NovelToon NovelToon
TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Penyelamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: achmad abdur roufur rokhim

Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.

​Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.

​Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 10: Utang Darah dan Hancurnya Istana Sederhana

​Dua hari telah berlalu sejak momen berbagi semangkuk mi instan yang mengubah atmosfer di dalam rumah kontrakan berukuran tiga kali empat meter itu. Udara yang biasanya terasa dingin dan sepi, kini dipenuhi oleh kehangatan domestik yang manis dan canggung.

​Pagi ini, sinar matahari bersinar sangat cerah, menembus celah ventilasi dan menerangi debu-debu halus yang menari di udara. Di sudut ruangan, Senja Kirana sedang berdiri di depan cermin retaknya, menyisir rambut panjangnya dan mengikatnya menjadi ekor kuda yang rapi. Hari ini adalah hari Jumat, yang berarti ia harus kembali bekerja di Kedai Roti 'Harum Manis' setelah meminta izin libur selama dua hari akibat demam tinggi.

​"Kak Arga, lukamu benar-benar tidak apa-apa kutinggal sendirian seharian ini?" tanya Senja, membalikkan badannya menghadap pria besar yang sedang duduk bersandar di atas kasur.

​Arga Danendra, yang kini mengenakan kemeja putihnya yang sudah dijahit rapi oleh Senja, menatap gadis itu dengan sorot mata yang tenang dan meyakinkan. Luka di pinggangnya memang belum sembuh total, namun dengan obat-obatan super mahal dari Raka yang dikonsumsinya secara rutin selama dua hari terakhir, proses regenerasi selnya berjalan sangat cepat. Ia nyaris tidak merasakan sakit lagi kecuali jika ia melakukan gerakan ekstrem.

​"Aku bukan anak kecil, Senja. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Kau pergilah bekerja," jawab Arga dengan nada baritonnya yang berat, namun tidak ada lagi nada dingin di dalamnya. "Aku akan diam di sini sampai kau pulang."

​Mendengar kalimat 'aku akan diam di sini sampai kau pulang', Senja tersenyum sangat lebar hingga matanya menyipit melengkung seperti bulan sabit. Kalimat sederhana itu memberikan kekuatan yang luar biasa bagi Senja. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun sejak ia hidup sebatang kara, ada seseorang yang menunggunya pulang ke rumah. Tempat sempit ini kini benar-benar terasa seperti rumah seutuhnya.

​"Baiklah! Makanan Kakak sudah kututup pakai tudung saji plastik di atas meja, ya. Jangan lupa dimakan siang nanti. Aku berangkat dulu, Kak!"

​Senja melambaikan tangannya dengan riang, meraih tas kain usangnya, dan melangkah menuju pintu.

​Namun, sebelum tangan Senja sempat menyentuh gagang pintu kayu tersebut, sebuah hantaman keras dari luar membuat pintu itu bergetar hebat.

​BRAAAKKK!!!

​Senja terkesiap, mundur beberapa langkah karena terkejut. Debu dari kusen pintu yang lapuk berjatuhan ke lantai.

​BRAAAKKK! BANG! BANG!

​"Woi! Buka pintunya! Buka atau kami hancurkan tempat ini sekarang juga!"

​Sebuah suara serak, berat, dan penuh ancaman terdengar menggelegar dari luar, diikuti oleh suara tawa sumbang dari beberapa pria lain. Suara hantaman sepatu lars yang menendang pintu kayu reyot itu membuat seluruh ruangan bergetar.

​Wajah ceria Senja seketika berubah sepucat kertas. Jantungnya berpacu brutal menghantam tulang rusuknya. Ia mengenali suara itu. Itu bukan suara tetangganya, bukan pula suara preman biasa yang sering mabuk di ujung gang. Itu adalah suara mimpi buruk yang selalu ia hindari seumur hidupnya.

​Arga, yang tadinya bersandar santai, seketika menegakkan tubuhnya. Mata elangnya menajam, menatap pintu dengan aura predator yang terbangun dari tidurnya. Insting bertarungnya langsung menyala, otot-otot di balik kemejanya menegang siap membunuh siapa pun yang mengancam ketenangan ruangan ini.

