Revano, seorang penulis, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Vian-tokoh yang ia ciptakan sendiri.
Sialnya, tubuh itu rapuh, keluarganya berantakan, dan hidupnya jauh berbeda dengan apa yang ia tulis.
Revano mencoba memperbaiki semuanya. Namun semakin lama ia hidup sebagai Vian, semakin banyak rahasia yang terkuak.
Hingga perlahan, satu kebenaran menghantamnya:
Vian bukan sekadar karakter.
Dan mungkin... ia bahkan tidak benar-benar memasuki raga Vian.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dopamine girl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Bell sudah berbunyi 2 menit yang lalu, kelas mulai sepi dan seluruh siswa-siswi telah pergi keluar dari tadi. Vian masih duduk manis di tempat nya. Di meja belakang paling jolok. Duduk sendirian karena pemilik kursi sebelah nya tidak masuk. Tanpa keterangan- Alfa.
Ashilla sudah pergi bersama temannya dari tadi. Dengan alasan ingin ke WC . Jadi Vian tak bisa ikut. Vian Hanya bisa menunggu kakak nya datang menjemput dirinya.
Tak lama , Revano datang. Bersama 6 sekawan yang berjalan mengikuti nya dari belakang. Mereka menghampiri Vian , mengelilingi nya yang sedang duduk diam di tempat. Vian sedikit takut , apalagi melihat tampang mereka yang sedikit menyeramkan , dengan rambut berwarna dan gaya urakan. Khas seorang preman jalanan. Namun masih menyisakan 2 yg terlihat waras. Mirip anak sekolah
"Hey kamu Vian ya? Kakak udah denger tentang mu dari Abang mu . " Ucap sala satu dari mereka. Dengan rambut merah dengan telinga yang terdapat anting. Wajah nya tampan namun karena gayanya ia terkesan brandal . Ia menatap Vian dengan sorot mata ramah dengan senyuman yang cerah. Membuat Vian merasa bahwa lelaki di depannya tidak seburuk itu.
"Nama aku Kenzo ,salam kenal dedek manis " ucapnya lagi terkesan ramah dengan suara yang pelan. Plak . Tamparan yang lumayan keras hinggap di belakang kepalanya. Membuat Kenzo sedikit terjerembab ke depan."Lo apa-apa si " geramnya dengan mata melotot penuh dendam ke arah si pelaku.
"Lucu Lo kaya gitu " ejeknya. Dia menatap Kenzo dengan pandangan yang sedikit merendahkan" ke pedofil tau gak" ucapnya. Ryan namanya. Pria yang memiliki perawakan yang sedikit lebih kurus dari mereka namun paling tinggi di antara mereka. Gayanya sama kacau . Namun rambutnya masihlah terkesan rapih tak terkontaminasi oleh cat rambut.
" Heh kalian kok malah ribut di sini kita udah janji akan bersikap baik , kalian lupa . Dan jaga bahasa kalian" ucap pemuda yang tampang yang tidak mengenakan. Bukan jelek. Namun lebih ke seram karena raut wajah yang tertekuk sempurna dengan tatapan yang sangat tajam.
"Udah Han , Lo kalau mau mengkondisikan para kadal untuk berperilaku baik sebaiknya kondisikan diri Lo juga. Gue takut no bocah nangis gara-gara Lo " ucap sala satu pemuda itu. Dia menunjuk Vian dengan dagu . Memberikan isyarat kepada pria berbadan besar itu. Pria itu rehan sedangkan pria yang menunjuk Vian bernama Khasan .
"Diam!!" Perintah Vano. Suasana hening. Vano mengelus rambut Vian dengan sayang . Menatap Lamat ke arah nya.
"Kenapa sendiri? Dimana ashilla?" Tanya nya lembut , berbeda dengan intonasi yang sempat mencengkam. " Tadi kak as mau ke WC katanya bang"jujurnya. Revano tak bertanya lagi. Ia memilih mengelus rambut halus Vano dengan lembut. Sepertinya ini akan menjadi kebiasaan baru nya.
"Bang?" Tanya nya. Sedikit mengambang di udara. Seolah mengetahui sala satu dari mereka maju ke depan. Masih sama dengan gaya urakan nya."sepertinya aa Zian tau kebingungan dek Vian " ucapnya penuh percaya diri. Beberapa dari mereka menatap jijik dan aneh . namun di hiraukan oleh Zian.
"Perkenalkan nama AA , AA Zian . Itu yang besar namanya rehan , yang cungkring Ryan"
"Hehh!!" Sewot Ryan melihat penuh dengki ke arah Zian.
"Yang kulit eksotis Khasan,dan dia...." Menunjuk ke arah Kenzo dengan jari tengahnya"Kenzo , jangan dekat-dekat soalnya dia boti " guraunya. Para lelaki itu tertawa , menyisakan 2 orang yang masih diam.
