Dominic Salvatore, Don Cosa Nostra sekaligus CEO miliarder, tidak punya hati, tidak punya belas kasihan, dan sebentar lagi tidak punya pewaris. Kanker merenggut kesuburannya, dan satu-satunya harapan Famiglia tergantung pada sperma beku di sebuah klinik. Yang dia butuhkan hanya seorang istri. Cantik, serakah, dan cukup kejam untuk bertahan di sisinya.
Pilihannya jatuh pada Isabela Smith, resepsionis hotel berambut merah yang pandai menjual senyum, sekaligus kakak yang diam-diam menyiksa adik perempuannya sendiri.
Ane Smith tidak pernah punya hidup seperti gadis biasa. Dia bekerja, belajar, menunduk, dan menerima semua pukulan dengan satu keyakinan: kakaknya melakukan semua itu demi kebaikannya. Sampai suatu hari dia salah membuka pintu kamar mandi di suite presidensial milik pria paling berbahaya di Manhattan.
Pernikahan kilat, kamar tidur terpisah, aturan yang tak boleh dilanggar, dan sebuah pemeriksaan kandungan yang seharusnya tidak pernah dijalani orang yang salah. Satu kesalahan kecil, satu rahasia yang tak boleh bocor, dan seorang bayi yang tak seorang pun rencanakan.
Di dunia Dominic, kesetiaan dibayar dengan nyawa, dan kebenaran selalu datang terlambat. Tetapi ada pria lain di seberang perbatasan, dengan kartel, senyum hangat, dan luka yang tak kalah dalam, yang menatap Ane seperti dia seorang ratu.
Siapa yang berhak atas bayi ini? Siapa yang berhak atas Ane? Dan berapa harga yang harus dibayar seseorang untuk lepas dari monster yang pernah dia kira cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Carolis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 - Isabela Smith
Isabela Smith
Kerja di hotel ini benar-benar sialan. Aku menginginkan hidup yang jauh lebih baik dari ini. Tapi aku tidak pernah bisa kuliah, jadi yang kupunya hanya ijazah SMA yang kudapat dengan susah payah.
Waktu orangtuaku meninggal, akulah yang mengurus adik perempuanku. Berpindah dari satu panti asuhan ke panti lain adalah mimpi buruk, tapi tidak ada yang sebanding dengan keluarga asuh sementara.
Tinggal bersama beberapa pasangan membuatku sadar bahwa kejahatan manusia memang tidak mengenal batas. Dilecehkan dengan cara terburuk yang bisa menimpa seorang remaja baru permulaan mimpi burukku. Tapi itu membuatku lebih kuat. Itu yang membuatku menjadi si sadis seperti sekarang.
"Aku harus membereskan hidupku, Ane. Aku tidak mau seumur hidup membersihkan kotoran orang-orang kaya brengsek itu. Dan kau harus cari uang lebih banyak, yang kaubawa kemarin sudah habis," kataku sambil mengikir kuku-kukuku yang sempurna.
"Habis bagaimana? Aku sudah kasih seluruh gajiku, aku sampai tidak punya ongkos kereta bawah tanah untuk ke sekolah." Si lancang itu menjawab. Dia memang tidak pernah tahu kapan harus diam.
Kuputar mata hijauku yang indah. "Bukan urusanku, jalan kaki saja kalau perlu. Tagihan rumah ini tidak akan lunas sendiri, kau harus ikut menanggung."
"Mungkin kalau kamu berhenti keluar setiap malam, kita punya lebih banyak uang." Adikku menunduk di depanku, setelah salah satu tatapan mematikanku yang menakjubkan tertuju padanya.
Ane tahu aku bukan kakak baik hati yang membesarkannya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Dia harus bekerja sejak orangtua kami meninggal, makanya dia masih sekolah. Si bodoh itu tak sanggup membagi waktu antara kerja dan belajar, dan beberapa kali tidak naik kelas karena terlalu sering bolos. Dia benar-benar tolol. Buat apa buang waktu belajar kalau dia bisa pakai sepatu hak tinggi, rok kulit, dan cari uang buatku dengan menyetop mobil di sudut jalan?
"Jangan bicara begitu padaku. Seumur hidup aku mengurusmu. Karena orangtua kita tidak ada, akulah yang harus kauhormati. Sekali lagi kau bicara begitu, aku akan lupa bahwa aku sudah berjanji tidak memukulmu lagi."
"Maaf, Isa." Dia menunduk. Dia tahu betul kapan aku serius dan kapan aku hampir meledak.
