Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kesal
Nenek itu kembali dan menghentikan percakapan kami berdua. Beliau duduk di antara kami sambil menatap kami bergantian.
"Sedang membicarakan apa ini? Sudah dekat saja ya," tanya nenek itu lembut.
"Enggak kok, Nenek," jawabku sambil tersenyum tipis kepada nenek, berusaha menyembunyikan rasa kesal yang tadi muncul.
"Hati-hati saja, Nek, dengan gadis ini," ucap Lucas tiba-tiba dengan nada dingin.
Rasa kesalku langsung meluap mendengar ucapannya. "Apa-apaan sih? Saya bukan mau mencuri apa pun atau merampok, tahu!" sahutku tak tahan lagi.
"Bohong," balasnya singkat.
"Sudah, sudah, Lucas. Kamu ini malah mengganggu saja. Sudah, sana, pergi," pinta nenek itu tegas kepada cucunya.
Lucas akhirnya diam dan mundur sedikit. Aku pun tersenyum tipis, namun senyuman itu sedikit mengejek ke arahnya, seolah berkata: Lihat, Nenek lebih percaya padaku daripada padamu. Lucas melihat senyumanku itu, namun ia hanya mendengus pelan lalu berpaling pergi.
"Nek, saya kembali dulu ya. Mau lanjut bekerja," pamitku sambil berdiri.
"Iya, yasudah, Nak. Terima kasih sudah mengantar Nenek. Ini Nenek ada sedikit uang untukmu..." Nenek itu merogoh saku tasnya hendak memberikan sesuatu kepadaku.
Aku langsung menahan tangan beliau dengan lembut. "Sudah, tidak usah, Nenek. Tidak usah. Nenek simpan saja." Aku tersenyum tulus, lalu membungkuk hormat berpamitan kembali kepada nenek itu.
"Sampai jumpa dulu ya, Nenek."
"Iya, kamu hati-hati di jalan ya, Nak."
Aku pun berjalan keluar dari rumah itu. Namun sebelum aku sempat membuka pagar, Lucas tiba-tiba menghampiriku dengan langkah cepat, membuat langkah kakiku terhenti seketika.
"Ini uang," ucapnya singkat sambil menyodorkan segepok uang kertas.
"Tidak, tidak usah," tolakku tegas.
"Ambil saja," katanya dingin, lalu dengan kasar ia melemparkan uang itu ke arahku. Uang itu berjatuhan berserakan di lantai depan pagar rumahnya.
Perlakuan itu membuat darahku mendidih. "Apa-apaan sih! Mentang-mentang kau orang kaya dan berkuasa, jadi seenaknya memberi uang kepada orang yang lebih rendah darimu dengan cara seperti ini? Dasar sampah!" seruku dengan suara bergetar karena menahan amarah.
Aku pun bergegas melangkah keluar dari rumah itu tanpa memungut selembar pun uang yang berjatuhan di bawah. Lucas hanya terdiam di tempat, mendengarkan setiap kata-kataku tanpa berani membantah sedikit pun. Aku segera keluar dari rumah pria yang tidak jelas itu, meninggalkan uang itu di sana berserakan tanpa peduli. Dengan perasaan yang masih kesal dan panas, aku menyalakan mesin vespa dan mengebut di sepanjang jalan, ingin segera menjauh dari tempat itu dan dari sosok pria yang begitu angkuh dan tidak tahu berterima kasih.
Aku kembali ke kafe dengan wajah yang tidak menyenangkan. Hatiku masih panas, kesal luar biasa, rasanya ingin sekali melampiaskan kemarahanku kepadanya.
"Sudah sampai, El?" tanya Bagus menyambutku.
"Sudah!" jawabku ketus dan kesal, sambil meletakkan tasku di atas meja dengan cukup kasar hingga berbunyi nyaring.
Bagus dan Vina saling berpandangan, lalu menatapku bergantian dengan wajah penuh keheranan. Mereka belum pernah melihatku semarah ini sebelumnya, sehingga keduanya terdiam sejenak, takut untuk bertanya lebih dulu.
"Sudah, biarkan dia tenang dulu," bisik Vina kepada Bagus pelan.
"Seram juga ya kalau marah," balas bisik Bagus sambil menahan tawa.
"Kamu ini malah tertawa!" seru Vina sambil memukul pelan lengan Bagus, namun wajahnya pun ikut tersenyum melihat tingkah kawan-kawannya itu.
