Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.
*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*
Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**
Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
BAB 24
AKU BUKAN ANAK KECIL
Daun pisang sepanjang meja hampir tidak terlihat di bawah nasi liwet, ayam bakar, tahu, tempe, sambal, dan lalapan.
Rumah Pak Herman penuh suara keluarga. Anak-anak berlari dari ruang tengah ke teras. Para paman berdebat soal rute tercepat menuju Puncak menjelang Tahun Baru. Dari dapur, Bu Imas berulang kali meminta semua orang menambah makan meski piring mereka masih penuh.
Wiwid duduk di antara dua bibi tua dan berharap Raka tidak pulang.
Harapannya gagal ketika pintu depan terbuka.
"Assalamualaikum."
Raka masuk membawa dua kotak bolu dari jalan. Ia menyalami orang-orang yang lebih tua, mencium tangan Pak Herman dan Bu Imas, lalu berhenti saat melihat Wiwid.
"Teh."
Hanya itu. Tidak ada senyum rahasia atau tatapan panjang.
Justru sikap biasa tersebut membuat Wiwid semakin tidak bisa bernapas dengan biasa.
"Duduk dekat Teh Wiwid saja," kata Bu Imas. "Tempat sebelahnya kosong."
"Di sini penuh," potong Wiwid terlalu cepat.
Semua orang menoleh. Kursi di sampingnya jelas kosong.
Raka menyelamatkannya dengan duduk dekat sepupu laki-lakinya. "Aku di sini saja, Mah. Mau tanya soal tugas juga."
Percakapan kembali berjalan, tetapi Wiwid merasakan tatapan Bu Imas sesaat lebih lama daripada yang nyaman.
Ketika sepiring ikan asin berpindah tangan, seorang bibi menunjuk bingkai foto lama yang baru dipindahkan dari gudang ke apartemen Wiwid.
"Waktu foto itu diambil, Widuri baru tinggal di sini berapa bulan?"
Pak Herman berpikir. "Belum setahun. Umurnya baru dua."
"Kecil sekali. Nangis terus kalau bukan almarhumah Mamah yang gendong."
Bu Imas tersenyum. "Sekarang paling galak satu keluarga."
Meja meledak oleh tawa.
Wiwid ikut tersenyum, meski tenggorokannya mengencang. Cerita itu tidak pernah menjadi rahasia. Ayah kandungnya adalah sahabat keluarga Permana. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia dititipkan kepada keluarga ini dan dibesarkan sebagai anak sendiri.
"Kalau bukan bapaknya menitipkan dia, mana ada Wiwid di keluarga ini," lanjut bibinya. "Memang sudah jalannya. Bukan darah sendiri, tapi sayangnya sama."
Pak Herman menepuk kepala Wiwid seperti yang dilakukannya sejak mereka kecil. "Dia tetap adik saya."
"Iya, Kang," kata Wiwid.
Di seberang meja, jari Raka mengencang pada sendok.
Fakta yang bagi keluarga berarti kasih tanpa darah, bagi mereka berdua telah berubah menjadi pintu yang tidak berani dibuka Wiwid.
***
Selepas Isya, para kerabat mulai pulang. Wiwid membantu membawa piring ke dapur, lalu mengambil tas sebelum Raka mendapat kesempatan mendekat.
Ia hampir mencapai pintu samping ketika sebuah suara menahannya.
"Teh Wiwid."
Wiwid mempercepat langkah menuju halaman belakang.
Raka menyusul sampai di bawah pohon mangga. Lampu teras hanya menjangkau separuh wajahnya.
"Kita sudah sepakat lo nggak datang kalau nggak ada keluarga," kata Wiwid.
"Ini rumah keluargaku."
"Maksud gue, jangan cari gue."
"Aku nggak cari. Teteh yang datang."
Wiwid menatapnya kesal. "Pintar jawab sekarang."
"Karena kalau aku diam, Teteh terus menentukan arti semua hal sendirian."
"Nggak ada yang perlu diartikan."
"Ada."
Suara Raka rendah, tetapi tidak ragu. Dari dalam rumah terdengar tawa sepupu-sepupunya. Hanya satu dinding memisahkan pengakuan mereka dari keluarga yang mempercayai Wiwid.