​"S-Siapa mereka, Senja?" tanya Arga, masih mempertahankan nada suara 'pria biasa' meski matanya sudah berkilat mematikan.

​"I-Itu... itu rentenir dari Pasar Induk..." suara Senja bergetar hebat. Ia mencengkeram tali tasnya dengan buku-buku jari memutih.

​BRAAAKKK!! CRASSS!!

​Kali ini, tendangan dari luar tidak tertahan lagi oleh kunci pintu yang sudah berkarat. Pintu kayu lapuk itu jebol ke dalam, engselnya terlepas, dan daun pintunya menghantam dinding dengan suara memekakkan telinga.

​Dari ambang pintu, masuklah empat orang pria berwajah beringas. Pria yang memimpin kelompok itu berbadan tambun, kulitnya gelap dengan tato naga yang menjalar dari leher hingga ke lengannya. Di sudut bibirnya terdapat bekas luka codet yang mengerikan. Ia mengisap sebatang rokok kretek, mengembuskan asapnya dengan arogan ke dalam ruangan sempit tersebut. Tiga anak buahnya di belakang masing-masing memegang tongkat bisbol kayu dan rantai besi.

​"Wah, wah, wah... Lihat siapa yang bersembunyi seperti tikus got di sini. Keponakan kesayangan si brengsek Harun," ucap pria bercodet itu dengan nada mengejek, matanya yang liar menyapu isi rumah kontrakan yang miskin itu.

​Senja menelan ludah, memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menabrak meja kecil. "B-Bang Jali... Ada urusan apa kemari? Saya tidak punya masalah dengan kalian. Uang keamanan gang bulan ini sudah saya bayar lunas ke RT..."

​"Uang keamanan?" Bang Jali tertawa terbahak-bahak, suara seraknya terdengar seperti kaleng berkarat yang digesek. Ia meludah sembarangan ke lantai semen Senja yang baru saja dipel bersih pagi tadi. "Gadis bodoh, ini bukan soal uang keamanan recehanmu itu. Ini soal utang pamanmu, si Harun bajingan itu!"

​Mendengar nama pamannya disebut, dada Senja terasa sesak. Harun adalah adik dari almarhum ayahnya. Pria itulah yang menolak mengurus Senja saat ia yatim piatu, menguras habis sisa asuransi orang tua Senja, lalu membuangnya ke panti asuhan. Sejak saat itu, Senja tidak pernah lagi berhubungan dengan pria parasit tersebut.

​"P-Paman Harun? Saya sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengannya! Saya tidak tahu urusan apa pun yang dia lakukan!" bantah Senja dengan suara gemetar, namun ia berusaha menatap mata preman itu.

​Bang Jali merogoh saku jaket kulitnya dan mengeluarkan sebuah dokumen kertas yang sudah lecek. Ia melemparkan dokumen itu ke dada Senja hingga jatuh ke lantai.

​"Baca itu, Yatim!" bentak Bang Jali. "Pamanmu meminjam uang lima puluh juta rupiah untuk modal judi dua bulan lalu. Dan tebak apa jaminannya? Dia menjadikan nama dan alamat kontrakanmu ini sebagai penjamin! Dia memalsukan tanda tanganmu, dan sekarang, karena bajingan tua itu kabur entah ke mana membawa lari uangku, utang itu jatuh ke kepalamu!"

​Senja membelalakkan matanya ngeri. Ia menatap kertas di lantai itu dengan napas tersengal. Lima puluh juta rupiah. Uang yang bahkan tidak pernah ia lihat wujudnya seumur hidup, kini dituduhkan kepadanya akibat ulah pria berengsek yang mengalirkan darah yang sama di nadinya.

​"I-Ini tidak adil! Itu bukan tanda tanganku! Aku tidak menikmati uangnya sepeser pun! Kalian cari Paman Harun, jangan menagih kepadaku!" jerit Senja putus asa.

​"Peduli setan dengan adil!" Bang Jali maju selangkah, menunjuk wajah Senja dengan puntung rokoknya yang menyala. "Di dunia kami, nama penjamin adalah pembayar utang. Bunga terus berjalan. Sekarang totalnya enam puluh juta. Bayar sekarang, atau aku akan menjual ginjalmu dan menjual tubuhmu ke klub malam di pelabuhan!"

