Setelah kehilangan sang ibu tercinta, Aldo yang kelelahan mencari kerja nekat mendaftar audisi kompetisi memasak bergengsi berbekal resep masakan Nusantara. Perjuangan kerasnya di galeri kompetisi yang kejam akhirnya membawanya menjadi juara, sekaligus mewujudkan impiannya membangun restoran dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Kringgg.
Suara alarm dari jam beker di atas meja berbunyi sangat nyaring menembus keheningan kamar 302.
Aldo membuka matanya perlahan dan langsung mematikan alarm yang menunjukkan pukul lima pagi tersebut.
Tubuhnya masih terasa sedikit pegal tapi semangatnya sudah terisi penuh untuk menghadapi tantangan hari ini.
Srek.
Dia menyingkap selimut dan turun dari ranjang tingkatnya dengan sangat hati hati agar tidak berisik.
Namun ternyata ranjang di bawahnya sudah kosong tak berpenghuni.
Aldo menoleh ke arah cermin besar di sudut kamar dan melihat Kevin sedang menata rambutnya dengan pomade.
Pemuda kaya itu sudah mengenakan celemek putih kebanggaannya dengan sangat rapi dan wangi.
"Kau bangun kesiangan untuk ukuran orang miskin yang biasanya bangun subuh untuk memulung," sindir Kevin tanpa menoleh.
Aldo mengabaikan ucapan itu dan mengambil handuk mandinya dari dalam lemari kayu.
"Aku tidak butuh waktu lama untuk berdandan karena aku datang ke sini untuk memasak bukan untuk ikut kontes ketampanan," balas Aldo santai.
Dia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya rapat rapat.
Brak.
Suara bantingan pintu kamar mandi itu membuat Kevin mendecakkan lidahnya dengan sangat kesal.
Tiga puluh menit kemudian Aldo sudah selesai bersiap siap dan berjalan keluar dari asrama menuju studio utama.
Udara pagi masih terasa sangat dingin dan kabut tipis menyelimuti area sekitar gedung karantina.
Tap tap tap.
Suara langkah kaki seseorang berlari dari arah belakang membuat Aldo menoleh sejenak.
"Aldo, tunggu aku," panggil Rina sambil mengatur nafasnya yang terengah engah.
Gadis berlesung pipit itu tampak manis mengenakan celemek putih yang sedikit kebesaran di tubuh mungilnya.
"Selamat pagi, Rina. Kamu kelihatan sangat gugup hari ini," sapa Aldo sambil tersenyum tipis.
"Tentu saja aku gugup sampai perutku mulas dari tadi pagi."
"Tenang saja, anggap saja kita sedang memasak di dapur rumah kita sendiri."
"Masalahnya dapur rumahku tidak ditonton oleh tiga juri galak dan puluhan kamera televisi," keluh Rina sambil tertawa getir.
Aldo menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan keluhan Rina tersebut.
"Ngomong ngomong, aku dengar dari anak anak lain kalau tantangan pertama ini biasanya sangat brutal," bisik Rina sambil berjalan di sebelah Aldo.
"Brutal bagaimana maksudnya?"
"Kita harus berebut bahan masakan di dalam ruang pantry yang waktunya dibatasi hanya beberapa menit saja."
Mendengar hal itu Aldo langsung menatap ke arah pintu masuk studio galeri yang sudah terlihat megah di depan mata.
"Kalau begitu kita harus berlari sangat kencang dan mengambil bahan apapun yang terdekat," ucap Aldo menyusun strategi cepat.
"Aku akan mengincar tepung dan mentega untuk berjaga jaga jika harus membuat kue lagi," sahut Rina.
"Semoga berhasil, Rina. Jangan sampai ada bahan utama yang tertinggal."
Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam ruang tunggu yang sudah dipenuhi oleh kelima puluh peserta.
Suasana di dalam sana sangat tegang dan tidak banyak yang mengobrol satu sama lain.