Aku mendengar semuanya, namun aku tidak menoleh sedikit pun. Biarlah mereka berkata apa saja, hatiku masih terlalu panas untuk sekadar bercanda saat ini. Aku berusaha menenangkan diriku sendiri sambil merapikan meja dengan kasar, berharap rasa kesal itu perlahan hilang bersama gerakanku.
Mereka pun kembali bekerja, dan hari itu berlalu hingga sore tanpa banyak percakapan di antara kami. Saat waktunya pulang tiba, Vina berpamitan kepadaku.
"Sampai jumpa besok ya, El."
Biasanya ia akan banyak bicara dan bercanda, namun hari ini melihatku yang masih terlihat kesal, ia tidak berani banyak berkata-kata. Begitu juga dengan Bagus, ia hanya tersenyum tipis dan melambaikan tangan tanpa menambah satu patah kata pun. Keduanya seakan memahami bahwa aku sedang tidak ingin diganggu, sehingga mereka membiarkanku menenangkan diri sendiri.
Aku pun pulang ke rumah dengan langkah yang terasa berat. Sungguh hari yang melelahkan sekali. Belum selesai menghadapi pelanggan yang tidak tahu terima kasih tadi, ditambah lagi harus berhadapan dengan pria dingin yang kelakuannya benar-benar tidak masuk akal itu. Rasanya energiku seakan tersedot habis, dan hanya keinginan untuk segera beristirahatlah yang tersisa di kepalaku. Aku melangkah masuk ke rumah dengan harapan di sini, di tempat yang paling tenang bagiku, segala rasa lelah dan kesal itu perlahan akan sirna
"Sudah pulang, El?" sapa Ibu saat melihatku masuk.
"Sudah, Bu. Mau mandi dulu," jawabku singkat sambil tersenyum tipis.
"Ya sudah, kamu mandi dulu, lalu makan," ujar Ibu lembut.
Aku pun berjalan menuju kamar mandi, melepaskan pakaian kerjaku satu per satu dengan gerakan yang terasa lamban karena tubuh sungguh terasa berat sekali hari ini. Aku membuka keran air dingin dan membiarkannya membasahi seluruh tubuhku, berharap rasa panas di kepala serta segala rasa kesal dan lelah yang menumpuk seharian ini ikut terhanyut bersama air yang mengalir. Namun betapa pun dinginnya air itu, rasa jengkel di hatiku tak kunjung benar-benar hilang. Bayangan wajah dingin Lucas terus saja muncul di benakku, tatapannya yang penuh curiga, ucapannya yang meremehkan, hingga perbuatannya yang melemparkan uang seakan aku ini pengemis. Belum lagi pasangan pelanggan yang sombong dan tidak tahu berterima kasih tadi pagi. Rasanya sungguh terlalu banyak hal berat yang harus kuhadapi dalam satu hari saja.
Setelah selesai mandi, aku mengenakan pakaian santai yang nyaman dan berjalan menuju ruang makan. Di sana, Ibu sudah menungguku dengan hidangan yang masih mengepul hangat di atas meja. Aroma masakan rumah yang sederhana namun harum itu seketika membuat perutku terasa lapar, sekaligus membuat mataku terasa sedikit panas karena terharu. Di mana pun aku berada, bagaimanapun keadaanku, Ibu selalu ada menungguku dengan makanan hangat dan senyum yang meneduhkan.
"Ayo makan, Nak," ajak Ibu lembut sambil menyendokkan nasi ke piringku.
"Makasih, Bu," jawabku lirih, duduk di hadapan beliau dan mulai menyuap makanan itu pelan-pelan.
"Kenapa wajahmu seperti terlihat berat? Ada apa hari ini di tempat kerjamu?" tanya Ibu pelan namun penuh perhatian, matanya menatapku lekat seakan dapat membaca apa yang tersembunyi di hatiku.
Aku menghela napas panjang, meletakkan sendokku sejenak, lalu mulai menceritakan semuanya kepada Ibu. Aku bercerita tentang nenek tua yang datang ke kafe, tentang pasangan pelanggan yang kasar hingga nenek itu jatuh, tentang uang lima ratus ribu yang kugunakan sendiri untuk mengganti kesalahan yang bukan milikku. Aku juga bercerita tentang sepuluh burger yang dipesan nenek itu, permintaannya untuk kuantar pulang, hingga kediaman megah berwarna hitam maroon yang ternyata milik cucunya. Dan terakhir, aku bercerita tentang Lucas — pria misterius yang selama ini selalu muncul di hadapanku, yang ternyata adalah cucu nenek itu, bagaimana ia menuduhku hendak memanfaatkan neneknya, dan bagaimana ia melemparkan uang ke arahku seakan aku ini tidak punya harga diri.
