Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.
Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.
Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.
Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?
Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"REBUTAN CEWEK?"
Keenan dan Alya duduk di kursi dalam ruang rawat Anaxa. Beberapa saat berlalu dalam keheningan, dan ucapan Anaxa tiba-tiba memecah keheningan itu
"Oh ya... Memangnya aku sudah pingsan berapa hari?"
Keenan membalas ucapan Anaxa "Kamu pingsan 3 hari King. Dari hari Jumat, dan hari ini sudah Minggu."
"Ahh Oke... Keenan..."
"Ya?"
"Boleh aku pinjam ponselmu? Mau memberi kabar ke bos ku." Anaxa menjulurkan tangan kanannya yang masih tertancap infus.
"Kamu baru aja ketabrak malah mikirin kerjaan lagi? Serius?" Sewot Keenan. Mau tak mau memberikan ponselnya ke Anaxa.
"Kalau aku dipecat, nanti aku makan apa bodoh." Anaxa terkekeh pelan melihat wajah Keenan yang kembali cemberut
Dengan cepat Anaxa memasukkan nomer dan menelepon bos nya. Anaxa sengaja memasang mode speaker agar teman-temannya bisa ikut mendengar. Beberapa saat menunggu dan akhirnya diangkat "Halo bos. Selamat malam. Saya ingin mengurus perizinan cuti bekerja karena saya baru saja..."
'Itu semua sudah tidak perlu lagi, Anaxa"
"Ya bos?" Anaxa sedikit terkejut
"Saya sudah mengirim surat pemutusan kerja dan mentransfer uang pesangon mu. Terimakasih sudah bekerja dengan baik dan berdedikasi selama ini. Selamat malam."
Panggilan telepon terputus. Anaxa masih menatap ponsel dan terdiam. Seakan masih memproses kejadian yang baru saja terjadi.
Keenan langsung mengangkat dua tangannya dengan wajah agak ketakutan "Maaf. Bukan bermaksud nyumpahin kamu putus kerja beneran. Sumpah!"
Anaxa menghela nafas berat. Lalu mengembalikan ponsel Keenan. "Hah... Gak papa... Mungkin karena akhir-akhir ini kinerja ku kurang bagus dan tidak konsentrasi..." Anaxa tersenyum lemah.
"Tapi gimana kamu hidup sehari-hari nya? Gak langsung jadi gelandangan kan?" Dan ucapan itu malah bikin Anaxa tertawa.
"Bodoh! Aku gak semiskin yang kamu kira ya. Kalau tidak salah di rekening ku ada berapa juta ya... Mungkin 76 juta..."
"HAH?! 76 juta?!!!" Keenan syok
Alya malah mentertawakan reaksi Keenan
"Kok bisa sebanyak itu King? Kamu gak ngepet kan? Atau pergi ke dukun?"
"Mungkin uang Anaxa berasal dari lomba-lomba yang dia menangkan dan dari gaji kantornya?" Alya mencoba untuk menebak
"Pintar."
"Oh iya ya. Aku sampai lupa kalau nama King Anaxa terpajang di wall of fame dengan deretan prestasi." Keenan tertawa pelan
Namun, bukannya senang dibilang seperti itu, Anaxa malah terdiam dan tatapannya kembali kosong. Dia mengulas senyum pahit. "Aku cuma... Subjek penelitian... Aset kampus."
"Anaxa..." Alya memanggil namanya dengan khawatir. Namun ucapan Alya hanya dibalas dengan helaan nafas Anaxa.
"King. Jangan berpikiran negatif gitu dong. Kamu bukan subjek penelitian. Kamu itu temen kami kok." Keenan berusaha membela.
Namun Anaxa hanya memejamkan mata dan menutupi nya dengan lengan. "Aku menemukan folder... Berisi catatan penelitian tentang diriku. Bahkan sejak pertama kali masuk, aku sudah jadi subjek penelitian."
Keenan yang melihat Anaxa mulai down, berubah jadi marah. "Siapa yang bikin kamu jadi subjek penelitian? Bu Aglaea? Besok aku akan bikin perhitungan dengannya."
Tetapi dengan cepat Anaxa menyela. "Gak papa Keenan. Biar itu jadi urusan ku."
"Tapi king..."
"Gak papa. Biarin aja. Aku pusing." Anaxa membuka matanya lagi. Kini terlihat lelah
"Udah Keenan. Biarin Anaxa istirahat dulu." Ucap Alya berusaha menenangkan keduanya
"Hah baiklah. King, kalau perlu bantuan bilang aja ya. Jangan dipendam sendiri." Ucap Keenan pada akhir nya. Dan Anaxa mengiyakan.