Semua orang sibuk dengan pikiran dan ketakutan mereka masing masing.
Teeet.
Suara bel panjang berbunyi menandakan pintu galeri utama telah dibuka untuk para peserta dari ruang karantina.
"Silakan masuk ke dalam barisan galeri sekarang juga," perintah seorang kru televisi menggunakan pengeras suara.
Para peserta berjalan beriringan menyusuri lorong panjang yang diterangi lampu sorot yang sangat menyilaukan mata.
Jantung Aldo kembali berdegup kencang saat dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan berbentuk huruf U tersebut.
Ini adalah medan perang sesungguhnya di mana tidak ada lagi belas kasihan untuk sebuah kesalahan kecil.
Ketiga juri sudah berdiri tegap di atas podium dengan raut wajah yang jauh lebih serius dari babak audisi kemarin.
Chef Arya menatap kelima puluh peserta itu dengan tatapan mengintimidasi bak seekor serigala lapar.
"Selamat pagi, para peserta Master Chef Nusantara," sapa Chef Bram dengan suara lantang memecah keheningan.
"Selamat pagi, Chef," jawab seluruh peserta serempak dengan nada sedikit bergetar.
"Hari ini adalah hari pertama kalian memasak secara resmi di galeri yang suci ini," ucap Chef Renata sambil tersenyum tipis.
"Dan kami tidak akan memberikan tantangan yang mudah untuk menyambut kedatangan kalian."
Chef Arya maju satu langkah dan menunjuk ke arah dua pintu kayu raksasa yang tertutup rapat di sudut ruangan.
Itu adalah ruang pantry tempat semua bahan makanan dari seluruh penjuru dunia disimpan dalam kondisi segar.
"Di balik pintu itu ada surga bahan makanan yang bisa kalian gunakan secara gratis hari ini," ucap Chef Arya.
"Tantangan kalian hari ini adalah membuat hidangan bebas yang bisa merepresentasikan gaya masakan diri kalian sendiri."
"Waktu kalian memasak secara keseluruhan adalah enam puluh menit."
"Tapi waktu kalian di dalam pantry untuk mengambil semua bahan masakan hanya lima menit saja."
Mendengar waktu lima menit tersebut, suasana galeri langsung dipenuhi dengan suara helaan napas panik dari berbagai sudut.
"Lima menit? Mana cukup untuk memilih bahan dan menimbangnya dengan benar," keluh seorang pria jangkung di barisan depan.
"Kalau ada bahan utama yang lupa terambil, kalian sama sekali tidak boleh kembali lagi ke dalam pantry," tegas Chef Arya memotong keluhan peserta.
Aldo menatap pintu ruang pantry itu dengan sorot mata yang sangat fokus dan tajam.
Dia sudah tahu masakan apa yang akan dia eksekusi untuk tantangan pertama ini.
"Aku akan membuat empal gentong khas Cirebon resep andalan ibu," batin Aldo mantap.
"Aku butuh daging sapi bagian sandung lamur, santan kental, dan bumbu rempah kuning."
"Kalian semua silakan bersiap membentuk barisan di depan pintu pantry sekarang!" teriak Chef Bram memberikan aba aba mutlak.
Kelima puluh peserta langsung berlari berhamburan membentuk kerumunan padat layaknya lautan manusia di depan pintu kayu tersebut.
Aldo mengambil posisi agak di pinggir agar tidak terjepit oleh beberapa pria berbadan besar.
Namun tanpa dia sadari Kevin sudah berdiri tepat di sebelahnya sambil tersenyum licik.
"Aku harap kau punya lari yang cepat, gembel," bisik Kevin sangat pelan di telinga Aldo.
Aldo tidak merespon provokasi itu dan hanya menatap lurus ke depan menunggu aba aba.
"Waktu lima menit kalian di dalam pantry dimulai dari sekarang!" teriak Chef Renata sambil menekan tombol sirine.
