NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JIWA TUA DI BERANDA PANDE SIKEK - 1970

Arya Arsyad Sikumbang - Lahir 1965

Arya Arsyad Sikumbang lahir pada tahun 1965, di Desa Pande Sikek, tepat di kaki Gunung Singgalang yang berkabut. Desa itu bukan desa biasa. Pande Sikek adalah desa para pandai, desa para tukang ukir kayu yang ukirannya terkenal hingga ke seluruh Minangkabau. Di sana kayu surian dan kayu jua diubah menjadi pintu, jendela, mimbar surau, dan tiang rumah gadang yang penuh dengan filosofi.

Tahun 1965, tahun di mana Arya lahir, Indonesia masih dalam keadaan bergolak. Darah dan air mata masih menjadi cerita di radio-radio kota. Namun di Pande Sikek, gejolak itu terasa jauh, teredam oleh kokohnya dinding rumah gadang dan dinginnya udara gunung. Di tahun itu, rumah masih berupa rumah gadang dan rumah papan. Atap seng menjadi kebanggaan, meskipun kalau hujan turun, bunyinya keras bukan main, memantul-mantul sampai ke surau. Listrik belum masuk merata. Di malam hari, desa tenggelam dalam gelap yang pekat. Satu-satunya barang mewah yang dimiliki beberapa kepala keluarga hanyalah radio transistor, yang ditaruh tinggi di atas lemari kayu ukir agar tidak dijangkau anak-anak, yang suaranya kresek-kresek mencari siaran dari Bukittinggi.

Di tengah suasana itulah, anak bungsu dari Abdullah Bin Rais Payobadar dilahirkan. Tidak ada yang menyangka bahwa bayi yang lahir di tahun yang berat itu, kelak akan membawa jiwa yang tumbuh terlalu cepat.

Lima tahun kemudian. Tahun 1970.

Jika Indonesia tahun 1970 mulai membangun, maka Pande Sikek tahun 1970 masih setia dengan ritmenya sendiri. Sore di Pande Sikek selalu sama. Dari pagi sampai ashar, suara pahat kayu tukang ukir beradu dengan kayu. Tok... tok... tak... berirama. Menjelang ashar, suara azan berkumandang dari surau-surau kecil yang atapnya juga berukir. Setelah itu, anak-anak kampung berhamburan keluar dari rumah gadang. Mereka bermain kelereng dan galah-galah di halaman tanah yang berdebu, debu yang bercampur dengan sisa serutan kayu yang halus. Bau kayu surian yang baru dipahat masih tercium kuat di udara sore.

Di tengah keramaian sore yang khas itu, ada satu pemandangan yang janggal. Di saat semua anak seumuran berlari dengan baju kotor dan tawa yang lepas, Arya Arsyad Sikumbang yang baru berusia 5 tahun justru sering menyendiri di beranda rumah gadang ayahnya.

Tubuhnya kecil. Usianya baru 5 tahun. Tapi matanya... orang Pande Sikek sering berbisik, "Matanya tua."

Di Dalam Keluarga, Dia Hanya Bertanya Pada Ayahnya

Kalau anak-anak Pande Sikek lain pulang bermain dengan cerita siapa yang menang kelereng, siapa yang layang-layangnya putus dan jatuh di sawah bawah, Arya pulang dengan pertanyaan. Dan yang paling mengherankan, pertanyaan itu tidak ia tanyakan kepada siapa saja. Tidak kepada ibunya, tidak kepada kakak laki-laki kandungnya, tidak kepada teman-temannya. Pertanyaan-pertanyaan itu ia simpan, ia jaga, dan hanya ia tanyakan kepada satu orang: ayahnya, Abdullah Bin Rais Payobadar.

