Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”
Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 : PENEGASAN DARI HERO
Sore itu, suasana di kediaman Hero terasa lebih tenang dari biasanya. Setelah menyelesaikan beberapa urusan di kantor, Hero akhirnya kembali ke rumah bersama Valen. Laura sudah lebih dulu berada di ruang utama dan sedang menikmati waktu santainya sambil membaca sebuah buku.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Valen baru saja menerima pesan dari salah satu orang kepercayaannya. Setelah membaca pesan tersebut, Valen langsung menghampiri Hero yang sedang duduk di sofa.
“Tuan, Rafael Valencia sudah menerima pesan yang saya sampaikan. Dia mengatakan akan datang ke kediaman ini sore ini,” ujar Valen.
Hero mengangkat wajahnya dari dokumen yang sedang dia baca. “Baik. Pastikan semuanya sudah siap.”
Laura yang mendengar percakapan mereka langsung menutup bukunya. Dia menatap Hero dengan sedikit penasaran.
“Rafael Valencia? Ayah Aurel?” tanya Laura.
Hero mengangguk. “Benar. Aku memintanya datang karena ada sesuatu yang harus diselesaikan.”
Laura terdiam. Beberapa hari terakhir, nama Aurel memang terus muncul dalam pikirannya. Dia masih ingat ketika Aurel datang dan mengatakan bahwa dirinya adalah tunangan Hero. Perkataan itu sempat membuat Laura bingung, apalagi Hero sendiri belum pernah menceritakan tentang hubungan tersebut kepadanya.
“Kamu akan membicarakan soal Aurel?” tanya Laura lagi.
Hero menatap Laura beberapa saat sebelum menjawab, “Aku tidak ingin kamu terus memikirkan perkataan Aurel. Karena itu, aku akan menyelesaikan masalah ini secara langsung.”
Laura hanya mengangguk. Dia tidak ingin ikut campur terlalu jauh. Namun, jauh di dalam hatinya, Laura juga ingin mengetahui kebenaran tentang hubungan Hero dan Aurel.
Tidak lama kemudian, suara mobil terdengar dari halaman depan. Seorang pelayan segera membuka pintu utama, dan Rafael Valencia masuk bersama salah satu pengawalnya.
Rafael terlihat cukup terkejut ketika melihat suasana di dalam rumah. Dia datang tanpa mengetahui alasan sebenarnya Hero memanggilnya. Pesan dari Valen hanya mengatakan bahwa Hero ingin membicarakan masalah penting yang berkaitan dengan keluarga Valencia.
Begitu memasuki ruang utama, Rafael langsung melihat Hero. Namun, bukan hanya Hero yang berada di sana. Laura juga duduk di sampingnya, sementara Valen berdiri tidak jauh dari mereka.
Rafael menghentikan langkahnya sejenak. Dia menatap Aurel, kemudian melihat Hero dengan tatapan penuh pertanyaan.
“Hero, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu memanggilku ke sini?” tanya Rafael sambil berjalan mendekati sofa.
Hero berdiri dan mempersilakan Rafael duduk. Setelah Rafael mengambil tempat, Hero kembali duduk di samping Laura.
“Aku memanggilmu karena ada sesuatu yang harus kita selesaikan hari ini,” jawab Hero dengan tenang.
Rafael mengerutkan kening. “Masalah apa?”
Hero tidak langsung menjawab. Dia justru menggenggam tangan Laura yang sejak tadi berada di atas pangkuannya. Laura sempat menoleh, tetapi Hero hanya memberikan senyum kecil seolah ingin menenangkannya.
“Masalahnya berkaitan dengan pembicaraan antara keluarga Valdren dan keluarga Valencia beberapa tahun terakhir,” kata Hero akhirnya. “Lebih tepatnya, tentang pertunangan antara aku dan Aurel.”
Aurel langsung menundukkan wajahnya. Dia sudah tahu pembicaraan ini akan terjadi, tetapi tetap saja hatinya terasa berat ketika mendengarnya secara langsung.
