Di Benua Shenzhou yang dipenuhi oleh energi spiritual (Qi), hukum rimba berlaku: yang kuat dihormati, yang lemah diinjak-injak. Ye Chen, seorang pemuda dari Klan Ye, terlahir dengan meridian yang cacat sehingga ia tidak bisa menyerap Qi. Selama enam belas tahun, ia hidup sebagai lelucon dan bahan hinaan klannya.
Namun, takdirnya berubah drastis di suatu malam yang berdarah. Saat ia dipukuli dan dibuang ke dasar Jurang Kematian oleh sepupunya sendiri, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah liontin batu giok hitam peninggalan ibunya. Liontin itu ternyata menyimpan jiwa seorang Kaisar Naga Kuno yang telah tersegel selama puluhan ribu tahun. Dengan bimbingan sang Kaisar Naga, Ye Chen memulai jalan kultivasi yang menentang langit untuk membalas dendam dan mencari kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekuatan Bunga Teratai
Begitu kelopak Teratai Es Hati Dingin meluncur melewati tenggorokannya, Ye Chen merasa seolah-olah ia baru saja menelan bongkahan es abadi. Rasa dingin yang menusuk langsung meledak di perutnya, membekukan darah dan organ dalamnya dalam hitungan detik. Lapisan es tipis bahkan mulai menutupi kulit dan alisnya.
"Ghh...!" Ye Chen menggigil hebat. Ini adalah energi Yin ekstrim dari tanaman spiritual tingkat dua puncak!
"Cepat putar Seni Transformasi Sembilan Naga Ilahi! Jangan biarkan energi es itu membekukan jantungmu, atau kau akan mati berkalang tanah!" bentak Ao Tian, auranya dari dalam giok hitam memancar untuk membantu menjaga kesadaran Ye Chen.
Mendengar itu, Ye Chen mengertakkan gigi. Ia memaksakan Qi di dalam Meridian Naganya untuk berputar. Saat Qi naga yang tirani bertabrakan dengan energi es yang murni, tubuh Ye Chen menjadi medan pertempuran.
Hawa panas dan dingin silih berganti menyiksa tubuhnya. Namun, setiap kali kedua energi itu berbenturan, sejumlah besar Qi murni tersaring dan mengalir deras mengisi "lautan" meridiannya yang selama ini kelaparan.
BZZZT!
Sebuah suara teredam terdengar dari dalam tubuhnya. Penghalang yang selama dua minggu ini menahannya akhirnya hancur.
Tahap Pengumpul Qi tingkat keempat... Tertembus!
Namun, energi dari Teratai Es itu masih sangat besar. Ye Chen tidak berhenti; ia memetik sisa kelopak dan inti bunga tersebut, memasukkannya semua ke dalam mulut.
Aliran energi kini berubah menjadi sungai besar yang mengamuk. Tulang-tulangnya yang retak dan luka robek di punggungnya akibat sabetan ekor Piton merajut diri mereka kembali dengan kecepatan yang terlihat oleh mata telanjang. Rasa sakit berganti menjadi kenyamanan yang luar biasa.
Dua hari dua malam Ye Chen duduk mematung di dalam gua kecil itu.
Pada fajar hari ketiga, Ye Chen tiba-tiba membuka matanya. Sepasang pupilnya memancarkan kilatan cahaya biru sedingin es yang berpadu dengan keagungan emas.
Sebuah gelombang udara meledak dari tubuhnya, menyapu debu dan kerikil di sekitarnya.
"Tahap Pengumpul Qi tingkat kelima... puncak!" gumam Ye Chen, mengepalkan kedua tangannya. Ia bisa merasakan kekuatan yang mengalir di lengannya sekarang sepuluh kali lipat lebih mematikan dari sebelumnya.
Jika ia harus menghadapi pria codet dari Kelompok Serigala Berdarah sekarang, Ye Chen yakin ia tidak perlu menggunakan belati. Satu pukulan tangan kosong sudah cukup untuk meledakkan kepala pria itu!
