Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.
Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.
Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Malam semakin larut di kediaman Carlton. Kegelapan merayap pekat, membungkus seluruh rumah megah itu dalam kesunyian yang mencekam.
Di lantai dua, angin malam berembus pelan meniup tirai balkon kamar Vanessa. Tanpa bersuara sedikit pun, sepasang kaki panjang diam-diam menyusup masuk melalui celah pintu balkon.
Sosok tinggi tegap itu melangkah sangat halus di atas karpet, mendekati tempat tidur tempat Vanessa terlelap.
Pria misterius itu berlutut di samping ranjang. Matanya yang tajam menatap pilu pada pipi kiri Vanessa yang membengkak dan memerah.
Dengan gerakan yang teramat lembut, sosok itu mengompres pipi Vanessa menggunakan kain dingin beraroma penawar rasa sakit.
Tangannya yang hangat mengelus perlahan kontur wajah cantik wanita itu, lalu menunduk rapat mendaratkan kecupan lembut di atas bibir Vanessa yang sedikit terbuka.
Tanpa suara, ia berdiri dan kembali menghilang di balik kegelapan balkon.
Keesokan harinya, Vanessa terbangun dan meraba pipi kirinya yang tak lagi sebengkak dan sesakit semalam.
"Apa semalam aku bermimpi? Tapi, kenapa rasanya begitu nyata? Atau... jangan-jangan ada orang yang sengaja masuk ke kamarku? Tapi... siapa?" gumam Vanessa bingung. Ia menggelengkan kepala.
"Ah, mana mungkin ada orang yang masuk? Kamarku kan terkunci rapat. Lagipula, siapa orang yang benar-benar peduli padaku di rumah ini? Tidak ada," lirihnya pelan sambil tertawa kecil.
****
Siang harinya, Vanessa berjalan menyusuri lorong menuju aula utama. Di saat yang sama, Yessika baru saja masuk ke dalam rumah usai pulang dari rumah sakit.
"Yessika! Kau sudah pulang?" panggil Jordan dengan raut lega, bergegas menghampiri.
"Jordan..." bisik Yessika lembut. Ia memamerkan senyum manisnya yang terlihat lemah.
Jordan berniat memegang pendorong kursi roda Yessika, tetapi Alessio bergerak lebih cepat dan memotong jalurnya.
"Biar aku saja, Jordan," ujar Alessio dingin.
"Hei! Aku yang lebih dulu di sini, Alessio!" bentak Jordan tak terima.
Alessio menatap Jordan dari atas ke bawah secara meremehkan.
"Tugas menjaganya adalah tanggung jawabku sebagai calon tunangannya. Kau hanya calon kakak ipar di rumah ini... jadi sadar dirilah dan batasi pergerakanmu. Jangan dekat-dekat dengan milikku."
Jordan mengepalkan tangannya, bibirnya terkatup rapat. "Kau...!"
*****
Di ruang makan, seluruh meja dipenuhi berbagai hidangan laut. Jordan hendak menarik kursi di sebelah Yessika, tetapi suara Alessio menghentikannya.
"Duduklah di samping Vanessa, Jordan," perintah Alessio datar.
"Aku mau duduk di sini!" tolak Jordan keras.
"Tapi, tunanganmu duduk di sana," kata Alessio.
"Aku tidak peduli. Terserah aku mau duduk dimana," balas Jordan.
Alessio berdiri, menumpukan kedua tangannya di meja sambil menatap Jordan penuh ancaman.
"Apa kau sedang menantangku, Jordan?"
Yessika langsung memasang raut wajah serba salah, matanya berkaca-kaca.
"Alessio, tolong jangan bertengkar..." bisik Yessika pelan. "Jordan hanya khawatir aku disakiti lagi oleh Vanessa, makanya dia ingin duduk di dekatku... Lagipula, Jordan kan calon kakak ipar ku. Wajar kalau dia perhatian padaku."