Rafael menghela napas pelan. “Jadi ini yang ingin kamu bicarakan?”
“Ya,” jawab Hero. “Aku ingin semuanya jelas. Aku tidak ingin ada lagi kesalahpahaman mengenai hal itu.”
Rafael menatap Hero dengan serius. “Selama ini keluarga kita memang pernah membicarakan pertunangan kalian. Tapi aku tahu kamu tidak pernah benar-benar memberikan persetujuan.”
Hero mengangguk.“Benar. Aku tidak pernah menyetujui pertunangan itu.”
Suasana ruangan langsung menjadi hening.
Aurel perlahan mengangkat wajahnya. “Tapi, Hero…”
Hero menoleh kepadanya. “Aurel, aku sudah menghargai keluargamu dan hubungan baik antara keluarga kita. Tapi urusan pernikahan adalah keputusan pribadi. Aku tidak bisa menikahi seseorang hanya karena keluarga pernah membicarakannya.”
Mata Aurel mulai berkaca-kaca. “Jadi selama ini kamu benar-benar tidak pernah menganggap pertunangan itu?”
“Aku tidak pernah mengatakan bahwa kita bertunangan,” jawab Hero tegas. “Karena sejak awal aku tidak pernah menyetujuinya.”
Rafael terdiam mendengar jawaban tersebut. Dia sebenarnya sudah mengetahui sikap Hero sejak lama, tetapi sekarang semuanya menjadi lebih jelas.
Kemudian Rafael mengalihkan pandangan kepada Laura.“Kalau begitu, gadis ini…” Rafael berhenti sejenak. “Laura Prayoga?”
Laura mengangguk sopan. “Iya, Pak.”
Rafael memperhatikan Laura beberapa saat. Nama keluarga Prayoga bukanlah nama yang asing baginya. Keluarga tersebut cukup dikenal di kalangan pengusaha.
“Jadi Hero memilih Laura?” tanya Rafael.
Hero menjawab tanpa ragu, “Bukan sekadar memilih. Laura adalah orang yang ingin aku jadikan sebagai istriku.”
Laura sedikit terkejut mendengar Hero mengatakannya dengan begitu yakin di depan Rafael dan Aurel. Namun, dia tidak menarik tangannya dari genggaman Hero.
Rafael kembali menatap Laura. “Tapi setahuku Laura masih bagian dari keluarga Prayoga.”
“Sudah tidak lagi,” jawab Hero.
Rafael mengernyitkan kening. “Maksudmu?”
Hero menjelaskan semuanya dengan tenang. “Laura sudah lepas dari keluarga Prayoga. Semua dokumen yang diperlukan sudah diselesaikan. Dia tidak lagi berada di bawah keluarga tersebut dan tidak memiliki kewajiban untuk kembali kepada mereka.”
Rafael terlihat cukup terkejut. Dia menatap Laura seolah ingin memastikan sendiri.
Laura hanya mengangguk pelan.“Benar. Aku sudah tidak menjadi bagian dari keluarga itu seperti sebelumnya,” jawab Laura.
Rafael kemudian terdiam. Dia mulai memahami bahwa hubungan antara Hero dan Laura bukan sekadar hubungan sementara. Hero bahkan sudah mengambil langkah untuk memastikan Laura bebas dari masalah keluarganya.
Aurel yang sejak tadi diam akhirnya tidak bisa menahan perasaannya.“Kenapa harus Laura?” tanyanya dengan suara bergetar. “Apa yang membuat dia begitu penting bagimu?”
Hero menatap Aurel dengan tenang.“Karena aku mencintainya.”
Jawaban itu membuat Laura terdiam. Meskipun Hero sudah berkali-kali menunjukkan perasaannya, mendengar kalimat tersebut di depan orang lain tetap membuat wajah Laura sedikit memanas.