"Aku bukan anak kecil lagi, Teh," katanya. "Aku mau jadi pacarmu."
Wiwid tertawa pendek karena tak tahu reaksi lain. "Lo pikir setelah ngomong begitu semuanya jadi mudah?"
"Nggak."
"Orang akan bilang gue merusak anak Kang Herman."
"Aku delapan belas tahun. Aku memilih sendiri."
"Lo masih kuliah. Masih tinggal dari uang Bapak lo."
"Itu bisa berubah. Perasaanku nggak baru muncul setelah ulang tahun kedelapan belas."
"Justru itu yang bikin lebih buruk."
Raka menarik napas. "Aku suka Teteh sejak SMA. Mungkin lebih lama. Aku nggak pernah bilang karena tahu Teteh akan menganggap aku bocah. Malam itu aku memang nggak mabuk. Aku membalas karena selama bertahun-tahun aku pengen melakukannya. Aku salah karena terlambat memastikan Teteh benar-benar tahu siapa aku. Tapi aku berhenti begitu Teteh menyebut Alvin."
Wiwid melipat tangan di dada untuk menyembunyikan gemetar.
"Jadi sekarang lo bangga?"
"Nggak. Aku bertanggung jawab atas bagian yang salah. Aku juga nggak akan bohong soal apa yang aku rasakan."
"Kamu keponakan Kang Herman. Orang bakal ngomong apa?"
"Aku anaknya, bukan keponakannya. Di depan keluarga, Teteh memang adik angkat Bapak dan aku memanggil Teteh seperti bibi." Raka menatap lurus. "Tapi kita nggak sedarah. Nggak ada hubungan persusuan. Kita bukan mahram. Kalau suatu hari menikah, akad kita halal. Yang akan marah adalah keluarga dan omongan orang, bukan karena pernikahannya haram."
"Jangan gampang bawa kata akad. Pacaran saja belum."
"Makanya aku minta sekarang."
"Jawabannya nggak."
Raka menerima kalimat itu tanpa mendekat. "Karena Teteh nggak suka aku atau karena takut pada mereka?"
Pertanyaan yang sama pernah diajukannya di studio. Wiwid masih tidak punya jawaban yang jujur.
"Dua-duanya."
"Lihat aku waktu bilang."
Wiwid mengangkat wajah. Mata Raka gelap dan mantap. Tidak ada sisa anak kecil yang bisa dipakai untuk melindungi dirinya.
"Gue nggak mau jadi pacar lo," katanya.
"Baik."
Jawaban itu terlalu tenang.
"Baik?"
"Teteh bilang nggak. Aku dengar. Aku nggak akan memaksa."
Raka berbalik hendak masuk. Wiwid justru menangkap pergelangan tangannya.
Pemuda itu berhenti dan menatap tangan tersebut.
"Kenapa malam itu lo balas?" tanya Wiwid, lebih pelan. "Bukan jawaban soal bertahun-tahun. Apa yang ada di kepala lo saat itu?"
"Aku pikir mungkin selama satu detik Teteh melihat aku sebagai laki-laki."
"Padahal gue nggak melihat jelas."
"Iya. Itu sebabnya aku salah."
Wiwid melepaskan tangannya. Jujur tanpa pembelaan seharusnya memudahkan ia pergi. Sebaliknya, ia ingin tahu bagaimana rasanya mencium Raka sambil tahu persis siapa yang berdiri di depannya.
Keinginan itu membuatnya marah.
"Kalau sekarang?" tanyanya.
Raka tak langsung menjawab. "Sekarang Teteh sadar."
"Kalau sekarang gue mau tahu apakah malam itu cuma karena salah lihat?"
Napas Raka berubah, tetapi ia tetap di tempatnya. "Teteh sedang bilang apa?"
Wiwid benci bahwa pertanyaan itu menyerahkan kendali sepenuhnya kepadanya.
"Satu kali," katanya. "Setelah itu jangan anggap jawaban gue berubah."
"Boleh aku cium?"
Jantung Wiwid menghantam tulang rusuk. Ia melihat pintu belakang, memastikan tak ada orang, lalu menatap Raka lagi.
