NovelToon NovelToon
ASMARA DI HATIKU

ASMARA DI HATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"

Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.

Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.

Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.

PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 PERUBAHAN SANG MATAHARI

Dua minggu...

Empat belas hari kalender...

Tiga ratus tiga puluh enam jam.

Waktu terus bergulir di kota Jogja yang tak pernah terburu-buru, membawa angin pergantian musim yang mulai terasa lebih dingin di pagi hari.

Bagi sebagian besar murid SMA Budi Bangsa, dua minggu setelah tahun ajaran baru dimulai adalah masa di mana ritme sekolah telah kembali normal. Tugas-tugas mulai menumpuk, jadwal ekstrakurikuler mulai padat, dan dinamika pergaulan antar siswa mulai menemukan bentuk aslinya.

Namun, bagi Asmara Putri, sang Putri Abdi Dalem Keraton, dua minggu terakhir ini terasa seperti menyaksikan sebuah fenomena alam yang janggal, senyap, dan diam-diam mengusik ketenangan batinnya.

.....

.....

Siang itu...

Bel istirahat kedua baru saja berbunyi.

Kantin sekolah, seperti biasa, langsung diserbu oleh ratusan murid yang kelaparan. Asmara duduk di salah satu meja kayu panjang di sudut kantin yang agak teduh, ditemani oleh Nisa dan Dinda, dua sahabat karib satu kelas (satu kelas juga dengan Wira), sekaligus rekan pengurus OSIS-nya. Di atas meja mereka tersaji tiga mangkuk bakso kuah dan beberapa gelas es jeruk.

"Ra, kamu merhatiin nggak sih ada yang aneh sama kelas kita akhir-akhir ini?" tanya Dinda tiba-tiba, setelah menelan kunyahan baksonya. Matanya memindai keramaian kantin sebelum kembali menatap Asmara.

Asmara yang sedang mengaduk kuah baksonya perlahan, menaikkan sebelah alisnya. "Aneh bagaimana maksudmu, Din?"

"Itu lho, si Wira. Anak baru yang dari Bogor," Nisa ikut menimpali, suaranya sedikit dipelankan seolah sedang membicarakan rahasia negara.

"Satu minggu pertama dia masuk kan beringas banget. Ingat nggak pas dia ngehajar Kak Bima sampai masuk ruang BK? Terus gaya bajunya yang selalu acak-acakan, kakinya yang selalu naik ke laci meja, mulutnya yang judes... Pokoknya bad boy abis lah." lanjut Nisa.

"Iya, terus kenapa?" tanya Asmara dengan nada netral, meski jantungnya mulai berdetak dengan ritme yang sedikit berbeda saat nama pemuda itu disebut.

"Ya sekarang dia berubah drastis, Ra!" seru Dinda antusias. Gadis itu lalu menggunakan dagunya untuk menunjuk ke suatu arah. "Coba deh kamu lihat ke kedai Soto Pak Min sekarang."

Asmara perlahan memutar kepalanya mengikuti arah yang ditunjuk Dinda.

Di sana, di depan kedai soto yang selalu ramai itu, terdapat antrean panjang sekitar delapan orang siswa. Dan di urutan paling belakang, berdirilah Wira Aji Pratama.

Asmara tertegun.

Pemuda itu berdiri dengan sangat tenang.

Kemeja seragamnya kini dimasukkan ke dalam celana, lengkap dengan ikat pinggang hitam yang terpasang rapi. Dasinya memang tidak ditarik sampai mencekik leher, namun ikatannya cukup sopan dan rapi. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, kepalanya sedikit menunduk menatap ujung sepatunya sendiri.

Tidak ada gaya angkuh dengan dada membusung.

Tidak ada lirikan sinis ke kanan dan ke kiri.

Wira hanya... menunggu gilirannya dengan sabar.

Tiba-tiba, seorang siswa kelas sepuluh yang baru saja mendapatkan pesanan sotonya berjalan terburu-buru dan tanpa sengaja menabrak lengan Wira. Mangkuk di tangan adik kelas itu oleng, membuat beberapa sendok kuah soto yang panas tumpah dan mengenai ujung sepatu kets Wira, bahkan memercik sedikit ke ujung celana abu-abunya.

Asmara menahan napas. Ia, Dinda, dan Nisa yang menonton dari kejauhan otomatis mengantisipasi sebuah ledakan amarah.

Nisa bahkan sudah memejamkan mata, membayangkan Wira akan mencengkeram kerah adik kelas itu dan memaki-makinya di depan umum seperti kejadian tiga minggu lalu saat Wira menyerobot antrean Rakha.