​Arga, yang sejak tadi diam mengamati dari atas kasur, mengepalkan tangannya kuat-kuat. Buku-buku jarinya memutih, dan urat-urat di punggung tangannya menonjol mengerikan.

​Di kepalanya, sebuah perhitungan dingin sedang berjalan. Ia bisa saja bangkit sekarang, mematahkan leher keempat preman kampung ini dalam waktu kurang dari dua menit, dan melempar mayat mereka ke sungai. Ia adalah mesin pembunuh yang dilatih di dunia bawah sebelum menjadi CEO. Preman pasar seperti mereka hanyalah semut baginya.

​Namun, jika ia melakukannya... Senja akan melihat wujud aslinya. Gadis itu akan melihat betapa kejam dan brutalnya seorang Arga Danendra. Penyamarannya sebagai 'pria malang yang amnesia' akan hancur lebur, dan yang paling ia takuti: Senja akan menatapnya dengan ketakutan, bukan lagi dengan kehangatan.

​Arga harus menahan diri. Ia menekan insting membunuhnya dalam-dalam, mengertakkan gigi hingga rahangnya berbunyi, menunggu celah untuk bertindak tanpa harus membongkar identitasnya.

​"Siapa pria besar ini? Pacar miskinmu?" salah satu anak buah Bang Jali akhirnya menyadari keberadaan Arga di sudut ruangan. Ia mengayunkan tongkat bisbolnya dengan gaya mengancam. "Hei, Pria Tolol! Kalau kau mau pacarmu ini selamat, keluarkan uang enam puluh juta sekarang juga!"

​Arga mengangkat wajahnya secara perlahan. Mata elang yang segelap malam tanpa bintang itu menatap lurus ke arah anak buah preman tersebut. Tidak ada kata yang keluar dari mulut Arga, hanya sebuah tatapan. Namun tatapan itu menyimpan aura membunuh yang begitu pekat dan absolut, sebuah dominasi dari predator puncak yang sesungguhnya.

​Anak buah preman itu seketika merinding. Lidahnya mendadak kelu, dan tangannya yang memegang tongkat bisbol bergetar tanpa alasan yang jelas. Ia merasa seolah sedang berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa yang menyamar menjadi manusia.

​Melihat Arga menjadi target, rasa takut di hati Senja tiba-tiba menguap, digantikan oleh insting melindungi yang luar biasa kuat. Tanpa ragu, gadis bertubuh mungil itu melompat maju, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, memblokir pandangan para preman itu dari Arga, menjadikannya tameng hidup bagi pria yang ia anggap sedang lemah dan sakit itu.

​"Jangan libatkan dia!" teriak Senja dengan suara melengking berani. "Dia orang asing yang menumpang karena sedang sakit parah! Dia tidak punya urusan dengan utang ini! Kalau kalian mau menagih, tagih padaku! Jangan berani-berani menyentuhnya!"

​Mendengar teriakan Senja, Arga tersentak. Pertahanan emosinya kembali terguncang. Gadis bodoh ini... dia sendiri sedang diancam akan dijual organnya, tapi hal pertama yang ia lakukan adalah mempertaruhkan nyawa untuk melindungi pria asing di belakangnya.

​Bang Jali mendecih kesal. Ia merasa harga dirinya diinjak karena dihalangi oleh seorang gadis kecil.

​"Kau mau jadi pahlawan, eh, Gadis Yatim?!" bentak Bang Jali. "Bagus! Kalau begitu bayar sekarang!"

​"Aku tidak punya enam puluh juta!" air mata mulai menggenang di pelupuk mata Senja, namun ia menolak untuk menangis. Ia tidak boleh terlihat lemah. "Beri aku waktu! Aku akan lapor polisi kalau kalian berani menggunakan kekerasan!"

​"Polisi?" Bang Jali tertawa sinis, sebuah tawa yang merendahkan hukum kaum miskin. "Lapor saja! Polisi tidak akan peduli pada utang piutang keluarga kumuh sepertimu. Karena kau tidak mau bayar dengan baik-baik, anak-anak... hancurkan tempat ini! Biar dia tahu siapa yang dia tantang!"

