Ujian dalam rumah tangga Aini dan Andra dimulai saat Andra mendapat kenaikan jabatan di perusahaan tempatnya bekerja
Ekonomi yang membaik, membuat Andra mulai merasa bosan dengan istrinya yang menurutnya tidak bisa merawat diri, hingga membuatnya terjerat pesona rekan kerjanya sendiri
Aini begitu terluka, saat suaminya membawa seorang wanita yang tengah berbadan dua yang ia perkenalkan sebagai istri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Sikap dingin Andra berlangsung hingga satu Minggu, Aini bahkan bertanya apa yang salah dari dirinya, namun Andra hanya mengatakan jika dirinya lelah
Aini berusaha untuk mengerti, namun hati ini terasa sangat sakit
"Ini uang bulanan kamu" Ujar Andra seraya menyerahkan beberapa lembar uang pada istrinya
"Mas baru gajian yaa?" Aini berusaha untuk mencairkan suasana, berharap hubungan mereka kembali hangat seperti sebelumnya
"Hmm" Wanita cantik itu memaksakan senyumnya, siapa dingin ini begitu menyakitkan baginya
"Mas, uang bulanannya hanya segini?" Tanya Aini karena merasa uang yang suaminya berikan sangat kecil, bahkan ini lebih kecil dari saat Andra menjadi karyawan biasa
"Iya, aku harus kasih ke ibu, Faris mau bayar uang kuliahnya" Jawab Andra
Aini berusaha mengerti, namun uang segini tidak akan cukup membiayai kebutuhan mereka terlebih mereka memiliki bayi yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit
"Kamu bisa berhemat kan? Jangan banyak ngeluh deh" Andra marah saat melihat ekspresi wajah istrinya yang menunjukkan keberatan
"Maaf mas, aku bakal cukup-cukupin" Aini berusaha untuk bersyukur, ini tugasnya untuk membuat uang ini cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka hingga satu bulan kedepan
"Bagus, jadi istri itu yang bijak" Aini mengangguk
"Iya mas"
Setelah itu, Andra pergi tanpa sarapan. Ia harus menjemput kekasihnya lebih dulu berulah menuju kantor
"Kamu telah" Sarah menggerutu lalu memasang sabuk pengamannya
"Maaf sayang, tadi aku sebat dulu sama Aini" Andra menyalakan mesin lalu kendaraan itu bergerak meninggalkan rumah
"Kamu kenapa gak ceraikan aja sih istri kamu itu? Kamu sendiri bilang kalau kamu udah bosen sama dia"
Sarah heran saja dengan kekasihnya ini, jika memang sudah tidak cinta lalu kenapa tidak diceraikan saja lalu mereka menikah
"Aku gak mungkin menceraikan Aini, kami punya anak yang masih membutuhkan orang tuanya" Jawab Andra
"Memangnya apa susahnya sih punya anak? Aku bisa loh kasih kamu anak yang banyak kalau kamu mau"
Andra menghela napasnya, ternyata tidak mudah juga memiliki dua wanita dalam hidup
"Ini tidak semudah itu Sarah, bagaimanapun aku menikahi Aini didepan semua orang. Aku gak mungkin menceraikan dia begitu aja"
Andra menggeleng, pria itu tetap melakukan mobilnya hingga tiba di perusahaan tempat keduanya bekerja
Aini tengah sibuk membersihkan rumah, sang putri yang telah berusia empat bulan berbaring diatas karpet bulu sementara dirinya membersihkan meja
Pintu diketuk dengan tidak sabaran, Aini bangun dari posisinya lalu melangkah menuju pintu depan
Begitu pintu dibuka, seseorang dari luar sana langsung mencecarnya dengan berbagai macam tuduhan
"Berani banget kamu yaa Aini, bisa-bisanya kamu mau menikmati uang Andra sendirian" Retno memberi tuduhan yang tidak-tidak pada menantunya
Tubuh Aini didorong membuatnya meringis, sang mertua terlihat begitu marah
"Ibu"
Seorang pemuda masuk lalu mendekati Aini yang berusaha untuk bangun
"Kak Aini" Faris mendekat lalu membantu kakak iparnya itu untuk bangun "Biar aku bantu kak"
"Ngapain kamu bantuin perempuan gak tau diri ini, Faris?" Teriak Retno pada putra bungsunya
"Apa yang ibu lakukan? Kasian kak Aini" Faris menatap tajam pada sang ibu
Beruntung ia datang tepat waktu, jika tidak entah apa yang akan terjadi pada kakak iparnya ini
"Ngapain kamu kasian sama dia? Gara-gara perempuan ini kamu gak bisa bayaran kuliah, semua uang kakakmu diambil sama dia" Ujar Retno sambil menunduk wajah menantunya
"Apa? Tapi kata mas Andra, dia sudah kasih uangnya ke ibu" Aini ingat saat suaminya mengatakan telah memberikan separuhnya pada sang ibu
Aini mencoba untuk mengerti walaupun uang yang diberikan padanya tidak cukup untuk keperluan rumah
"Jangan alasan kamu, Aini. Ibu tau kamu memang mau menguasai uangnya Andra kan? Dasar perempuan matre kamu" Hardik Retno
