*𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘼𝙡𝙠𝙚𝙢𝙞𝙨 𝙎𝙚𝙢𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣 𝘽𝙚𝙣𝙪𝙖 𝙎𝙚𝙖𝙨𝙤𝙣 𝘿𝙪𝙖*
Ini adalah kisah Lin Xuan Sang Dewa Alkemis yang tidak sengaja bertemu dengan musuh terkuatnya Mo Xie, dua orang dari alam bawah yang tanpa sengaja terjerumus ke alam semesta yang jauh lebih tinggi.
Namun, mereka segera menyadari bahwa gelar agung, bahkan kekuasaan yang dianugerahkan oleh para Dewa dan Iblis Kuno bukanlah berkah, melainkan umpan untuk memelihara tubuh mereka hingga matang sebelum akhirnya dijadikan santapan.
Alih-alih terus saling membunuh, dua anomali ini akhirnya mengesampingkan permusuhan mereka untuk sementara.
Sebab sebelum menentukan siapa yang akan mati di tangan siapa, mereka sepakat melakukan satu hal terlebih dahulu...
Membantai para dewa serta iblis munafik dan membuat seluruh Alam Tinggi berlumuran darah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Penobatan Bintang Putri Mahkota
Benturan antara daging dan tulang mengguncang seluruh Kota Suci Tianyu.
Tekanan tubuh Lin Xuan bertabrakan langsung dengan Racun kehancuran Mo Xie. Langit terbelah, ruang melengkung di bawah tekanan tubuh Lin Xuan, sementara racun ungu milik Mo Xie memenuhi cakrawala seperti lautan kematian.
Boom!
Gelombang benturan menyapu segala arah.
Sisa Gerbang Tulang Naga hancur menjadi debu. Pulau-pulau melayang yang menopang menara pertahanan retak sebelum runtuh ke daratan. Ribuan Ksatria Emas terlempar puluhan li meskipun tidak terkena serangan secara langsung.
Hanya tekanan dari benturan kedua monster itu sudah cukup membuat mereka memuntahkan darah.
Lin Xuan terdorong mundur beberapa langkah. Setiap pijakannya menghantam jalanan kristal hingga retak dan tenggelam.
Namun, di hadapannya, mata Mo Xie justru dipenuhi kegembiraan.
Sudah terlalu lama ia tidak merasakan pertarungan seperti ini.
“Tahan ini!”
Mo Xie menarik sabit tulangnya dan melesat maju.
Dalam sekejap, kakinya menghantam dada Lin Xuan dengan kekuatan yang seolah memadatkan berat sebuah bintang mati ke dalam satu tendangan.
Boom!
Lin Xuan segera menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Tubuhnya terdorong lebih dari tiga ratus meter, meninggalkan parit panjang di sepanjang jalan kristal yang dilewatinya.
Namun, ketika akhirnya berhenti, Lin Xuan masih berdiri tegak.
Lengannya tidak patah. Bahkan tulangnya tidak bergeser sedikit pun.
Mata Mo Xie menyipit.
Ia tidak memberi Lin Xuan kesempatan bernapas dan langsung mengejarnya.
Dua bilah tulang tumbuh dari sikunya. Dalam sekejap, ratusan tebasan memenuhi udara dan mengarah ke seluruh tubuh Lin Xuan.
Lin Xuan tidak menggunakan senjata. Ia hanya mengandalkan tinju, siku, lutut, dan tubuhnya sendiri untuk menghadapi setiap serangan.
Bang!
Tinju dan tulang bertabrakan.
Bang!
Siku Lin Xuan menghantam bilah tulang yang menebas dari samping.
Benturan demi benturan mengguncang ruang di sekitar mereka. Tidak ada mantra yang rumit ataupun teknik yang indah. Yang tersisa hanyalah kekuatan tubuh yang saling menghancurkan.
Daging melawan tulang.
Dalam waktu singkat, separuh distrik barat Kota Suci Tianyu berubah menjadi reruntuhan. Menara kristal runtuh, jembatan langit hancur, dan aliran energi yang biasanya mengalir di antara bangunan-bangunan suci terputus lalu jatuh ke dalam kehampaan.
