Nara Askiya, gadis cantik yang memiliki tubuh tinggi dan menawan, tak salah jika banyak laki-laki yang mendambakannya, ia terkenal sopan anggun dan cerdas, berprofesi sebagai seorang pengawas di sebuah mall terkenal di kota itu.
namun nasib hidupnya tak se indah gambaran dirinya, ketika ia menikah dengan kekasih yang ia cintai dan sangat ia dambakan.
penghianatan mengubah hidupnya saat acara ijab akan di laksanakan, ia harus menelan kepahitan saat tahu sang kekasih pergi meninggalkannya tanpa aba-aba tanpa ucapan tanpa penjelasan.
Namun, di tengah kepedihan itu... ada seorang laki-laki gagah yang rela menutupi malu keluarganya di hari yang seharusnya bahagia bagi Nara, semua sempat mendapat perdebatan namun akhirnya Nara menerima laki-laki itu' dialah Deon Satya, laki-laki yang tak Nara ketahui adalah seorang pemilik mall tempatnya bekerja yang hidupnya memilih sederhana. bagaimana kehidupan Nara dan Deon usai menikah tanpa rasa cinta dan mengenal? apakah Nara akan menerima Deon...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Nara
Hanya satu kata, Tetapi Deon merasakan sesuatu yang berbeda.
...
Sore itu, jarum jam telah menunjukkan pukul setengah empat.
Setelah menghabiskan waktu sejak pagi untuk memindahkan barang-barang dan pakaian ke rumah baru, Nara kembali bersiap untuk berangkat kerja. Ia berdiri di depan cermin kamar, merapikan rambutnya, kemudian mengenakan pakaian kerja yang sudah disiapkan.
Deon yang sedang duduk di tepi tempat tidur memperhatikan istrinya melalui pantulan cermin.
“Tidak mau libur saja hari ini?” tanyanya.
Nara menggeleng. “Tidak bisa. Aku baru masuk kerja lagi setelah cuti panjang. Kalau sekarang izin, nanti malah tidak enak dengan atasan.”
“Kamu capek sejak pagi.”
“Capek sedikit.” Nara mengambil tasnya. “Lagian, rumah ini sudah selesai kita rapikan. Tinggal menikmati.”
Deon tersenyum tipis. “Kamu terlalu memaksakan diri.”
“Aku cuma kerja, bukan mengangkat lemari seharian.”
Deon tersenyum menggelengkan kepala pelan.
“Iya iya, tapi tadi kamu sibuk, Nara."
“Ya karena aku nggak mau lihatin kamu ngerjain sendiri."
Deon tertawa kecil. “Oke. Kalau begitu, sekarang aku antar kamu.”
Nara menoleh. “nggak usah.”
Deon mengernyit. “Kenapa?”
“Rumah ini dekat sekali dengan mall, kan? Tuh lihat..." Nara menunjuk ke arah luar melalui jendela. “tinggal keluar komplek, nyebrang jalan raya kekiri nglewatin Resto ceria, sama warung seblak, belok kanan berapa meter sampai deh."
“Berapa lama?”
“Tidak sampai sepuluh menit kalau berjalan santai lah, kamu pakai tanya.”
Deon tersenyum. Ia sebenarnya ingin mengantarkan Nara, terlebih karena hari sudah mulai menjelang malam. Namun ia juga tidak ingin terlihat terlalu berlebihan atau membuat Nara merasa dikekang.
“Iya iya, Kalau begitu, aku antar sampai depan komplek saja.”
Nara kembali menggeleng. “Nggak usah, Deon. Aku bisa sendiri.”
“Kenapa menolak terus?”
“ya dekat loh.” Nara tersenyum geli. “Kalau jaraknya hampir setengah jam seperti dari rumah mama sama oma, aku pasti minta diantar. Tapi sekarang tempat kerja sudah seperti tetangga.”
Deon menghela napas pelan, kemudian mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
“Baiklah. Tapi kalau sudah sampai, kabari aku.”
“Iya.”
“Jangan lupa makan.”
Nara terdiam sesaat.
Deon menatapnya. “Kenapa?”
“Tidak apa-apa.” Nara tersenyum kecil. “Kamu seperti orang tua.”
“Kalau aku tidak mengingatkan, nanti kamu lupa.”
“Aku tidak pelupa.”
Deon meliriknya.
Nara mengerutkan hidung. “Ya… kadang-kadang.”
“Termasuk makan?”
“Tidak selalu.”
Deon hanya menggeleng sambil tersenyum.
Nara kemudian berjalan mendekat. Sebelum pergi, ia mengambil tangan Deon, lalu menyalaminya dan mencium punggung tangan pria itu seperti yang biasa ia lakukan sebelum berangkat kerja.
Kebiasaan kecil itu masih membuat Deon terdiam setiap kali terjadi.
“ Aku berangkat,” ucap Nara.
“Hati-hati.”
Nara mengangguk, lalu melangkah keluar dari kamar.
