Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!
Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!
IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Manis Sang Playboy
Malam makin larut, membiarkan angin dingin menusuk hingga ke tulang di pinggir jalan yang mulai lengang. Lampu-lampu jalanan kota memantulkan pendar kekuningan di atas aspal yang basah. Aku berdiri di trotoar sambil sesekali mengetukkan ujung sepatuku, memandangi layar ponsel yang terus menampilkan animasi pencarian pengemudi ojek daring yang tak kunjung didapatkan.
"Tapi ini udah malem! Perempuan kalo pulang malem-malem sendirian itu ga aman. Ayo ikut gue!"
Suara berat itu memecah keheningan malam. Aku mendongak, menemukan Varro berdiri hanya sejengkal dariku, bersedekap dengan jaket kulit hitam yang membingkai bahu lebarnya. Sorot matanya tajam dan tidak menerima bantahan.
"Ga perlu, Varro. Gue gapapa kok pulang malem-malem. Ojol gue bentar lagi juga dapet," sahutku menolak ajakannya dengan sopan, mencoba mempertahankan sisa kemandirianku meski badanku sudah cukup lelah.
Varro mengernyitkan dahi, matanya menyipit penuh keheranan. "Gisel, kenapa sih lo itu orangnya keras kepala banget jadi cewek?"
"Gue ga keras kepala, ya!" tegasku sambil melipat tangan di dada, menatap tajam langsung ke manik matanya. "Gue cuma ga mau nyusahin orang lain. Kita ga sedekat itu sampe lo harus repot-repot nganterin gue pulang."
"Tapi gue sama sekali ga berasa disusahin! Ayo ikut gue aja, susah amat sih ditawarin kebaikan!" serunya gemas.
Sebelum aku sempat membalas, jemari panjangnya dengan cepat merebut ponsel yang sedang kugenggam. Dengan refleks menyebalkan, ia mengangkat benda persegi itu tinggi-tinggi ke udara, memanfaatkan tinggi badannya yang menjulang jauh melebihi tinggiku.
"Varro! Kenapa lo main ambil HP gue, sih?! Balikin ga!" teriakku kesal luar biasa.
Aku berusaha menggapai ponselku, berjinjit, bahkan meloncat berkali-kali seperti orang frustrasi di pinggir jalan. Namun selisih tinggi badan kami membuat usahaku sia-sia. Tangannya yang panjang dengan santai menahan ponselku tetap jauh dari jangkauan.
"Lo mau HP lo balik?" tanyanya sambil mengulas senyum tipis yang sangat memancing emosi.
"Iya, balikin ke gue sekarang! Jangan main-main deh, Varro!" perintahku galak.
"Ambil sendiri kalo lo mau," sahutnya santai. Tanpa aba-aba, ia membalikkan badan, berjalan santai menuju mobil mewahnya, lalu menyalakan mesin. Ia masuk ke kursi pengemudi dan memakai sabuk pengaman, meninggalkan pintu penumpang sebelah kiri terbuka lebar.
Melihatnya melambai-lambaikan ponselku dari dalam mobil, aku sadar tak punya pilihan lain. Dengan langkah menghentak kesal, aku terpaksa ikut masuk dan membanting pintu. Setelah aku duduk dan memasang sabuk pengaman, Varro menyunggingkan senyum kemenangan dan menyerahkan kembali ponselku.
"Varro, kenapa sih lo harus PAKE ambil HP gue segala?!" tanyaku dengan nada tinggi.
"Kenapa? Gue 'kan udah balikin. Nyampai di tangan lo lagi, 'kan?" jawabnya santai.
"Ini namanya lo maksa gue buat ikut lo! Lo licik!" seruku tidak terima.
Varro menghela napas panjang, cengkeramannya pada setir kemudi mengencang. "Lagian lo mikir ga sih? Lo itu cewek, sendirian, mau naik motor malam-malam begini sama abang ojol yang ga lo kenal. Kalo di jalan lo diculik atau kenapa-napa, siapa yang mau tanggung jawab, hah?" tanyanya dengan nada kesal yang meluap.
"Lah, sekarang juga lo lagi nyulik gue!" bentakku tak mau kalah.
"Gue nyulik lo supaya gue bisa tanggung jawab sama keamanan lo malam ini!" serunya keras sambil menepuk setir mobilnya cukup kencang, membuat suaranya menggema di dalam kabin.
Aku tertegun sejenak melihat reaksinya. Suasana di dalam mobil mendadak tegang. "Yaudah, nyetir aja! Ngapain lo pake debat sama gue!" balasku menutupi kecanggunganku.