"Boleh. Satu kali."
Raka mendekat perlahan. Tangannya tetap di sisi tubuh sampai Wiwid sendiri menarik bagian depan kemejanya. Ciuman itu singkat, tanpa kegelapan dan tanpa nama orang lain. Bibir Raka hangat, berhati-hati, dan berhenti tepat ketika Wiwid mundur.
Tak ada alasan untuk menyebutnya kecelakaan.
"Sudah," kata Wiwid.
Raka mengangguk meski napasnya berat. "Sudah."
Wiwid pergi lebih dulu, meninggalkan Raka di bawah pohon mangga dengan mata yang kini menyimpan harapan baru.
***
Ia seharusnya pulang malam itu.
Bu Imas menahannya karena hujan turun deras dan kamar tamu sudah disiapkan. Wiwid menyerah, lalu mengunci diri di kamar dengan satu botol kecil minuman beralkohol yang tersisa di dalam tas kamera dari hadiah klien.
Ia tahu keluarganya tidak menyimpan minuman semacam itu. Ia juga tahu seharusnya tidak meminumnya. Namun rasa takut, bersalah, dan hangat dari ciuman tadi bercampur terlalu ramai di kepala.
Wiwid menuang sedikit ke gelas, lalu lebih banyak.
Ketukan terdengar setelah hampir satu jam.
"Teh, ini air hangat."
"Pergi."
"Bu Imas minta aku antar."
Wiwid membuka pintu hanya selebar bahu. Wajah Raka langsung berubah ketika mencium aroma alkohol.
"Teteh minum?"
"Bukan urusan lo."
"Aku panggil Bu Imas."
"Jangan!"
Wiwid menarik lengannya masuk dan menutup pintu. Gerakan itu membuat dunia miring. Ia berpegangan pada dada Raka sambil tertawa lemah.
"Kamu makin tinggi," gumamnya. "Makin ganteng. Nggak kayak dulu."
Raka menahan kedua lengannya agar tidak jatuh. "Teh, duduk dulu."
"Suka dengar gue bilang ganteng?"
"Aku lebih suka Teteh bilang waktu sadar penuh."
"Gue sadar."
"Teteh bahkan nggak bisa berdiri lurus."
Wiwid mengangkat wajah, bibirnya hanya beberapa sentimeter dari Raka. "Katanya mau jadi pacar gue."
"Iya. Tapi bukan begini caranya."
"Pengecut."
"Boleh."
Raka membawanya ke ranjang, menarik selimut, lalu meletakkan air hangat dan tempat sampah di sisi tempat tidur. Ketika Wiwid mencoba menariknya turun, ia melepaskan jari perempuan itu satu per satu.
"Ciuman tadi terjadi karena Teteh sadar dan bilang boleh," katanya. "Yang ini bukan jawaban."
Wiwid ingin membantah, tetapi matanya sudah terlalu berat.
"Jangan pergi," gumamnya.
Raka membuka pintu kamar lebar-lebar agar tidak ada ruang tertutup di antara mereka. Ia duduk di karpet dekat ambang, cukup jauh dari ranjang, lalu mengirim pesan kepada Bu Imas bahwa Wiwid kurang enak badan dan ia akan menjaga sampai tertidur.
"Aku di sini," jawabnya.
***
Cahaya pagi menyentuh kelopak mata Wiwid.
Kepalanya berdenyut. Gelas air di meja sudah berkurang setengah. Di dekat pintu yang masih terbuka, Raka tertidur sambil duduk bersandar pada dinding, selimut tipis menutup kakinya.
Wiwid menatap pakaian mereka yang tetap lengkap, jarak yang dijaga, dan pesan di ponselnya dari Bu Imas yang mengucapkan terima kasih karena Raka menjaga tanpa menutup pintu.
Tak ada yang terjadi setelah ia mabuk.
Namun ingatan tentang pohon mangga kembali utuh.
Ia sadar. Ia tahu nama Raka. Ia memberi izin.
Kali ini, Wiwid tidak punya kesalahan, alkohol, atau wajah Alvin untuk dijadikan tempat bersembunyi.
Pagi itu, penyangkalan terasa jauh lebih rapuh daripada sebelumnya.