Kebangkitan goblin yang akan menjadi kuat dan akan melampaui semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nash, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25.
Setelah meninggalkan wilayah gunung es, goblin terus berjalan, ia tidak tahu sudah berapa lama ia melakukan perjalanan.
Hari berganti, malam berganti, ia terus mencari tempat yang lebih berbahaya, tempat yang bisa membuat tubuhnya terus beradaptasi, tempat yang bisa membuat dirinya jadi lebih kuat.
...
Wilayah gurun pasir.
Pasir membentang sejauh mata memandang, tidak ada pohon, tidak ada sungai tidak ada tempat untuk berlindung, matahari terasa seperti membakar kulit, namun goblin terus berjalan.
Angin panas menerpa tubuh, pasir beterbangan ke wajah, perlahan tubuhnya terbiasa.
Goblin mampu bertahan di bawah terik matahari, tidak lagi kepanasan, kehausan, seperti pertama kali datang.
Monster-monster gurun yang hidup di dalam pasir dan berukuran besar sudah seperti menjadi teman bertarungnya di sini, mereka memang sangat kuat, tapi setiap pertarungan membuat tubuhnya semakin terbiasa dengan pasir, panas, racun dan apapun itu.
Setelah beberapa waktu, gurun pasir itu tidak lagi terasa bahaya "...Sudah cukup" kemudian ia pergi lagi.
Wilayah berikutnya jauh lebih mengerikan.
Wilayah magma.
Tanahnya retak, dari celah tanah mengalir lava merah menyala dan menyembur. Panasnya begitu kuat hingga batu di sekitarnya mulai mencair, bahkan baja biasa tidak akan mampu bertahan lama di tempat itu.
Untuk pertama kalinya goblin merasakan panas yang sangat ekstem dibanding gurun.
Napasnya seperti terbakar, kulitnya juga seperti terasa terbakar, namun ia tidak pergi tapi ia malah memasukinya demi menjadi lebih kuat dan ingin beradaptasi.
Makhluk atau monster-monster penghuni wilayah magma mulai bermunculan dan seperti biasa goblin akan melawan mereka semua.
Hari demi hari tubuhnya mulai beradaptasi dan tahan terhadap panas lava, tubuhnya sering terlempar saat bertarung melawan monster-monster di wilayah magma ini karena memang monster di sini sangatlah kuat dan juga keras seperti batu.
Goblin terus beradaptasi, tubuhnya semakin kebal terhadap panas, kulitnya, ototnya, organ dalamnya sudah tak merasakan panas lagi, bahkan sekarang wilayah magma itu tidak lagi memberinya kekuatan.
Goblin pergi lagi mencari wilayah baru.
Kemudian goblin memasuki wilayah pegunungan sangat tinggi, tebing-tebing tajam seperti pisau, angin bertiup kencang dan hampir menerbangkan tubuhnya.
WHOOOSH!!!
Satu kesalahan kecil saja maka dirinya akan menjadi makanan bagi penghuni wilayah tersebut. Di tempat itu hidup monster terbang dan sangat ganas, mereka adalah Wyvern.
Makhluk besar bersayap yang mampu terbang menembus badai.
ROOAAAAR!!!
Seekor Wyvern menukik dari langit 'FWOOSH!' goblin menoleh lalu melompat ke tebing 'SLASH!' cakar Wyvern hampir merobek tubuh goblin, beruntung goblin memutar tubuhnya ke udara dan berhasil selamat, lalu goblin menyerang balik mengincar sayap Wyvern.
CRAAKH!!
SLASH!!
Pengalaman pertamanya melawan monster terbang dan sangat menyusahkan, tapi berkat adaptasi nya ia bisa mengalahkan seekor Wyvern.
Dan setiap hari goblin harus menghadapi mereka, ia belajar membaca arah angin, belajar menjaga keseimbangan, belajar bergerak di tempat sempit, belajar menghadapi monster yang menyerang dari udara.
Tubuhnya semakin keras, semakin tebal, semakin kuat, pengalaman dalam bertarung melawan monster darat, monster air, monster racun, monster es, monster angin, monster panas, monster terbang, monster raksasa, monster cepat, monster keras dan masih banyak lainnya.
Semua pengalamannya menjadi satu seperti instingnya, pengamatannya, kecepatannya, kekuatannya, pengalamannya, adaptasinya.
Perjalanan terus berlanjut, tempat-tempat yang mungkin tidak pernah didatangi oleh petualang atau pemburu.
Setiap wilayah atau tempat selalu memberinya sesuatu yang baru, bukan skill, bukan sihir, bukan evolusi tubuh, bukan apapun, goblin hanya menjadi semakin kuat.
Semakin kuat, semakin efisien, semakin terbiasa dengan dunia yang keras. Ia sudah tidak mudah terkejut dengan perubahan cuaca ekstrem panas, dingin, hujan, badai, racun, tekanan, ketinggian, medan licin, medan sempit dan semuanya sudah pernah ia hadapi.
Kemudian...
Goblin melihat sebuah wilayah yang berbeda, tanahnya berwarna hitam, tidak ada rerumputan, tidak ada pohon, tidak ada suara hewan, bahkan udara di tempat itu terasa aneh.
Goblin berhenti di perbatasan, matanya menatap tanah hitam di depannya, tiba-tiba ia teringat sesuatu.
Suara orc king tentang tanah hitam yang pernah beliau ceritakan pada goblin jauh-jauh hari.
