NovelToon NovelToon
Si Detektif Gila

Si Detektif Gila

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Sistem
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dulu, dia adalah preman yang hidup dari kekerasan dan ditakuti banyak orang. Namanya dikenal di jalanan, tangannya penuh darah, dan masa depannya seolah tidak akan pernah berubah.
Sampai sebuah kejadian memberinya kesempatan kedua.
Terbangun dengan kehidupan baru, dia justru memilih jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi seorang polisi.
Namun, kebiasaan lamanya belum hilang. Cara berpikirnya terlalu liar, instingnya terlalu tajam, dan metode penyelidikannya sering kali membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Menghadapi ejekan Budi, Revan bahkan tidak berkedip.

“Bukan urusan lo.”

Setelah mengatakan itu, Revan hendak pergi. Namun, lagi-lagi Budi menghadang langkahnya.

“Berhenti dulu!”

Budi mengambil selembar formulir dari meja, lalu menepukkannya keras di hadapan Revan.

“Revan, sebagai wakil ketua tim, gue harus tetap objektif. Hari ini lo tidak masuk dinas dan tidak mengajukan izin kepada atasan. Belum lagi, lo terlambat hampir setengah jam saat rapat penyelidikan tadi. Sesuai ketentuan, gue berhak mencatat lo sebagai tidak hadir tanpa keterangan.”

“Cih...”

Revan sempat mengira Budi hendak membicarakan sesuatu yang penting.

Ternyata cuma soal absensi.

Dia menatap Budi dengan malas, sama sekali tidak terlihat khawatir.

Namun, Nina dan beberapa penyelidik lain langsung saling pandang.

Di lingkungan kepolisian, terutama di unit yang menangani kasus-kasus penting, status tidak hadir tanpa keterangan bukan perkara sepele.

Penyelidik di unit tersebut memang sering turun ke lapangan, melakukan pemeriksaan saksi, mengejar tersangka, hingga bekerja lembur sampai larut malam. Karena itu, absensi mereka tidak sekadar soal datang pagi dan pulang sore seperti pegawai kantor biasa.

Setiap ketua tim bertanggung jawab terhadap kehadiran anggotanya. Jika seorang penyelidik harus meninggalkan kantor untuk tugas lapangan, semuanya tetap dicatat dan dilaporkan.

Revan sendiri merupakan anggota Tim A. Selama ini, urusan kehadiran Tim A berada di bawah tanggung jawab Pak Mahendra selaku ketua tim.

Masalahnya, Pak Mahendra sedang menjalani perawatan di rumah sakit akibat cedera yang dialaminya. Untuk sementara, pencatatan kehadiran anggota Tim A dilimpahkan kepada Budi.

Sebenarnya, selama ada alasan yang jelas dan izin disampaikan kepada atasan, masalah seperti terlambat atau tidak masuk sehari masih bisa dibicarakan.

Tapi hari ini berbeda.

Budi jelas-jelas sedang mencari masalah dengan Revan.

Kalau sampai dia benar-benar mencatat Revan sebagai tidak hadir tanpa keterangan, dampaknya bisa panjang.

Di unit seperti ini, catatan kedisiplinan sangat diperhatikan. Pelanggaran berulang dapat memengaruhi penilaian kinerja, kesempatan mengikuti penghargaan internal, bahkan penempatan personel.

Dan Budi tahu persis soal itu.

Karena itu, semua orang bisa melihat kalau tindakan ini lebih mirip pembalasan pribadi daripada penegakan disiplin.

Belum sempat masalah absensi selesai, Budi kembali mengeluarkan selembar kertas.

“Oh iya, satu lagi.”

Dia mengangkat kertas tersebut dengan senyum menyebalkan.

“Tadi malam lo juga merusak satu unit monitor komputer kantor. Gue sudah laporkan ke atasan. Hasil pemeriksaan sementara, kerusakan itu dinilai akibat ulah lo.”

Budi menepuk-nepuk kertas tersebut.

“Total biaya penggantian dan perbaikannya Rp3.600.000. Nanti lo urus penggantian melalui bagian keuangan.”

“Hei, mau ke mana?”

Revan baru saja hendak melangkah ketika Budi melihat tangannya bergerak ke arah cangkir kopi.

Budi refleks mundur beberapa langkah.