​"TIDAK! JANGAN!" jerit Senja histeris.

​Namun terlambat. Tiga anak buah beringas itu mulai mengamuk layaknya binatang buas yang dilepas dari kandangnya.

​PRANGG!!!

​Satu ayunan tongkat bisbol menghancurkan kaca jendela rumah kontrakan itu hingga berkeping-keping. Pecahan kacanya berserakan di lantai, mengenai kaki Senja yang hanya memakai sandal jepit murah.

​BRAK! KELENTANG!

​Anak buah yang lain menendang meja kecil tempat Senja menyajikan makanan untuk Arga. Mangkuk plastik oranye—mangkuk yang menjadi saksi bisu kehangatan mereka saat berbagi mi instan kemarin—terpental ke dinding dan pecah menjadi dua bagian. Tudung saji plastiknya terinjak hingga remuk tak berbentuk.

​"Hentikan! Kumohon, hentikan!" Senja menjatuhkan dirinya ke lantai, berusaha memunguti barang-barang berharganya yang tak seberapa itu.

​Namun para preman itu tidak memiliki hati nurani. Mereka menendang galon air minum Senja hingga airnya tumpah membanjiri lantai semen. Mereka merobek lemari kain tempat Senja menyimpan pakaiannya, melempar baju-baju gadis itu ke lantai yang kini kotor oleh lumpur sepatu mereka dan genangan air minum.

​Sebuah tendangan keras dari salah satu preman mengenai rak piring plastik. Rak itu hancur berantakan. Gelas-gelas kaleng dan piring seng yang biasa digunakan Senja untuk menjamu Arga jatuh berserakan, penyok, dan tidak bisa digunakan lagi.

​Di atas kasur, Arga duduk mematung. Matanya menyaksikan setiap kehancuran itu dengan dada yang bergemuruh hebat.

​Gubuk reot ini memang kumuh, jelek, dan tidak berharga di mata dunia. Bagi Arga, membeli seribu rumah seperti ini tidak akan mengurangi digit di rekening banknya sama sekali.

​Namun bagi Senja, tempat ini adalah istananya. Mangkuk oranye yang pecah itu adalah hartanya. Kaca jendela yang hancur itu adalah satu-satunya pelindungnya dari dunia luar. Dan bagi Arga sendiri... ruangan berantakan ini adalah tempat pertama di mana ia merasa menjadi manusia, tempat di mana hatinya diobati.

​Istana sederhana yang telah mengembalikan kewarasannya itu kini dihancurkan di depan matanya sendiri.

​[Pesan Tersembunyi untuk Pembaca:]

(Ada sebuah ironi yang sangat kejam dalam kisah ini, sebuah cermin dari realitas kehidupan yang sering kali kita abaikan. Darah seharusnya lebih kental dari air, namun tak jarang, keluarga sedarah lah yang menorehkan luka paling dalam dan meninggalkan kita dalam penderitaan, seperti Paman Harun yang mengorbankan Senja. Sementara itu, sosok asing yang tak memiliki ikatan darah, justru menjadi tameng yang bersedia pasang badan.

​Dan lihatlah para preman itu. Mereka mengenakan pakaian mahal hasil memeras, memakai emas dan mengendarai motor besar, merasa diri mereka kuat. Namun merekalah orang miskin yang sesungguhnya. Kemiskinan paling mengerikan di dunia ini bukanlah ketidakmampuan untuk membeli makanan, melainkan ketidakmampuan untuk merasakan empati. Saat manusia sudah bisa menghancurkan hidup orang lain hanya demi lembaran uang, pada detik itulah mereka kehilangan martabatnya sebagai manusia dan berubah menjadi iblis.)

​"CUKUP!"

​Teriakan Senja menggema, menembus kekacauan suara barang pecah belah. Gadis itu merangkak dengan lutut yang lecet terkena pecahan kaca, lalu memeluk kaki Bang Jali dengan putus asa.

​"Kumohon... jangan hancurkan kompor itu... Itu satu-satunya alatku untuk menyambung hidup... Kumohon, Bang Jali," isak tangis Senja akhirnya pecah. Pertahanannya runtuh. Ia rela membuang harga dirinya, memohon di bawah kaki pria bejat itu, hanya demi melindungi sisa-sisa kehidupannya dan kehidupan pria amnesia di belakangnya.

