Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.
Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.
Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinding Ketakutan dan Rahasia di Balik Kamar Rahasia
Tengah malam merambat makin dingin saat mata Aira mendadak terbuka. Kesadarannya terkumpul perlahan, menyisakan denyut pusing yang masih samar di pelipis. Gadis itu mendudukkan tubuhnya, mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan kening berkerut dalam. Ruangan itu sama sekali asing baginya luas, bernuansa minimalis rapi, dengan tempat tidur empuk yang dilapisi selimut tebal bernuansa abu-abu netral.
Aira memijat pelipisnya berusaha mengingat kejadian sebelum ia kehilangan kesadaran. Mengapa ia bisa terdampar di kamar asing seperti ini?
Tiba-tiba, pendengarannya menangkap gemericik suara air mengalir dari balik pintu kamar mandi di sudut ruangan. Rasa panik seketika menjalar hingga ke ujung jari-jarinya. Mengingat ia tak tahu berada di mana, pikiran Aira melayang pada kemungkinan terburuk. Apakah setelah Bayu mabuk berat, ia dibawa oleh orang asing yang berniat jahat?
Dengan tangan agak bergetar, Aira merogoh saku celananya, lega menemukan ponselnya masih ada di sana. Di tengah kepanikan, hanya satu nama yang terlintas di benaknya untuk dimintai pertolongan. Ia meraba layar, berniat memanggil Arkan berharap sang dokter belum terlelap sebelum orang asing di balik pintu kamar mandi melangkah keluar.
"Sudah sadar?"Suara bariton yang teramat familiar meluncur santai dari arah samping. Jemari Aira yang hendak memencet tombol panggil mendadak kaku. Tanpa berani mendongak, gadis itu menarik kedua kakinya melipat lutut rapat-rapat di atas kasur, menunduk ketakutan.
"Jangan macam-macam! Kalau Anda berani mendekat sedikit saja, saya laporkan ke polisi!" serunya mengancam.
"Lapor polisi? Ini rumah saya."
Aira tertegun. Ia memberanikan diri mengarahkan pandangannya ke sumber suara. Matanya membelalak sempurna saat menangkap sosok pria tinggi yang berdiri di dekat lemari. Pria itu tampak sangat segar dengan rambut yang masih agak basah, mengenakan kaos putih polos, celana training santai, serta kacamata berbingkai tipis yang bertengger di hidung mancungnya.
"Kak... Arkan? Kenapa bisa ada di sini?" tanya Aira terbata-bata, seolah sedang melihat hantu.
Arkan tak langsung menjawab. Ia melangkah tenang ke sisi ranjang, mengambil sebuah gelas berisi susu hangat dari atas nakas, lalu duduk di tepi tempat tidur sembari menyodorkannya pada Aira.
"Minum dulu."
Aira yang masih dilingkupi kebingungan hanya menurut. Ia menerima gelas itu dan meneguk susu hangat di dalamnya hingga tersisa separuh. Pikirannya masih berputar keras mencerna alasan di balik keberadaannya di rumah Arkan bahkan tidur di dalam kamar pribadi pria itu.
Arkan mengambil kembali gelas dari jemari Aira, memiringkan kepala dengan sorot mata yang mendadak berubah amat serius. "Gimana rasanya mabuk?"
"Ha? Mabuk?" Dahi Aira makin berkerut heran.
"Kamu masih belum sepenuhnya sadar? Kamu tahu kenapa kamu bisa terdampar di rumah saya dan tidur di kamar saya malam ini?"
Aira menggeleng polos. Ia benar-benar buntu.
"Jangan pura-pura lupa, Aira. Hari ini kamu mabuk berat sampai saya dan Zara harus menjemputmu di kafe. Saya sungguh tidak mengerti kenapa kamu berniat dan berani sekali menyentuh alkohol," tutur Arkan, nada suaranya mengalirkan nada kecewa yang kental.
Aira menyentuh dahinya yang mendadak makin pening. "Maksud Kak Arkan... Kak Arkan sama Zara menjemput Aira ke kafe, terus membawa Aira ke sini karena... Aira mabuk?"
