NovelToon NovelToon
SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Sinar matahari pagi terasa sangat menyengat saat Stevan melangkahkan kakinya melewati gerbang utama Institut Musik Nusantara.

Gedung-gedung megah bergaya klasik itu menjulang tinggi di depannya seakan menyambut kedatangannya kembali.

Seminggu telah berlalu sejak insiden kelam di rumah sakit malam itu.

Stevan mengenakan topi hitam dan masker medis yang menutupi separuh wajahnya rapat-rapat.

Langkah kakinya terasa sedikit berat namun tatapan matanya jauh lebih tajam dan dingin dari sebelumnya.

Tap... tap... tap...

Sepatu ketsnya beradu dengan lantai marmer lobi utama kampus yang selalu ramai oleh hiruk-pikuk mahasiswa.

Ia bisa merasakan puluhan pasang mata langsung menatapnya dari berbagai sudut ruangan.

"Hei, lihat itu, bukankah itu Stevan? Dia sudah berani masuk kampus lagi?" bisik seorang mahasiswi berambut pendek kepada temannya di dekat pilar.

"Kudengar pita suaranya rusak permanen karena menenggak minuman keras yang dicampur zat aneh, kasihan sekali ya," jawab temannya dengan nada yang jelas-jelas meremehkan.

"Dion dan Natasha sekarang sudah jadi pasangan emas kampus dan segera debut, lalu untuk apa orang bisu ini kembali ke mari?"

Bisikan-bisikan pedas itu terdengar sangat jelas di telinga Stevan.

Dulu, saat ia masih menjadi bintang kampus yang digadang-gadang akan menjadi vokalis nomor satu, orang-orang ini selalu tersenyum manis dan mencari perhatiannya.

Sekarang, mereka menatapnya seolah ia adalah sampah yang tidak pantas berada di tempat suci para pemusik ini.

Stevan hanya diam dan terus berjalan menyusuri lorong tanpa mempedulikan mereka sama sekali.

"Orang-orang bodoh ini tidak tahu apa-apa, biarkan saja mereka menggonggong semau mereka," batin Stevan dengan sangat tenang.

Ia sudah mengklaim hadiah dari Sistem Pintar tadi malam sebelum tertidur pulas.

Pengetahuan tentang teori komposisi tingkat menengah telah masuk ke dalam otaknya secara otomatis melalui sebuah cahaya hangat.

Rasanya seperti ia telah mempelajari dan menghafal ratusan buku tebal tentang harmoni musik selama bertahun-tahun penuh.

Krieeet...

Stevan mendorong pintu ruang kelas Teori Musik Lanjutan dengan perlahan.

Suasana kelas yang awalnya bising mendadak hening seketika saat sebelah kakinya melangkah masuk.

Dion memang tidak ada di kelas ini, tapi beberapa teman dekat Dion terlihat duduk bergerombol di barisan paling belakang.

Stevan mengabaikan tatapan mereka, memilih kursi kosong di barisan tengah, lalu meletakkan tas ranselnya di atas meja.

Brak!

Pintu kelas tiba-tiba dibanting terbuka dari luar dengan sangat keras.

Seorang pria paruh baya mengenakan kemeja rapi dan kacamata tebal melangkah masuk dengan wajah sangat garang.

Ia adalah Pak Arya, dosen teori musik paling galak, perfeksionis, dan ditakuti di seluruh penjuru kampus.

"Selamat pagi semua, berhenti mengobrol dan langsung saja buka buku kalian halaman empat puluh," ucap Pak Arya tanpa basa-basi sedikit pun.

Ia meletakkan setumpuk kertas tugas di atas meja dosen dengan kasar hingga menimbulkan suara hempasan.

"Saya sudah melihat hasil ujian praktik kalian minggu lalu, dan jujur saja hasilnya sangat memalukan untuk ukuran mahasiswa semester ini."

Pak Arya mengambil sebuah spidol hitam tebal dan mulai menulis deretan notasi balok yang rumit di papan tulis.

Itu adalah sebuah progresi akor yang sangat kompleks dengan banyak modulasi atau perpindahan nada dasar yang berantakan.

"Siapa di antara kalian yang bisa menganalisis struktur harmoni cacat di papan tulis ini dan memperbaikinya?" tantang Pak Arya sambil menatap tajam ke seluruh isi kelas.

Semua mahasiswa seketika menundukkan kepala mereka dalam-dalam menghindari tatapan sang dosen.

Tidak ada satu pun yang berani melakukan kontak mata dengan dosen killer tersebut.

Progresi yang ditulis Pak Arya di papan tulis terlihat seperti benang kusut yang mustahil untuk diurai oleh mahasiswa biasa.

"Tidak ada yang bisa menjawab? Otak kalian ini isinya apa saja selama belajar bertahun-tahun di institut ini?" sindir Pak Arya dengan nada tajam yang menusuk telinga.

Mata Pak Arya kemudian menyapu barisan tengah dan tatapannya berhenti tepat pada sosok Stevan yang duduk diam.

Dosen itu tentu sudah mendengar rumor panas tentang hilangnya suara mantan penyanyi kebanggaan kampus tersebut.

"Stevan Alvaro," panggil Pak Arya dengan suara keras yang menggema di ruang kelas.

Semua kepala di dalam ruangan itu langsung menoleh ke arah Stevan secara serempak.

"Saya dengar kau tertimpa musibah dan tidak bisa bicara atau bernyanyi lagi sekarang."

"Tapi telinga dan otakmu masih berfungsi dengan baik untuk belajar, bukan?"