​Bang Jali menunduk, menatap Senja dengan senyum licik yang memuakkan. Ia menjambak rambut Senja dengan kasar, memaksa gadis itu mendongak menatapnya.

​"Kau mau kami berhenti? Gampang. Bayar utangnya sekarang," bisik Bang Jali bengis.

​Senja menangis tersedu-sedu. Dengan tangan gemetar, ia merogoh saku roknya yang dalam. Ia mengeluarkan sebuah kaleng bekas permen yang sudah berkarat. Di dalamnya, terdengar bunyi kepingan uang logam dan beberapa lembar uang kertas dua ribuan yang sangat lecek. Itu adalah uang tip dan tabungan daruratnya selama berbulan-bulan yang ia kumpulkan demi bisa membeli beras dan membayar listrik.

​"I-Ini... ini semua yang kumiliki sekarang..." Senja menyerahkan kaleng itu dengan tangan gemetar. "Bawa ini. Dan beri aku waktu... Aku akan mencari kerja tambahan, aku akan mencicilnya. Tapi kumohon, pergi dari sini dan jangan sakiti kami."

​Bang Jali merebut kaleng itu. Ia membukanya, melihat isinya, lalu meludah ke lantai.

​"Uang recehan pengemis ini bahkan tidak cukup untuk membeli rokokku sehari!" bentaknya marah. Ia membuang isi kaleng itu, membiarkan koin-koin tabungan darah dan keringat Senja berhamburan ke lantai semen yang basah.

​Melihat koin-koinnya berserakan, hati Senja hancur lebur. Itu adalah uang yang ia kumpulkan mati-matian, menahan lapar demi masa depan. Kini, semuanya terinjak-injak begitu saja.

​Namun, tepat saat tangan Bang Jali terangkat untuk menampar wajah Senja karena merasa dihina dengan uang receh...

​SYUUTT! BUGHH!

​Sebuah gerakan yang terlalu cepat untuk ditangkap oleh mata manusia biasa terjadi. Bang Jali terlempar mundur sejauh dua meter, punggungnya menghantam dinding bata dengan suara berderak yang mengerikan, hingga dinding itu sedikit retak.

​Pria bertato naga itu memuntahkan darah segar dari mulutnya, matanya mendelik ngeri menahan rasa sakit luar biasa di dadanya, seolah baru saja ditabrak oleh sebuah truk tronton bermuatan penuh.

​Ketiga anak buahnya terperanjat hebat. Mereka memutar tubuh mereka, dan mendapati pemandangan yang membuat nyali mereka menciut seketika.

​Arga Danendra telah berdiri dari kasurnya.

​Pria itu berdiri tegap di tengah reruntuhan ruangan. Rambut hitamnya jatuh menutupi dahinya, namun dari balik helaian rambut itu, sepasang mata elang menatap tajam bagaikan penguasa neraka yang turun ke bumi. Urat-urat di lehernya menonjol, dan otot-otot lengannya mengencang di balik kemeja putihnya yang terbuka. Aura membunuh yang begitu pekat dan hitam menguar dari tubuhnya, mencekik pasokan oksigen di ruangan itu.

​Arga tidak menggunakan seni bela diri atau teknik mencolok apa pun yang bisa membongkar identitasnya. Ia hanya menendang dada Bang Jali dengan kecepatan dan kekuatan mentah yang berasal dari insting liarnya bertarung di jalanan bertahun-tahun yang lalu. Tendangan 'keputusasaan' yang masuk akal dilakukan oleh pria amnesia yang sedang melindungi dirinya sendiri.

​"K-Kau... bajingan!" erang Bang Jali, mencoba berdiri sambil memegangi dadanya yang mungkin tulang rusuknya sudah patah dua. Ia menatap Arga dengan campuran antara kemarahan dan ketakutan yang mendalam.

​"Sentuh dia sekali lagi dengan tangan kotormu itu," suara Arga mengalun rendah, tenang, namun menggetarkan dinding gendang telinga siapa pun yang mendengarnya. Setiap kata dieja dengan penekanan absolut. "...dan aku pastikan, neraka akan menjadi tempat yang sangat menyenangkan bagimu dibandingkan dengan apa yang akan kulakukan padamu."

