NovelToon NovelToon
Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:972
Nilai: 5
Nama Author: Hello Ketty.

Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.

Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Sera berbaring sambil merentangkan tubuhnya di atas ranjang. "Hah... Enak sekali. Ini jauh lebih layak untukku daripada tempat yang kumuh seperti tadi itu," ucapnya pelan.

Saat ini ia sedang berada di kamar Adrian. Tiba-tiba ia mengendus-enduskan hidungnya, lalu memandang sekeliling ruangan dengan tatapan jijik.

"Aku tidak suka kamar ini. Baunya busuk, sama busuknya dengan pemiliknya. Tapi tidak apa-apa, malam ini aku akan tidur di sini dulu."

Sera bangun, lalu melangkah menuju pintu, memutar kunci memastikan pintu itu terkunci rapat supaya Adrian tidak bisa masuk dan mengganggunya.

Ia ingin menghabiskan malam panjang itu dengan beristirahat tenang, tanpa ada teriakan, makian, atau drama lagi yang mengganggu ketenangannya.

Sebelum terlelap, Sera meraih ponselnya dari meja samping tempat tidur dan segera menghubungi kakaknya.

"Halo, Kak? Bagaimana keadaan Kakak? Sudah merasa lebih baik?" Tanya Sera saat panggilannya terhubung.

"Sera, dari tadi Kakak coba menghubungimu berkali-kali, tapi kau tidak pernah mengangkatnya. Kau di mana saja, Sera? Kau membuat Kakak sangat khawatir." Bukannya menjawab, Sarah justru meluapkan kekhawatirannya.

"Sst... Jangan khawatir begitu, Kak. Aku baik-baik saja."

"Mereka tidak menyakitimu, kan, Dek? Katakan jujur pada Kakak."

"Tidak, Kak. Tenang saja. Tidak ada yang berani menyakitiku di sini."

"Apa karena ada Paman Sean di sana?"

"Ya, Paman Sean ada di sini."

"Pantas saja kau begitu tenang... Tapi dengarkan aku baik-baik, Dek. Bagaimana kalau Paman Sean pergi besok? Dia tidak pernah lama tinggal di rumah itu. Paling lama hanya dua hari saja, dan itu sudah termasuk sebuah keajaiban.

Biasanya hanya satu hari atau setengah hari saja dia sudah pergi lagi. Saat dia pergi, bahaya pasti akan mengintaimu, Dek. Aku takut mereka akan melampiaskan semua amarahnya sama kamu yang dia pikir aku."

Sera mendengar nada bicara kakaknya yang begitu cemas, takut sekali jika orang-orang jahat itu berani menyakitinya yang kini menggantikan posisi sang kakak.

"Sstt... Tenang dulu, Kak. Kakak lupa siapa aku? Jangan meremehkanku, aku pasti bisa mengatasinya. Kakak fokus saja pada kesembuhan dan merawat diri Kakak. Itu saja. Gunakan uang yang sudah aku berikan, uang itu tidak akan habis sampai beberapa tahun ke depan sekalipun Kakak berfoya-foya."

"Kakak diam dan tenang, aku akan baik-baik saja di sini," ucap Sera berusaha sekuat tenaga meyakinkan kakaknya.

"Baiklah, Dek... Kakak percaya sama kamu. Tapi ingat pesan Kakak, kalau ada hal buruk yang mulai mengancammu, segera tinggalkan rumah itu. Kita hidup tenang berdua saja, jauh dari mereka semua, Dek."

"Siap, Kakakku sayang. Istirahatlah sekarang."

 _____

Keesokan harinya, Sera tampak baru saja selesai mandi.

Ia sedang mengeringkan rambutnya, mengenakan celana panjang kain berwarna putih yang dipadukan dengan kaos hitam yang agak kebesaran di tubuhnya.

Sera memang sengaja memakai celana panjang dan pakaian yang menutupi seluruh kulitnya—alasannya sederhana: supaya tak ada yang menyadari kalau ditubuhnya tidak ada sedikit pun memar atau bekas siraman air panas di kulitnya.

Kalau sampai ia memakai celana pendek atau pakaian terbuka, pasti semua orang akan langsung curiga dan tahu bahwa dia bukanlah Sarah.

Setelah selesai mengeringkan rambut panjangnya yang bergelombang indah, Sera mengikatnya acak.

Melangkah keluar kamar hendak turun ke lantai bawah ingin melihat ada moment drama apa lagi hari ini.

Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti di tengah lorong. Pikirannya langsung tertuju pada Sean.

Apa pria itu sudah ingin pergi hari ini?

Ia pun berbalik arah, sengaja berjalan menyusuri lorong yang panjang. Di antara sekian banyak pintu kamar yang tampak sama dan biasa saja, ada satu pintu yang terlihat jauh lebih istimewa, berukuran lebih besar, dan dihiasi ukiran yang berbeda dari yang lain.