Arkan memilih bungkam, menatap Aira dengan raut dingin. Ia ingin gadis itu jujur dan mengakui keteledorannya. Ia merasa amat kecewa atas keputusan nekad Aira yang menghadiri pesta di tempat seperti itu hingga terseret masalah dan memaksanya ikut campur.
"Aira memang ke kafe hari ini untuk menonton band favorit Aira... tapi Aira tidak minum alkohol sama sekali, apalagi sampai mabuk!" pangkas Aira membela diri.
"Tidak mabuk? Kamu tahu saat saya dan Zara sampai, kamu sudah tidak sadarkan diri di sofa sampai saya harus menggendongmu keluar?"
Aira berusaha mengingat potongan kejadian yang disebutkan Arkan, tetapi ingatannya benar-benar gelap dari momen ia duduk di sofa kafe hingga terbangun di ranjang ini.
"Tapi Aira beneran tidak minum alkohol, Kak! Coba saja cium aromanya, tidak ada bau alkohol sama sekali!" seru Aira spontan memajukan wajahnya mendekati wajah Arkan untuk membuktikan ucapannya.
Arkan refleks memundurkan tubuhnya, lalu berdiri menjauh sembari menatap Aira datar. "Sepertinya efek alkoholnya belum sepenuhnya hilang."
Aira menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari, geregetan. "Aira tidak mabuk, Kak! Aira beneran sadar penuh sekarang!"
Melihat respon Aira yang begitu tegas dan lugas, ganti Arkan yang mengernyit. Perilaku gadis di hadapannya memang menunjukkan kesadaran utuh, bukan racauan orang mabuk. Namun Arkan tetap menahan diri untuk tidak langsung percaya mengingat Aira kerap punya seribu cara mengerjainya.
"Lalu kenapa kamu bisa pingsan tak sadarkan diri di kafe?" tanya Arkan menuntut.
"Itu... Aira ketiduran karena salah minum obat!" jawab Aira jujur.
"Salah minum obat?"
"Jadi begini... sebelum berangkat ke kafe, Aira berniat minum vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh. Tapi Aira tidak sadar kalau yang tertelan bukannya vitamin, melainkan obat tidur! Karena letak botolnya berdekatan di meja belajar. Sampai di kafe, Aira baru sadar waktu mengeluarkan botolnya dari tas. Tak lama kemudian rasa ngantuknya menyerang hebat... apalagi Aira terlanjur minum dua tablet sekaligus," terang Aira panjang lebar. Ia lalu menyambar tas selempangnya di nakas dan mengeluarkan botol obat itu untuk ditunjukkan pada Arkan.
Arkan menerima botol kecil tersebut, membaca label resep yang tertera dengan cermat sebelum mengalihkan pandangan tajamnya pada Aira. "Obat tidur punya siapa ini?"
"Punya Aira..."
Arkan melangkah mendekat, kembali duduk di tepi ranjang dengan raut yang kian menegang. "Sejak kapan kamu mengonsumsi obat tidur, Aira?"
Aira mengedipkan mata, terpaku melihat ekspresi Arkan yang mendadak begitu mengintimidasi.
"Aira jarang minum kok... Cuma kalau lagi banyak pikiran dan susah tidur saja," cicitnya pelan.
"Saya tanya sejak kapan?" desak Arkan tajam. "Apakah sejak kasus bullying di sekolahmu dulu?"
Aira terdiam, memilih menundukkan kepala meremas selimut. "Bukan... Bukan sejak kejadian pertengkaran dengan Vina kemarin. Aira... sudah minum obat ini sejak kelas 10."
"Apakah Bang Reyhan dan Mamamu tahu kamu bergantung pada obat ini?"
Aira menggeleng cepat, menatap Arkan sendu. "Mama dan Bang Reyhan tidak pernah tahu. Aira tidak mau membebani mereka lagi, jadi Aira atasi sendiri..."
Arkan berdiri perlahan, menyimpan botol obat itu ke dalam laci mejanya. Dadanya bergemuruh. Ia tak menyangka gadis serewel dan seceria Aira menyimpan beban seberat ini sendirian. Lewat cerita Dinda sahabatnya Arkan memang sedikit banyak tahu latar belakang keluarga Aira bagaimana papanya dulu melakukan KDRT pada mamanya, berselingkuh, hingga meninggalkan mereka tanpa pertanggungjawaban, disusul perundungan yang membayangi Aira sejak kecil.