Abdullah Bin Rais Payobadar adalah potret laki-laki Minang Pande Sikek sejati. Tidak banyak bicara. Tangannya kasar, kapalan, penuh luka-luka kecil bekas pahat ukir yang meleset. Setiap pagi buta ia sudah pergi ke bengkel ukir, duduk berjam-jam menghaluskan kayu, dan baru pulang ketika maghrib sudah jatuh. Ia bukan tipe ayah yang pandai mendongeng dengan suara dibuat-buat. Tapi kalau ia sudah bicara, kata-katanya jujur, dalam, dan tidak pernah meremehkan lawan bicaranya, bahkan jika lawan bicaranya adalah anaknya sendiri yang baru berusia 5 tahun.

Arya tahu itu. Itulah mengapa hanya ayahnya yang ia anggap mampu menampung pertanyaannya.

Sore tahun 1970 itu, di beranda rumah gadang yang tiang dan dindingnya penuh ukiran saik galamai, ukiran khas Pande Sikek, Arya duduk di pangkuan ayahnya. Di bawah, di halaman yang berdebu, anak-anak lain sedang berebut layang-layang putus yang jatuh di pematang sawah. Teriakan mereka riuh. Arya tidak ikut. Ia menatap jauh ke arah Gunung Singgalang yang puncaknya mulai diselimuti kabut sore.

Lalu dengan suara kecil, tapi sangat teratur, tidak cadel seperti anak 5 tahun kebanyakan di Pande Sikek, ia bertanya, "Yah, kenapa angin di Singgalang ada, tapi tidak kelihatan?"

Pertanyaan yang bagi anak 5 tahun lain tidak akan pernah terpikirkan.

Ayah lain di Pande Sikek mungkin akan menjawab, "Sudah dari sananya, sana main sana!" atau "Jangan banyak tanya." Tapi Abdullah berhenti. Tangan yang sedang menghaluskan ukiran itu berhenti bergerak. Ia menatap anak bungsunya yang lahir tahun 1965 itu dengan tatapan dalam.

Ia tidak menjawab dengan ilmu fisika tentang tekanan udara. Ia menjawab dengan bahasa hati seorang tukang ukir Minang yang dekat dengan alam dan Tuhan.

"Angin itu seperti pahala, Arya," kata Abdullah pelan. "Tidak kelihatan mata, tapi terasa. Kau tidak bisa lihat angin, tapi kau bisa lihat padi di bawah Pande Sikek itu goyang karena angin. Kau tidak bisa lihat pahala, tapi kalau tidak ada pahala, hati tidak akan tenang."

Arya diam. Ia tidak langsung mengangguk. Matanya yang besar menatap hamparan padi di lembah di bawah Pande Sikek yang memang bergoyang-goyang diterpa angin gunung. Ia sedang menganalisa. Ia menghubungkan kata "tidak kelihatan tapi terasa" dengan apa yang ia lihat. Jawaban itu ia simpan rapi di dalam ingatannya yang luar biasa itu.

Dan pertanyaan itu tidak berhenti di situ.

Keesokan harinya, di surau kecil Pande Sikek setelah mengaji sore, ia bertanya lagi, pertanyaan yang jauh lebih berat, pertanyaan yang membuat ibunya yang sedang di dapur hampir tersedak mendengarnya.

"Yah, kalau Allah menciptakan semua, siapa yang menciptakan Allah?"

Di tahun 1970, di desa adat Minangkabau yang kuat memegang agama seperti Pande Sikek, pertanyaan seperti itu dianggap sangat lancang untuk keluar dari mulut anak 5 tahun. Anak seusianya seharusnya masih belajar mengeja Alif Ba Ta. Tapi Arya yang lahir tahun 1965 ini sudah masuk ke wilayah filsafat ketuhanan.

Lagi-lagi, Abdullah Bin Rais Payobadar tidak memarahi. Ia hanya mengusap kepala anak bungsunya dengan tangan kapalnya yang hangat.

"Itu pertanyaan orang besar, Arya. Bahkan ayah pun masih belajar sampai sekarang untuk memahaminya," jawabnya jujur. "Yang ayah tahu, Allah itu awal yang tidak punya awal. Seperti angka 1, Nak. Angka 2, angka 3, angka 4 ada karena ada angka 1. Tapi angka 1 tidak butuh angka sebelumnya untuk ada. Dia ada dulu, sebelum kata 'ada' itu sendiri ada."