Pukulan terakhir kuberikan setelah aku dicampakkan seorang pacar kaya yang kuincar untuk kunikahi dengan segala cara. Bajingan itu hanya main-main denganku. Dia punya pacar lain, perempuan sekelas dengannya, kalau boleh kubilang begitu. Aku pulang dengan amarah memuncak, dan Ane ada di sana dengan tampang sok polosnya, kacamata konyolnya, dan poni jeleknya, menanyakan bagaimana hariku. Aku tak tahan, tekanannya terlalu besar untuk wanita semuda aku. Kuhajar dia sampai pingsan, dan tidak, aku tidak merasa bersalah sedikit pun, aku tidak punya perasaan untuk siapa pun, aku monster sejati.
Orangtuaku meninggal karena pembunuhan; seseorang membakar ranjang mereka, hanya aku dan Ane yang berhasil selamat. Bahkan itu pun tak membangkitkan perasaan apa-apa dalam diriku, tidak juga rasa takut. Mereka bukan orang baik. Ibuku pecandu, dan ayahku, ya... Papa, begitu dia suka dipanggil saat aku duduk di pangkuannya, kalau kalian paham maksudku. Dia juga bukan pria baik untuk siapa pun. Aku masih ingat hal-hal yang dia ucapkan saat mengunciku bersamanya di kamar, ketika Mama terlalu lemah untuk menolongku, untuk membebaskanku dari penjara itu. Jeritan histerisku masih menghantui mimpiku setiap malam. "Aku tidak gila. Keluarkan aku dari sini," dan banyak kalimat lain yang dulu sering kuucapkan, yang masih sering kuingat dan masih begitu menyakitkan.
Dalam arti tertentu aku membenci Ane karena dia tidak mengalami hal yang sama denganku, setidaknya tidak dengan cara yang sama, dan meski begitu anak ingusan itu tetap tertutup. Pakaian longgarnya menyembunyikan seluruh tubuhnya. Dia memang berpenampilan seperti gadis kecil dengan poni dan pita bunga di kepalanya. Bocah itu benar-benar merasa lebih baik dari semua orang, menolak berpacaran seolah keperawanannya sesuatu yang istimewa. Aku bersumpah suatu hari akan kuhabisi omong kosong itu. Aku ingin membeli sebuah benda dan menuntaskannya sendiri, tapi kalau begitu aku tak akan bisa mengendalikannya, dan aku masih ingin budakku tetap bersamaku.
"Pergi buat makan malam, aku terlalu capek." Aku bersandar di sofa, meletakkan kikir di tanganku.
"Iya, Isa. Aku selesaikan PR dulu, aku sudah sangat terlambat."
"Aku tidak peduli. Kau bodoh sekali, aku tidak mengerti kenapa kau masih berusaha lulus. Kau merasa lebih baik dariku?" Kucondongkan tubuhku ke arahnya.
"Tidak, Isa. Aku tidak pernah bilang begitu." Dia berdiri dengan ketakutan.
"Kau merasa lebih baik dari semua orang, keliling-keliling dengan muka sok polos itu seakan-akan kau pemilik seluruh planet sialan ini."
"Aku tidak pernah begitu." Dia berkata dengan nada polos yang membuatku muak.
"Ssst, tutup mulutmu. Belum juga kapok berdebat denganku? Sekarang pergi sebelum kesabaranku habis. Mungkin hari ini aku tidak memukulmu, tapi aku pasti akan mengirimmu ke sumur."
"Jangan, kumohon jangan lakukan itu lagi. Kamu sudah janji. Lagi pula, kamu butuh aku untuk dapat uang."
"Kau tahu apa yang kumau sekarang. Pergi sebelum aku berubah pikiran. Aku tidak butuh kau untuk apa pun, kau tidak berguna."
Dia langsung berlari ke dapur, ketakutan terpampang jelas di wajahnya dan membuatku tertawa. Aku suka melihatnya ketakutan. Butuh bertahun-tahun untuk menanamkan perilaku semacam ini padanya. Cara aku melukainya lalu meniup lukanya pelan-pelan itulah yang membuat semuanya berbeda. Banyak perlakuan kejam dibungkus sedikit kelembutan, ditambah ingatan masa kecil yang hilang, hanya itu yang kuperlukan. Amnesianya datang di saat yang pas, hingga aku bisa menanamkan semua yang kumau ke kepala kosongnya.
"Kau tahu apa yang kusuka. Kalau rasanya tidak enak, akan kupaksa kau makan seluruh pancinya, dengar tidak?"