NovelToon NovelToon
Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:378
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.

Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15. Tugas di Ibu Kota

Ibu kota Chang'an di musim dingin terasa seperti kota yang terbuat dari es dan sutra, karena di satu sisi tembok istana yang tinggi menjulang berkilau karena salju yang tidak pernah benar-benar mencair di bayangannya, dan di sisi lain jalanan penuh dengan pedagang yang menjual kain mahal, teh terbaik, dan informasi yang harganya lebih mahal daripada emas, sehingga Tang Hyun yang masuk melalui gerbang selatan dengan identitas sebagai tabib keliling dari Sichuan harus berhati-hati dalam setiap langkahnya, karena di tempat ini satu kata yang salah bisa membuat kepalanya dipenggal di alun-alun, dan satu gerakan yang mencurigakan bisa membuat seluruh Klan Tang disalahkan dan diburu oleh seluruh biro istana.

Dia tidak datang sendiri, Tang So-yeon ikut, menyamar sebagai adik perempuannya, mengenakan jubah biru pucat sederhana dan membawa keranjang obat, tetapi di balik lengan bajunya ada sepuluh jarum dan di dalam ikat rambutnya ada bubuk racun yang bisa melumpuhkan satu ruangan dalam tiga detik, karena mereka berdua tahu bahwa tugas kali ini jauh lebih berbahaya daripada membunuh Liu Cheng di Chengdu, karena targetnya kali ini adalah Menteri Perdagangan Kekaisaran, Tuan Wei Zhong, seorang pria berusia lima puluh tahun yang mengendalikan seluruh jalur distribusi obat di wilayah utara dan yang sudah tiga kali menolak proposal Klan Tang untuk membuka toko resmi di Chang'an.

"Tidak boleh ada jejak," kata Tetua Ketiga sebelum mereka berangkat, "tidak boleh ada saksi, dan tidak boleh ada yang tahu bahwa ini Klan Tang. Jika gagal, kalian mati. Jika ketahuan, Klan mati."

Kalimat itu terus terngiang di kepala Tang Hyun selama perjalanan sepuluh hari, karena dia sudah terbiasa membunuh di luar kota, di tempat sepi, tetapi membunuh di dalam istana, di jantung kekaisaran, adalah hal yang berbeda, karena di sini setiap sudut ada mata, setiap pelayan bisa jadi mata-mata, dan setiap tabib bisa jadi musuh.

Mereka tiba di Chang'an pada malam hari, dan langsung menginap di penginapan kecil di distrik barat, tempat yang kotor tetapi aman karena tidak ada bangsawan yang mau datang ke sana, dan malam pertama mereka habiskan untuk mengamati, memetakan rute patroli, dan menghafal wajah semua penjaga gerbang istana yang keluar masuk.

"Rencananya?" tanya Tang So-yeon sambil menyeduh teh.

"Racun," jawab Tang Hyun singkat, "tapi bukan Senandung Kematian. Terlalu mencolok. Kita pakai 'Napasku Dingin', racun yang membuat orang mati seperti terkena angin malam, paru-paru membeku perlahan selama lima hari."

"Dan bagaimana caranya agar dia meminumnya?"

Tang Hyun tersenyum tipis, "Dia sakit asam urat. Dan dia sangat percaya pada tabib baru. Kita jadi tabib baru itu."

Rencana itu gila, tetapi bekerja, karena dua hari kemudian Tang Hyun berhasil menyusup ke barisan tabib istana dengan memalsukan surat rekomendasi dan menyuap seorang pejabat kecil dengan dua botol racun yang bisa membuat seseorang tampak sakit selama sebulan tanpa meninggalkan kerusakan permanen, dan begitu dia masuk, dia langsung ditugaskan untuk memeriksa Tuan Wei Zhong yang memang sedang terbaring di rumahnya di distrik timur karena kakinya bengkak.

Rumah itu besar, dijaga oleh dua puluh prajurit, dan di dalam ada tiga tabib lain yang semuanya berasal dari Sekte Pengobatan, sehingga Tang Hyun harus berpura-pura bodoh, banyak bertanya, dan tidak menunjukkan kemampuan apa pun, karena orang pintar di istana biasanya mati lebih cepat.

Hari pertama dia hanya memeriksa nadi dan memberi ramuan biasa, hari kedua dia menambahkan satu tetes "Napasku Dingin" ke dalam obatnya, tetes yang tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak akan terdeteksi bahkan oleh tabib terbaik sekalipun, dan hari ketiga dia berpura-pura pamit karena ada "kasus darurat di luar kota".