​Ketiga anak buah preman itu menelan ludah. Insting mereka sebagai berandalan jalanan berteriak memperingatkan mereka bahwa pria di depan mereka ini bukanlah manusia biasa. Jika mereka menyerang maju, mereka akan mati tanpa sisa.

​Bang Jali, meski bodoh dan arogan, cukup pintar untuk membaca situasi bahwa ia kalah telak dalam hal aura dan kekuatan.

​"B-Bagus! Kau mau jadi pelindungnya?!" Bang Jali meludah ke samping, menunjuk Arga dengan jari gemetar. "Aku beri kalian waktu tiga hari! Tiga hari dari sekarang, jika uang enam puluh juta itu tidak ada, aku akan membawa puluhan orang untuk meratakan tempat ini, dan kalian berdua akan mati membusuk di dasar sungai!"

​Tanpa menunggu balasan, Bang Jali tertatih-tatih keluar dari ruangan itu, diikuti oleh ketiga anak buahnya yang lari terbirit-birit layaknya anjing yang dikejar serigala.

​Suasana kembali hening, menyisakan suara mesin motor para preman yang menjauh dan hiruk-pikuk tetangga di luar gang yang takut untuk mendekat.

​Di dalam ruangan yang telah luluh lantak itu, Senja masih berlutut di atas lantai. Gadis itu tidak memedulikan lutut dan tangannya yang berdarah terkena serpihan kaca. Ia juga tidak memedulikan ancaman kematian yang baru saja dilontarkan.

​Yang dilakukan Senja hanyalah menatap kosong pada pecahan mangkuk oranye, piring seng yang penyok, dan koin-koin recehnya yang berserakan di atas genangan air lumpur kotor.

​Rumahnya hancur. Rasa amannya dirampas paksa. Dunianya yang selalu ia pertahankan dengan senyuman dan kepositifan, runtuh hari ini akibat keegoisan kerabatnya sendiri.

​Air mata jatuh menderas dari pelupuk mata Senja, namun kali ini tidak ada suara isakan. Hanya tangisan bisu yang menyiratkan keputusasaan yang sangat dalam. Ia meraup koin-koin kotor itu, memeluknya di dada, dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

​"Senja..."

​Arga menjatuhkan dirinya ke lantai, berlutut tepat di depan gadis itu. Rasa sakit di pinggangnya yang kembali robek sama sekali tidak ia rasakan. Yang ia rasakan hanyalah rasa ngilu yang luar biasa melihat gadis yang selalu tersenyum layaknya matahari ini, kini menangis patah hati di tengah reruntuhan.

​Arga merengkuh tubuh gemetar itu ke dalam pelukannya. Ia menyandarkan kepala Senja ke dada bidangnya, membiarkan air mata gadis itu membasahi kemejanya. Tangan besarnya membelai rambut Senja dengan kelembutan yang sangat kontras dengan aura membunuhnya beberapa detik lalu.

​"Semuanya hancur, Kak..." bisik Senja parau, suaranya teredam di dada Arga. "Mangkuk kita pecah... aku tidak punya uang lagi... dari mana aku bisa mendapatkan enam puluh juta dalam tiga hari? Mereka akan membunuh kita, Kak..."

​"Ssst... tenangkan dirimu," Arga berbisik tepat di telinga Senja. Ia memeluk gadis itu semakin erat, memberikan seluruh kehangatan dan rasa aman yang ia miliki. "Selama aku masih bernapas, tidak akan ada satu orang pun yang berani menyentuhmu."

​Senja tidak menjawab, ia hanya terus menangis hingga kelelahan dan ketakutan menyita kesadarannya. Ia menangis terisak di pelukan Arga, menumpahkan segala beban hidup yang selama ini ia pikul sendirian.

​Sambil terus membelai rambut gadis di pelukannya yang perlahan mulai tenang, Arga mengangkat wajahnya. Ia menatap nanar pintu yang hancur dan barang-barang Senja yang berserakan.