Ibu mendengarkan ceritaku sepenuhnya tanpa memotong sepatah kata pun. Wajahnya berubah serius perlahan-lahan saat mendengar bagian tentang perlakuan Lucas kepadaku. Tangannya yang lembut menggenggam tanganku di atas meja makan.
"Kau sudah melakukannya dengan benar, El. Menolong orang yang membutuhkan itu tidak pernah salah," ucap Ibu tegas namun lembut setelah aku selesai bercerita. "Dan kau juga benar menolak uangnya. Harga diri jauh lebih berharga daripada selembar uang berapa pun jumlahnya. Pria itu mungkin kaya raya, tetapi hatinya miskin sekali jika ia tidak tahu cara menghargai orang lain."
"Tetapi Bu... rasanya sakit sekali diperlakukan begitu. Aku hanya berbuat baik, kenapa malah dituduh dan dihina?" keluhku tak kuasa menahan air mata yang mulai menggenang.
"Itulah ujian kebaikan, Nak. Tidak semua orang memandang kebaikan dengan cara yang sama. Ada yang mengerti nilainya, tetapi ada pula yang tidak. Namun jangan pernah kau jadikan alasan untuk berhenti berbuat baik ya. Suatu hari nanti pasti akan ada balasan yang indah atas ketulusan hatimu itu."
Aku mengangguk pelan, menyeka air mataku. Nasihat Ibu bagai obat penenang yang paling ampuh. Rasa sesak di dadaku perlahan terasa lega. Mungkin memang benar, aku tidak perlu memedulikan apa yang dikatakan atau diperbuat orang lain selama aku tahu di hatiku aku tidak salah.
"Sudah jangan sedih lagi ya. Makanlah, nanti nasinya dingin," hibur Ibu sambil tersenyum hangat.
Aku pun kembali melanjutkan makanku, kali ini dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Makanan buatan Ibu rasanya terasa jauh lebih nikmat dari biasanya, seakan setiap suapannya membawa ketenangan baru ke dalam hatiku.
Setelah selesai makan, aku membantu Ibu membereskan meja dan mencuci peralatan makan. Malam itu kami duduk bersama di ruang tengah, berbincang santai tentang hal-hal ringan agar pikiranku tidak kembali berat. Ibu bercerita tentang tetangga yang baru saja berpulang, tentang sayur mayur di pasar yang sedang murah, tentang hal-hal kecil yang sederhana namun terasa begitu berharga bagiku. Aku menyadari bahwa di tengah segala kerumitan dan kebingungan yang datang silih berganti, momen sederhana seperti inilah yang menjadi alasan terkuat bagiku untuk tetap tegar dan terus melangkah.
Saat malam semakin larut, aku pun berpamitan untuk beristirahat. Sebelum masuk ke kamar, aku menoleh sejenak ke arah Ibu yang sedang merapikan kain sarung di kursi ruang tengah.
"Selamat malam, Bu. Terima kasih sudah mendengarkan El," ucapku tulus.
Ibu menoleh dan tersenyum manis, senyum yang selalu mampu membuatku merasa aman. "Selamat malam, Ndok. Tidurlah yang nyenyak. Besok pasti hari yang lebih baik."
Aku masuk ke kamarku, merebahkan tubuhku di atas kasur empuk yang terasa begitu nyaman malam ini. Aku memejamkan mata, membayangkan wajah nenek yang baik hati meski cucunya begitu kasar, membayangkan senyum Ibu yang menenangkan, serta ucapan Vina dan Bagus yang peduli padaku. Perlahan-lahan semua itu mengusir bayangan wajah dingin Lucas dari kepalaku. Biarlah dia dengan angkuhnya, pikirku. Yang penting aku tahu siapa diriku dan apa yang kulakukan itu benar. Besok adalah hari baru, dan aku akan tetap berdiri tegak dengan kepala terangkat tinggi.
Dengan perasaan yang damai akhirnya aku terlelap, berharap mimpi indah menyambut istirahatku malam ini.