Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.
Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.
Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.
Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.
Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Setiap pulang kerja, Rian selalu menyempatkan diri datang ke rumah orang tua Mia.
Ia tidak pernah melewatkan satu hari pun untuk mengunjungi sang putri. Meski badan lelah setelah seharian di kantor, meski harus naik ojek di tengah kemacetan, ia tetap datang. Tapi di balik itu, ada harapan yang terus ia bawa, membujuk Mia untuk rujuk, meski ia tahu peluangnya tipis.
Sore itu, seperti biasa, Rian tiba sekitar pukul enam. Kayla sudah menunggu di teras sambil memangku kedua pipinya dengan tangan. Begitu melihat ayahnya, bocah itu langsung melompat dan berlari kecil.
“Papa!” serunya riang.
Rian berjongkok, membuka lengan, lalu mengangkat putrinya tinggi-tinggi hingga Kayla tertawa. Mereka masuk ke ruang tamu. Mia hanya melintas sebentar dari dapur, mengangguk tipis sebagai salam, lalu kembali menyibukkan diri. Ia tidak menghindar, tapi juga tidak memberi ruang lebih.
Rian duduk di sofa, membiarkan Kayla naik ke pangkuannya. Bocah itu memeluk leher ayahnya erat, lalu berbisik dengan suara cadel yang masih menggemaskan.
“Papa di cini aja. Nda ucah pulang ya. Kita tidul baleng lagi cepelti dulu.” pinta Kayla dengan suara cadel.
Rian tersenyum. Senyum yang penuh rindu sekaligus pahit. Ia mengusap surai putrinya dengan lembut, jari-jarinya menyisir rambut yang sudah agak panjang.
“Kalau soal itu, kamu bisa tanya Mama, sayang,” ucapnya pelan. “Papa tidak berani tidur di sini tanpa izin dari Mama.”
Kayla mendengus kesal. Bibirnya manyun, alisnya berkerut. “Olang tua memang libet. Nda jelas kali hidupnya,” gerutunya, lalu membuang muka. "Cebental aklab, cebental lagi cepelti olang acing"
Rian tertawa kecil, meski dadanya sesak. Ia mencium kening putrinya. “Iya, sayang. Orang tua memang ribet. Tapi Papa dan Mama tetap sayang Kayla. Itu yang paling penting.”
Dari dapur, Mia mendengar percakapan itu. Ia berhenti sejenak, tangan masih memegang sendok. Kalimat polos anaknya menusuk. Bocah yang usianya hampir tiga tahun itu sudah mulai merasakan keretakan, meski belum mengerti sepenuhnya.
Rian melirik ke arah dapur. “Mia… boleh aku main sama Kayla sampai dia tidur?”
Mia muncul di ambang pintu, mengelap tangan di celemek. “Silahkan. Tapi jangan terlalu larut. Nanti dia susah dibangunkan.” ucapnya.
Rian mengangguk. Ia tidak memaksakan percakapan lebih jauh. Ia tahu, setiap kali ia mencoba membujuk rujuk, Mia hanya menjawab singkat atau mengalihkan topik. Jadi ia memilih diam. Cukup duduk di lantai, membangun istana dari balok kayu bersama Kayla, mendengarkan cerita ngawur anaknya, dan sesekali melirik ke arah istri yang sibuk di dapur seolah mereka masih satu rumah.
“Kamu sudah makan?” tanya Mia ragu, suaranya pelan.
Rian yang sedang duduk di lantai sambil bermain balok dengan Kayla mengangkat wajahnya. Ia tersenyum tipis. “Belum sempat. Tadi pulang kerja aku langsung ke sini.” jawabnya.
Mia menghela napas pelan. Pandangannya tertuju pada pipi suaminya yang terlihat lebih tirus dari sebelumnya. Garis wajahnya lebih tajam, seolah laki-laki itu memang tidak makan dengan benar sejak tinggal di kosan. Ada rasa tidak enak di dadanya.
“Makanlah. Ajak Kayla sekalian,” ucapnya, mencoba terdengar biasa.
Rian menggeleng. “Tidak usah. Aku belum lapar kok.” Ia merasa tidak enak menumpang makan di rumah orang tua Mia. Apalagi setelah semua yang terjadi.
“Jangan menolak. Aku tahu kamu sudah lapar,” paksa Mia, nadanya sedikit lebih tegas.