"Aira... kamu seharusnya belajar terbuka dan berani bicara jika merasa takut, tertekan, atau cemas. Bukan malah melariannya ke obat tidur seperti ini. Kamu tahu seberapa berbahaya efek jangka panjangnya jika dikonsumsi sembarangan?" tutur Arkan, nada suaranya melunak penuh keprihatinan.
Aira menunduk pasrah, bibirnya bergoyang menahan getaran emosi. "Kak Arkan tidak tahu bagaimana rasanya jadi anak yang hadir tanpa pernah diinginkan oleh ayah kandungnya sendiri..." bisiknya dengan suara tercekik.
"Papa ingin anak laki-laki lagi, tapi yang lahir malah Aira. Anak kan tidak bisa memilih mau dilahirkan di keluarga mana... Sejak kecil Aira sering melihat Mama dipukul Papa. Waktu Kak Nadia dan Bang Reyhan sedang les, Aira melihat Mama menangis sendirian di kamar. Papa tidak pernah pulang, dan ternyata punya keluarga lain... Sampai dia meninggal pun, Papa tidak pernah minta maaf pada Mama. Memiliki keluarga yang hancur dan dikucilkan dari teman sejak kecil bukan hal mudah," curhat Aira. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah membasahi pipi.
Melihat kehancuran di balik binar keceriaan gadis itu, dinding pertahanan Arkan runtuh. Pria itu mengikis jarak, mengulurkan kedua tangannya, dan merengkuh Aira ke dalam pelukannya.
Aira tak mampu menahannya lagi. Ia terisak keras di dada Arkan, menumpahkan seluruh kepedihan yang terkunci rapat selama bertahun-tahun. Arkan membiarkan kaosnya basah oleh air mata Aira, jemarinya mengusap lembut punggung gadis itu untuk memberi ketenangan.
"Mulai sekarang... kalau kamu merasa sedih, sulit tidur, atau teringat luka masa lalu, jangan dipendam sendirian lagi. Apalagi sampai minum obat tidur," bisik Arkan lembut di dekat telinganya.
Aira perlahan melepaskan pelukan, mengusap air matanya dengan punggung tangan lalu mendongak. "Terus... Aira harus bagaimana?"
"Kamu bisa cerita ke saya. Luapkan semua kekesalan dan rasa sakitmu. Itu jauh lebih baik daripada kamu menanggungnya sendiri."
Aira menatap mata Arkan yang menyorotkan ketulusan. Tanpa peringatan, gadis itu kembali menghambur dan memeluk pinggang Arkan erat-erat.
Arkan sempat terpaku dan berniat mengurai pelukan itu, tetapi menyadari betapa Aira membutuhkan rasa aman saat ini, ia mengurungkan niatnya. Pria itu membiarkan Aira menyandarkan kepala di dadanya hingga isakannya perlahan mereda.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Saat Arkan mencoba menggerakkan tangannya untuk melepaskan ikatan jemari Aira di pinggangnya, ia menyadari napas gadis itu sudah teratur dan halus. Aira telah kembali tertidur lelap dalam dekapannya.
☘︎ ─── 𓆸 ─── ☘︎ ─── 𓆸 ─── ☘︎ ─── 𓆸
Pagi menyapa lewat celah gorden yang dibuka Arkan. Usai memindahkan Aira dengan hati-hati semalam, pria itu memilih menghabiskan sisa malam di kamar tamu. Rumah Arkan memang berdesain minimalis dan tidak terlalu besar hanya memiliki tiga kamar tidur.
Setelah mandi dan mengenakan pakaian bersih, Arkan melangkah keluar kamar. Langkahnya terhenti saat indra penciumannya menangkap aroma harum gurih yang menguar dari arah dapur, memantik rasa lapar di perutnya.
"Selamat pagi, calon pacar Aira! Sarapannya sudah siap, ayo kita makan!" panggil Aira bersemangat dari meja makan, langsung menarik lengan Arkan.