Arya yang baru 5 tahun di Pande Sikek tahun 1970 itu mengangguk pelan. Ia sudah tidak bisa dibohongi lagi dengan dongeng penenang seperti "sudah tidur saja". Ia butuh logika. Ia butuh jembatan antara apa yang ia lihat dan apa yang tidak ia lihat. Dan ayahnya adalah satu-satunya jembatan itu.

Saat Teman-temannya di Pande Sikek Asyik Bermain, Arya Malah Mencari

Jam 4 sore di Pande Sikek tahun 1970 adalah jam paling hidup. Anak-anak yang tadinya mengaji di surau, semua tumpah ruah di halaman.

"Arya! Main kelereng yuk di halaman tukang ukir! Ada gundu baru!"

Panggilan seperti itu hampir setiap hari datang. Arya sering menolak dengan halus. Bukan karena ia sombong, bukan karena ia merasa lebih pintar. Tetapi karena baginya, permainan itu selesai terlalu cepat. Kelereng bertabrakan, ada yang menang ada yang kalah, lalu selesai. Tidak ada teka-teki di dalamnya yang membuatnya bertahan lama.

Dunia Arya ada di tempat lain.

Ketika teman-temannya asyik bermain galah-galah hingga terjatuh di tanah berdebu, Arya justru hilang ke belakang rumah gadang, ke tempat tumpukan serutan kayu yang menggunung. Di sana ia bisa berjongkok hampir satu jam lamanya di tanah yang lembab, hanya untuk memperhatikan barisan semut yang membawa remah-remah nasi dari dapur.

Ia mengamati dengan seksama. Kenapa semut itu tidak pernah tabrakan? Kenapa mereka tahu jalan pulang?

Nanti malam, di bawah cahaya lampu petromax yang menjadi satu-satunya cahaya di rumah gadang itu, ia akan bertanya lagi kepada ayahnya.

"Yah, kenapa semutnya balik lagi ke lubang yang sama terus? Kok dia tidak nyasar di tanah Pande Sikek yang luas ini?"

Di lain hari, ia mengambil daun talas yang lebar, menampung air hujan yang turun dari atap seng. Ia melihat air itu menggelinding di atas daun talas tanpa membasahi daun, lalu ia teteskan air itu ke atas ukiran kayu milik ayahnya yang belum jadi. Ia lihat air itu pecah, meresap ke sela-sela ukiran.

Teman-temannya di Pande Sikek yang melihat tingkahnya itu bingung. Mereka berbisik, "Ah, Arya aneh, tidak asyik diajak main."

Arya tidak marah mendengar itu. Ia tidak merasa dihina. Baginya, dunia kejar-kejaran yang bising itu memang terasa terlalu ramai untuk batinnya yang sunyi. Ia lebih betah mendengarkan suara semut daripada suara teriakan teman-temannya. Jiwanya yang lahir di tahun 1965 itu memang tumbuh terlalu cepat untuk permainan anak usia 5 tahun di tahun 1970.

Keinginan Membaca Buku di Pande Sikek di Usia 5 Tahun

Di Desa Pande Sikek tahun 1970, buku adalah barang mewah. Tidak ada toko buku. Tidak ada perpustakaan desa. Jika ingin buku, harus pergi ke Pasar Atas Bukittinggi, yang jaraknya jauh dan butuh ongkos. Buku-buku yang ada di Pande Sikek hanyalah buku-buku warisan, sampulnya sudah sobek, kertasnya sudah menguning dan berbau kayu serta minyak tanah dari lampu petromax.

Di dalam lemari kayu ukiran milik ayahnya, Abdullah Bin Rais Payobadar, ada sebuah tumpukan yang sangat berharga: beberapa buku agama tulisan Arab Melayu dengan kertas kuning kecoklatan, buku adat Minangkabau yang tebalnya seperti bantal, dan yang paling penting, buku-buku pelajaran SD milik kakak laki-laki kandungnya.

