Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.
Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.
Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.
Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.
Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3
Alergi yang Terlalu Pas Ditakar
"Maya? Kok kamu di sini?"
Tatapan Nathan berpindah dari selimut di paha Amaya ke baki instrumen yang masih ternoda darah. Lalu matanya berhenti pada Sebastian. Kacamata sang kakak sedikit miring, dasinya tidak lagi serapi biasanya.
"Aku terluka," jawab Amaya.
"Kenapa nggak bilang?"
Amaya menatapnya seolah pertanyaan itu aneh. "Koh sendiri yang bilang urusan Ci Selena lebih penting. Aku nggak mau mengganggu."
Kalimatnya lembut. Justru karena itu, rasa bersalah muncul jelas di wajah Nathan.
"Aku kira kamu cuma jatuh biasa. Waktu Selena sulit bernapas, semua orang panik."
"Aku mengerti, kok." Amaya menarik selimut lebih tinggi. "Ci Selena memang selalu lebih perlu dijaga."
Nathan membuka mulut, tetapi seorang perawat masuk membawa baju pasien dan kantong plastik untuk pakaian basah.
Sebastian mengambil pakaian itu lebih dulu. "Ganti. Setelah itu istirahat di kamar observasi."
"Aku mau lihat Ci Selena."
"Kamu baru dijahit."
"Makanya aku harus lihat." Amaya tersenyum tipis. "Kalau kondisinya benar-benar parah, aku perlu minta maaf karena tadi malah sibuk berdarah."
Nathan mengernyit. Ia tidak yakin sedang disindir atau tidak.
Sebastian jelas tahu.
"Lima menit," katanya sambil menyerahkan baju pasien. "Jangan injak kaki kanan terlalu kuat."
Kedua laki-laki itu keluar dari balik tirai. Amaya mengganti pakaiannya dengan bantuan perawat, lalu menyimpan gaun putih yang rusak ke dalam kantong bening. Noda darah melebar di kain seperti bukti yang tidak bisa diajak berbohong.
Nathan menunggu di koridor. Begitu Amaya muncul dengan kursi roda, ia segera mendekat.
"Aku dorong."
"Aku bisa jalan pelan."
"Jangan keras kepala."
Nada itu sempat membuat sesuatu yang bukan milik Amaya bergerak di dalam dadanya.
Sisa emosi pemilik tubuh ini.
Saat Amaya asli ditemukan dan pulang ke keluarga Halim pada usia lima belas tahun, Nathan beberapa kali berdiri di antara dirinya dan anak-anak sekolah yang mengejek latar belakangnya. Ia pernah meminjamkan jaket ketika seragam Amaya disiram minuman. Pernah pula memaksa seorang anak meminta maaf di depan kelas.
Untuk gadis yang tak memiliki siapa-siapa, kebaikan kecil itu cukup untuk disalahartikan sebagai keselamatan.
Masalahnya, Nathan selalu pergi begitu Selena mengerutkan kening.
Yang menyelamatkan Amaya adalah dia. Yang berkali-kali mendorongnya kembali ke kegelapan juga dia.
Tidak sepenuhnya jahat. Tidak pernah cukup berani untuk menjadi baik.
Amaya duduk di kursi roda tanpa membantah lagi. Ia perlu menyimpan tenaga untuk pertunjukan utama.
Pintu lift terbuka. Sebastian ikut masuk sambil membaca catatan di tablet. Nathan berdiri di belakang kursi roda, kedua tangannya pada pegangan.
"Lukanya di paha, ya?" Nathan bertanya. "Agak ke atas?"
Jari Sebastian berhenti menggulir layar.
"Kalau sebegitu peduli," katanya tanpa mengangkat kepala, "waktu dia berdarah kamu di mana?"
Wajah Nathan menegang. "Aku nggak tahu separah itu."
"Sekarang sudah tahu."
Pintu lift terbuka di lantai VIP sebelum Nathan sempat membalas.
Karpet tebal meredam suara roda. Di ujung lorong, dua petugas keamanan berdiri di depan kamar Selena. Keluarga Halim memang tahu cara menjaga privasi ketika anak kesayangan mereka sedang sakit.
Begitu pintu kamar dibuka, aroma bunga dari rangkaian kiriman memenuhi udara. Selena terbaring di ranjang dengan infus terpasang. Wajahnya pucat, rambutnya tersisir rapi, dan selimutnya dinaikkan sampai dada.
Robert berdiri di dekat jendela sambil menelepon seseorang. Karina duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Selena.