Namun, yang terjadi selanjutnya benar-benar meruntuhkan segala ekspektasi.

Adik kelas itu memucat pasi. Tubuhnya bergetar ketakutan menyadari siapa yang baru saja ia tabrak. "M-mas... m-maaf, Mas! Ampun, saya nggak sengaja, Mas. Sumpah, saya bener-bener nggak sengaja!" racaunya panik, nyaris menangis karena takut dihajar.

Wira perlahan mengangkat wajahnya. Ia menatap adik kelas itu dengan tatapan yang sangat kosong.

Tidak ada kilat kemarahan di mata elangnya.

Tidak ada urat leher yang menonjol.

Pemuda itu hanya menatap kuah soto di sepatunya, lalu menghela napas panjang yang terdengar begitu lelah.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Wira merogoh sakunya, mengeluarkan selembar tisu kucel, dan membungkuk untuk mengelap sepatunya sendiri. Setelah itu, ia menyingkir selangkah ke samping, memberikan jalan agar adik kelas itu bisa lewat.

"Udah. Lewat sana. Hati-hati bawa mangkoknya," ucap Wira datar, suaranya sangat pelan, nyaris tak bernyawa.

Adik kelas itu terpaku sejenak, tak percaya bahwa ia selamat dari maut, sebelum akhirnya mengangguk berulang kali sambil menggumamkan terima kasih yang terbata-bata, lalu berlari pergi.

Wira kemudian kembali ke posisinya semula di dalam antrean, kembali menundukkan kepalanya, kembali mengurung diri dalam cangkang keheningannya.

"Gilaaa..." gumam Dinda, matanya membelalak tak percaya. "Kamu lihat itu tadi, Ra? Kalau itu Wira yang tiga minggu lalu, si anak kelas sepuluh itu pasti udah tinggal nama. Dia kesambet demit penunggu pohon beringin sekolah apa gimana ya? Kok bisa tiba-tiba jadi kalem begitu?"

"Iya, Ra," Nisa mengangguk setuju. "Di kelas juga dia sekarang diam banget. Nggak pernah lagi berisik neken-neken pulpen, nggak pernah gebrak meja. Kalau guru nerangin, dia cuma nunduk nyatet atau ngelihatin jendela. Jujur sih, kelas kita jadi lebih tenang, tapi ngelihat Wira yang sekarang... kok rasanya malah kayak ngelihat zombi ya? Hampa banget auranya."

Asmara tidak menjawab.

Ia menarik pandangannya dari sosok Wira di antrean kantin dan kembali menatap mangkuk baksonya yang kini terasa kehilangan selera.

Perkataan teman-temannya itu menyuarakan kegelisahan yang sebenarnya sudah menggerogoti pikiran Asmara juga selama beberapa hari terakhir ini.

Ya, Wira memang telah berubah.

Seratus delapan puluh derajat!

Sejak percakapan panjang mereka di Ruang Budaya dua minggu lalu—percakapan pertama di mana mereka akhirnya saling jujur tentang masa lalu dan perasaan mereka—Wira telah menjelma menjadi sosok yang sama sekali berbeda.

Wira tidak lagi melanggar aturan, ia mematuhi segalanya.

Namun, kepatuhan itu tidak lahir dari kesadaran yang mekar, melainkan terlihat seperti hasil dari keputusasaan yang meremukkan.

Asmara menyendok kuah baksonya tanpa minat.

Di dalam hatinya, ada sebuah rasa bersalah yang perlahan menyelinap.

Apakah kata-katanya hari itu terlalu tajam?

Apakah dengan memaksa Wira mematuhi aturan Jogja dan disiplin sekolah, Asmara tanpa sadar telah membunuh sesuatu yang paling berharga di dalam diri pemuda itu?

Sementara itu, di sudut pikirannya yang paling gelap dan paling sepi, Wira Aji Pratama sedang berperang melawan dirinya sendiri.

Sebuah peperangan bisu yang tidak memancarkan darah, namun perlahan-lahan menggerogoti kewarasannya.

.....

.....

Sore itu, di dalam Ruang Budaya yang senyap, Wira tengah mengelap bagian kaki instrumen Gong Ageng dengan selembar kain halus.

Pak Anton dan Asmara telah memberikan izin baginya untuk menyentuh dan membersihkan gamelan setelah Wira menunjukkan perilaku yang patuh selama dua minggu penuh.

Tangan Wira bergerak mekanis. Kiri, kanan, usap, tekan. Berulang-ulang.

Ia tidak melirik ke arah meja administrasi tempat Asmara duduk. Ia tidak mencoba memancing obrolan.