Para penduduk dan prajurit yang masih hidup hanya mampu bersembunyi di balik reruntuhan sambil menyaksikan dua monster itu terus bertarung.
Namun, di tengah pertempuran tersebut, perhatian Lin Xuan justru tertuju pada sesuatu yang lain.
Tatapannya menembus langit dan menembus lapisan kehampaan yang jauh di atas medan perang.
Di sana, ia merasakan beberapa aura tua yang tersembunyi.
Ada makhluk yang sedang mengamati mereka.
Dewa Leluhur Kuno dan Iblis Leluhur Kuno.
Mereka tidak turun tangan. Mereka hanya menunggu dengan sabar, menanti kedua anomali itu saling melemahkan agar dapat mengambil keuntungan dari tubuh dan rahasia yang tersisa.
Mo Xie rupanya menyadari hal yang sama.
Ketika tinju Lin Xuan hampir menghantam wajahnya, ia menahannya dengan telapak tulang lalu mundur beberapa langkah.
Saat itulah, benang merah tiba-tiba muncul dari balik jubah hitamnya.
Benang tersebut melilit pergelangan tangan Mo Xie dan memancarkan aura kehidupan Yin yang sangat pekat. Cahaya merah berkumpul di udara hingga perlahan membentuk sosok seorang wanita.
Wajahnya sangat cantik, tetapi tatapannya sedingin es dari alam kematian.
Xue Ling’er.
Permaisuri Kematian.
Sosok itu hanyalah bayangan yang terbentuk dari benang darah, tetapi auranya tetap membuat ruang di sekitarnya bergetar.
Ia meraih bahu Mo Xie.
“Suamiku, hentikan.”
Suara Xue Ling’er bergema langsung di lautan roh Mo Xie.
“Penempaan Tulang Surgawimu sudah mencapai batas. Jangan terus memaksakan diri. Jangan biarkan para leluhur itu memanfaatkan darahmu.”
Mata Mo Xie sedikit bergetar.
Ia menatap Lin Xuan sekali lagi sebelum akhirnya mengakui bahwa Xue Ling’er benar.
Penempaan Tulang Surgawi memang memiliki harga yang harus dibayar. Tanpa Darah Yin Agung milik Xue Ling’er untuk menenangkan tubuhnya, pertarungan yang terus berlanjut hanya akan mempercepat kehancuran tubuhnya.
Lebih buruk lagi, para leluhur yang bersembunyi di kejauhan memang sedang menunggu kesempatan tersebut.
Mo Xie menarik napas panjang.
Kemudian ia mundur.
Tulang-tulang yang mencuat dari tubuhnya perlahan kembali ke balik kulit.
Lin Xuan tidak mengejar.
Ia pun tidak berniat mempertaruhkan penyamarannya hanya demi membunuh Mo Xie.
Mo Xie menatapnya.
“Daging yang menolak mati.” Suaranya kembali tenang. “Di alam ini, ternyata masih ada manusia yang memiliki nasib sepertiku.”
Lin Xuan menepuk debu dari jubah putihnya. “Kau menghancurkan setengah kota hanya untuk menyapa?”
Mo Xie tersenyum miring.
“Ini bukan kotamu.” Tatapannya menjadi tajam. “Kita sama-sama tahu itu.”
Ia kemudian menatap langit yang dipenuhi aura para leluhur.
“Jangan mati di tangan para dewa emas itu. Kepalamu sudah kutandai.”
Mo Xie mengangkat sabit tulangnya.
“Suatu hari nanti, aku sendiri yang akan memenggalnya.”
Setelah berkata demikian, ia mengayunkan sabitnya ke arah kehampaan.
Celah hitam segera terbuka.
Mo Xie dan bayangan Xue Ling’er melangkah masuk sebelum sosok mereka menghilang dari medan perang.
Perlahan, racun ungu yang menyelimuti langit Kota Suci Tianyu mulai memudar.
Keheningan turun di atas kota yang telah berubah menjadi lautan reruntuhan.