Varro menginjak pedal gas, melajukan mobil membelah jalanan malam kota dengan kecepatan sedang.
Topeng Badboy yang Perlahan Runtuh
"Alamat lo di mana?" tanya Varro kemudian, berpura-pura tidak tahu letak rumahku.
"Jalan Xxx Blok Xxx No. 12," jawabku. Varro langsung memasang Google Maps di dasbor mobilnya, membiarkan panduan navigasi mengisi kekosongan di antara kami.
Aku memperhatikannya dari samping. Postur tubuhnya yang tegap dan aroma parfum woody yang lembut memenuhi kabin. Rasa penasaran yang terpendam memicu keberanianku.
"Varro," panggilku pelan.
"Kenapa?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan, hanya mengusap alis kanannya.
"Lo suka banget ya anterin cewek-cewek pulang ke rumah?"
Gerakan tangannya di setir terhenti sejenak. Varro terdiam selama beberapa detik sebelum menoleh sekilas dengan tatapan tak percaya. "Lo pikir gue siapa, hah? Emang gue sekurang kerjaan itu sampe repot-repot anterin cewek-cewek pulang ke rumah mereka satu per satu?"
"Lah, terus ini lo lagi anterin gue pulang 'kan sekarang?" sahutku kaget.
"Iya, tapi gue bukan cowok gampangan yang suka anterin sembarang cewek pulang ke rumah!" jawabnya datar.
"Oh, ya? Bukannya lo playboy terkenal?" tanyaku menatap profil samping wajahnya yang tegas.
"Gue emang playboy, tapi itu dulu," jawab Varro sambil menghela napas panjang. "Lagian, gue cuma sekadar ngegodain cewek yang godain gue duluan. Adil, 'kan?"
"Ya itu mah sama aja lo playboy!" sahutku gemas dengan logikanya. "Tapi... 'itu dulu' maksudnya gimana?"
"Ya, dulu. Masa lalu," jawab Varro singkat.
"Cih," decakku acuh tak acuh, menyandarkan punggung ke jok mobil.
"Kenapa? Lo ga percaya sama gue?" tanyanya.
"Ga. Tapi ya... gue percaya-percaya aja deh biar cepat," jawabku.
"Gisel," panggil Varro. Kali ini suaranya merendah, terdengar begitu lembut.
"Apa?" sahutku.
"Lo ga nanya kenapa gue mau repot-repot anterin lo pulang malam ini?" tanyanya sambil melirikku dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Aku menahan napas sejenak, merasakan ada getaran aneh di dadaku. "Ga. Ngapain juga gue peduli sama alasan lo?" jawabku membuang muka ke arah jendela.
Varro menghela napas dalam-dalam. Wajahnya tampak jengkel, tetapi ia memilih untuk bungkam.
"Eh, tapi lo beneran bakal suruh geng lo buat mukul orang yang ganggu hidup lo?" tanyaku lagi, penasaran dengan rumor-rumor menakutkan tentangnya.
"Iya, itu juga dulu," jawabnya sambil mengangguk pelan.
"Dulu lagi?" tanyaku makin bingung.
Varro terkekeh pelan, senyum tipis terukir di sudut bibirnya. "Sekarang gue udah ketemu cewek galak kayak lo. Gimana gue mau mukul orang lagi? Ntar bukannya musuh gue yang bonyok, malah gue yang dipukul sama lo."
Pipiku mendadak hangat. Aku berdeham pelan menutupi rasa canggung. "Baguslah kalo lo tau itu. Gue pasti bakal kasih lo pelajaran kalo lo berani main fisik lagi."
"Terserah lo aja deh," balasnya tertawa halus.
"Varro..." panggilku lagi, suaraku kini jauh lebih tenang. "Setelah kita ngobrol panjang lebar kayak gini, gue rasa lo ga sejahat yang orang-orang bilang."
"Gue emang ga pernah jahat," sahutnya pelan. "Lo aja dari awal yang selalu ngecap gue orang jahat."
"Tapi reputasi lo itu udah badboy, terus playboy juga. Siapa pun pasti mikir lo cowok jahat," kataku beralasan.
"Iya," kata Varro, suaranya menjadi bisikan lirih yang sangat tulus. "Tapi karena sekarang lo udah mulai tau sedikit tentang diri gue yang sebenarnya... lo ga bakal mikir gue orang jahat lagi, 'kan?"
Aku menoleh padanya. Dalam pendar redup kabin, matanya tampak begitu berharap. "Iya. Gue ga mikir lo jahat lagi."