Otaknya sedang melayang sejauh lima ratus kilometer ke arah barat, menembus batas provinsi, terbang kembali menuju sebuah kota yang selalu diguyur hujan.

Bogor.

Sebuah kata yang kini terasa seperti luka terbuka di dada Wira.

Sambil menghirup aroma kapur barus dan debu tua di paviliun ini, memori penciuman Wira justru menciptakan ilusinya sendiri. Ia bisa mencium aroma itu dengan sangat jelas—aroma asap arang batok kelapa yang mengepul tebal ke udara, bercampur dengan wangi ketumbar, bawang putih, dan asam jawa dari bumbu marinasi daging sapi.

Sate Maranggi.

Wira menelan ludah. Matanya memanas tanpa bisa dicegah. Ia merindukan aroma itu hingga rasanya mau gila. Ia rindu suara bising kipas sate bambu yang dikibaskan dengan ritme cepat oleh mang-mang pelayan warung ayahnya. Ia rindu suara pisau besar yang beradu dengan talenan kayu setiap kali ayahnya memotong-motong daging segar di pagi buta.

"Wir! Jangan main PS mulu, bantuin Bapak angkat arang ke depan!"

Suara berat dan kasar Pak Aji tiba-tiba terngiang di telinga Wira.

Suara yang dulu sangat ia benci karena selalu mengganggu waktu bermainnya. Suara yang sering memicu pertengkaran di antara mereka.

Namun kini, di tengah kesunyian Ruang Budaya ini, Wira rela menukar apa pun di dunia ini hanya untuk mendengar bentakan ayahnya sekali lagi.

Ia juga merindukan ibunya, Bu Sari.

Ia rindu omelan ibunya setiap kali Wira pulang tawuran dengan seragam kotor. Ia rindu teh manis hangat buatan ibunya yang selalu disajikan di meja makan setiap subuh, jauh sebelum Wira bersiap berangkat sekolah.

Teh manis di Jogja memang terkenal enak, tapi tidak ada satu pun yang bisa menyamai takaran gula dan kasih sayang buatan ibunya.

Tangan Wira yang memegang kain lap perlahan berhenti bergerak.

Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Cengkeramannya pada kain itu mengerat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Gue... Harus bisa belajar buat bisa sendirian," jerit Wira dalam hati.

Sebuah jeritan putus asa yang menggema di dalam ruang hampa.

"Gue bener-bener sendirian di sini." batin Wira lagi.

Di Jogja, ia merasa seperti alien yang dipaksa bernapas menggunakan insang, padahal ia adalah makhluk darat.

Di rumah Bude Ning, hidupnya diatur oleh jam. Bangun jam lima, sarapan jam enam, pulang sekolah langsung mandi, jam delapan malam pintu dikunci, tidak ada televisi, tidak ada gitar, tidak ada tawa.

Hanya ada petuah-petuah tentang unggah-ungguh, tentang bagaimana ia harus merendahkan suaranya, bagaimana ia harus menahan langkah kakinya agar tidak terdengar mengentak.

Wira telah menuruti semuanya.

Ia telah berhenti melawan.

Ia telah melipat segala egonya, menyimpannya di dasar koper, dan mengunci rapat-rapat jiwa pemberontaknya.

Ia mengira dengan menjadi "anak baik" yang diam dan patuh, hidupnya di Jogja akan menjadi lebih mudah.

Ia mengira Asmara dan Bude Ning akan menghargainya.

Ya, mereka memang tidak lagi memarahinya. Hukuman terasa lebih ringan. Kelas terasa lebih damai.

Namun harga yang harus Wira bayar ternyata teramat mahal.

Ia kehilangan dirinya sendiri.

WIRA MERASA DIRINYA YANG SEJATI TELAH HILANG.

Pemuda itu merasa kosong. Ia tidak lagi tahu siapa Wira Aji Pratama.

Jika ia bukan sang penguasa jalanan, jika ia bukan anak begajulan yang selalu menentang aturan, lalu siapa ia?

Ia tidak memiliki prestasi untuk dibanggakan.

Ia tidak memiliki ambisi selain bertahan hidup dari hari ke hari.

Dengan mematikan kemarahannya, Wira tanpa sadar telah mematikan satu-satunya hal yang selama ini membuatnya merasa eksis di dunia ini.

Di Bogor, jika ia sedih atau marah, ia akan melampiaskannya dengan meninju samsak, bermain gitar membawakan lagu-lagu rock dengan chord distorsi yang memekakkan telinga, atau sekadar berteriak di bawah rintik hujan.

Di sini, ia bahkan tidak punya ruang untuk menghela napas dengan keras.