​Ekspresi kelembutan di wajah Arga menguap tanpa sisa. Wajahnya seketika membeku menjadi es yang paling mematikan di Antartika. Mata elangnya menggelap, menelan seluruh sisa-sisa cahaya di ruangan itu. Di detik itu, bukan lagi pria amnesia yang sedang duduk memeluk Senja. Itu adalah Sang CEO, Sang Tiran, Arga Danendra, penguasa dunia malam dan bisnis yang paling ditakuti.

​Preman-preman pasar itu telah melakukan kesalahan terbesar yang bisa dilakukan oleh umat manusia di kota ini. Mereka telah menyentuh gadis milik Arga Danendra.

​Enam puluh juta? Arga mendecih dalam hati. Senyum iblis yang sangat tipis dan mengerikan terukir di sudut bibirnya.

​Kalian meminta enam puluh juta dari gadis ini? Aku akan memberikan kalian miliaran rupiah. Tapi sayangnya... kalian akan menerimanya dalam bentuk uang kertas yang dibakar di atas kuburan kalian sendiri.

​Dalam keheningan reruntuhan itu, sebuah janji pembalasan dendam yang paling brutal dan tanpa ampun telah diikrarkan oleh sang penguasa. Tiga hari lagi, darah akan membayar darah, dan dunia bawah kota ini akan mengetahui kemarahan sejati dari seorang raja yang singgasananya diusik.

1
𝐀⃝🥀Weny
kira² apa yang mau dilakukan Natasya ya🤔
𝐀⃝🥀Weny: astaga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sebelumnya kuracuun dirimu🤣🤣😜😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
aduuuh... mama Rini gangguin aja, kan Arga sudah menahan diri lama😜😜😜😜🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang luka yg ditorehkan masa lalu tidak bisa hilang begitu saja... jadi kamu harus bersabar senja dan bangunlah kepercayaan kembali untuk Arga 😊
𝐀⃝🥀Weny
Alhamdulillah.. mamanya Arga gak kayak orang kaya yg jahat🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
ya pastinya kamu Raka 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya senja sudah memaafkan Arga... semoga Arga tidak membuat ulah lagi 😅🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkin permintaan senja, kalau memang Arga mencintainya jangan pernah ikut campur urusannya.. biarlah waktu mengalir sebagaimana mestinya...
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ren₂₄🏡s⃝ᴿ M⃟3💋
mampir
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 😍😍😍🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
hempaskan saja si hama itu, bikin sakit mata saja😅😅😅
𝐀⃝🥀Weny: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
𝐀⃝🥀Weny
demi mengejar cinta, apa saja akan ku lalui ... ahaaaay🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
heemmm.. padahal cinta, kenapa gengsi😅🤣🤣🤣jangan pantang menyerah Arga, kejarlah trs😄
𝐀⃝🥀Weny
wah bakalan seru nih, si Natasha juga sudah balik dan mau menemui Arga 😄 aduh senja, meskipun kamu menyamar gak bakalan bisa lari dari Arga Karena dia punya insting yang bagus🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: preeeett 😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
larilah sejauh yang kamu mau senja, tapi ingatlah sejauh apa pun kamu lari.. pasti ditemukan juga sama Arga.. kecuali yang membantumu lari itu musuhnya Arga 😅🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: asek aseeeek... cinta palsu🤣🤣🤣😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
sudah dikasih kebebasan sesuai keinginan kenapa gak langsung keluar😅 sekarang menyesalkan, tadi aja sok²an gak mau😏🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
sejatinya kebahagiaan tidak di ukur dengan harta, tapi nek gak punya harta Yo meh ngenesss/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: ooooooooooooooo
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang yg di butuhkan bukan kemewahan, melainkan sederhanaan dan kedamaian 🥰
𝐀⃝🥀Weny
sebuah kekuasaan memang pemenangnya 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: 😪😪😪😪😪
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan... senja kecewa😅 harusnya sebelum pergi tu alasan kalau ingatanya sudah pulih, gak langsung pergi gitu aja😪🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkinkah Arga pura² tidak kenal senja untuk mengelabuhi musuh soal kelemahannnya🤔
𝐀⃝🥀Weny
kasihan senja ditinggal gitu aja😪 bersabarlah senja, suatu saat nanti kamu pasti tau kebenaran tentang Arga😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!