Goblin tetap maju, kakinya menginjak tanah hitam "...Aku hanya ingin tahu" sambil terus berjalan.
Semakin jauh ia masuk, semakin aneh tempat itu. Tidak ada angin, tidak ada suara, tetapi goblin merasakan sesuatu kalau dirinya sedang di awasi dari balik batu, dari kegelapan.
Tiba-tiba bayangan hitam muncul keluar dari tanah, bentuknya seperti asap namun memiliki dua mata merah.
Goblin langsung menyerang lebih dulu.
FWISH!
SLASH!
Tubuh bayangan itu memang terbelah jadi dua, namun bayangan itu kembali menyatu. Goblin tidak terkejut karena ia sudaha sering melawan monster yang seperti itu.
Goblin mecoba menyerang lagi dan lagi, bayangan itu memang terbelah, hancur dan bisa diserang, tapi bayangan itu terus menyatu kembali dan kembali seolah tidak bisa mati.
Tiba-tiba bayangan itu masuk ke dalam tanah.
KREK..
KREK..
Sebuah mayat monster yang terlihat tinggal tulang bangkit, matanya kosong, tubuhnya bergerak seperti boneka, goblin itu langsung memahami sesuatu.
Goblin langsung menyerang monster itu dan menghancurkannya dengan sekejap, namun bayangan hitam keluar dari monster itu kemudian masuk kembali.
KREK..
KREK..
Mayat itu kembali bangkit, lalu goblin menyipitkan matanya "..Jadi begitu?" ia mulai memahami, yang menggerakkan tubuh itu adalah bayangan tadi.
Berapa kali pun goblin menghancurkannya, monster itu tetap kembali dirasuki dan dibangkitkan oleh bayangan tadi.
Ternyata bayangan itu tidak hanya satu, tapi jumlahnya sangat banyak.
Dari kejauhan terlihat ada pasukan mayat berdiri, jumlahnya sepuluh, kemudian bertambah jadi puluhan lebih lalu menjadi ratusan.
Goblin menatap mereka semua "...Inikah yang di namakan Undead?"
Pasukan mayat hidup bergerak ke arah goblin, tapi goblin tidak gentar dan malah tersenyum lalu menyerang mereka semua satu persatu.
FWISH!!!
SLASH!!!
BUKH!!!
Mayat-mayat kerangka tulang beterbangan, namun mereka terus bangkit kembali.
KREK..
KREK..
KREK...
Goblin mengerti kalau pertarungan ini tidak akan pernah selesai, tetapi goblin tidak munduratau pergi ia justru tersenyum "...Bagus!'
Goblin hanya ingin menguji seberapa kuat tubuhnya sekarang, seberapa lama ia mampu berdiri dan bertarung, seberapa jauh staminanya berkembang.
Singkat waktu.
Hari ke sebelas goblin bertarung melawan Undead Army.
Goblin mengangkat tangannya yang sedikit gemetar "..Haa..." di depannya ada ratusan undead masih berdiri.
KREK..
KREK..
KREK...
Goblin akhirnya merasa kelelahan, perutnya kosong, tenggorokannya kering, otonya merasa berat, staminanya hampir habis, tapi goblin masih berdiri tegak menarik napas dalam "Haaa..."
Kemudian semua undead tiba-tiba berhenti menyerang dan hanya diam entah kenapa.
Hening, tidak ada suara, tidak ada gerakan, lalu tanah bergetar.
DUUM...
Goblin perlahan menoleh, dari kejauhan ada sesosok berjalan mendekat, sosok itu mengenakan pakaian kain panjang serba hitam menutupi tubuh dan wajahnya.
Ia berjalan dengan tenang melewati pasukan undead, kemudian sosok itu berhenti, jarak mereka hanya puluhan meter dengan goblin.
Sosok berjubah hitam itu perlahan mengangkat kepalanya lalu menatap goblin dengan tatapan tajam dan memberikan tekanan kuat memenuhi udara seperti yang dilakukan oleh Marshall.
Tubuh goblin sedikit bereaksi namun hanya sebentar saja, goblin mengingat orc king dulu yang memperingati dirinya untuk pergi jika bertemu dengan sosok itu.
Namun goblin tetap berdiri, tidak jatuh tidak melemas, tidak kehilangan kesadaran, bahkan setelah semua pertarungan selama sebelas hari, tatapan tajam yang memberikan tekanan kuat itu tidak mampu membuatnya berlutut lagi.
"...Aku sudah bisa menahan tekanan aneh itu!"
Sosok itu terdiam, kepalanya sedikit miring.
Goblin masih tidak mengerti dan tidak paham samapi sekarang dengan tatapan tajam yang mengeluarkan tekanan berat itu apakah sihir, apakah teknik, apakah tenaga dalam.
Pertama adalah Marshall, lalu sekarang ada lagi sosok misterius yang sama-sama bisa mengeluarkan tekanan hebat hanya dengan melakukan tatapan tajam seperti melotot saja.
Kemudian sosok itu membuka sedikit kain tudung di wajahnya.
SHRRK...
Sebagian wajahnya mulai terlihat, kulitnya putih pucat, senyumnya tipis, dua matanya menatap goblin dengan tatapan aneh.
Goblin sedikit membeku saat melihat wajahnya.
Bukan manusia, bukan monster, tapi sesuatu yang hanya ia dengar lewat cerita dan kabar angin saja.