“Lo jaga sikap!” katanya cepat. “Kalau lo berani macam-macam, gue laporkan sebagai tindakan kekerasan terhadap anggota! Ruangan ini juga ada CCTV. Jangan pikir lo bisa seenaknya!”

“Pak Budi!”

Nina akhirnya tidak tahan lagi. Dia maju selangkah.

“Tadi malam kami semua ada di sana. Monitor itu rusak bukan karena Revan!”

“Kalau bukan dia, siapa?” Budi menatap tajam.

“Kalau dia tidak mengamuk, mana mungkin monitor itu rusak sendiri?”

“Betul!”

Seorang penyelidik muda yang berdiri di dekat meja ikut angkat suara.

“Revan yang mendorong saya tadi malam! Saya sampai kehilangan keseimbangan dan menabrak meja. Monitor itu jatuh karena kejadian tersebut. Jadi kalau mau bicara soal tanggung jawab, dia juga harus bertanggung jawab!”

“Benar.”

“Gue juga lihat Revan mendorong dia.”

Beberapa orang mulai ikut bersuara.

Ruangan yang semula tenang langsung berubah panas.

Revan justru tertawa kecil.

“Hahaha...”

Dia mengangkat cangkir kopinya, menyeruput sedikit, lalu meletakkannya kembali dengan tenang.

Setelah itu, dia berjalan mendekati Budi.

“Pak Budi.”

Suaranya justru terdengar tenang.

“Di kampung halaman gue ada pepatah. Kalau berurusan sama orang, jangan pernah menutup semua jalan keluar. Sisakan jalan buat orang lain, dan buat diri sendiri juga.”

Revan berhenti tepat di hadapan Budi.

“Lo masih mau maksa sampai sejauh ini?”

“Hmph!”

Budi sama sekali tidak mundur kali ini.

“Lo memang tidak tahu sopan santun sama atasan. Gue memang tidak suka sama lo. Terus kenapa? Ada masalah?”

“Bagus.”

Revan tersenyum tipis.

“Gue juga Revan. Gue tidak takut sama lo.”

Tatapannya berubah tajam.

“Kalau lo tidak takut, ya sudah. Kita lihat saja siapa yang akhirnya bertahan.”

Wajah Budi langsung memerah.

“Anak sok tahu!”

Dia menunjuk wajah Revan.

“Lo pikir lo siapa? Gue wakil ketua tim di Unit Kasus Penting! Lo kira gue takut sama anak baru seperti lo? Kalau gue mau, gue bisa bikin lo keluar dari unit ini!”

“Silakan.”

Revan malah menyeringai.

“Datang saja.”

Dia melirik kertas tagihan di tangan Budi.

“Monitor Rp3,6 juta? Lo pikir gue bakal bayar begitu saja?”

Revan kemudian mendekat sedikit.

“Kalau lo benar-benar berani catat gue tidak hadir tanpa keterangan, ingat baik-baik, Pak Budi.”

Senyumnya menghilang.

“Jangan sampai suatu hari lo sendiri yang kena masalah karena terlalu banyak musuh.”

Dia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada santai yang justru membuat suasana semakin aneh.

“Dan coba periksa lagi urusan pribadi lo di rumah. Siapa tahu ada sesuatu yang selama ini lo sembunyikan dari orang-orang.”

Semua orang di ruangan langsung terdiam.

Ucapan Revan terlalu berani.

Bukan hanya karena dia sedang menantang seniornya, tetapi dia juga seperti sedang menyiratkan bahwa dia mengetahui sesuatu tentang kehidupan pribadi Budi.

Budi terpaku.

Wajahnya yang tadi merah karena marah kini berubah menjadi tegang.

“Revan... lo...”

Dia kehabisan kata-kata.

Selama ini dia tahu Revan keras kepala dan berani melawan kalau diperlakukan tidak adil.

Tapi dia tidak menyangka mulut anak itu juga setajam ini.

Revan justru terlihat puas.

Dia hendak mengatakan sesuatu lagi ketika...

BRAK!

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka.

Pak Dedi masuk dengan wajah keras.

“Kalian ini sedang apa?”

Suara kapten itu langsung membuat seluruh ruangan membeku.

Dia menatap satu per satu anak buahnya.

“Semua satu unit! Semua satu tim!”

Nada suaranya semakin tinggi.