"Hmph. Tanaman spiritual tingkat dua puncak hanya mampu mendorongmu dua tingkat. Meridian Nagamu benar-benar lubang tanpa dasar," cibir Ao Tian, namun tak bisa menutupi sedikit rasa takjub. Jika kultivator biasa memakan teratai itu, mereka pasti sudah menembus tingkat ketujuh atau meledak karena kelebihan energi. Tapi fondasi Ye Chen kini setara dengan monster purba.
"Ini sudah lebih dari cukup, Senior," Ye Chen tersenyum dingin. "Ye Feng berada di tingkat kelima. Sekarang kami berada di garis start yang sama. Tapi jika kami bertarung... aku akan menghancurkannya seperti ranting kering."
Ye Chen bangkit berdiri. Pakaian kasarnya telah hancur selama proses terobosan. Ia pun mengenakan kembali jubah kulit babi hutan yang ia buat, menutupi tubuh atletisnya yang kini bersih dari segala luka.
"Sudah waktunya kembali ke kota."
Setengah hari kemudian, di depan gerbang Kota Besi Hitam.
Penjaga gerbang mengerutkan kening melihat seorang pemuda berambut sedikit panjang, mengenakan pakaian kulit binatang buas yang kasar, melangkah masuk ke dalam kota. Ia tampak seperti orang liar yang baru keluar dari kedalaman hutan. Namun, saat tatapan tajam pemuda itu menyapu sekeliling, para penjaga tanpa sadar menahan napas dan membiarkannya lewat.
Ye Chen berjalan lurus menuju bangunan terbesar di ujung jalan: Paviliun Seratus Herbal.
Toko itu sedang ramai oleh para tentara bayaran dan pemburu. Di balik meja kasir, penjaga toko bermata licik yang dulu meremehkan Ye Chen sedang melayani pelanggan.
Ye Chen melangkah mendekat dan mengetuk meja kasir dengan jarinya.
"Maaf, Tuan, antre di..." Penjaga toko itu mendongak dengan raut wajah kesal. Namun, saat melihat penampilan liar Ye Chen, ia tertegun. Ia merasa tidak asing dengan tatapan mata pemuda ini.
"Kau... pengemis yang bulan lalu bertanya harga pil tapi tidak punya koin emas itu, kan?" seru sang penjaga toko, nada suaranya kembali merendahkan. Beberapa tentara bayaran di sekitarnya ikut tertawa mengejek.
"Minggir, Nak. Jangan buat kotor toko ini. Kalau kau mau mengemis, pergi ke lorong belakang!" bentak seorang pria berbadan besar yang sedang antre di belakang Ye Chen.
Alih-alih marah, wajah Ye Chen tetap tenang tanpa riak. Ia meraih kantong kulit di pinggangnya yang tampak usang dan kotor, lalu membalikkannya ke atas meja kaca kasir.
Klotak! Klotak! Klotak!
Suara benda-benda keras berjatuhan memecah tawa di ruangan itu. Belasan kristal berwarna kusam, namun memancarkan aura elemen yang pekat, menggelinding di atas meja.
Tawa di dalam toko langsung mati. Mata sang penjaga toko terbelalak hingga hampir keluar dari rongganya. Pria berbadan besar di belakang Ye Chen seketika menutup mulutnya rapat-rapat, wajahnya pucat pasi.
"I-itu... Inti Binatang! Dan semuanya dari monster tingkat tiga ke atas!" jerit seorang pengunjung dengan suara bergetar.
Ada lima belas Inti Binatang elemen tanah (dari Babi Hutan Bertaring Besi), tiga Inti Binatang elemen angin (dari Serigala Bayangan), dan beberapa material berharga lainnya. Untuk mengumpulkan harta sebanyak ini, sebuah kelompok tentara bayaran beranggotakan sepuluh orang butuh waktu berbulan-bulan, dan itu pun dengan risiko kematian yang tinggi.
Namun pemuda liar ini mengeluarkannya seolah sedang membuang sampah!
Ye Chen menatap penjaga toko yang kini gemetar ketakutan, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang dingin.
"Hitung semuanya," ucap Ye Chen santai. "Dan kali ini, jangan bilang aku menghalangi jalan."