Setiap pagi, Laras melayani pelanggan pertamanya di kedai kecil itu: seorang pria bermata biru yang selalu memanggilnya "Cantik". Hanya itu. Karena di rumah, ayah dan kakaknya memperlakukannya seperti sampah, dan lelaki setampan itu tak akan pernah melirik gadis gemuk sepertinya.
Yang tidak Laras tahu, pria itu adalah Satria Kusuma, Don 'Ndrangheta, bos mafia yang ditakuti, dan ia punya waktu enam bulan untuk menikah atau kehilangan takhtanya. Satu malam, setelah melihat sendiri bagaimana Laras diperlakukan, Satria mendatangi rumahnya dan menawarkan kesepakatan yang tak bisa ditolak ayah Laras: utang dilunasi, dan Laras menjadi istrinya.
Laras mengira ajalnya sudah dekat. Ia punya rahasia yang menurut hukum mafia pantas dibayar nyawa. Tapi pria yang ia takuti justru menyediakan sofa, selimut, dan kesabaran tanpa batas, dan perlahan menunjukkan padanya bahwa ia boleh hidup, boleh dicintai, bahkan boleh menjadi kuat.
Sementara itu, di balik pesta dan perjodohan, keluarga Kusuma menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan semuanya. Dan Bianca, adik Satria yang tajam lidahnya, sedang bermain api dengan satu-satunya lelaki yang tak boleh ia sentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenardt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Laras Pradipta
Aku gugup, jadi hampir tidak bisa makan. Kami semua makan malam bersama, tapi pikiranku melayang jauh. Rupanya bukan cuma aku. Bianca nyaris tidak melirik ayahnya, Darmawan memasang tampang seram, Rendra kelihatan sangat cemas, dan sesekali aku melihat dia dan Bianca bertukar pandang diam-diam. Satria seperti tidak peduli pada sekelilingnya, sampai aku penasaran apa yang sedang dia pikirkan.
Yang kelihatan benar-benar fokus pada makan malam dan kebersamaan ini hanya Ratna dan Nenek Sari, yang asyik mengobrol soal pernikahanku.
"Semua mau pencuci mulut? Aku suruh siapkan es krim cokelat dengan saus ceri, enaknya luar biasa." Ratna kelihatan bersemangat.
Semua mau, kecuali Rendra dan Darmawan, yang suasana hatinya terlalu buruk bahkan untuk mencicipi sedikit yang manis.
"Sambil makan pencuci mulut begini, aku ingat kita harus mencicipi kue-kue pernikahan. Aku sudah reservasi di toko kue yang bagus sekali. Waktunya mepet, jadi sebaiknya secepat mungkin."
Harus kuakui semua ini masih membuatku bingung, tapi aku senang mereka memikirkan semuanya, karena aku yakin aku tidak akan sanggup mengatur apa pun tanpa mereka.
"Atur saja akhir pekan ini, Ma. Aku ikut." Semua tampak kaget Satria bilang dia akan ikut. "Kenapa semua melihatku begitu? Ini pernikahanku, aku harus ikut."
"Buat orang yang dulu kabur dari pernikahan, kamu semangat juga ya." Ratna tertawa, sementara Nenek Sari ikut terkekeh dan menyendokkan es krim yang kelihatan benar-benar enak itu untuk kami.
Obrolan lain masih bergulir, tapi sekarang semua seperti melamun dan menjawab asal-asalan, jelas sudah tidak sabar ingin ke kamar masing-masing. Aku juga pasti sudah ingin ke kamar kalau tidak ada kesepakatanku dengan Satria. Memikirkannya saja aku sudah gugup setengah mati.
"Ya sudah, semuanya, aku pulang ke rumahku. Kalau ada yang butuh aku, hubungi ponsel." Rendra beranjak pergi sambil mencium pipi Ratna dan Nenek Sari.
"Aku naik, capek, dan besok aku berangkat pagi-pagi buat ngurus beberapa hal soal pernikahan."
"Setidaknya hari ini dia lapor." Darmawan menyindir putrinya.
"Jangan mulai, deh, biarkan anak itu." Ratna mencoba menengahi.