“Di luar sana masih banyak perkara yang harus kita selesaikan. Ada korban yang menunggu keadilan, ada pelaku yang masih berkeliaran, dan kalian malah ribut seperti anak sekolah di dalam ruangan!”

Tidak ada yang berani menjawab.

“Ini yang kalian sebut profesional?”

Pak Dedi menghantam telapak tangannya ke meja.

“Kalau ada masalah, selesaikan secara kedinasan! Jangan malah adu emosi di kantor!”

Semua kepala langsung tertunduk.

Pak Dedi kemudian menatap Revan.

“Revan.”

“Siap, Pak.”

“Masalahmu sudah aku dengar.”

Nada suara Pak Dedi sedikit melunak.

“Kalian semua terlalu terbawa emosi. Ingat, kita bekerja untuk perkara yang jauh lebih besar daripada masalah pribadi. Jangan setiap masalah diselesaikan dengan tangan.”

Dia lalu menoleh kepada Budi.

“Dan kamu.”

“Siap, Pak.”

“Catatan tidak hadir tanpa keterangan untuk Revan, hapus.”

Budi langsung terkejut.

“Tapi, Pak...”

“Hapus.”

Nada Pak Dedi tegas.

“Sudah bertahun-tahun tidak ada anggota unit ini yang sampai dicatat seperti itu hanya karena persoalan administratif yang masih bisa diselesaikan. Kalau sampai ketua tahu kita ribut gara-gara absensi, memangnya saya harus menjelaskan apa?”

Budi mengepalkan tangan.

“Tapi Pak Kapten...”

“Cukup.”

Satu tatapan dari Pak Dedi langsung membuat Budi diam.

Namun, Pak Dedi belum selesai.

Dia kembali menatap Revan.

“Soal monitor, beda cerita.”

Revan mengernyit.

“Kalau memang berdasarkan pemeriksaan barang itu rusak akibat tindakanmu, kamu tetap harus bertanggung jawab. Barang itu inventaris kantor.”

“Pak, saya...”

“Aku tahu kamu mau bilang bukan kamu yang merusaknya.”

Pak Dedi mengangkat tangan, menghentikannya.

“Tapi daripada kita berdebat panjang soal Rp3,6 juta, aku kasih kamu pilihan.”

Revan terdiam.

Pak Dedi tersenyum tipis.

“Sejujurnya, sejak kamu menyelesaikan Kasus Pemerkosaan dengan Taser, aku sudah cukup terkesan dengan kemampuanmu.”

Dia menyandarkan tubuhnya ke meja.

“Begini saja. Saat ini kita sedang menangani Kasus Tangan Hilang. Kalau kamu bisa membantu tim memecahkan kasus itu dalam waktu yang sudah ditentukan, biaya monitor tersebut aku yang tanggung.”

Revan terbelalak.

“Apa?”

Dia tidak menyangka kaptennya akan mengeluarkan tawaran seperti itu.

Namun, sebelum Revan sempat menjawab, Budi langsung menyela.

“Pak, tidak bisa begitu!”

Semua orang kembali menoleh kepadanya.

“Kasus ini bukan permainan. Kita tidak bisa menjadikan penyelesaian perkara sebagai taruhan!”

Pak Dedi mengangkat alis.

“Lalu menurutmu bagaimana?”

Budi terdiam sesaat.

Kemudian dia menatap Revan.

“Kalau begitu saya yang taruhan sama Revan.”

Senyumnya kembali muncul.

“Kalau Revan mampu membantu menyelesaikan Kasus Tangan Hilang dalam batas waktu yang ditentukan, biaya monitor itu saya yang tanggung.”

Ruangan kembali sunyi.

Revan menatap Budi beberapa detik.

Dalam hati dia tertawa.

Berani juga orang ini.

Dia bukan tipe orang yang gampang mundur dari tantangan.

Revan berjalan ke meja, lalu menepukkan telapak tangannya pelan.

“Oke.”

Dia menatap Budi sambil menyeringai.

“Budi si Bodoh, jangan menyesal nanti.”

Budi mengerutkan kening.

Revan menunjuknya.

“Seminggu.”

“Seminggu lagi, gue bakal kasih lo jawaban.”

Senyumnya semakin lebar.

“Kasus Tangan Hilang ini pasti gue pecahkan.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!