Sera menduga itu pasti kamar Sean.

Ia mengedarkan pandangan ke kiri dan kanan memastikan keadaan sepi, lalu perlahan mendorong gagang pintu itu—ternyata pintunya tidak dikunci.

Ia mengintip sedikit ke dalam, dan benar saja, ruangan itu terlihat sangat mewah dan megah, dihiasi perabotan kayu jati pilihan dengan design elegan.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Mata Sera seketika terbelalak kaget, jantungnya berdebar-debar.

Karena ternyata suara itu berasal dari belakang lehernya.

Sera berbalik perlahan dengan perasaan kaget yang tak terlukiskan, ia melihat Sean berdiri tegak menatapnya.

Tanpa sadar Sera mundur selangkah, tubuhnya sedikit kaku karena tak menyangka dia justru tertangkap basah.

"Kau mengintipku?" tanya Sean pelan namun tegas, matanya tak berkedip menatap wajah wanita di hadapannya.

Hati Sera sebenarnya bergejolak panik hebat, tapi ia segera menelan ludah dan berusaha menenangkan diri, lalu mulai menjalankan perannya sebaik mungkin.

"Tentu saja tidak, Paman... Sebenarnya aku memang sengaja ke sini karena ada yang ingin aku tanyakan," ucapnya, dengan raut wajah yang dibuat sesantai mungkin.

"Mau bertanya soal apa?" jawab Sean singkat, lalu melangkah masuk ke dalam kamar sambil memegang sebotol air minum—ternyata ia baru saja naik dari lantai bawah mengambil air minum.

Sera pun ikut melangkah masuk mengikuti punggung pria itu.

Belum sempat ia berpikir, pintu di belakangnya langsung tertutup rapat dengan sendirinya.

Sera melirik sekilas ke belakang, melihat pintu itu sudah tertutup rapat sempurna.

Berusaha menenangkan diri, saat membayangkan saat ini hanya ada mereka berdua di dalam kamar luas itu.

"Katakan?" tanya Sean, lalu duduk di sofa kulit yang terletak di sudut kamar sembari menunggunya berbicara.

Sera memutar otak. Sebenarnya dia sama sekali tidak ingin bertanya pada pria itu.

Tapi karena sudah terlanjur kedapatan mengintip, ia tak punya pilihan selain berbohong.

Tiba-tiba matanya menangkap sebuah kalender yang tergantung rapi di dinding kamar Sean. Sebuah ide tiba-tiba muncul di benaknya.

Sera melangkah mendekat dengan langkah pelan, lalu duduk tepat di samping Sean, menghadap sedikit ke arah pria yang masih menatapnya tenang dan sabar menunggu kata-katanya.

"Paman... Paman kan biasanya tidak pernah lama tinggal di sini kan?"

"Ya. Kenapa kau tiba-tiba bertanya soal itu?" Sean masih tenang menghadapi sikap aneh Sarah.

"Sekitar seminggu lagi... adalah hari ulang tahunku, Paman," ucap Sera sambil memasang wajah sedih yang dibuat-buat. Bahkan memaksa matanya agar terlihat berkaca-kaca.

Pura-pura menarik nafas, "Setiap kali ulang tahunku tiba, tidak ada satu pun orang di rumah ini yang mengucapkan selamat. Semuanya sibuk dengan urusan mereka sendiri. Apa Paman tidak bisa tinggal lebih lama di sini? Siapa tahu... Paman berbaik hati mau menemaniku makan malam, atau sekadar jalan-jalan belanja ke luar sebentar saja..."

Sera merutuki dirinya sendiri tentang ucapannya barusan. Omong kosong apa yang baru saja kau bicarakan, Sera? Kau gila? Kau terdengar seperti wanita yang ingin merayu pria.

Tapi tunggu! Dia kan sukanya sama batang, lantas apa yang perlu aku khawatirkan? Tentu saja dia tidak akan berpikiran yang aneh-aneh. Batin Sera dalam hati.

Sebenarnya apa yang dia katakan itu memang benar adanya. Seminggu lagi dia dan Sarah akan berulang tahun, memasuki usia 26 tahun.

"Intinya kau mau belanjakan? Nanti aku berikan saja uangnya. Kau tinggal pergi sendiri saja," ucap Sean sembari hendak berdiri setelah mendengar keluhan Sera.

Namun Sera sigap menahan lengannya dengan cepat.

"Paman, aku tidak butuh uang Paman. Aku hanya butuh ditemani. Aku hanya ingin ada seseorang yang peduli dan menemaniku...."

Sean mengerutkan dahi bingung mendengar ucapan itu. "Kalau begitu, ajak saja suamimu pergi, Sarah. Bukankah seharusnya dia yang menemanimu?"

Sera tiba-tiba menunduk, berusaha sekuat tenaga mengeluarkan air matanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!