" bacot lu " gumam penuh kesal Kenzo.
Vian mengangguk , namun matanya melihat penuh tanya ke arah pemuda yang selama uni diam. Dia tinggi putih dengan rambut mullet. Gaya berpakaian nya juga rapih sama seperti Vano ." Ahh aku hampir lupa, dia yang putih ini namanya Axel "
"Ingat ya , yang besar rehan , yang kurus Ryan , yang putih Axel yg hitam Khasan "
"Perasaan gue gak hitam-hitam amat, ini ideal bro!"
"Yang ganteng AA Zian dan yang boti Kenzo "
"Loo!!" Ucap Kenzo. Sepertinya ke sabaran nya sudah di ambang batas. Dia mencengkam kuat kerah baju Zian dengan ekspresi yang seolah ingin menerkam.
"Tuhh kan ,akhh... tolongin AA , si boti lagi cari mangsa " teriaknya dramatis. Mereka semua tertawa lagi,kali ini lebih nyaring dan lebih ramai. Bahkan Vian pun ikut tertawa melihat tingkah konyol mereka. Revano tersenyum. Mengelus rambut halus Vian "ayo ke kantin, Vian pasti udah lapar ya " ucapnya . Vian mengangguk mengiyakan nya. Berjalan menghampiri mereka dan pergi menuju ke kantin bersama.
Sementara itu di tempat lain..
Di WC nyatanya ashilla terdiam sendiri ,tak ada ke 3 temanya . Atau orang lain di sana. Hanya ada dirinya, dengan mata menatap penuh cemas dan kesal pada telepon genggam miliknya.
'Sudah kubilang, hidup mu akan hancur.
Kehidupan seorang putri yang biasa kamu perankan akan musnah. Karena kau hanya pengantin bukan tokoh utama yang sebenarnya.'
Pesan itu yang tertera di layar nya. Ia mengigit kuku jarinya dengan perasaan yang berkecamuk. Untaian kata singkat dari si pelaku terus mengiang di kepalanya. Karena pesan misterius itu bukan lah yang pertama.
Karena semua telah di mulai sejak lama -jauh sebelum Vian kembali ke keluarga nya.
"Akhhhh,,, sebenarnya Lo itu siapa sih , berhenti ganggu hidup gue"teriaknya kesal. Suara pekikan nya terdengar menggema di seluruh ruangan. Menyisakan kesunyian kembali setelah teriakan nya. Suara tetes air dari keran ,dan suasana sunyi dan dingin WC . Menambah ketegangan yang dia rasakan.
Lengang, yang ia rasakan hanyalah ke sunyi an. Nafasnya terasa tercekat akibat atmosfer dingin yang ia rasakan. Ia sesak , ingin teriak ingin menangis. Namun semuanya ia telan bulat-bulat. Menyisakan perasaan rumit yang bahkan tidak ia mengerti.
"Rasanya aku ingin menyerah"gumamnya lirih. Ia menatap kaca besar di depannya . Ada sedikit rasa takut dan juga benci di saat bersamaan. Saat melihat kondisi nya yang terlihat tidak baik-baik saja.
Ashilla membuang nafas nya, mencoba mengontrol perasaan yang bahkan tidak ia mengerti "as kamu jangan goyah sama pesan itu , mungkin dia sebenarnya iri sama aku , karena aku sempurna " ucap nya. Dia merapihkan baju , menyisir rambut panjang nya dengan tangan dan tak lupa mencuci muka karena sedikit luntur oleh air mata. Dia menatap dirinya di cermin . Matanya menatap intens refleksi dirinya . dengan sudut bibir yang tertarik sempurna. Begitu lebar hingga membuat kecantikan ashilla sedikit menyeramkan.
"Gue harus bisa kembali seperti dulu. Menjadi ashilla yang baik , dicintai dan di inginkan oleh semua orang "
"Ya itu benar , aku harus mendapatkan apa yang harus ku dapatkan . Harus!!"
Ting ,suara notifikasi kembali terdengar , dari no yang sama dan orang yang sama. Pesan yang selalu menghantui dan membuat ashilla sedikit paranoid terhadap orang-orang sekitarnya. Karena semua pesan yang di kirim benar-benar terjadi . Seolah si pengirim pesan misterius berada di dekatnya.
'ingat kamu akan selalu menjadi pengganti ,dan satu-satunya untuk jadi yang utama adalah memastikan bahwa dia menghilang - sepenuhnya.'
Tak ada pesan lagi . Dan sekali baca ia tau . Dia yang di maksud oleh si pengirim misterius. Mungkin tak ada salahnya jika menuruti perintah dari si pengirim misterius ini.
"Let's play"