ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Mobil sport mewah milik Moreno melambat, lalu berbelok mulus masuk ke area parkir sebuah kafe kekinian yang lokasinya tidak jauh dari gerbang kampus. Mesin mobil berderu pelan sebelum akhirnya mati total.
Luna, yang sudah tidak sabar ingin segera mengisi perutnya yang kosong, langsung mengulurkan tangan untuk membuka gagang pintu mobil.
Namun, sebelum jemarinya sempat mendorong pintu terbuka...
SSTT!
Sebuah tangan kokoh tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya dengan cepat dan menariknya kembali.
Luna terperanjat kaget, menoleh dengan mata membelalak. "Eh?! Ada apa lagi, Ren?" tanyanya protes.
Bukannya menjawab, Moreno malah menarik tangan Luna lebih kuat hingga tubuh gadis itu tergeser mendekat.
"Naik kepangkuan gue"
"Hah?! Apa-apaan?!" pekik Luna tertahan, wajahnya langsung merona merah padam.
"Gila lo yaa! Ini di tempat parkir kafe, Reno! Kalau ada orang yang—"
"Gue nggak peduli," potong Moreno dengan suara tegas dan mutlak. Manik abu-abunya menatap Luna tajam tanpa celah kompromi.
"Cepat pindah ke sini, atau hukuman lo bakal bertambah."
"H-hukuman?!" Luna melongo tak percaya. "Hukuman apa lagi sih?!"
"Lo bikin lidah gue hampir mati rasa gara-gara nasi goreng asin bikinan lo tadi pagi," desis Moreno dingin seraya mempererat cengkeramannya di pinggang Luna.
"Itu bentuk sabotase, Luna. Dan seorang tahanan yang merusak dapur tuannya wajib dihukum."
Luna terdiam kaku, menelan ludahnya dengan susah payah. Otaknya berputar keras memikirkan hukuman macam apa yang akan diberikan pria gila di hadapannya ini.
Melihat Luna yang masih tertegun ragu, tatapan Moreno kian menggelap.
"Satu... dua..." ancam Moreno mulai menghitung.
"Iya! Iya, gue pindah!" seru Luna panik, tak mau ambil resiko hukumannya makin mengerikan.
Dengan wajah panas dingin dan rasa malu yang membakar ubun-ubun, Luna akhirnya pasrah mengangkat tubuhnya dan berpindah duduk tepat di atas pangkuan Moreno.
Untung saja, kaca mobil sport milik Moreno dilapisi oleh kaca film gelap berteknologi tinggi yang membuatnya tidak tembus pandang dari luar. Jadi, adegan pangku-pangkuan yang cukup mendebarkan dan memalukan itu aman dari mata orang-orang yang berlalu-lalang di area kafe.
"Gue udah di pangkuan lo, nih!" gerutu Luna dengan napas tertahan, berusaha menjaga posisinya agar tidak salah tingkah.
"Terus... sebenarnya apa mau lo, hah?"
Moreno tidak langsung menjawab. Ia justru menyunggingkan seulas senyum misterius yang seketika sukses membuat bulu kuduk Luna merinding.
"Gue lagi lapar," bisik Moreno rendah, menatap bibir Luna lurus.
Luna mengerjap, makin kebingungan.
"Ya ampun, kalau lapar ya tinggal keluar, turun dari mobil, terus kita masuk kafe! Kenapa malah mangku-mangku gue?!"
"Siapa bilang gue laparnya pengen makan di kafe?" desis Moreno dengan suara serak yang membuai. "Yang lagi pengen gue makan sekarang... itu lo, Luna."
DEG!
"Hah? Maksud lo—?!"
Belum sempat Luna merampungkan kalimat protesnya, Moreno sudah bergerak cepat.
Tangan kokohnya menangkup tengkuk Luna, menarik kepala gadis itu mendekat, lalu langsung mendaratkan bibirnya di atas bibir Luna tanpa ampun.
Ciuman itu datang begitu tiba-tiba dan jauh lebih menuntut dari sebelumnya. Luna terperanjat hebat, matanya membelalak kaget di detik-detik awal hingga oksigen di paru-parunya seakan tersedot habis.
Di tengah lumatan yang rakus dan panas itu, Moreno menyisipkan bisikan di bibir Luna.
"Balas ciuman gue, Luna..."
Entah karena pengaruh sentuhan itu, atau karena kesadarannya yang mulai terkikis oleh debaran jantungnya sendiri, pertahanan Luna perlahan runtuh.
Perlahan tapi pasti, Luna mulai memejamkan mata dan membalas ciuman Moreno, mengikuti ritme yang diciptakan pria itu.
Mendapati tidak ada lagi penolakan dan melihat Luna yang mulai hanyut, sudut bibir Moreno terangkat, merasa puas.
Ciuman panas di dalam mobil itu kian membara dan kehilangan batasan. Tangan kiri Moreno yang tadinya melingkar di pinggang Luna perlahan mulai merayap naik, menyusuri lekuk tubuh gadis itu hingga mendarat tepat di atas dada Luna, lalu meremasnya dengan mantap.
Ekhh!
Sentuhan intim yang tiba-tiba itu membuat Luna tersentak kaget. Kesadarannya langsung ditarik kembali ke permukaan. Dengan rasa panik, Luna reflek mendorong kuat kedua bahu bidang Moreno hingga ciuman itu terpaksa terlepas.
Dorongan kuat dari Luna membuat kepala Moreno sedikit terhuyung ke belakang. Pria itu menatap Luna dengan sorot mata yang menyala, jelas-jelas tidak terima karena kegiatannya harus diputus secara sepihak.
"Kenapa didorong?" desis Moreno tak suka, nada suaranya terdengar kesal.
"Gue belum puas."
Luna buru-buru merapikan bajunya yang sedikit berantakan, lalu menyilangkan kedua tangan di depan dada dengan gestur bertahan. Napasnya masih terengah-engah, sementara pipinya merona merah padam akibat amarah bercampur malu.
"Jangan kurang ajar, ya!" sergah Luna sengit, menatap tajam ke arah Moreno.
"Kita emang ada perjanjian, tapi tolong jaga batasan! Jangan sembarangan menyentuh tubuh gue kayak gitu!"
Mendengar protes itu, Moreno justru terkekeh sarkas. Suaranya terdengar meremehkan namun punya kekuasaan mutlak.
Tanpa aba-aba, tangan Moreno terulur. Ibu jarinya dengan lembut namun mendominasi mengusap pelan bibir Luna yang tampak sedikit bengkak dan basah akibat ciumannya tadi.
"Batasan?" bisik Moreno tepat di depan wajah Luna, tatapannya menusuk mata gadis itu.
"Jangan lupa, Luna... dari ujung rambut sampai ujung kaki, lo sepenuhnya milik gue sekarang. Jadi, gue gak butuh izin atau persetujuan dari lo buat nyentuh bagian mana pun dari tubuh lo... kapan pun gue mau."
Ucapan telak itu sukses membuat Luna terkesiap di tempatnya. Kalimat sarkas tersebut menghantam telak kesadarannya, mengingatkannya kembali pada posisi dirinya yang begitu lemah di bawah cengkeraman pria itu.
Luna terpaku, tak mampu melontarkan sepatah kata pun. Ia hanya bisa menelan ludahnya sendiri dengan susah payah, merasakan bulu kuduknya meremang hebat menghadapi sisi lain Moreno yang begitu menakutkan.