"Santai, Ma, nggak usah diributkan, aku mau pergi. Selamat malam semuanya." Bianca pergi dan naik tangga.
"Ayo?" tanya Satria, membuatku membeku. Aku ingin menolak, tapi tidak ada tempat untuk lari.
"Jangan lupa aturannya, pernikahan belum terjadi," kata Darmawan, mukanya masih tidak bersahabat.
Satria mengabaikan ayahnya dan menggandeng tanganku, membawaku bangkit dari meja dan naik ke lantai dua bersamanya.
"Masih sore. Gimana kalau kita nonton film?"
"Boleh aku nonton sambil duduk di sofa?" Dia tertawa.
"Kamu boleh apa saja, Cantik. Ide supaya kamu berbaring di ranjang itu demi kenyamananmu. Aku rela beli sofa paling nyaman sedunia kalau tahu kamu bisa berbaring dan tidur nyaman. Aku nggak tahan melihat ketidaknyamanan yang kamu alami karena masa lalu mengerikan yang masih menyiksamu." Aku mengangguk dan tidak berkata apa-apa.
Kami masuk kamar, dan dia langsung menyalakan televisi dan merapikan selimut di sofa.
Aku duduk dengan semangat, hanya saja tidak menyangka dia akan duduk persis di sebelahku, benar-benar menempel. Memang dia calon suamiku, tapi setiap kali ada yang mendekat, bagiku itu masih agak gila. Tapi aku senang karena tidak merasa aneh di dekatnya.
Film dimulai dan berjalan, dan di antara kami belum ada yang bicara. Dia cuma menanyakan pendapatku soal film yang mau ditonton, setelah itu tidak ada lagi. Sampai pasangan di film itu berciuman, dan secara naluri aku menoleh padanya dengan malu. Tahu kan rasanya malu lihat adegan seperti itu di depan orang tua? Setidaknya aku dulu begitu waktu Ibu masih hidup, dan aku merasakan hal yang sama bersamanya.
"Cantik, kamu pernah berciuman?" Pertanyaan itu sama sekali tidak kusangka, dan mataku membelalak.
"Aku... eh... sebenarnya ciuman yang kamu kasih waktu itu yang paling dekat dengan itu."
Kulihat dia mengerutkan dahi.
"Ciuman yang kukasih?"
"Waktu kamu pergi hari itu, kamu pamit padaku dengan sebuah ciuman."
"Itu cuma kecupan singkat, Cantik, bukan ciuman beneran." Aku malu mendengarnya. "Kamu tahu kan, waktu kita menikah nanti aku akan menciummu di depan semua orang?"
"Gimana kalau aku salah dan nggak bisa?"
"Cuma ada satu cara buat tahu kamu bakal salah atau nggak." Dia mendekat, membuatku kaget. Bibirnya tinggal beberapa senti dari bibirku. "Boleh?"
Aku mengangguk tanpa mengalihkan mataku darinya, dan dia menempelkan bibir kami. Pelan sekali bibirnya terbuka dan mulai menangkap bibirku, dan tanpa benar-benar tahu, aku sudah mengikutinya dan memperdalam ciuman yang sama sekali tidak kuduga.
Satria mempertahankan ciuman itu seperti itu, lambat dan nikmat.
"Boleh pakai lidah?"
Aku tidak menjawab pertanyaannya, hanya menempelkan bibir kami lagi, mencoba mencicipi lebih banyak dan mencari tahu bagaimana rasanya pengalaman itu. Satria membuka mulutnya lebih lebar dan membawa lidahnya ke lidahku. Aku tidak begitu mengerti, tapi aku mengikuti, dan tahu-tahu lidah kami seperti sedang berduel. Harus kuakui rasanya jauh lebih baik dari yang kubayangkan, membuatku merinding dan merasakan sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Satria menghentikan ciuman itu mendadak dan menoleh ke TV.
"Gimana kalau kita fokus ke film?"
"Aku payah, ya?" Aku harus bertanya, aku khawatir dia tidak puas.
"Kamu bagus banget, Cantik. Aku yang harus menahan diri supaya nggak melakukan kebodohan. Semuanya pelan-pelan, seperti seharusnya."
* * *