Hero melanjutkan, “Aku tidak membutuhkan alasan lain untuk menjelaskan pilihanku. Laura adalah orang yang ingin aku lindungi dan aku bahagiakan.”
Aurel mengepalkan tangannya. “Tapi keluarga kita sudah lama membicarakan pertunangan itu.”
“Dan aku tidak pernah menyetujuinya,” jawab Hero.
Aurel tidak bisa berkata-kata lagi.
Hero kemudian menatap Aurel dengan tatapan lebih serius.“Aku juga ingin kamu memahami satu hal. Jangan pernah mengganggu Laura lagi.”
“Jangan datang kepadanya untuk memarahinya. Jangan merendahkannya karena dia masih kuliah. Dan yang paling penting, jangan pernah menyentuh Laura lagi,” lanjut Hero dengan suara rendah tetapi tegas.
Laura menatap Hero. Dia bisa merasakan perubahan sikap Hero. Pria yang biasanya begitu lembut kepadanya kini terlihat sangat serius.
“Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Laura hanya karena mereka tidak menerima keputusanku,” kata Hero.
Rafael menghela napas panjang. Dia kemudian menatap putrinya.“Aurel, ayah sudah mendengar semuanya. Kamu harus berhenti mengejar sesuatu yang memang tidak pernah menjadi milikmu,” ujar Rafael.
“Ayah…” pinta Aurel.
“Ayah tahu kamu menyukai Hero,” lanjut Rafael. “Tapi perasaan tidak bisa dipaksakan. Kalau Hero sudah memilih Laura, kamu harus menghormati keputusan itu.”
Aurel menundukkan kepala. Air matanya hampir jatuh, tetapi dia berusaha menahannya.
Rafael kemudian berdiri dan menatap Hero.“Aku minta maaf atas apa yang sudah dilakukan Aurel kepada Laura. Sebagai ayahnya, aku akan memastikan dia tidak mengulangi hal tersebut.”
Hero mengangguk pelan. “Aku menghargai itu.”
Rafael kemudian menoleh kepada Laura.
“Laura, aku harap kamu tidak merasa tertekan karena masalah antara keluarga kami.”
Laura tersenyum kecil. “Tidak, Pak. Terima kasih.”
Rafael mengangguk, lalu kembali melihat Aurel.“Aurel, kita pulang.”
Aurel berdiri perlahan. Sebelum pergi, dia sempat menatap Hero dan Laura. Tatapannya berhenti pada tangan mereka yang masih saling menggenggam.
Aurel akhirnya berbalik dan berjalan mengikuti ayahnya. setelah pintu tertutup, suasana ruang utama kembali sunyi.
Laura menghela napas panjang. “Akhirnya semuanya jelas.”
Hero menoleh kepadanya. “Kamu masih memikirkan perkataan Aurel?”
Laura menggeleng pelan. “Tidak lagi. Sekarang aku sudah mendengar langsung dari kamu.”
Hero tersenyum kecil. Dia kemudian mengusap kepala Laura dengan lembut.“Kalau ada sesuatu yang membuatmu ragu, tanyakan kepadaku. Jangan menyimpannya sendiri.”
Laura menatap Hero beberapa saat sebelum tersenyum.“Baik. Tapi kamu juga jangan membuatku terus terkejut seperti hari ini.”
Hero tertawa kecil.“Kalau kejutan itu membuatmu tetap berada di sisiku, mungkin aku akan terus melakukannya.”
Laura langsung memalingkan wajah karena malu. Sementara Hero hanya tersenyum melihat reaksinya.
Di tempat lain, Rafael membawa Aurel pulang dengan satu keputusan yang sudah bulat. Setelah hari itu, dia akan memastikan putrinya benar-benar berhenti mengganggu Laura.
Namun, bagi Aurel, keputusan tersebut belum tentu berarti akhir dari semuanya.
sedih kan ya...
kaki emak melyang terbang menghantam kepala richard.
DUAK
"emm.. puas emak, RASAIN! set ... an!" 🤯🤯🤯