Deon mengikutinya sampai ruang depan. Ia berdiri di ambang pintu, memperhatikan Nara berjalan menjauh menuju gerbang komplek. Sesekali perempuan itu menoleh dan melambaikan tangan.
Deon membalas lambaian tersebut. Baru setelah Nara menghilang di balik gerbang, Deon menutup pintu.
Rumah yang sejak tadi dipenuhi suara langkah, percakapan, dan tawa kecil kembali menjadi sunyi.
Deon memandang ruang tengah yang kini mulai dipenuhi barang-barang Nara. Ada tas kerja di atas kursi, beberapa buku di meja, dan sepasang sandal perempuan di dekat pintu kamar.
Benda-benda sederhana itu membuat rumah tersebut terasa berbeda.
Sebelumnya, rumah ini hanya tempat Deon melarikan diri dari kesunyian. Tempat ia menenangkan pikiran ketika pertengkaran dengan orang tuanya tak kunjung selesai. Tempat ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus dibandingkan dengan Leon. Namun sekarang, ada barang-barang Nara di dalamnya.
Ada aroma parfum Nara yang samar tertinggal di kamar. Dan untuk pertama kalinya, rumah itu benar-benar terasa seperti rumah.
Rumah mereka.
Deon berjalan menuju meja makan. Laptop yang tadi ia gunakan untuk memeriksa beberapa laporan mall masih terbuka. Ia duduk, lalu kembali menatap layar.
Sebagai pemilik mall, Deon memang terbiasa memantau keadaan tempat usahanya. Laporan penjualan, keamanan, jumlah pengunjung, hingga aktivitas setiap lantai menjadi bagian dari tanggung jawabnya.
Namun belakangan, ada satu hal yang selalu ia cari lebih dahulu.
Nara.
Deon membuka akses CCTV mall melalui laptopnya. Beberapa layar kecil muncul, menampilkan lorong-lorong mall, pintu masuk, eskalator, serta area toko tempat Nara bekerja.
Ia tidak mengakses ruang pribadi atau tempat-tempat yang tidak seharusnya. Ia hanya memastikan keadaan umum mall, sekaligus melihat apakah Nara sudah tiba dengan aman.
Beberapa menit kemudian, ia menemukan sosok Nara di salah satu layar.
Perempuan itu sedang berjalan menuju ruang supervisor, membawa beberapa dokumen di tangannya.
Deon menghela napas lega. “Sudah sampai,” gumamnya.
Ia menutup sebagian layar CCTV, tetapi tidak langsung mematikan laptop. Setelah itu, Deon bangkit menuju dapur untuk membuat kopi.
Sore perlahan berubah menjadi malam. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela semakin redup, meninggalkan warna jingga tipis di atas lantai.
Deon mengambil toples kaca berisi kopi, lalu mengambil cangkir dari lemari gantung, ia mengambil sesuai takaran kesukaannya tanpa menggunakan gula.
Namun saat ia sedang menuang kopi dengan air panas, ponsel yang diletakkan di samping laptop di atas meja makan tiba-tiba berdering.
Deon menoleh. ia segera membawa gelas cangkir berisi kopi pahit yang baru saja dibuatnya, lantas meletakkannya di sisi kanan laptop, Deon segera mengambil ponselnya, ia melihat Nama Raka di layar ponselnya.
“Ya, Raka?” jawab Deon usai mengangkatnya.
Suara Raka terdengar dari seberang. Nada bicaranya nampak gelisah.
“Pak Deon…”
Deon langsung menangkap kegelisahan itu. “Ada apa?”
“Bapak sedang di rumah?”
“Iya. Kenapa?”
Raka terdiam sesaat, seolah sedang mencari cara untuk menyampaikan sesuatu.
“Ini, Bu Nara.”
Tangan Deon yang hendak mengambil cangkir berhenti di udara.
“Ada apa dengan Nara?”
“Bu Nara tiba-tiba pingsan di tempat kerja.”
Wajah Deon seketika berubah.
“Apa?”
“Iya pak, beliau tadi sedang memeriksa laporan di area lantai dua. Tiba-tiba tubuhnya limbung dan jatuh. Beberapa karyawan langsung menolong. Sekarang sudah dibawa ke ruang kesehatan.”
Deon berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang. Suaranya meninggi. “ sekarang bagaimana keadaannya?"
“Sekarang beliau berada di ruang kesehatan mall. Petugas sedang memeriksa kondisinya.”
“Kenapa bisa sampai pingsan?”
“Kami tidak tahu pasti, Pak. Mungkin karena kelelahan atau telat makan.”
Deon terdiam.
Telat makan.
Ucapan itu langsung membuat pikirannya tertuju pada siang tadi. Nara memang belum makan, sejak siang, mereka sibuk memindahkan barang, mengatur pakaian, dan membersihkan beberapa bagian rumah. Lely sempat membawakan kue, tetapi Nara hanya memakannya sedikit. Deon mengusap wajahnya dengan kasar.
“Sekarang kamu coba lihat kondisi nya.”
“Sudah sadar, Pak. Tapi katanya masih lemas dan mual.”