Tiba-tiba...

Tesss

Setitik cairan bening menetes jatuh dari pelupuk mata Wira, mendarat di atas kain lap yang ia pegang.

Ia buru-buru mengusap matanya dengan lengan kemeja, menggertakkan gigi menahan isakan yang nyaris lolos dari tenggorokannya.

Ia, Wira si preman Bogor, menangis dalam diam di depan sebuah gong tua.

Sungguh sebuah ironi yang menyedihkan.

Dari balik meja administrasi, Asmara tak pernah melepaskan pandangannya dari sosok pemuda itu.

Pura-pura membaca buku inventaris hanyalah kedok Asmara. Selama satu jam terakhir, fokus utamanya sepenuhnya tersita oleh gerak-gerik Wira.

Dan saat Asmara melihat bahu lebar pemuda itu bergetar samar, lalu melihat Wira buru-buru mengusap wajahnya dengan lengan seragam, hati Asmara...

Terasa...

Seolah diremas oleh tangan tak kasat mata.

Seketika itu juga, sebuah kenyataan yang benar-benar terasa nyata, menampar batin sang gadis keraton.

Selama ini, Asmara selalu meyakini bahwa ketenangan adalah bentuk tertinggi dari sebuah peradaban. Ia diajarkan bahwa diam itu emas, dan sabar itu jalan menuju kedamaian.

Ketika ia melihat Wira yang selalu berteriak, marah, dan merusak barang, Asmara merasa ia sedang berhadapan dengan api liar yang harus dipadamkan demi kebaikan pemuda itu sendiri.

Ia ingin menjinakkan Wira.

Ia ingin membuat pemuda itu mengerti betapa indahnya ketenangan.

Namun...

Sore ini...

Melihat Wira yang hancur dalam kesunyiannya, Asmara menyadari satu pelajaran berharga yang mungkin terlewat dari petuah-petuah Jawa kuno ayahnya.

Tidak semua api diciptakan untuk dipadamkan!

Beberapa api, sebesar dan seliar apa pun ia, adalah satu-satunya sumber cahaya dan kehangatan bagi pemiliknya.

Bagi Wira, sifat keras dan pemberontakannya bukanlah sekadar kebiasaan buruk; itu adalah perisainya. Itu adalah mekanisme pertahanannya yang paling primitif.

Dan ketika Asmara serta sistem di kota ini berhasil memaksa Wira untuk meletakkan perisainya, mereka tidak memberikan apa-apa sebagai gantinya.

Wira dibiarkan berdiri telanjang di tengah badai kesepian, menggigil kedinginan tanpa perlindungan apa pun.

Asmara menatap punggung Wira yang terlihat begitu rapuh.

Di matanya, Wira tidak lagi terlihat seperti preman arogan yang dulu dengan pongahnya menaikkan kaki ke atas patung sakral di Alun-alun.

Wira hari ini hanyalah seorang anak laki-laki berusia tujuh belas tahun yang rindu rumah, rindu keluarganya, dan kebingungan mencari tempat bernaung.

Tiba-tiba saja...

Sebuah perumpamaan melintas di benak Asmara.

Wira adalah Sang Matahari dari kota hujan. Panas, membakar, menyilaukan, dan seringkali membuat orang lain kegerahan.

Tapi matahari tetaplah matahari—ia bersinar dan memberikan kehidupan dengan energinya yang meledak-ledak.

Dan kini...

Matahari itu seperti sedang dihalangi oleh sebuah gerhana yang sangat pekat.

Sinarnya menghilang total.

Bukan berubah menjadi bulan yang memancarkan cahaya teduh, melainkan berubah menjadi kekosongan yang gelap gulita.

Tidak ada provokasi, tidak ada godaan jahil, tidak ada senyum miring yang angkuh.

Wira yang ini adalah Wira yang telah menyerah pada hidup.

Dan entah mengapa...

Melihat Wira yang menyerah sekarang...

Justru terasa jauh lebih menyakitkan bagi Asmara daripada melihat Wira yang mengamuk dan menghancurkan pot sekolah.

Asmara menutup buku inventarisnya perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara.

Ia berdiri dari kursinya. Sesuatu di dalam dadanya mendesaknya untuk bertindak.

Filosofi air yang selalu mengalah kini harus ia kesampingkan.

Terkadang, air yang diam tidak cukup untuk menumbuhkan tanaman yang layu; air itu harus mengalir, menyentuh, dan memberikan kehidupan.

Dengan langkah yang ringan namun pasti, Asmara berjalan mendekati Wira.