Brak.
Kedua pintu kayu raksasa itu terbuka lebar dan para peserta langsung berdesakan masuk ke dalam seperti kesetanan.
Ruang pantry itu sangat luas menyerupai sebuah supermarket mini yang dipenuhi rak rak baja menjulang tinggi.
Ada bagian sayuran segar, bumbu rempah kering, dan lemari pendingin raksasa untuk menyimpan berbagai macam daging.
"Minggir, aku duluan yang sampai di rak tomat ini!" teriak seorang wanita sambil mendorong peserta lain secara agresif.
Prang.
Sebuah botol kecap jatuh dan pecah di lantai membuat suasana semakin kacau balau.
Aldo berlari sangat lincah menghindari genangan kecap dan langsung menuju ke arah keranjang bumbu tradisional.
Tangannya dengan gesit menyambar bawang merah, kemiri, kunyit, ketumbar, dan sepotong lengkuas.
Dia memasukkan semua bumbu penting itu ke dalam keranjang plastiknya tanpa perlu repot repot menimbangnya lagi.
"Bumbu dasar sudah aman, sekarang tinggal santan dan daging sapi," gumam Aldo sambil berlari cepat menuju lemari pendingin.
Waktu di layar digital raksasa terus berputar mundur dengan sangat kejam.
"Tiga menit lagi!" teriak salah satu panitia dari luar pintu pantry.
Aldo sampai di depan lemari pendingin besar yang memajang deretan daging sapi segar berkualitas tinggi.
Matanya dengan cepat menyapu deretan daging tersebut dan menemukan tepat apa yang dia cari di rak tengah.
Ada satu potong besar daging sapi bagian sandung lamur atau brisket yang sangat cocok untuk empal gentong.
Daging itu memiliki rasio lemak dan serat yang sempurna untuk menghasilkan kaldu yang kental nantinya.
Aldo segera mengulurkan tangan kanannya untuk mengambil nampan berisi daging sapi tersebut.
Wush.
Tiba tiba sebuah tangan dari arah samping menyambar nampan daging brisket itu sepersekian detik lebih cepat dari tangan Aldo.
Aldo menoleh dengan kaget dan melihat Kevin sedang memegang nampan daging itu sambil menyeringai puas.
"Maaf, sepertinya kelincahanku jauh mengungguli tangan miskinmu itu," ucap Kevin dengan nada mengejek.
Di dalam keranjang Kevin sebenarnya sudah terdapat dua potong daging domba Australia yang harganya sangat mahal.
Aldo mengerutkan dahinya melihat tumpukan bahan mewah di keranjang Kevin tersebut.
"Kau sudah mengambil dua daging domba, buat apa kau serakah mengambil daging sapi brisket murah itu lagi?" tanya Aldo menahan amarah.
"Suka suka aku dong, mungkin aku ingin membuat dua hidangan daging sekaligus hari ini," jawab Kevin beralasan dengan wajah menyebalkan.
"Tentu saja aku sengaja mengambilnya agar gembel sepertimu tidak bisa memasaknya," lanjut Kevin dengan suara bisikan pelan.
Pemuda sombong itu tertawa kecil lalu berbalik pergi berlari meninggalkan area pendingin daging.
Aldo menatap kosong ke arah lemari pendingin yang kini hanya menyisakan beberapa tulang rusuk sapi dan bagian jeroan yang tidak utuh.
Bahan utama untuk rencana masakan empal gentongnya sudah hancur berantakan akibat sabotase murahan ini.
"Satu menit terakhir! Segera tinggalkan ruangan ini sekarang!" peringatan panitia kembali menggema nyaring.
Kepanikan hebat mulai melanda pikiran Aldo karena dia belum memiliki bahan protein utamanya sama sekali di keranjangnya.
Jika dia memaksakan membuat empal gentong hanya dengan rebusan tulang, rasanya tidak akan seenak resep aslinya.
makasi crazy up nya