Beberapa mahasiswa di barisan belakang terdengar mendengus dan menahan tawa mereka.

"Maju ke depan dan selesaikan soal ini, buktikan pada saya kalau kau masuk kelasku bukan hanya untuk menumpang duduk dan meratapi nasib."

Stevan menatap papan tulis itu dari tempat duduknya dengan ekspresi yang sangat tenang.

[TING!]

[Menganalisis progresi akor...]

[Ditemukan empat kesalahan fatal dalam modulasi nada dasar dan progresi dominan.]

[Sistem Pintar telah membedah struktur lagu secara menyeluruh untuk tuan rumah.]

Sebuah layar biru transparan tiba-tiba muncul tepat di depan mata Stevan.

Layar itu menampilkan jawaban yang sangat sempurna, terperinci, dan elegan.

Stevan berdiri dari kursinya dengan santai tanpa menunjukkan sedikit pun rasa gugup.

Srak...

Suara kursi yang digeser memecah keheningan kelas yang mencekam.

Ia berjalan ke depan kelas dengan langkah pasti, lalu mengambil spidol merah yang tergeletak dari meja dosen.

Pak Arya melipat tangannya di depan dada dengan tatapan yang masih sedikit meremehkan.

Stevan mulai menggoreskan spidol merah itu ke atas papan tulis putih.

Sret... sret... sret...

Ia mencoret akor dominan yang salah tempat dengan tegas dan menggantinya dengan akor substitusi yang jauh lebih elegan.

Ia tidak berhenti hanya sampai di situ saja.

Stevan menuliskan deretan analisis fungsi harmoni di bawah setiap notasi balok dengan kecepatan yang luar biasa.

Tangannya bergerak luwes seolah ia sedang melukis sebuah mahakarya yang sudah ia rencanakan seumur hidupnya.

Kurang dari dua menit, hampir seluruh papan tulis telah penuh dengan tinta merah berisi rumusan perbaikan musik.

Tuk.

Stevan meletakkan kembali spidol itu ke atas meja dosen dengan pelan.

Ia lalu menoleh ke arah Pak Arya yang kini berdiri mematung dengan mulut sedikit terbuka.

Mata dosen killer itu membulat sempurna di balik kacamata tebalnya.

Pak Arya maju selangkah dengan cepat dan meneliti setiap coretan yang dibuat Stevan dengan saksama.

"Ini..." gumam Pak Arya dengan suara yang terdengar bergetar karena terkejut.

"Kau menggunakan substitusi tritone untuk menjembatani modulasi ke nada dasar yang sangat jauh ini?"

Ruang kelas seketika menjadi ribut oleh bisikan para mahasiswa yang saling berpandangan kebingungan.

Mereka tidak mengerti sama sekali apa yang dibicarakan dosen mereka, tapi dari raut wajahnya, jelas Stevan melakukan sesuatu yang sangat gila.

"Bukan hanya itu, struktur progresi yang kau buat ini mengalir jauh lebih indah dan modern dari teori standar mana pun," lanjut Pak Arya seolah berbicara pada dirinya sendiri dalam kekaguman.

Dosen itu menatap Stevan dengan pandangan yang sama sekali berbeda dari lima menit yang lalu.

Tatapan meremehkan itu telah sepenuhnya menguap tanpa sisa, digantikan oleh rasa takjub yang mendalam.

Stevan hanya membalas tatapan itu dengan wajah datar di balik maskernya.

Ia menunjuk telinganya sendiri dengan jari telunjuk, lalu menunjuk ke arah kepalanya sendiri.

"Aku mungkin tidak bisa bernyanyi, tapi musik akan selalu ada di sini," batin Stevan meskipun tidak ada yang bisa mendengarnya.

Namun, gerakan isyarat tubuhnya yang penuh percaya diri itu cukup untuk membuat seluruh mahasiswa di kelas merinding.

[TING!]

[Misi pertama selesai!]

[Status: Berhasil mengejutkan dosen dan mematahkan rumor miring di hari pertama kembali.]

[Hadiah tambahan: Pendengaran Absolut telah berhasil ditambahkan ke dalam tubuh tuan rumah.]

Stevan merasakan sensasi sejuk mengalir ke kedua telinganya.

Ia mengangguk pelan kepada Pak Arya dan berjalan kembali ke tempat duduknya dengan sangat tenang.

Langkah kakinya kini terasa jauh lebih mantap dan berwibawa dari sebelumnya.

Mahasiswa yang tadi menertawakannya kini menatapnya seolah ia adalah monster jenius yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya.

Kejadian di ruang kelas hari ini pasti akan segera menyebar ke seluruh penjuru Institut Musik Nusantara dengan sangat cepat.

Mereka semua akan segera tahu bahwa Stevan Alvaro sama sekali belum habis ditelan keputusasaan.

Singa yang kehilangan suaranya itu kini mulai mengasah cakarnya dalam keheningan yang mematikan.

Dan ketika cakar itu siap diayunkan, industri musik akan berdarah di bawah kakinya.

1
Rifqy Channel
nah gini dong 😭🙏🤣🤣
Rifqy Channel
tolong dong itu the zeros mereka harus ungkap identitas biar supaya mereka shock itu. jangan pelit dengan hadiah nya lah.
Nissa Safira: Sabar yaa kak🤣🙏
Aku mau mereka shocknya pas lagi di atas tahta, bukan pas masih di tangga. Tunggu final, hadiahnya bukan cuma identitas yang kebuka, tapi satu industri yang runtuh. Janji deh gak bakal pelit hadiahnya🤣🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!