Mereka semua menoleh saat kursi roda Amaya masuk.
Alis Robert langsung bertaut. "Kenapa kamu pakai baju pasien?"
Pertanyaan pertama.
Bukan `kamu terluka di mana`, bukan `seberapa parah`.
Amaya menunduk sejenak, lalu menumpukan tangan pada sandaran kursi untuk berdiri.
"Maya, jangan," Nathan memperingatkan.
Ia tetap bangkit. Satu langkah. Lalu satu lagi, dengan pincang yang tidak perlu dibuat-buat.
"Mama."
Karina baru sempat berdiri ketika Amaya memeluknya.
Tubuh perempuan itu membeku.
Delapan tahun. Sejak kembali ke rumah Halim, Amaya asli tidak pernah lebih dulu memeluk ibunya. Ia terlalu takut ditolak, terlalu canggung, lalu terlalu terluka untuk mencoba.
Kini dua lengan kurus melingkari pinggang Karina. Dahi Amaya menempel di bahunya.
"Aku sakit, Ma."
Tiga kata itu mematahkan kebekuan Karina. Tangannya naik perlahan, menyentuh rambut Amaya yang masih lembap, kemudian memeluknya lebih erat.
Baru saat itu Karina merasakan betapa dingin tubuh putrinya. Ujung rambut Amaya membasahi blusnya. Ada bau hujan dan antiseptik yang menempel pada baju pasien, juga getaran kecil yang tidak bisa dilihat dari jauh.
Karina teringat bagaimana ia tadi berlari mengikuti brankar Selena tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Dalam kepanikan, ia bahkan menyerahkan tas Amaya kepada sopir karena mengira putrinya pasti pulang bersama kendaraan lain.
Ternyata Amaya datang sendirian sambil menahan pecahan kaca di paha.
Rasa bersalah itu belum menjadi penyesalan utuh, tetapi cukup untuk membuat pelukannya mengencang.
"Sakit di mana? Kenapa Mama nggak diberi tahu?"
"Paha Maya kena pecahan kaca. Sudah dijahit Dokter Sebastian."
Karina menjauh sedikit untuk melihat wajahnya. "Dijahit? Berapa jahitan?"
"Cukup banyak," jawab Sebastian. "Ada satu pecahan besar dan beberapa serpihan. Dia juga kehilangan darah, tapi kondisinya stabil."
Robert menutup telepon. Tatapannya jatuh pada kantong gaun berdarah yang dibawa perawat. Wajahnya berubah.
"Kamu ikut jatuh waktu Selena sesak?"
"Iya, Pa. Nggak apa-apa. Yang penting Ci Selena selamat."
Selena mengamati pelukan itu dari ranjang. Jemarinya yang dipasangi infus bergerak di bawah selimut.
"Maya," katanya lemah. "Maaf semua orang panik sampai nggak melihat kamu."
Amaya menoleh dengan mata jernih. "Ci Selena nggak perlu minta maaf. Alerginya parah, kan?"
Sebastian mengambil rekam medis di ujung ranjang. Ia membaca hasil pemeriksaan tanpa meminta izin siapa pun.
"Reaksi alerginya memang ada," katanya.
Nathan meliriknya. "Tadi tenggorokannya bengkak."
"Edema laringnya sudah reda. Saturasi stabil, tekanan darah stabil, dan tidak ada penurunan kesadaran." Sebastian membalik satu halaman. "Pemicu memang kacang. Namun jumlah yang tertelan sangat sedikit."
Selena menelan ludah.
Sebastian melanjutkan, "Seolah ditakar pas supaya cukup memicu gejala, tapi tidak sampai membahayakan nyawa. Terlambat setengah jam pun kemungkinan besar dia masih bisa pulang sendiri setelah terapi awal."
"Koh," tegur Nathan. "Selena benar-benar alergi. Jangan bicara seakan dia pura-pura."
"Saya bilang reaksinya nyata. Saya juga bilang dosis pemicunya sangat kecil. Kebenaran gratis." Sebastian menutup rekam medis. "Nilai emosinya dihitung terpisah."
Wajah Selena yang semula pucat mendapat warna tipis.
Karina perlahan melepaskan tangannya dari sisi ranjang, masih memegang bahu Amaya. Robert memandang gelas jus jeruk di meja, lalu Selena.
Selena membasahi bibir. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku juga nggak tahu kenapa ada kacang," ucapnya lirih. "Jus jeruk itu tadi Maya yang kasih ke aku."
Semua tatapan beralih kepada Amaya.