Arkan yang masih linglung hanya menurut saat didudukkan di kursi. Di hadapannya, tersaji sepiring nasi goreng hangat lengkap dengan telur mata sapi dan potongan sosis, berdampingan dengan secangkir cokelat panas.
"Nasi goreng rasa cinta dan cokelat panas manis spesial buatan Aira sudah siap! Ayo Kak, dimakan, tidak usah sungkan, anggap saja rumah sendiri," tutur Aira santai, seolah-olah ia adalah tuan rumahnya.
Gadis itu menyodorkan gelas air putih ke sebelah piring Arkan, lalu duduk di sampingnya sembari mengunyah selembar roti tawar beroles selai kacang.
"Ini... kamu yang masak?" tanya Arkan heran.
"Kenapa? Tidak percaya sama masakan Aira?"
"Bukan begitu, saya hanya heran kenapa tiba-tiba kamu—"
NYAM!!!
Ucapan Arkan terputus seketika saat Aira tanpa permisi menyuapkan sesendok nasi goreng langsung ke dalam mulutnya.
"Kalau lagi makan tidak boleh banyak bicara, pamali!" potong Aira santai lalu kembali mengunyah rotinya.
Arkan yang mengunyah pelan hanya bisa mengembuskan napas pasrah. Namun tak bisa dimungkiri, cita rasa nasi goreng itu benar-benar pas di lidahnya. Pria itu menghabiskan seluruh porsi di piringnya beserta cokelat hangat buatan Aira.
"Masakanmu... lumayan enak," puji Arkan jujur sembari menyapu bibirnya dengan tisu.
"Tentu saja! Bukan cuma Kak Arkan yang bilang begitu, Mama, Bang Reyhan, Kak Dinda, sampai Zara juga mengakui! Aira kan sudah jago masak sejak SMP," sahut Aira membanggakan diri.
Arkan tersenyum tipis, berdiri hendak membawa piring dan gelas kotornya ke wastafel. Namun Aira dengan sigap menghadangnya.
"Eits! Biar Aira saja yang cuci. Ini kan tugas perempuan. Calon pacar mending duduk santai di ruang TV, kartun SpongeBob sudah mau mulai jam segini," cegah Aira merebut piring dari tangan Arkan.
Arkan lagi-lagi hanya bisa menggelengkan kepala melihat kepiawaian dan kelincahan Aira mengurus dapur. Pria itu kembali duduk, mengamati Aira yang mencuci piring dengan tekun sembari bergumam menyanyikan lagu riang sama sekali tak menunjukkan canggung berada di rumah seorang pria dewasa.
☘︎ ─── 𓆸 ─── ☘︎ ─── 𓆸 ─── ☘︎ ─── 𓆸
Tepat pukul tujuh pagi, bel depan rumah Arkan berbunyi. Arkan sudah menduga siapa yang datang; semalam Zara memang meminta alamat rumahnya untuk menjemput Aira.
Arkan membukakan pintu. "Masuklah, Zara."
"Gimana keadaan Aira, Dokter? Aman, kan?" tanya Zara cemas.
"Aman. Dia ada di dalam sedang menonton TV."
Zara melangkah masuk dan menggelengkan kepala saat menemukan Aira duduk bersila di depan layar televisi, terhipnotis penuh oleh aksi SpongeBob dan Patrick.
"Aira," panggil Zara.
"Oey!" sahut Aira tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari layar.
"Zara sudah datang menjemputmu," ujar Arkan yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Oh, Zara! Duduk dulu, tanggung nih belum jeda iklan!" celetuk Aira santai.
Arkan menatap Zara, yang hanya membalasnya dengan kibasan tangan pasrah. Zara sudah hafal setengah mati jika Aira sudah bertemu kartun favoritnya, dunia seolah berhenti berputar.
Begitu jeda iklan komersial muncul, Aira baru menoleh dan mengerjapkan mata terkejut melihat sosok sahabatnya yang sudah duduk manis di sampingnya.
"Eh, Zaraku yang cantik! Kapan sampainya? Kok tiba-tiba sudah di sini?"
