“Su Yang, apa sebenarnya hubunganmu dengan Tetua Lan?”
“Dia hanya pelangganku.”
“Pelanggan?!” Tang Hu membelalak. “Lalu sepuluh wanita cantik yang datang mencarimu itu?”
“Pelanggan juga.”
Dahulu, Su Yang hanyalah murid pelataran luar yang diremehkan. Namun, setelah jiwa seorang kultivator legendaris terbangun dalam tubuhnya, segalanya berubah.
Dengan teknik kultivasi yang tak tertandingi dan pesona yang sulit ditolak, ia membuat para wanita di Sekte Bunga Mendalam mulai memperebutkan perhatiannya.
“Su Yang! Kalau kau membutuhkan sesuatu, datanglah kepadaku!”
“Aku juga! Jangan lupakan aku!”
Su Yang hanya tersenyum.
“Tenang saja. Akan ada cukup banyak kesempatan bagi kalian untuk mengenalku.”
Di tengah rayuan, kecemburuan, dan rahasia masa lalunya, Su Yang kembali menapaki jalan menuju keabadian. Namun kali ini, perjalanan kultivasinya mungkin akan jauh lebih ramai daripada yang ia bayangkan.
🙏🙏🙏❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelangi Suci, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 — Patriak Misterius
Su Yang memandang tubuh Li Qiang yang sudah tidak bernyawa.
“Aku sebenarnya hanya berniat memberimu peringatan,” gumamnya. “Tapi kau sendiri yang mencari kematian.”
Ia berbalik menuju jendela.
Namun sebelum sempat pergi—
Brak!
Pintu kamar terbuka keras.
“Li Qiang! Apa yang kau lakukan tengah malam begini?! Kalau kau masih membuat keributan, aku akan—”
Liu Lanzhi berhenti.
Tatapannya pertama-tama jatuh pada pria asing yang berdiri di dekat jendela.
Wajah pria itu tampan dan berwibawa seperti seorang penguasa. Namun pakaiannya terlalu kecil untuk tubuhnya sehingga terlihat aneh.
Lalu Liu Lanzhi melihat Li Qiang.
Tubuh sang Patriak tergeletak tanpa nyawa.
“Siapa kau?”
Tangannya langsung menyentuh Cincin Penyimpanan.
Meski terkejut, Liu Lanzhi tidak menyerang.
Li Qiang adalah ahli Alam Roh Bumi. Seseorang yang mampu membunuhnya begitu cepat jelas bukan lawan yang boleh diremehkan.
“Tenanglah, gadis kecil.”
Su Yang menahan senyum.
“Aku hanya datang untuk menemui orang bodoh itu.”
“Gadis kecil?”
Alis Liu Lanzhi berkedut.
Usianya sudah lebih dari delapan puluh tahun!
“Kalau kau bisa hidup seribu tahun lagi, mungkin aku akan mulai memanggilmu wanita muda.”
Kali ini Liu Lanzhi tidak marah.
Ia justru merasakan hawa dingin menjalar di punggung.
Seribu tahun masih dianggap muda?
Seberapa tua pria di depannya?
“Kenapa Senior membunuh Li Qiang?”
Su Yang memasang ekspresi serius.
“Dia menertawakan penampilanku.”
Liu Lanzhi membeku.
“Hanya… karena itu?”
“Kenapa? Kau keberatan?”
Tekanan Su Yang mendadak memenuhi ruangan.
Liu Lanzhi mundur beberapa langkah.
Tentu saja, Su Yang sebenarnya tidak memiliki kultivasi setinggi yang dibayangkan Liu Lanzhi. Namun pengalaman ribuan tahun, tubuh yang kuat, serta sikapnya yang tenang menciptakan tekanan yang sulit dijelaskan.
Terlebih lagi, Li Qiang sudah menjadi mayat.
Liu Lanzhi tidak berani mengambil risiko.
“Aku memang berniat mencari penggantinya suatu hari nanti,” katanya cepat. “Kalau Li Qiang menyinggung Senior, maka kematiannya adalah akibat tindakannya sendiri.”