"Demi Allah Bu, mas Andra cuma kasih setengah gajinya ke aku. Katanya setengah lagi udah mas Andra kasih keibu"
Aini menjelaskan, namun mertuanya ini jelas tidak akan percaya. Retno yakin jika menantunya ini telah menguasai gaji suaminya
Mendengar suara teriakan, Kasih yang berada diatas karpet menangis membuat Aini khawatir
"Ibu peringatkan yaa Aini! Awas saja kalau Andra tidak memberikan uang bulanan buat ibu!" Setelahnya mengatakan itu, wanita paruh baya itu berlalu keluar dari kediaman putranya
Faris menatap prihatin pada sang kakak, Aini mendekat lalu meraih putrinya dan menenangkannya
"Maafin ibu yaa kak" Ucap pemuda dua puluh tahun itu
"Gak apa-apa, Faris" Aini bangun sambil menimang putri kecilnya "Gimana sama kuliah kamu? Kakak beneran gak tau masalah uang, mas Andra bilang kalau uangnya sudah dikasihin ke ibu"
Pemuda itu tersenyum lalu mengusap lengan kakak iparnya "Kak Aini gak usah pikirin itu, untuk biaya kuliah aku masih bisa kok. Kan aku juga dapat beasiswa"
"Ya tapi tetep aja, kamu pasti butuh uang. Sebentar kakak ambilin yaa" Aini hendak berlalu namun Faris mencegah
"Gak usah kak, kebutuhan rumah kak Aini juga banyak. Kakak tenang aja! Aku sambil kerja part time kok"
Aini menatap prihatin, sang adik bahkan harus bekerja sampingan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri
"Maafin kakak yaa Faris"
"Gak apa-apa, mending kakak tenangin Kasih dulu! Kasian dia nangis gitu"
Setelah kepergian sang adik, Aini dibuat bertanya-tanya, jika bukan pada sang ibu, lalu kemana Andra memberikan setengah gajinya
Aini tidak masalah jika suaminya itu ingin memegang sendiri uangnya, tapi setidaknya Andra harus jujur padanya
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, tentu saja Andra menghabiskan uang yang ia miliki bersama kekasih gelapnya
Setelah jam kerja usai, Andra mengajak Sarah untuk menikmati waktu dihotel. Andra bahkan menyewa satu kamar mewah untuk menghabiskan malam ini
"Waah mas, ini bagus banget" Sarah terlihat senang, Andra benar-benar memanjakan kekasihnya dengan memberikan kamar mewah seperti ini
Didalamnya juga terdapat sebuah kursi yang memang digunakan untuk kegiatan bercinta
"Kamu ngabisin gaji kamu untuk ini?" Tanya Sarah, ia tahu berapa uang yang dihabiskan dihotel ini dalam semalam
"Gaji aku gak akan habis cuma untuk sewa kamar hotel" Andra melepas jas yang ia kenakan lalu duduk diatas sofa "Katakan apa kamu suka kamarnya?"
Sarah tersenyum, wanita itu mendekat lalu duduk diatas pangkuan kekasihnya "Aku suka banget, kamu memang yang terbaik, mas. Aku jadi makin cinta"
Sarah mengusap tubuh kekasihnya, Andra mendongak untuk menikmati belaian lembut yang kekasihnya ini berikan
"Aku udah gak tahan!" Tubuh menggoda itu diangkat lalu dihempaskan diatas tempat tidur
Andra melucuti pakaian kekasihnya lalu pakaiannya sendiri, hari masih sore dan mereka akan menghabiskan seharian ini dengan permainan memabukkan
Andra tengah menghujam dari belakang, tubuh Sarah tertunduk-tunduk saking kuatnya hujaman itu
Tubuh keduanya basah karena tengah berada dibawah shower. Pukulan-pukulan cinta Sarah dapatkan pada tubuh bagian bawahnya, dua benda yang menggantung juga tidak luput dari jamahan kekasihnya itu
Andra menumpahkan segalanya dipunggung sang kekasihnya, permainan ini sangat menakjubkan dan sepertinya Andra akan sering-sering melakukannya
"Kamu memang luar biasa Sarah" Andra menunduk lalu mengecup bahu polos itu
Seluruh tubuh Sarah sudah dihiasi oleh tanda cinta. Leher, tubuh bagian depan, bahu, punggung serta beberapa disela kaki dalamnya
Sungguh Sarah merasa begitu puas, permainan yang dilakukan Andra memang menakjubkan walaupun rasanya sangat menyakitkan
"Aku mau mandi" Ujar Sarah setelah menormalkan kembali napasnya
"Ya, setelah itu kita coba kursinya" Bisik Andra lalu meraih handuk dan menutupi tubuh bagian bawahnya
"Aku juga lapar" Keluh wanita cantik itu
"Setelah makan tentunya" Setelah mengatakan itu, Andra berlalu keluar dari kamar mandi. Malam ini akan sangat panjang dan ia perlu makan
nunggu aini kerja gajian anakmu dah mati, di tinggal ke kantor suami mu, kl gk di kasih susu ma Sarah seharian gimana. kok gk mikir to aini ini. saking miskin dah oon nya.