Lin Xuan mengepalkan tangannya.
Telapak tangannya masih sedikit bergetar.
Kekuatan Mo Xie memang mengerikan. Jika dirinya belum mencapai Tungku Daging Kesepuluh, telapak tangannya mungkin sudah hancur oleh benturan tadi.
Lin Xuan mengendurkan tangannya lalu berbalik.
Di antara reruntuhan, ia menemukan Shen Ziyue.
Sang Putri Mahkota terduduk di antara pecahan kristal. Zirah Bintangnya retak di banyak tempat, darah emas mengalir dari sudut bibirnya, dan racun ungu masih merayap di sepanjang luka di pahanya.
Namun, Ziyue seolah tidak memperhatikan semua itu. Tatapannya hanya tertuju kepada Lin Xuan.
Pria itu baru saja menghentikan Mo Xie dengan tangan kosong.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, hati Ziyue diguncang oleh sesuatu yang tidak mampu ia kendalikan.
Bukan rasa takut. Melainkan ketertarikan yang jauh lebih dalam.
Ia ingin mengetahui siapa sebenarnya pria ini. Dan lebih dari itu, ia ingin memastikan pria tersebut tetap berada di sisinya.
Lin Xuan berhenti di hadapannya.
“Musuh telah mundur, Yang Mulia.” Nada suaranya tetap tenang. “Ancaman telah berakhir.”
Ziyue tertawa kecil. Ia mengulurkan tangan dan meraih ujung jubah Lin Xuan.
“Kau menipuku, Xuan.” Matanya berkilat. “Kau bukan sekadar komandan yang selamat dari Dataran Zhentian.”
Ziyue berusaha berdiri, tetapi tubuhnya goyah. Lin Xuan membiarkannya bersandar kepadanya.
“Kau menyembunyikan sesuatu.”
Lin Xuan tidak menjawab.
Ziyue menatapnya beberapa saat sebelum kembali tersenyum.
“Situ Cang telah gugur. Setengah kota ini hancur dan formasi pertahanan juga rusak.”
Ia menarik napas perlahan. “Namun, semua itu tidak sia-sia.”
Jarinya kembali mencengkeram jubah Lin Xuan.
“Aku menemukan seseorang yang jauh lebih berharga.”
Ziyue mengangkat wajahnya dan menatap mata Lin Xuan. “Mulai hari ini, kau bukan lagi sekadar pengawal.”
Tatapan Lin Xuan berubah sedikit.
“Aku menganugerahkan kepadamu gelar Komandan Bintang Putri Mahkota.”
Suara Ziyue menggema di tengah reruntuhan Kota Suci Tianyu.
“Mulai sekarang, kau hanya tunduk kepadaku. Dan dengan kedudukan itu, kau akan memiliki akses ke Perpustakaan Suci serta Gudang Harta Alkimia Kota Suci Tianyu.”
Mata Lin Xuan berkilat.
Pengetahuan, Pusaka, Bahan-bahan alkimia dari Alam Primordial.
Semua kini terbuka di hadapannya.
Ziyue tersenyum. “Sembuhkan lukaku, Xuan.”
Ia menatap langsung ke mata Lin Xuan. “Gunakan apa pun yang kau butuhkan.”
Suaranya kemudian menjadi lebih lembut. “Dan jadilah pedangku.”
Lin Xuan menatap sang Putri Bintang tanpa menunjukkan perubahan sedikit pun di wajahnya.
Namun, di dalam hati, ia telah membuat perhitungan.
Dengan kedudukan ini, ia tidak perlu lagi mencari jalan untuk memasuki pusat kekuasaan Ras Dewa Kuno.
Pintu itu telah terbuka dengan sendirinya.
“Baik, Yang Mulia.”
Lin Xuan menundukkan kepala.
Di balik wajah tenangnya, senyum tipis seorang Kaisar Alkemis perlahan muncul.
Langkah pertamanya di Alam Primordial telah berhasil.
Tanpa disadari siapa pun, sang Putri Bintang baru saja menyerahkan kunci menuju seluruh rahasia Kota Suci Tianyu kepadanya.