena kesedihan, melainkan karena kehangatan yang selama ini tak pernah ia rasakan. Ia tidak sendirian. Ia memiliki keluarga yang menyayanginya, keluarga yang menerimanya tanpa syarat.

"Terima kasih..." ucapnya lirih, suaranya bergetar penuh syukur. "Terima kasih sudah menerima saya."

Di ruangan itu, di tengah pelukan keluarga yang baru saja ia temukan, Feng Wu menyadari satu hal yaitu kembalinya ke ibukota bukan hanya untuk membalas dendam atau mengambil haknya. Ia kembali untuk menemukan bagian dari dirinya yang selama ini hilang. Dan di sini, di kediaman Wen, ia menemukan rumah yang sebenarnya.

Di Aula Utama Istana yang megah dan berkilauan, Jenderal Wen berlutut dengan hormat di hadapan takhta tinggi. Di atas sana, duduk Kaisar Qinchuan pria yang berwibawa, namun tatapannya lembut dan akrab saat menatap Jenderal Wen. Di sekeliling ruangan, para menteri dan pejabat tinggi berdiri berbaris, menyaksikan penghargaan yang akan diberikan.

"Bangkitlah, Jenderal Besar Wen," ucap Kaisar lembut namun tegas. "Jasamu di perbatasan Utara takkan pernah terlupakan. Kemenangan yang kau raih tanpa korban tanpa pertempuran yang berdarah itu akan menjadi sejarah, Kediaman Wen akan mendapatkan gelar tingkat 1 setara dengan kerabat Istana. Kemenangan kali ini adalah anugerah bagi seluruh rakyat kekaisaran."

Kaisar memberikan penghargaan berupa medali emas kehormatan dan tanah luas sebagai hadiah tambahan. Semua orang memuji dan mengucapkan selamat, namun di balik senyum itu, Jenderal Wen tahu ada hal yang lebih penting yang harus ia sampaikan, dan hal itu tak pantas didengar semua orang.

Setelah upacara selesai dan para menteri mulai beranjak, Kaisar memberi isyarat pelan.

"Jenderal Wen, tinggallah sejenak. Aku mengundangmu ke Paviliun Bunga Teratai seperti biasa."

Paviliun Bunga Teratai terletak di sudut taman istana, jauh dari keramaian dan dikelilingi kolam bunga teratai yang harum dan air yang jernih. Di sinilah Kaisar dan Jenderal Wen sering duduk bersama sejak muda, sebelum takdir memisahkan mereka ke jalan yang berbeda.

Kaisar melambaikan tangan, menyuruh semua pelayan mundur. Tinggalah mereka berdua, sahabat lama yang saling mengenal lebih dari siapa pun.

"Katakanlah, Wen Guang," ucap Kaisar lembut, menuangkan teh ke cangkir. "Ada sesuatu yang membebani hatimu, bukan? Ceritakanlah. Di sini tak ada Kaisar dan Jenderal, hanya dua sahabat yang saling percaya."

Kata-kata itu membuka pertahanan hati Jenderal Wen. Ia menarik napas panjang, lalu mulai bercerita dari awal hingga akhir. Tentang kematian Wen Ning, tentang fitnah Selir Yu, tentang cucunya yang dibuang dan diracun, tentang perjalanan ke perbatasan, tentang kemenangan berkat kecerdasan Feng Wu, dan tentang kepulangannya ke ibukota.

Semakin lama Kaisar mendengarkan, semakin dalam kerutan di dahinya. Wajahnya yang tenang perlahan berubah menjadi sedih, lalu marah namun ia menahannya, membiarkan sahabatnya menyelesaikan semuanya.

"Begitu kejam..." bisik Kaisar pelan, suaranya penuh empati. "Anak itu, menderita begitu hebatnya, sementara kita semua tidak tahu apa-apa. Feng Yuan... bagaimana bisa ia membiarkan hal seperti ini terjadi pada darah dagingnya sendiri?"

Ia terdiam sejenak, lalu bertanya lembut namun penuh perhatian: "Lalu... di mana gadis itu sekarang? Di mana Feng Wu?"

Jenderal Wen menatap sahabatnya itu dengan tatapan tulus dan serius.

"Feng Wu sudah kembali ke kediaman Wen, Yang Mulia. Ia aman di sana."

Lalu ia melanjutkan dengan tegas, menyampaikan permintaan terpentingnya:

"Namun Yang Mulia, sebelum apa pun terjadi... saya mohon kepadamu jangan libatkan Feng Wu ke dalam urusan istana. Jangan perkenalkan ia kepada para Pangeran, jangan undang ia ke pesta-pesta istana, dan paling penting... jangan pernah pikirkan untuk menjodohkannya dengan siapa pun."

Kaisar Qinchuan tertegun sejenak, namun tak langsung menolak. Ia menatap wajah sahabat lamanya, melihat kesedihan dan ketakutan yang tersembunyi di balik tatapan itu.

"Apakah karena takut ia terjebak dalam intrik istana?" tanya Kaisar lembut.

"Bukan hanya itu, Yang Mulia," jawab Jenderal Wen pelan namun penuh perasaan. "

Ia menunduk, suaranya bergetar: "Dia masih belum terbiasa, aku takut tidak sesuai dengan aturan istana karena anak itu selama ini hidup bebas diluar tanpa pendidikan apapun. Kali ini, biarkan Feng Wu memilih jalannya sendiri. Biarkan ia tumbuh dengan bebas, tanpa terikat status, tanpa dijadikan alat perjodohan atau kekuasaan. Ia sudah menderita cukup banyak. Biarkan ia bahagia dengan caranya sendiri."

Kaisar Qinchuan mendengarkan dalam diam. Perlahan, senyum lembut dan penuh pengertian muncul di wajahnya. Ia mengangguk pelan.

"Kau benar, Wen Guang. Dan aku mengerti."

Kaisar berdiri, menatap ke arah kolam teratai yang tenang.

"Aku berjanji padamu, selama aku menjadi Kaisar, tak ada satu pun orang istana yang boleh memaksa Feng Wu datang ke istana, apalagi menjodohkannya tanpa persetujuannya sendiri. Biarkan ia hidup dengan tenang dan bebas. Jika suatu hari nanti ia ingin dikenal, aku akan menyambutnya dengan hormat. Tapi jika ia memilih untuk tetap tenang... maka biarkan ia tenang."

Jenderal Wen merasa beban berat di dadanya perlahan hilang. Ia berlutut dengan tulus. "Terima kasih, Yang Mulia. Terima kasih atas pengertian-Mu."

Kaisar menolongnya berdiri, menepuk bahu sahabatnya. "Kita sudah berteman puluhan tahun, Wen Guang. Tak perlu berterima kasih untuk hal yang benar. Jaga cucumu dengan baik. Gadis itu... sepertinya luar biasa. Suatu hari nanti, aku berharap bisa bertemu dengannya bukan sebagai Kaisar, melainkan sebagai teman lama keluarganya."

1
jenny
jangan² pria selingkuhan selir Yu nih yang menebarkan racun atas usulan selir Yu
Dian Utami
feng Wu terlalu egois thor dan bertindak sesuka hati, giliran di perhatikan dia kesel
ummu syafanah
lanjut thor
jenny
semoga wen qi tersadar dan gak perlu marah² ke su meng
Nonik Anda Swl
Thank you Thor, next please 🙏🌹
Nonik Anda Swl
next please🙏Thor, thank you 🌹
jenny
permainan segera dimulai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!