NovelToon NovelToon
Hutang Harta Berujung Cinta

Hutang Harta Berujung Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Bad Boy
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Green_Rose

Ia dijodohkan dengan anak orang kaya di kampungnya. Pria lumpuh dengan latar belakang yang tak enak di dengar. Anak tunggal dari orang terkaya di kampung itu. Cap play boy yang suka mempermainkan wanita melekat sangat kuat di nama si cowok.

Namun, Aulia tetap menerima pernikahan itu karena hutang ayahnya yang besar. Iya. Singkatnya, pernikahan itu karena hutang keluarga yang besar, yang tidak bisa ayahnya kembalikan.

Namun, siapa sangka kalau hidup akan berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode *10

Dia pun mengikuti apa yang Zihan katakan. Sebelum pergi, dia sempat berucap beberapa kata. "Kak Zihan janji akan ada pertemuan lain kali dengan aku. Jangan bohongi aku karena aku adalah adik kandungnya Kak Diana. Kak Diana pasti tidak akan senang di atas sana jika melihat adiknya dibohongi oleh orang yang sangat ia sayangi."

Zihan tidak menjawab. Ia hanya menyunggingkan bibir untuk mengukir senyum kecil saja. Sementara itu, di dalam rumah, Lia yang merasa tidak nyaman akan Zihan yang masih juga belum turun dari mobil karena berduaan dengan perempuan yang baru saja membuat hatinya merasa kesal, langsung meninggalkan tempat di mana ia berdiri sebelumnya. Mbok Yah dan Mang Mamat yang melihat kepergian Lia langsung bertukar pandang.

"Ya Tuhan, Pak. Keadaan saat ini sangat tidak baik-baik saja. Apa yang harus kita lakukan sekarang, Pak?" Mbok Yah dengan nada cemas berucap.

"Bapak juga tidak tahu, Buk. Ini urusan rumah tangga Den Zihan. Mana bisa kita ikut campur."

"Yah, kasihan Non Lia kalau begini ceritanya. Dia pasti sedang sangat cemburu sekarang. Bapak kok ninggalin mobil sih? Kenapa biarkan Den Zihan bicara berduaan saja dengan perempuan itu, Pak?"

"Yah ... Ibu ini gimana sih? Bapak turun itu karena permintaan Den Zihan. Mana mungkin Bapak terus bertahan ketika Den Zihan meminta Bapak turun. Lagian, itu si perempuan siapa sih? Kok kayaknya, tidak asing lagi wajahnya itu ya."

"Dia adiknya Mbak Diana. Perempuan yang pertama kali datang ke sini bersama Den Zihan, Pak. Huh ... kesal Ibu sama dia, tahu tidak?"

Begitulah obrolan antara Mang Mamat dengan Mbok Yah yang masih berada di depan pintu utama rumah mereka. Sedangkan di kamar, Lia terus menatap diri di depan cermin setelah ia masuk ke dalam kamar tersebut.

Entah kenapa, dia bisa merasa begitu kesal tadi ketika melihat Zihan bersama dengan perempuan lain di dalam mobil. Mana mereka duduk di dalam cukup lama. Membuat kesabaran Lia langsung lenyap seketika. Dan ia pun memilih langsung meninggalkan pintu utama tanpa memikirkan tanggapan dari Mang Mamat dan Mbok Yah.

Sekarang, setelah duduk diam selama beberapa waktu di depan cermin meja rias, Lia langsung menyesali apa yang sudah ia lakukan. Ia pun menggerutu, marah pada dirinya yang begitu tidak bisa ia kendalikan.

"Agh! Aku kok bisa bersikap bodoh secara tiba-tiba seperti barusan sih? Ya ampun ... pasti mereka akan mikir yang tidak-tidak tentang aku yang pergi begitu saja. Mereka pasti mikir kalau aku cemburu dengan Kak Zihan."

"Ya Tuhan ... apa sih yang sudah aku lakukan? Kenapa bisa, aku mendadak hilang kendali seperti ini? Pernikahan ini hanya karena aku yang ingin melunasi hutang Ayah. Itu saja."

"Yah, walaupun Kak Zihan bilang kalau aku sudah Ayahnya pilih sebagai menantu. Tapi pada kenyataannya akan tetap saja, aku menikah hanya karena ingin melunasi hutang. Lebih mirip sebagai pembantu yang bekerja untuk melunasi hutang Ayah saja."

Lia pun menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia yang kesal, kini berusaha terus menenangkan hati. Tanpa ia sadari, sekarang Zihan sudah ada di kamar tersebut.

"Tenanglah, Lia. Pernikahan ini .... "

"Lia." Panggilan itu membuat Lia langsung kaget. Dia yang menutup wajahnya pun langsung membuka seketika.