Pintu Mobil Terbuka dan Sensasi Desir di Dada
Sebuah senyuman lega mengembang di wajah Varro. Tak lama kemudian, mobil mewahnya perlahan berhenti sempurna tepat di depan pagar rumahku. Varro menghentikan gerakannya, diam menatap bangunan rumahku cukup lama dengan tatapan misterius.
"Gue turun dulu, ya. Makasih. Bye," kataku bersiap melepas sabuk pengaman.
Namun sebelum jemariku menyentuh kait, Varro dengan cepat melepaskan sabuk pengamannya sendiri dan membungkuk menyeberangi konsol tengah. Wajahnya berada begitu dekat dengan wajahku, membuat hembusan napas dan aroma parfumnya tercium jelas. Klik. Sabuk pengamanku terlepas oleh jemarinya.
"Tunggu di sini," sahutnya datar, lalu keluar dari mobil.
"Dia mau ngapain sih?" gumamku bingung sambil memegangi dadaku yang berdegup kencang.
Pintu di sisiku tiba-tiba terbuka dari luar. Varro berdiri di sana, membungkuk sedikit sambil mengulurkan satu tangannya bak pangeran. "Silakan turun, Gisel cantik," katanya dengan nada manis yang menyebalkan sekaligus membuat jantungku berdesir.
Aku melangkah keluar dengan pipi memerah. "Varro, makasih ya udah nganterin gue pulang sampai depan rumah malam ini. Good night."
"Good night too," sahutnya lembut dengan senyum lebar yang amat hangat.
Rolex Half-Billion dan Invasi Si Kembar
"Cici! Cowok ini pacarnya Cici, ya?!"
Suara nyaring Glenn tiba-tiba memecah momen di antara kami. Adik kembarku itu sudah berdiri di depan pintu rumah yang terbuka separuh, menatap kami dengan mata membulat penuh rasa ingin tahu. Varro yang tadinya hendak berbalik langsung membeku di tempat.
"Bukan, Glenn! Dia itu..." jawabku panik dengan wajah yang terasa makin memanas.
"Oh, jadi dia temen barunya Cici, ya?" potong suara mungil Gwen yang baru saja muncul menyusul saudaranya.
"Iya, Gwen. Dia temen Cici," sahutku cepat sambil tersenyum manis pada kedua adikku.
"Halo, Koko! Nama aku Gwen, dan yang nakal itu nama dia Glenn. Nama Koko siapa?" tanya Gwen ramah sambil menyunggingkan senyum polosnya.
Varro menatap kedua bocah kembar itu dengan binar mata yang melunak. Tanpa ragu sedikit pun, cowok badboy yang ditakuti di sekolah itu melangkah mendekati Gwen, lalu berlutut di atas paving blok teras untuk menyamakan tingginya dengan Gwen.
"Halo Gwen... Nama Koko, Varro," jawabnya lembut sambil mengelus pelan puncak kepala Gwen.
Gwen menatap Varro dengan mata berbinar-binar, lalu matanya tertuju pada pergelangan tangan kiri Varro. "Koko Varro, gelang yang dipakai Koko bagus banget! Ini gelang apa?"
Varro terkekeh renyah. "Ini bukan gelang, Gwen. Ini namanya jam tangan. Koko pakai jam tangan merek Rolex."
Hah?! Rolex?! Gila ya ini cowok! teriakku heboh dalam hati.
"Eh, Varro! Lo beneran pakai Rolex yang asli?!" tanyaku melotot menatap jam tangan mewah berbahan stainless steel premium yang berkilau di bawah lampu teras.
Varro mendongak menatapku dari posisinya yang masih berlutut, wajahnya berubah menjadi raut sewot yang dibuat-buat. "Ya iyalah! Masa gue pake Rolex KW?"
"Bukan gitu... tapi harganya berapaan?!" tanyaku makin penasaran.
"500 juta," jawab Varro santai tanpa beban sedikit pun. "Kenapa? Lo mau juga?" tanyanya menatap lekat wajahku dengan senyum godaan yang jahil.
"Engga! Gue cuma nanya doang!" jawabku cepat sambil menggelengkan kepala keras-keras.
"Koko Varro! Ayo masuk, main sama Gwen!" seru Gwen tiba-tiba sambil memegang dan menggoyangkan tangan kanan Varro.
"Iya, Koko! Main sama Glenn juga di dalam! Glenn ada pistol-pistolan baru di kamar!" seru Glenn bersemangat, ikut menarik tangan Varro yang satunya lagi.
Varro tertawa lepas melihat kelakuan polos kedua adikku, lalu melirikku dengan tatapan jenaka. Sementara aku hanya bisa menepuk jidatku sendiri, meratapi nasib malam ini yang sepertinya masih jauh dari kata selesai.
Bersambung......