Tuan Wei Zhong mulai memburuk di hari keempat, batuk, demam, dan napasnya pendek, dan semua tabib panik karena tidak ada yang tahu apa yang terjadi, dan pada hari kelima, ketika Tang Hyun sudah berada di luar kota bersama Tang So-yeon, berita datang bahwa Menteri Wei Zhong meninggal dalam tidurnya, penyebabnya adalah "angin dingin yang masuk ke paru-paru".

Sempurna. Tidak ada jejak. Tidak ada saksi.

Mereka seharusnya langsung kembali ke Sichuan, tetapi sebelum mereka bisa keluar dari gerbang kota, gerbang ditutup, dan pengumuman dikumandangkan: "Menteri Wei Zhong meninggal karena diracun. Siapa pun yang meninggalkan kota akan ditangkap dan diinterogasi."

Seseorang tahu, atau setidaknya curiga, dan sekarang seluruh Chang'an sedang dibalik.

"Kita harus keluar malam ini," kata Tang So-yeon dengan wajah tegang, "kalau menunggu besok, kita akan ketahuan."

Malam itu mereka mencoba melompati tembok, tetapi di atas tembok ada pemanah, dan di jalan ada patroli, sehingga mereka terpaksa kembali ke penginapan dan bersembunyi di ruang bawah tanah tempat pemilik penginapan menyimpan anggur.

Tiga hari mereka bersembunyi, makan hanya dengan roti kering dan air, dan setiap malam mereka bisa mendengar suara langkah prajurit di atas kepala, memeriksa setiap kamar, setiap tong, setiap lubang.

Di hari keempat, pemilik penginapan ditangkap dan disiksa sampai mati karena dituduh menyembunyikan pembunuh, dan Tang Hyun tahu bahwa waktu mereka hampir habis.

"Kita harus keluar dengan cara lain," kata Tang Hyun, "melalui selokan."

Selokan di Chang'an besar dan kotor, mengalir ke luar kota, dan meskipun baunya mengerikan, itu adalah satu-satunya jalan yang tidak dijaga, sehingga mereka menunggu sampai tengah malam, lalu masuk ke dalam air hitam yang dingin sampai ke tulang, berenang selama dua jam dengan menahan napas setiap kali ada suara di atas.

Mereka berhasil keluar di luar tembok, kotor, basah, dan hampir mati kedinginan, tetapi hidup, dan tanpa membuang waktu mereka langsung menunggang kuda dan berlari ke arah Sichuan.

Namun pelarian itu tidak semulus yang mereka kira, karena di tengah hutan, dua puluh li dari kota, mereka dihadang.

Bukan oleh prajurit istana, melainkan oleh orang-orang bertopeng hitam, pembunuh dari Sekte Iblis, dan di depan mereka berdiri seorang pria bertubuh besar dengan bekas luka di wajah, seseorang yang Tang Hyun kenali dari laporan intelijen Klan Tang, "Jari Besi" Han Luo, salah satu dari Empat Jenderal Bawah Tanah Sekte Iblis.

"Klan Tang," kata Han Luo sambil tertawa, "kami sudah menunggu kalian. Tuan kami ingin berbicara dengan Anak Racun."

"Aku tidak punya waktu untuk bicara," jawab Tang Hyun sambil mengeluarkan jarum.

"Tidak punya pilihan," kata Han Luo, dan dia memberi isyarat, dan pertarungan pecak.

Dua puluh lawan dua, di tengah hutan, di malam hari, dan Tang Hyun serta Tang So-yeon bertarung dengan semua yang mereka punya, Tang Hyun menggunakan racun, kabut, dan darahnya, sementara Tang So-yeon bergerak seperti bayangan, membunuh enam orang dalam waktu satu menit dengan jarum yang mengenai titik vital.

Tapi jumlah mereka terlalu banyak, dan setelah sepuluh menit, Tang Hyun tertusuk di bahu oleh tombak, dan Tang So-yeon terluka di lengan, dan mereka terpaksa mundur ke dalam hutan, berlari sambil dikejar.

"Kau bisa terus?" tanya Tang So-yeon sambil menyeret Tang Hyun.

"Aku harus," jawab Tang Hyun dengan gigi terkatup, "kalau tidak, kita mati di sini."

Mereka berlari selama satu jam sampai akhirnya mencapai sebuah gua kecil, dan di sana mereka berhenti untuk mengobati luka, dan Tang Hyun menggunakan penawar dari Baek Seolhwa untuk menetralkan racun yang mungkin ada di tombak itu.