Akhirnya Rian mengangguk pelan. Ia mengangkat Kayla ke pangkuannya. Bocah itu langsung menempelkan bibirnya di telinga ayahnya dan berbisik, meski suaranya masih terdengar jelas.
“Makan aja cebelum Mama belubah jadi cumala.”
Mia yang berdiri di ambang pintu dapur langsung melotot tajam ke arah putrinya. “Mama mendengarnya.”
Kayla dan Rian saling pandang, lalu buru-buru berlari menuju meja makan sambil tertawa kecil.
Mia menggelengkan kepala melihat kelakuan ayah dan anak itu. Ada kehangatan aneh yang muncul di dadanya, dicampur rasa kesal yang tidak benar-benar serius.
Dia masih berdiri sambil melihat suami dan anaknya yang sudah duduk di meja makan.
“Jangan terlalu keras. Papa tahu kamu masih mencintainya,” ucap Dodi dari belakang.
Mia menoleh cepat. Ayahnya berdiri di ambang pintu ruang tengah, wajahnya tenang tapi serius. Mia menatapnya dengan perasaan campur aduk.
“Kamu bisa mengujinya dulu sebelum mengambil keputusan,” saran Dodi.
“Maksud Papa? Menguji yang bagaimana?” tanya Mia bingung.
Dodi menghela napas panjang. Ia mendekat, suaranya rendah agar tidak terdengar sampai ke ruang makan. “Laporkan adiknya ke kantor polisi. Setelah itu kamu lihat respons Rian bagaimana. Jika dia membela adiknya, lebih baik kamu gugat cerai dia lagi. Tapi kalau dia membiarkanmu melanjutkan laporan itu… mungkin dia benar-benar sudah berubah.”
Mia terdiam. Saran ayahnya terasa berat, tapi masuk akal. Di ruang makan, tawa Kayla dan suara Rian yang sedang menyuapi putrinya terdengar samar. Mia menatap ke arah itu, lalu kembali menunduk.
Ujian itu… mungkin memang diperlukan.
"Aku akan mencobanya pa. Tapi kata Rian mereka sudah kembali ke kampung" putus Mia.
"Tidak masalah. Jika kita mempunyai uang, polisi pasti akan tetap memprosesnya. Meski di luar pulau sekalipun" ucap Dodi yakin.
*****
Malam semakin larut. Kayla akhirnya menguap dan matanya mulai berat, Rian menggendongnya ke kamar. Ia membaringkan putrinya di ranjang, menarik selimut, lalu duduk di tepi tempat tidur sampai napas anak itu teratur.
Mia berdiri di pintu, mengawasi dari kejauhan.
Setelah Kayla terlelap dengan nyenyak, Rian pun keluar dari kamar putri kecilnya itu.
“Aku pulang dulu,” bisik Rian ketika sudah berada di depan kamar.
Mia mengangguk. “Hati-hati.”
Rian ragu sejenak di ambang pintu. “Mia… aku masih menunggu. Kalau suatu hari kamu siap berubah pikiran, aku tetap akan menerima mu" ucapnya.
Mia tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah lain.
Rian tersenyum getir, lalu keluar meninggalkan rumah itu setelah berpamitan dengan kedua orang tua Mia.
Setelah suaminya pergi, barulah Mia masuk kedalam kamar. Ternyata Kayla belum tidur, gadis kecil itu menatapnya dengan mata setengah mengantuk.
"Kenapa Kayla bangun, sayang?" tanya Mia sambil menghampiri putrinya di atas ranjang. Dia mengusap kepala putrinya penuh sayang.
"Kapan kita pulang ma? Kay lindu kamal Kay. Kata papa Ayam itu sudah pelgi" tanya Kayla. Dia memanggil Janu dengan sebutan ayam. Mungkin plesetan dari nama Jalu yang biasanya di berikan ke Ayam.
Mia menghela nafas dalam. "Maaf, sayang. Rumah itu sudah di jual. Untuk sementara kita tinggal di rumah nenek dulu, ya" terang Mia.
Kayla tidak menjawab, dia kembali memejamkan matanya, seperti orang yang sedang mengigau.
*
*
Di perjalanan pulang menuju kosan sempitnya, Rian terus teringat gerutuan Kayla.
Putrinya itu benar. Hidup mereka memang tidak jelas. Dan Rian tidak tahu sampai kapan ketidakjelasan itu akan berakhir.