romansa islami story
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
.
Rintik hujan sore itu membasahi jendela kaca Kedai Kopi "Senja", menciptakan jejak-jejak embun yang mengaburkan pandangan ke jalan raya. Udara di luar boleh saja menggigit kulit, namun di dalam kedai, kehangatan menguar dari setiap cangkir kopi yang mengepul dan lantunan musik jazz instrumental yang mengalun pelan.
Di balik konter kasir, Nadiva berdiri dengan postur tegap. Gadis mungil itu tampak sibuk membersihkan portafilter mesin espresso sambil sesekali melirik jam dinding. Rutinitasnya tidak berubah, meski badai Ujian Tengah Semester dan taruhan gilanya dengan Dereen telah membuat kehidupannya di sekolah menjadi rollercoaster emosi. Sekolah, bekerja paruh waktu, mengaji, dan belajar. Bagi Nadiva, ini adalah siklus mutlak yang tak boleh goyah oleh kehadiran bad boy mana pun.
"Div, pesanan meja nomor lima, ya. Caramel Macchiato satu sama Red Velvet Cake." Seruan salah satu rekan kerjanya membuyarkan lamunan Nadiva.
"Siap, Mbak!" sahut Nadiva ceria.
Setelah mematikan keran mesin pembuat susu, Nadiva meletakkan cangkir keramik putih itu di atas nampan kayu bundar. Dengan langkah hati-hati yang sudah sangat terlatih, ia berjalan menuju meja nomor lima—sebuah meja mungil di sudut dekat jendela yang langsung menghadap jalanan basah.
"Ini pesanannya, Mas. Caramel Macchiato dan—"
Ucapan Nadiva terhenti di udara. Matanya yang bulat mengerjap perlahan, memastikan penglihatannya tidak salah.
Duduk di sana, dengan balutan sweater turtleneck berwarna navy yang pas di tubuh tegapnya, Mex tersenyum hangat. Tidak ada raut kaku atau aura mengintimidasi seperti yang biasa ia tunjukkan saat bersama Dereen. Di depan cowok itu, sebuah buku tebal Biologi terbuka lebar, ditemani beberapa stabilo warna-warni dan buku catatan kosong.
"Hai, Div. Sibuk banget kelihatannya," sapa Mex dengan nada suara baritonnya yang menenangkan, kontras dengan gemuruh hujan di luar sana.
Nadiva buru-buru meletakkan nampannya, masih dengan raut sedikit terkejut. "Kak Mex? Ya ampun, aku kira pelanggan biasa. Tumben banget Kakak nongkrong di sini, apalagi sambil bawa buku setebal dosa ini. Lagi ada tugas tambahan ya?" tanyanya dengan gaya barbar dan polosnya yang tak tertutupi.
Tawa kecil meluncur dari bibir Mex, halus dan tidak berlebihan. Ia menunjuk kursi kosong di hadapannya. "Duduk bentar bisa? Atau kedainya lagi sibuk banget?"
Nadiva melirik sekeliling. Beberapa meja memang kosong, dan rekan kerjanya di kasir memberikan gestur jempol, pertanda ia bisa mengambil waktu istirahat sejenak. Nadiva menarik kursi kayu di seberang Mex dan mendudukkan dirinya dengan santai, meski jarak di antara mereka tetap dijaganya dengan sangat hati-hati.
"Ada apa nih, Kak? Jangan bilang Kakak disuruh si tiang jemuran buat mata-matain aku, ya? Kalau iya, mending Kakak minum dulu Macchiato-nya terus pulang, soalnya aku nggak bakal bongkar kisi-kisi jawabanku ke siapa pun," cerocos Nadiva, melipat kedua tangannya di atas meja.
Senyum Mex semakin melebar mendengar celotehan tak berfilter itu. "Nggak, Div. Dereen nggak tahu gue di sini," jawabnya jujur. Mex mencondongkan tubuhnya sedikit, memutar buku Biologinya agar berhadapan dengan Nadiva. "Gue murni datang buat belajar. Dan... ya, karena gue tahu lo kerja di sini."
Nadiva menatap buku Biologi itu dengan kening berkerut dalam. Ia lalu beralih menatap wajah tampan nan kalem milik Mex. "Kakak minta diajarin? Sama aku?"
"Lebih tepatnya, belajar bareng," ralat Mex lembut. "Gue lihat cara lo jelasin materi ke Karin kemarin. Lo pintar nyederhanain konsep rumit, beda sama guru kita yang bikin kepala makin pusing. Kalau lo nggak keberatan, gue mau jadi murid tambahan lo."