"Kenapa Sekte Iblis menginginkanmu?" tanya Tang So-yeon sambil membalut bahunya.

"Aku tidak tahu," jawab Tang Hyun, "mungkin karena aku terkenal. Atau mungkin karena mereka ingin Klan Tang dan istana saling membunuh."

Tang So-yeon mengangguk, "Kita harus kembali ke Klan dan melaporkan ini. Ini sudah bukan masalah pembunuhan biasa lagi."

Mereka beristirahat selama dua jam, lalu melanjutkan perjalanan, dan kali ini mereka tidak melalui jalan utama, melainkan melalui pegunungan, melewati desa-desa kecil, tidur di kuil terbengkalai, dan selalu berjaga-jaga, karena mereka tahu bahwa Sekte Iblis tidak akan menyerah semudah itu.

Perjalanan yang biasanya sepuluh hari menjadi dua puluh hari, dan ketika mereka akhirnya tiba di gerbang Klan Tang, keduanya sudah kurus, pucat, dan penuh luka baru.

Tetua Ketiga mendengarkan laporan mereka dengan wajah gelap, "Jadi Sekte Iblis terlibat. Dan istana sekarang mengawasi kita."

"Ya," jawab Tang Hyun, "tugas selesai, tetapi kita meninggalkan jejak."

"Tidak apa-apa," kata Tetua Ketiga, "karena mulai sekarang, kita tidak perlu lagi bersembunyi. Saatnya Klan Tang menunjukkan taring."

Seminggu setelah mereka kembali, surat resmi dari istana datang, isinya adalah tuduhan pembunuhan terhadap Klan Tang, dan juga perintah untuk mengirim perwakilan ke pengadilan kekaisaran dalam waktu satu bulan, jika tidak, maka Klan Tang akan dinyatakan sebagai musuh negara.

Aula menjadi ribut, beberapa Tetua ingin melawan, beberapa ingin bernegosiasi, dan akhirnya diputuskan bahwa Tang Hyun akan pergi, sebagai perwakilan, karena dialah yang melakukan tugas itu, dan jika dia mati, maka Klan tidak kehilangan banyak.

"Ini jebakan," kata Tang So-yeon ketika mendengar keputusan itu.

"Aku tahu," jawab Tang Hyun, "tapi aku harus pergi."

"Aku ikut," kata Tang So-yeon.

"Tidak," kata Tang Hyun, "kali ini aku pergi sendiri. Jika aku tidak kembali, maka Nona harus menjaga Klan."

Tang So-yeon menatapnya lama, "Kau bodoh."

"Mungkin," kata Tang Hyun sambil tersenyum, "tapi aku sudah terbiasa menjadi bodoh."

Tiga hari kemudian, dia berangkat ke ibu kota lagi, kali ini dengan rombongan resmi Klan Tang, membawa bendera, membawa surat, dan membawa racun di setiap kantongnya, karena dia tahu bahwa pengadilan kekaisaran bukan tempat untuk berunding, melainkan tempat untuk bertahan hidup.

Setibanya di Chang'an, dia langsung dibawa ke aula pengadilan, tempat para pejabat tinggi duduk di kursi tinggi dan menatapnya seperti menatap binatang, dan di tengah aula, peti mati Tuan Wei Zhong diletakkan sebagai bukti.

"Berlutut," kata hakim.

Tang Hyun berlutut, tetapi punggungnya tetap tegak.

"Kau dituduh membunuh Menteri Wei Zhong dengan racun," kata hakim, "apa pembelaanmu?"

Tang Hyun mengangkat kepala, "Saya tidak membunuhnya. Saya hanya seorang tabib yang mencoba menyembuhkannya. Jika dia mati, maka itu karena takdir, bukan karena saya."

"Berani!" teriak seorang pejabat, "Kami punya saksi yang melihatmu masuk ke kamarnya!"

"Saksi itu dibayar," jawab Tang Hyun tenang, "oleh orang yang ingin menjatuhkan Klan Tang. Tanyakan pada mereka, siapa yang paling diuntungkan dari kematian Menteri Wei."

Aula menjadi gaduh, dan hakim memukul meja, "Diam!"

Persidangan berlangsung selama tiga hari, penuh dengan tuduhan, bukti palsu, dan ancaman, dan di hari ketiga, ketika Tang Hyun hampir dinyatakan bersalah, pintu aula terbuka, dan masuklah seorang wanita muda berpakaian putih, membawa surat dengan segel kekaisaran.