"Kak Zihan."

"Ngomong apa sih barusan?"

"Tidak ada." Lia berucap sambil mengalihkan pandangannya dari Zihan. Saat ini, dia sungguh tidak ingin bertatap muka dengan Zihan. Karena hatinya yang tidak karuan, tidak akan mengizinkan wajahnya untuk terlihat tenang dan baik-baik saja.

"Mm ... aku ingin tanya satu hal sama kamu, Lia. Tolong jawab dengan jujur."

"Katakan saja, Kak Zihan. Aku pasti jawab apa yang Kakak tanyakan."

"Apa benar kamu marah-marah sama Diani tadi, Lia?"

Pertanyaan itu langsung membuat Lia terdiam. Ada perasaan yang sangat kesal tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya saat ini. Rasa kesal yang perlahan berubah menjadi amarah yang jika sedikit saja tidak ia tahan, maka akan meluap dengan cepat seperti letusan gunung merapi.

Yah, jika pernikahan mereka karena saling mencintai, maka dia akan marah karena pertanyaan barusan. Karena sudah jelas bagi Lia, pertanyaan itu adalah pertanyaan yang meragukan kebaikan dirinya. Dan, membela perempuan lain di depan dia. Mana mungkin ia akan diam saja karena pertanyaan itu sama dengan suaminya yang lebih mempercayai apa yang orang lain katakan dibandingkan mencari tahu sendiri kebenaran dari apa yang orang lain ucapkan.

Tapi, pernikahan ini karena hutang. Maka, tidak akan hak untuk dia marah meskipun dia sangat ingin. Dan lagi, perempuan itu adalah adik dari perempuan yang pernah Zihan cintai. Tentu Zihan akan berada di pihak perempuan tersebut.

Lia pun berpikir, tidak ada gunanya menjelaskan. Lagian, Zihan sudah bertanya. Karena itu, dia pasti sangat percaya dengan apa yang perempuan itu katakan.

"Jika dia sudah bilang begitu, maka itulah kenyataannya, Kak Zihan. Aku marah karena dia tidak sopan pada Mbok Yah. Itu saja. Tidak ada hal yang mengenai Kakak. Jika Kakak tidak suka karena aku marah padanya, aku minta maaf."

Zihan yang mendengar ucapan itu sontak memasang wajah kecewa. "Jadi ... itu karena Mbok Yah?"

"Ya. Karena dia tidak sopan sama Mbok Yah. Jadi aku merasa tidak senang. Karena itu aku marah. Jika Kakak tidak percaya apa yang aku katakan, Kakak tidak usah memaksa untuk percaya. Karena aku tidak bohong."

Zihan pun terdiam. Dengan tatapan lekat, ia tatap Lia yang ada di hadapannya. 'Aku sempat berpikir kalau apa yang Diani katakan itu benar. Lia cemburu padanya. Sehingga aku begitu bersemangat untuk melihat Lia karena aku pikir, dia sedang cemburu dan aku harus menjelaskan perihal hubunganku dengan Diani. Tapi ternyata, aku hanya terlalu berharap.' Zihan berkata dalam hati dengan perasaan sangat kecewa.

'Ah, Zihan-Zihan. Apa yang kamu pikirkan? Mana mungkin dia bisa cemburu denganmu. Karena pernikahan kalian hanya karena terpaksa. Siapa juga yang suka pria lumpuh yang tidak bisa apa-apa selain menyusahkan orang lain seperti dirimu ini? Jadi, jangan terlalu berharap.'

Begitulah akhirnya Zihan meninggalkan kamar tersebut dengan pikirannya sendiri. Sementara Lia, ia juga sibuk dengan apa yang ia pikirkan. Intinya, mereka berdua sama-sama salah memahami maksud dari masing-masing.

Lia yang merasa tidak berhak marah, langsung mengatakan alasan lain untuk menutupi perasaannya. Sedangkan Zihan, ia yang sudah berharap dan merasa dikecewakan, juga langsung memilih diam begitu saja.

Sejak kejadian itu, hubungan keduanya agak kurang baik. Tidak seperti sebelumnya yang terlihat sangat dekat. Yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama di setiap detik.

Kini, mereka lebih banyak menghabiskan waktu sendiri-sendiri. Zihan yang terus menyibukkan diri di kamar dengan laptop dan ponsel. Sedangkan Lia yang terus ada di taman setelah melakukan tugasnya membantu Mang Mamat menyiapkan apa yang Zihan butuhkan. Begitulah selama beberapa minggu berlalu.

1
sunaryati jarum
Sadar diri namanya buruk,takut jika usahanya tidak dilirik masyarakatnya karena citramu buruk.Cerdik juga.
sunaryati jarum
Baru mampir
Green_Rose: yuhu... moga betah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!