"Aku sudah sampai dari subuh, Aira..." sindir Zara datar.
Aira menyengir tanpa dosa. "Hehehe, maaf, terlalu fokus."
"Gimana semalam? Aman, kan?" tanya Zara meneliti sahabatnya.
Arkan yang sedang melipat koran pagi melirik ke arah mereka.
"Memangnya kenapa?" tanya Aira balik.
"Kalian semalam tidak ngapa-ngapain, kan?" desak Zara penuh curiga.
"Oh, semalam aku cuma melihat Kak Arkan selesai mandi, terus kami berpelukan," jawab Aira polos tanpa beban.
"Lihat mandi dan berpelukan?!" Zara melotot sempurna, menatap tajam ke arah Arkan.
Arkan refleks membetulkan letak kacamatanya, buru-buru meluruskan. "Saya baru selesai mandi dan dia terbangun. Jangan menyimpulkan sembarangan."
"Dan kami tidur di kamar terpisah!" tambah Arkan tegas, membuat Zara akhirnya bisa mengembuskan napas lega.
"Tadi Mamamu menelepon, katanya jangan pulang terlalu siang," kata Zara mengalihkan pembicaraan.
"Mama tahu aku menginap di rumah Kak Arkan?!" Aira kaget.
"Ya tidak, lah! Aku bilang kamu menginap di rumahku. Lagipula semalam kamu tidak sadarkan diri."
"Semalam dia tidak mabuk, Zara. Cuma salah minum obat," seloroh Arkan santai tanpa beralih dari korannya.
"Iya, Zara sudah tahu kok."
Arkan menghentikan gerak tangannya yang sedang membaca koran, lalu menoleh heran pada Zara. "Kamu sudah tahu kalau dia tidak mabuk?"
Zara menyengir lebar tanpa rasa bersalah. "Itu... salah informasi semalam, Dokter! Panji bilang Bayu mabuk bersama Aira. Harusnya kalimatnya Bayu mabuk, dan Aira ada di sana. Jadi ini bukan murni salah Zara, Panji baru mengklarifikasinya tadi pagi!"
Arkan menghela napas panjang, melipat korannya rapat-rapat.
"Lagipula, Aira, kenapa kamu tidak pernah cerita kalau kamu punya kebiasaan minum obat tidur?" tegur Zara menatap sahabatnya khawatir.
"Aku baik-baik saja, Zara... Cuma kadang susah tidur kalau banyak pikiran. Tapi jarang kok!" bujuk Aira menenangkan.
"Ya sudah. Karena Aira semalam tidak mabuk, berarti kita harus minta maaf pada Bayu, Dokter," cetus Zara tiba-tiba menatap Arkan.
Dahi Aira berkerut. "Minta maaf kenapa? Jangan bilang kalian semalam habis memukuli Bayu?"
"Aku memarahinya habis-habisan karena syok melihatmu tidak sadar. Dan Dokter Arkan... hampir saja meninjunya," beber Zara jujur.
"Astaga! Kalian tega sekali sama Bayu!" seru Aira prihatin.
"Bukan salah kami! Kami pikir kamu kenapa-napa karena ulahnya!" bela Zara.
Sementara itu, Arkan hanya diam seribu bahasa, tak menunjukkan raut bersalah sedikit pun.
"Ya Allah, kasihan Bayu... Kamu tahu tidak, semalam itu dia baru saja diputusin pacarnya di kafe! Makanya dia minum alkohol buat melampiaskan stres. Waktu dia mabuk, aku sudah terlanjur tertidur karena obat tidur itu," terang Aira membeberkan fakta sebenarnya.
"Diputusin?" tanya Arkan dan Zara kompak, kaget.
Aira mengangguk yakin. "Iya! Kasihan Bayu... Sudah diputusin pacarnya gara-gara pacarnya ketahuan selingkuh, sempat bertengkar hebat, lalu ditinggal begitu saja. Ditambah dimarahi Zara dan hampir dipukul Kak Arkan... Semoga dia tidak berpikiran untuk bunuh diri setelah ini," gumam Aira dengan raut iba mendalam.
Bersambung__
_____