Itulah mainan Arya. Itulah taman bermainnya.

Anak 5 tahun lain di Pande Sikek tahun 1970 merengek kepada orang tuanya minta dibelikan gasing kayu yang baru diukir, atau layang-layang kertas. Arya yang lahir tahun 1965 ini merengek dengan hal yang berbeda.

"Yah, bacakan ini. Apa ini bacanya?"

Ia memaksa dirinya sendiri untuk mengeja dengan jari kecilnya yang masih kotor karena tanah. Ia tunjuk satu kata di buku kakaknya.

"A... ba... di... Yah, apa artinya abadi?"

Keajaiban Arya bukan hanya pada ingatannya yang di atas rata-rata, tapi pada pemahamannya. Ia tidak hanya menghafal kata "abadi", ia ingin tahu maknanya, ia ingin merasakan maknanya. Ia adalah pembelajar dengan cara mengamati, membaca, dan menganalisa.

Suatu hari, ia membuka buku Ilmu Pengetahuan Alam milik kakaknya. Di sana ada gambar bunga dengan bagian-bagiannya: putik, benang sari, akar, daun.

Anak lain yang melihat gambar itu akan berkata, "Wah, bunga cantik."

Arya yang baru 5 tahun itu berkata dengan kalimat yang membuat ayahnya terdiam lama.

"Yah, ini bunganya minum dari tanah Pande Sikek ya? Kalau tidak ada hujan dari Singgalang, dia haus, dia mati. Daunnya dimakan ulat, ulatnya dimakan burung. Semua sambung-sambung ya Yah?"

Di tahun 1970, di sebuah desa ukir di kaki gunung, seorang anak 5 tahun sudah berpikir sistemik. Ia tidak melihat bunga sebagai satu titik yang berdiri sendiri. Ia melihat jaring. Ia melihat ekosistem. Ia melihat bahwa semua hal di dunia ini saling bersambung. Itulah hasil dari cara belajarnya: ia mengamati bunga di kebun, ia membaca buku kakaknya, dan ia menganalisa hubungan keduanya.

Ia suka membaca apapun yang ia temui. Sobekan koran bekas bungkus gulo-gulo di kedai, ia baca. Tulisan di karung semen, ia eja. Di bawah cahaya petromax yang harus dipompa dulu agar terang, ia duduk berjam-jam, dengan buku pelajaran kakaknya yang jauh di atas usianya di pangkuan. Cahaya petromax yang bergoyang-goyang itu menjadi saksi bisu betapa hausnya jiwa tua itu akan pengetahuan.

Matang Menganalisis, Tapi Tetap Anak 5 Tahun di Pande Sikek

Inilah yang membuat Abdullah Bin Rais Payobadar, ayahnya, merasa takjub sekaligus khawatir dalam satu tarikan napas.

Takjub, karena di usia 5 tahun di tahun 1970 itu, kosakata Arya melompat jauh. Ia tidak lagi berkata "Aku ngambek" seperti anak lain. Ia berkata, "Aku kecewa, Yah." Ia berbicara dengan tenang dan teratur, kalimatnya runtut. Ingatannya yang di atas rata-rata membuat ia mampu mengingat cerita adat yang diceritakan kakeknya di surau tiga minggu lalu dengan detail yang persis.

Namun di balik ketakjubannya, ada kekhawatiran seorang ayah tukang ukir dari Pande Sikek.

Kekhawatiran itu datang karena kedewasaan Arya datang bersama dengan kesepian dan empati yang terlalu tajam untuk anak seusianya.

Suatu senja di Pande Sikek, senja yang dingin karena kabut Singgalang turun lebih cepat, Abdullah pulang dari bengkel ukir dengan langkah gontai. Pesanan ukiran dari Bukittinggi ditolak karena ada cacat kecil. Ia rugi. Ia duduk diam di beranda rumah gadang, menatap Gunung Singgalang yang mulai menghilang ditelan kabut. Ia tidak bicara sepatah kata pun. Wajahnya lelah.