Ibu Yessika ikut menimpali, "Betul itu, Tuan Muda Alessio. Yessika dan Tuan Muda Jordan itu cuma sebatas kakak ipar dan adik ipar. Tidak ada hal yang istimewa."
Alessio menyunggingkan senyum miring. "Oh, begitu? Baik kalau begitu. Tapi... tetap saja kau harus pindah, Kakak!"
Bruk!
Jordan didorong kasar hingga jatuh dari kursinya. Kemudian, Alessio segera mengambil alih kursi itu dan membuat Jordan kesal setengah mati.
"Kau..." geram Jordan marah.
"Sana, ke kursimu!" usir Alessio.
Mau tak mau, Jordan terpaksa duduk disamping Vanessa. Wajahnya masih terlihat kesal sementara Alessio terkesan tidak peduli.
Sepanjang makan siang, Jordan dan Alessio sibuk menyendokkan lauk seafood ke piring Yessika. Vanessa sendiri hanya mengunyah tumis sayuran di piringnya.
Yessika melirik piring Vanessa lalu tersenyum tipis. "Kak Vanessa... kenapa cuma makan sayur?"
Vanessa diam, tak berniat melayani.
"Apa Kak Vanessa tidak mau makan lauk lain hanya karena semuanya adalah makanan kesukaanku?" lanjut Yessika dengan nada prihatin yang dibuat-buat.
"Jangan cemburu dan marah begitu karena semua orang perhatian padaku... Maaf ya, Kak, kalau gara-gara lauk kesukaanku Kak Vanessa jadi kehilangan nafsu makan."
Dada Jordan seketika memanas. "Vanessa! Jangan kekanak-kanakan!" bentak Jordan sambil melempar udang besar ke piring Vanessa.
"Makan ini!"
"Aku tidak mau," tolak Vanessa dingin.
Benny Grey ikut memukul meja.
"Vanessa! Kurang ajar sekali kamu! Hargai adikmu dan keluarga ini! Makan lauk itu sekarang!"
Yessika pura-pura memelas.
"Jordan, Ayah... sudah, jangan dipaksa kalau Kak Vanessa memang tidak mau..."
"Tidak bisa!" gertak Jordan. Ia bangkit, merebut sendok, lalu secara kasar menjejalkan potongan cumi dan udang ke dalam mulut Vanessa. "Makan! Jangan buat malu!"
"Lepas, hmph!" Vanessa berusaha memberontak, tetapi makanan itu terlanjur tertelan.
Hanya dalam hitungan detik, tubuh Vanessa membeku.
"Ugh... hukh!" Vanessa memegangi lehernya. Wajahnya memerah padam, dan bentol-bentol merah merayap cepat di kulit leher serta tangannya.
Brak!
Vanessa jatuh tersungkur dari kursi, terkapar di lantai sambil memegangi dadanya yang terasa begitu sesak.
Alessio melompat dari kursinya dan berlutut di samping Vanessa.
"Vanessa! Vanessa, ada apa denganmu?!" seru Alessio panik.
"Nona Vanessa!" jerit Pak Ben yang berlari kencang dari arah dapur.
Pak Ben menunjuk wajah Jordan dan Benny Grey dengan napas memburu dan amarah yang meluap.
"Nona Vanessa punya alergi parah pada makanan laut! Dia bisa mati jika memakannya!" teriak Pak Ben gemetar.
"Tuan Jordan! Tuan Benny! Apa kalian berdua sudah gila?! Apa kalian sengaja bersekongkol ingin membunuh Nona Vanessa di meja makan ini?!"
Jordan mundur dua langkah, wajahnya mendadak pucat pasi. Tangannya gemetar hebat melihat Vanessa yang megap-megap di lantai. Benny Grey pun ikut membeku, lidahnya kelu tak sanggup bersuara.
makin kesini makin seruuuuuuu ,,
penasaran kak ,,
lanjuut kak ,,
pgen liat si Jordan Dan yessika keluar dr keluarga Carlton dg kaos oblong Dan daster ,,
😏😏😏