Beberapa saat kemudian, hening kembali menyelimuti ruang tersebut. Alya dan Keenan sibuk dengan ponselnya, sementara Anaxa hampir saja tertidur saat pintu ruang inap tiba-tiba terbuka. Membuat Anaxa kembali membuka kedua matanya.
"Yuhuu. Hello gaes!"
Alya dan Keenan langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Ribka. "Loh Rib, ngapain kesini? Tadi kan udah dijenguk." Tanya Alya saat melihat Ribka yang berjalan sambil menyeret tiang infus.
"Bosen gue di kamar terus. Katanya Anaxa kecelakaan nya? Mau liat." Ucap Ribka dan kemudian melangkah ke dekat Anaxa
"Hello Anaxa?! Astaga. Kok kaki lu sampai di gips gini sih? Patah kah?"
Anaxa yang melihat kehebohan Ribka hanya bisa tersenyum tipis. "Kayaknya ditabrak dari bagian kanan deh..."
"Sumpah gila. Untung lu masih hidup!"
"Kamu sumpahin aku biar meninggal?"
"Lumayan kalau meninggal bisa langsung masuk surga." Ucap Ribka nyeleneh
Anaxa hanya tertawa menanggapi omongan Ribka. "Logika macam apa itu..."
"Mau juga dong masuk surga jalur VIP?" Keenan ikut nimbrung
"Kamu kayaknya bakal ditendang dari surga karena terlalu bodoh." Ledek Anaxa
"King mah gitu..." Keenan kembali cemberut
Tetapi Ribka, Alya, dan Anaxa hanya menertawai Keenan, hingga Keenan makin makin cemberut.
Setelah puas ketawa, Ribka memandang ke sekitar kemudian mengernyitkan dahi. "Loh, Dimas kemana? Kok dia gak ada?" Tanya Ribka setelah tidak mendapati kehadiran pria itu.
"Dimas pulang duluan. Katanya ada urusan" Ucap Alya dan dibalas anggukan Ribka
"Udah ya gaes. Gue balik kamar." Ucap Ribka pada akhirnya. Kemudian Ribka balik ke kamarnya diantar oleh Alya
Dan ruangan itu akhirnya hanya tinggal Anaxa dan Keenan. Anaxa yang semula ingin memejamkan matanya lagi, malah mendengar ucapan Keenan.
"King."
"Hmm?"
"Mau tanya boleh?"
"Tanya apa?" Ucap Anaxa mengubah sorot pandang nya jadi ke Keenan.
"Lu... Sebenarnya hubungan lu sama Alya apa?"
Ucapan Keenan membuat Anaxa mengernyit kan kening. "Cuma temen."
"Serius King? Kamu suka Alya kah? Aku liat hubungan kalian tambah dekat dari sebelumnya." Ujar Keenan
"Suka ya... Aku gak tau."
Anaxa tersenyum tipis. Kemudian melanjutkan perkataan nya lagi. "Tapi aku nyaman dengannya. Memangnya kenapa? Kamu suka dengan Alya?" Tanya Anaxa ke Keenan
Keenan menggelengkan kepala. "Bukan aku. Tapi Dimas. Dia dari dulu suka Alya."
Anaxa yang mendengar itu hanya berdeham pelan. "Lalu, jika Dimas suka dengan Alya kenapa gak bilang? Jangan salahkan aku yang jadi lebih dekat dengan Alya."
Keenan menganggukkan kepala. Dia terlihat setuju dengan ucapan Anaxa. "Kamu benar king. Salah Dimas sendiri yang gak berani ambil langkah. Dia cuma cerita ke aku kalau suka Alya dari dulu, tapi ya gitu..."
"Hahahah..." Anaxa tertawa pelan "Hanya terjadi sekali dalam hidupku, aku rebutan cewek dengan orang lain?" Tanya Anaxa. Dia merasa konyol terhadap dirinya sendiri
Keenan pun juga ikutan tertawa mendengar ucapan Anaxa.
"Kalian bicarain apa tuh?" Pertanyaan Alya yang entah sejak kapan sudah memasuki ruang inap Anaxa, membuat mereka berdua gelagapan takut kepergok.
"Ah... Engga kok sumpah. Iya kan king? Kita ga omongin apa-apa kok?"
"Iya bener. Serius." Anaxa berusaha memasang tampang yang menyakinkan.
"Kalian agak mencurigakan." Ucap Alya
"Itu. Tadi lagi bicarain Dimas. Ternyata dia naksir cewek loh." Ucapan Keenan membuat Anaxa membelalak kan mata
"Keenan!"
"Ups." Keenan malah cengengesan
"Memangnya siapa cewek yang ditaksir Dimas?" Alya bertanya tanpa mengetahui bahwa dirinya lah yang ditaksir Dimas