Arya yang saat itu sedang bermain balok-balok kayu sisa ukiran di dalam rumah, tiba-tiba merasakan sesuatu. Ia keluar dari dalam, berjalan pelan mendekati ayahnya, lalu duduk di samping ayahnya. Tanpa diminta, tangan kecilnya yang baru berusia 5 tahun itu memegang tangan ayahnya yang kapalan dan penuh luka pahat.

"Yah sedih ya?" tanyanya pelan.

Abdullah terkejut. "Kok Arya tahu?"

"Matanya ayah tidak seperti biasa. Matanya capek."

Di usia 5 tahun, di tahun 1970 itu, Arya sudah bisa membaca wajah. Genius-nya bukan hanya terletak pada angka atau hafalan, tapi pada hati. Ia memiliki kecerdasan emosional yang luar biasa. Ia bisa merasakan kesedihan ayahnya bahkan sebelum ayahnya mengucapkannya.

Namun, sedalam apapun jiwanya, ia tetaplah anak 5 tahun yang lahir tahun 1965 di Desa Pande Sikek. Tubuhnya masih kecil. Jalannya masih sempoyongan kalau ia berlari terlalu kencang di tanah Pande Sikek yang berdebu kayu. Ia masih butuh disuapi nasi oleh ibunya. Ia masih butuh dipeluk erat sebelum tidur di bawah selimut tebal agar tidak kedinginan diterpa angin Singgalang.

Dan karena ia jiwa tua yang terjebak di dalam tubuh balita, kadang ia frustrasi. Ia menangis bukan karena jatuh atau karena mainannya direbut. Ia menangis karena kesal tidak bisa menjelaskan isi kepalanya yang begitu penuh dan rumit.

Suatu malam, setelah membaca buku kakaknya yang tidak ia pahami, ia memukul-mukul kepalanya sendiri dengan tangan kecilnya sambil berteriak, "Ayah tidak mengerti! Arya tidak bisa bilang! Di kepala Arya ramai sekali!"

Saat-saat seperti itulah Abdullah tidak memberikan ceramah panjang tentang kesabaran. Ia tahu anaknya tidak butuh teori. Ia hanya butuh rasa aman. Ia hanya memeluk erat tubuh kecil itu di beranda rumah ukir Pande Sikek itu, di bawah temaram lampu petromax yang setia.

"Ayah di sini. Ayah mungkin tidak selalu mengerti semua yang ada di kepala Arya. Tapi ayah selalu ada untuk Arya. Kamu aman, Nak. Kamu tidak sendirian."

Dan Arya pun tenang. Ia tertidur di pangkuan ayahnya yang berbau kayu surian, dengan suara pahat tetangga yang masih terdengar pelan dari kejauhan dan suara jangkrik dari sawah bawah.

Di tahun 1970, orang-orang Pande Sikek belum mengenal istilah gifted, jenius, atau indigo seperti orang kota sekarang. Mereka hanya punya satu kalimat sederhana untuk menggambarkan anak bungsu Abdullah Bin Rais Payobadar yang lahir tahun 1965 itu.

Mereka hanya akan berbisik sambil lalu ketika melihat Arya duduk sendiri di beranda rumah gadang sambil memandangi Gunung Singgalang, "Anak Abdullah tukang ukir yang bungsu itu... lain. Matanya tua."

Memang benar. Tubuhnya adalah tubuh anak 5 tahun di Desa Pande Sikek tahun 1970. Tapi jiwanya seperti orang tua yang baru saja turun dari puncak Gunung Singgalang. Ia sudah mengerti banyak hal, bahkan sebelum dunia sempat menjelaskan dirinya kepadanya.

Dan penjaga pertama, penerjemah pertama, dan rumah pertama bagi jiwa tua yang tumbuh terlalu cepat itu adalah ayahnya sendiri di Desa Pande Sikek itu: Abdullah Bin Rais Payobadar, sang tukang ukir yang mengajarkan bahwa jawaban terbaik tidak selalu harus terlihat, seperti angin di Singgalang dan seperti pahala.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!