Nadiva terdiam sejenak. Instingnya yang terbiasa bersikap defensive terhadap geng Dereen perlahan mengendur. Mex memang berbeda. Cowok ini tidak pernah memaksakan kehendak, tidak pernah kasar, dan selalu punya cara elegan untuk menghargainya. Namun, sekelebat cahaya perak yang mengintip dari balik leher sweater Mex—kalung salib yang serupa dengan milik Dereen—kembali menjadi jangkar yang menarik Nadiva pada kenyataan.
"Boleh aja sih, Kak," jawab Nadiva akhirnya, menata kembali nada suaranya agar terdengar kasual dan riang. "Tapi tarif bimbingan belajarnya mahal, lho. Nggak bisa dibayar pakai traktir jajan doang."
"Sebutin aja nominalnya," goda Mex, matanya memancarkan binar geli.
"Satu jam belajar, bayarannya sepuluh bungkus seblak level dewa buat panti asuhan tempat aku ngajar ngaji tiap hari Minggu. Gimana? Sanggup nggak, Bos?" tantang Nadiva, dagunya terangkat dengan gaya menantang yang justru terlihat luar biasa menggemaskan di mata Mex.
Mex tertawa, kali ini tawanya terdengar lebih lepas. "Dua puluh bungkus juga gue sanggup, Div."
Sore itu, diiringi rinai hujan dan wangi kopi, meja nomor lima menjadi saksi bisu kebersamaan mereka. Nadiva menjelaskan materi genetika dengan antusias, sesekali menggunakan pulpennya untuk menggambar analogi konyol di atas kertas buram.
Di seberangnya, Mex tak bisa mengalihkan pandangannya. Namun, alih-alih fokus pada gambar kromosom yang dicoret-coret Nadiva, fokus Mex sepenuhnya tersita oleh figur gadis di hadapannya.
Ia mengamati bagaimana mata cokelat Nadiva berbinar saat berbicara. Bagaimana gadis itu secara refleks memundurkan sedikit kursinya setiap kali Mex tak sengaja mencondongkan tubuh terlalu dekat. Bagaimana ujung jilbab putihnya bergerak seirama dengan gerak tubuhnya yang lincah.
Mex tahu batas itu ada. Ia tahu bahwa kalung salib di lehernya dan jilbab syar'i di kepala Nadiva adalah dua hal yang secara mutlak menempatkan mereka di semesta yang berbeda. Teman-temannya selalu bilang bahwa menyukai Nadiva adalah misi bunuh diri. Cinta yang terhalang takdir sebelum sempat dimulai.
Namun, rasa nyaman ini... ketenangan yang ia rasakan setiap kali melihat senyum gadis ini... Mex tidak bisa menepisnya begitu saja.
Biarlah semesta bekerja dengan caranya sendiri, batin Mex, menghela napas panjang. Untuk saat ini, bisa melihat lo dari jarak sedekat ini udah cukup buat gue, Div.
"Nah, kalau yang ini namanya hukum Mendel, Kak. Ngerti kan sampai sini? Atau kepala Kakak udah mau meledak?" tanya Nadiva tiba-tiba, membuyarkan lamunan Mex.
Mex tersentak pelan, lalu segera menguasai dirinya dan tersenyum simpul. "Ngerti kok, Bu Guru. Tapi kayaknya penjelasan lo terlalu cepet, bisa diulang dari awal?" bohongnya halus, semata-mata hanya ingin memperpanjang durasi kebersamaan mereka.
Nadiva memutar bola matanya pura-pura sebal, meski sudut bibirnya menyiratkan kebahagiaan karena bisa membantu. "Astaghfirullah, Kak Mex! Tadi katanya paham! Ya udah, sini aku ulang. Tapi inget ya, tarif seblaknya nambah jadi lima belas bungkus!"
Di luar, hujan perlahan mereda, menyisakan hawa dingin yang tak mampu menembus kehangatan di sudut kedai itu. Mex dan Nadiva tenggelam dalam obrolan ringan, sesekali diselingi tawa renyah gadis itu.
Mereka tak menyadari, bahwa dari seberang jalanan yang basah, di dalam sebuah mobil sport hitam yang kaca jendelanya terbuka separuh, sepasang mata tajam sedingin es tengah menatap lurus ke arah meja mereka. Tangan yang mencengkeram kemudi itu mengerat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah dan cemburu yang mulai tak terkendali.