Su Yang mengangguk puas.
“Karena aku telah membunuh Patriak sektemu, aku akan memberikan kompensasi.”
“Tidak perlu!”
Liu Lanzhi buru-buru menolak.
Wajah Su Yang langsung berubah dingin.
“Kau menolak pemberianku?”
Liu Lanzhi menegang.
“Sudah lebih dari empat ribu tahun sejak seseorang berani menolak kemurahan hatiku.”
Empat ribu tahun?!
Wajah Liu Lanzhi memucat.
Dalam pikirannya, identitas pria misterius itu berubah menjadi monster tua yang telah hidup selama ribuan tahun.
Su Yang hampir tertawa melihat reaksinya.
“Baiklah. Sebagai kompensasi…”
Ia menunjuk pakaian Patriak.
“Aku akan menjadi Patriak sekte ini sampai kau menemukan pengganti.”
Liu Lanzhi mengira dirinya salah dengar.
“Apa?”
“Aku hanya menjadi Patriak dalam nama.”
Su Yang mengambil satu set jubah bersih milik Li Qiang lalu mengenakannya.
“Aku tidak akan mencampuri urusan sekte. Sebaliknya, selama aku berada di sini, aku akan melindungi Sekte Bunga Mendalam.”
Liu Lanzhi terdiam.
Tawaran itu terdengar terlalu bagus.
“Kalau suasana hatiku sedang baik,” lanjut Su Yang, “aku mungkin meninggalkan beberapa teknik kultivasi.”
Kalimat terakhir langsung mengubah tatapan Liu Lanzhi.
Teknik milik seseorang yang diyakininya telah hidup lebih dari empat ribu tahun?
Nilainya mungkin tidak terbayangkan.
Setelah berpikir cukup lama, Liu Lanzhi akhirnya berlutut.
“Liu Lanzhi memberi hormat kepada Patriak.”
Senyum muncul di wajah Su Yang.
“Bagus.”
Ia melemparkan sebuah giok komunikasi kepadanya.
“Urus mayat Li Qiang dan pengumuman pergantian Patriak sendiri. Aku tidak suka keributan.”
Liu Lanzhi hanya bisa mengangguk pahit.
Beberapa saat kemudian, Su Yang menghilang melalui jendela.
Liu Lanzhi menatap mayat Li Qiang.
Lalu ia memandang giok di tangannya.
“Apa sebenarnya yang baru saja terjadi…?”
Ketika Su Yang kembali, Qiuyue masih terjaga.
“Kau belum tidur?”
Qiuyue tidak menjawab. Ia hanya berbaring di ranjang Su Yang seolah tempat itu memang miliknya.
Su Yang tersenyum dan hendak pergi ke ruang depan.
Namun suara pelan menghentikannya.
“Ayah…”
“Hm?”
“Ceritakan sebuah kisah seperti dulu.”
Langkah Su Yang berhenti.
Wajahnya perlahan melunak.
“Kisah yang mana, Putri Kecil manja?”
Qiuyue tersenyum tipis.
“Kisah gadis fana yang menjelajahi alam semesta untuk mencari ayahnya.”
Su Yang duduk di sisi ranjang.
“Kau selalu memilih cerita itu.”
“Karena aku menyukainya.”
Su Yang mulai bercerita.
Tentang seorang gadis kecil yang sangat menyayangi ayahnya.
Suatu hari, ayahnya menghilang.
Gadis itu pergi mencarinya.
Perjalanannya membawanya melewati gunung, lautan, bahkan dunia yang berbeda. Ia melawan binatang buas dan musuh yang tak terhitung jumlahnya.
Tahun demi tahun berlalu.
Gadis fana itu tumbuh menjadi kultivator kuat.
Namun ayahnya tetap tidak ditemukan.
Ia terus mencari.
Sampai akhirnya kekuatannya mampu membawanya menembus langit dan menjelajahi bintang.
Ratusan, bahkan ribuan tahun berlalu.