"Perintah dari Putri Mahkota," kata wanita itu, "kasus ini ditunda. Klan Tang diberi waktu tiga bulan untuk membuktikan bahwa mereka tidak bersalah."

Semua orang terkejut, karena Putri Mahkota tidak pernah ikut campur urusan seperti ini, dan Tang Hyun tahu bahwa ini bukan kebetulan, seseorang di dalam istana melindunginya.

Dia dibebaskan dengan syarat tidak boleh meninggalkan kota, dan dia ditempatkan di rumah tamu milik istana, diawasi oleh dua puluh penjaga.

Malam itu, ketika dia sendirian di kamarnya, jendela terbuka, dan masuklah seorang wanita bertopeng.

"Siapa kau?" tanya Tang Hyun sambil bersiap.

"Lepaskan topeng itu," kata wanita itu, dan dia melepas topengnya, memperlihatkan wajah yang dikenal Tang Hyun, Baek Seolhwa.

"Kau?" Tang Hyun terkejut, "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku yang meminta Putri Mahkota untuk menundanya," jawab Baek Seolhwa, "karena aku tidak ingin melihatmu mati di pengadilan seperti penjahat."

"Kenapa kau membantuku?"

"Karena aku berutang padamu," jawab Baek Seolhwa, "dan juga karena... aku tidak ingin dunia ini kehilangan satu-satunya orang yang bisa melawanku dengan adil."

Tang Hyun terdiam, "Kau mempertaruhkan nyawamu untukku."

"Aku tahu," kata Baek Seolhwa, "sekarang dengarkan. Ada orang di dalam istana yang bekerja sama dengan Sekte Iblis. Orang itu yang membunuh Wei Zhong dan menyalahkanmu. Namanya... aku tidak bisa bilang sekarang. Tapi aku akan mencari tahu."

"Kenapa kau memberitahuku ini?"

"Karena aku percaya padamu," jawab Baek Seolhwa, "jangan mati, Tang Hyun. Dunia ini masih butuh monster sepertimu."

Dia pergi melalui jendela, dan Tang Hyun duduk di tempat tidurnya, memikirkan kata-kata itu.

Tiga bulan kemudian, bukti baru muncul, seorang pejabat ditangkap karena bekerja sama dengan Sekte Iblis, dan tuduhan terhadap Klan Tang dicabut.

Tang Hyun kembali ke Klan Tang sebagai pahlawan, bukan karena dia menang di pengadilan, tetapi karena dia selamat, dan di Klan Tang, selamat adalah kemenangan terbesar.

Malam kepulangannya, ada jamuan kecil, dan Tetua Ketiga menepuk bahunya, "Kau melakukan lebih dari yang aku harapkan."

Tang Hyun hanya mengangguk, karena dia lelah.

Setelah jamuan, dia naik ke atap dan duduk sendirian, dan tidak lama kemudian Tang So-yeon datang dan duduk di sampingnya.

"Jadi?" tanya Tang So-yeon.

"Aku hidup," jawab Tang Hyun.

"Bagus," kata Tang So-yeon, "karena kalau kau mati, siapa yang akan membuatkan aku teh?"

Tang Hyun tertawa kecil, tawa pertama yang tulus setelah sekian lama.

Di kejauhan, bulan bersinar terang di atas atap Klan Tang, dan Tang Hyun tahu bahwa perang dengan istana belum selesai, perang dengan Sekte Iblis baru dimulai, dan perang di dalam dirinya sendiri juga belum berakhir.

Tetapi untuk malam ini, dia hanya ingin duduk di sini, minum teh, dan tidak memikirkan siapa yang harus dia bunuh besok.

Karena bahkan monster pun berhak untuk beristirahat, meskipun hanya satu malam.

1
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
Mengesankan... 🤗
Oppojaya
👍👍👍👍
Arni Arlinawati Pratiwi💃
punya banyak dendam thor.. mc nya di bikin kesiksa dulu, lanjutan nya balas dendam.. kebiasaan author urban nih, sekali kali ada cinta cinta an nya thor kasian mc nya taku metong gak ngerasaain mencintai seseorang.. kan sian. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
baru aja masuk thor.. tiba tiba nyesek, /Facepalm/
Chandra Arbara
seorang pemuda yang terlehir kembali, untuk menjadi seseorang yang layak berdiri didunia murim
the virtuso
saling support thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!