Pemuda itu masih memunggungi Asmara, asyik berpura-pura mengelap debu imajiner di bagian belakang gong agar wajahnya yang merah dan jejak air matanya tidak terlihat.

Asmara berhenti sekitar satu meter di belakang Wira.

Ia tidak tahu harus memulai dari mana. Ia terbiasa menenangkan orang yang sedang marah, tapi ia tidak pernah memiliki pengalaman merangkul seseorang yang jiwanya sedang tenggelam dalam kesunyian yang absolut.

"Mas Wira..." panggil Asmara. Suaranya terdengar sedikit bergetar, memecah keheningan yang menyiksa di antara mereka.

Wira tersentak pelan. Gerakan tangannya terhenti, namun ia tidak menoleh. Ia menundukkan kepalanya lebih dalam, seolah berusaha menyembunyikan dirinya sendiri ke dalam bayang-bayang gong besar di hadapannya.

"Ya?" jawab Wira serak. Sangat serak hingga suaranya nyaris pecah.

"Maaf, bagian sini belum bersih. Gue... gue lap ulang." ucap Wira cepat.

Wira kembali menggerakkan tangannya dengan cepat dan panik, sebuah usahanya yang sia-sia untuk terlihat sibuk dan baik-baik saja.

Asmara melangkah lebih dekat.

Kali ini, ia mengabaikan aturan tak tertulis tentang batas jarak profesional antara pengawas dan pelanggar hukuman.

Gadis itu berdiri tepat di samping Wira. Dari jarak sedekat ini, Asmara bisa melihat dengan jelas mata Wira yang memerah dan rahangnya yang terkatup rapat menahan gejolak tangis.

Tanpa mengatakan apa-apa, Asmara mengangkat tangan kanannya.

Jari-jari lentiknya yang biasa digunakan untuk memegang canting batik atau menabuh saron, kini terulur dengan sangat pelan, lalu menyentuh punggung tangan Wira yang sedang memegang kain lap.

Sentuhan itu begitu ringan, seringan helaian kapas yang jatuh, namun efeknya bagi Wira bagaikan tersengat aliran listrik bertegangan tinggi.

Tangan Wira membeku seketika. Kain lap di tangannya merosot jatuh ke lantai kayu jati.

Wira akhirnya menoleh, menatap Asmara dengan sepasang mata elangnya yang kini basah dan rapuh.

Di mata pemuda itu, Asmara melihat sebuah permohonan yang tak terucapkan—permohonan agar ia tidak dihakimi, permohonan agar kelemahannya hari ini tidak dijadikan senjata untuk merendahkannya.

Asmara membalas tatapan itu dengan senyuman yang sangat berbeda dari biasanya.

Bukan senyum ketenangan seorang abdi dalem, bukan pula senyum maklum seorang kakak pada adiknya.

Itu adalah senyum yang mengandung rasa sakit yang sama, sebuah senyum empati dari dua jiwa yang saling mengenali luka satu sama lain.

"Tidak apa-apa, Mas," bisik Asmara, suaranya mengalun hangat, menghancurkan sisa-sisa benteng es di dalam ruangan itu. Tangannya tidak beranjak dari punggung tangan Wira.

"Tidak apa-apa kalau Mas Wira merasa capek. Tidak apa-apa kalau Mas merasa kesepian. Mas tidak perlu terus-terusan berpura-pura kuat di depan saya."

Kata-kata Asmara merobohkan seluruh pertahanan Wira yang tersisa.

Bahu pemuda itu merosot turun. Napasnya bergetar hebat. Wira menundukkan wajahnya dalam-dalam, menyembunyikan isak tangis tertahan yang akhirnya pecah tanpa suara.

Ia tidak membalas sentuhan Asmara, tapi ia membiarkan tangan gadis itu tetap di sana, menjadi satu-satunya jangkar yang menahan kewarasannya agar tidak hanyut ditelan kesepian.

Di bawah cahaya senja yang memeluk Ruang Budaya sore itu, "Sang Bulan" dari Jogja akhirnya mengulurkan tangannya, mencoba merengkuh bayangan gelap yang menghalangi "Sang Matahari".

Dengan satu tekad di dalam hati:

Ia akan membantu pemuda ini menemukan kembali cahayanya.

Meski...

Itu berarti Asmara harus membiarkan dunianya yang tenang...

Untuk ikut terbakar bersamanya.

1
Kesya Ohilitean
aku senang sekali kerana novel mau membantu aku untuk mehilakan sertes
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih banyak, Kak Kesya... 😍😍😍

Semoga Kakak selalu sehat, ya... Selalu bahagia juga buat Kak Kesya... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!