Secara logika, ayahnya yang fana sudah lama meninggal.
Tetapi sang putri tidak pernah berhenti.
Suara Su Yang semakin pelan.
Qiuyue telah tertidur.
Ada jejak air mata di pipinya.
Su Yang mengusapnya dengan lembut.
“Dasar anak bodoh…”
Ia menyelimuti Qiuyue sebelum meninggalkan kamar.
Malam itu, Su Yang duduk sendirian hingga fajar.
Entah kenapa, kisah lama tersebut juga membangkitkan kenangan yang selama ini terkubur jauh di dalam dirinya.
Pagi berikutnya, Su Yang menuju Pusat Pembagian untuk mengambil seragam Pelataran Dalam dan jatah barunya.
Puluhan murid sudah mengantre.
Kehadirannya langsung menarik perhatian.
“Itu Su Yang…”
“Orang yang membunuh Dai Zheng?”
Beberapa murid pria secara naluriah menjaga jarak.
Namun seorang wanita justru meninggalkan antreannya dan menghampiri Su Yang.
“Su Yang! Kau masih mengingatku?”
Su Yang mengenalinya.
“Zhou Xuan.”
Wanita itu adalah pelanggan pertama pijatannya.
Zhou Xuan tersenyum lebar.
“Aku belum pernah berterima kasih karena kau menyembuhkan punggungku.”
Ia membungkuk.
“Terima kasih.”
Para murid lain tercengang.
Zhou Xuan terkenal angkuh. Melihatnya bersikap begitu sopan kepada seseorang benar-benar langka.
“Tidak perlu berterima kasih,” kata Su Yang. “Saat itu aku hanya melakukan pekerjaan yang sudah kaubayar.”
Wajah Zhou Xuan memerah.
“Kalau begitu… apakah kau masih menerima pelanggan?”
Ia tampak sedikit malu.
“Aku bersedia membayar seratus Poin Prestasi. Bahkan dua ratus.”
Su Yang tertawa kecil.
“Aku sudah tidak terlalu membutuhkan Poin Prestasi.”
Wajah Zhou Xuan langsung kecewa.
“Tapi…”
Su Yang mendekat sedikit.
“Aku mungkin masih bersedia meluangkan waktu untukmu.”
Mata Zhou Xuan kembali berbinar.
“Benarkah?”
“Tentu.”
Su Yang tersenyum penuh arti.
“Namun kali ini mungkin tidak akan sama seperti pijatan pertama.”
Wajah Zhou Xuan langsung merah.
“B-Baik…”
Ia buru-buru kembali ke kelompok temannya.
Su Yang hanya tersenyum melihat reaksinya.
Namun suasana di Pusat Pembagian mendadak berubah.
Dua orang datang dari kejauhan.
Seorang pria tampan dan seorang wanita cantik.
Keduanya mengenakan jubah yang berbeda dari murid biasa.
Para murid langsung mundur dan membuka jalan.
“Murid inti!”
“Itu Senior Yun dan Senior Fang!”
Su Yang memperhatikan mereka.
Keduanya berada di puncak Alam Roh Sejati.
Jadi inilah para genius yang pernah disebut Lan Liqing.
Namun perhatian Su Yang segera tertuju pada murid wanita.
Ia menyipitkan mata.
Wajah itu terasa familier.
“Menarik…”
Su Yang terus mengamatinya.
“Aku pernah melihat wanita itu di mana?”
......................
Bersambung...
udah tahu wajahnya saja bisa membuat para lelaki iri hati malah dengan sengaja mengajak semua wanita di rumah makan untuk bergabung dengan dia🤭🤭🤭🤣🤣🤣
semoga dalam beberapa hari dekat ini akan ada lebih banyak atensi dan juga apresiasi untuk semua karyamu👍👍👍
karena sebelum ini ada beberapa novel yang seperti dihapus karena mungkin terdapat adegan yang tergolong vulgar
Aku berharap ini akan terus berlanjut sampai ceritanya benar-benar tamat