NovelToon NovelToon
Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Romansa
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)

Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.

Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)

Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

Musik klasik bernada lembut mengalun pelan dari sudut ballroom hotel bintang lima itu, menciptakan atmosfer megah yang dipenuhi oleh aroma parfum mahal, derap sepatu pantofel di atas lantai marmer putih bersih, dan gemerincing gelas kristal yang saling beradu. Di bawah naungan cahaya lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit, para tamu undangan dari kalangan elit berkerumun dalam kelompok-kelompok kecil, membicarakan bisnis, politik, dan tentu saja, gosip hangat yang sedang menjadi pusat perhatian malam ini.

Alexander Ar-Rasyid berdiri tegak di samping Keisha, mempertahankan posisinya sebagai seorang suami yang tampak memuja sang istri di depan publik. Tangan kokoh pria itu melingkar erat di pinggang ramping Keisha, memberikan sandaran fisik yang terlihat sangat natural sekaligus protektif. Setiap kali ada rekan bisnis atau kolega dewan direksi yang mendekat untuk memberikan selamat atas pernikahan mendadak sang CEO, Alex menyambutnya dengan senyuman tipis berwibawa, sementara Keisha mengikutinya dengan anggukan anggun dan senyuman manis yang terlatih sempurna.

"Tuan Ar-Rasyid, sebuah kejutan besar mendengar kabar pernikahan Anda yang begitu tiba-tiba," ucap seorang pria paruh baya berjas tailored abu-abu terang sambil mengangkat gelas champagne-nya. Ia adalah Hendra Wiratmaja, salah satu pemegang saham senior di Ar-Rasyid Group yang terkenal ambisius. Matanya yang tajam melirik ke arah Keisha dengan tatapan menilai yang blak-blakan. "Dan ini pasti Nona... ah, Nyonya Ar-Rasyid yang baru. Desainer muda dari Azalea Label, bukan? Sungguh perpaduan yang sangat menarik antara dunia korporat yang kaku dan dunia seni yang penuh warna."

Keisha merasakan otot-otot di lehernya sedikit menegang mendengar nada bicara Hendra yang terdengar meremehkan di balik balutan sanjungan palsu itu. Sebelum ia sempat membuka mulut untuk memberikan balasan yang tajam, tangan Alexander di pinggangnya meremas sedikit lebih kuat—sebuah peringatan diam-diam agar ia tetap menjaga sikap di hadapan para petinggi perusahaan.

"Terima kasih, Hendra," balas Alex dengan nada suara datar namun mengandung otoritas mutlak yang langsung membuat sang direktur senior sedikit menarik pandangannya. "Keisha bukan hanya seorang desainer berbakat, tapi ia adalah satu-satunya wanita yang berhasil menaklukkan standar hidup saya. Mengenai pernikahan kami, saya rasa privasi rumah tangga tidak perlu diperdebatkan di ruang publik."

Hendra tersenyum kaku, mengangkat gelasnya sebagai bentuk permintaan maaf terselubung. "Tentu saja, Tuan CEO. Saya hanya terkejut karena Anda yang biasanya anti dengan komitmen tiba-tiba membawa seorang istri ke hadapan publik. Semoga pernikahan ini membawa keuntungan besar bagi perusahaan, bukan sebaliknya."

Setelah basa-basi singkat yang penuh dengan duri terselubung itu, Hendra berpamitan dan berlalu pergi bergabung dengan kelompok sosialita lainnya. Keisha mengembuskan napas perlahan, melepaskan ketegangan yang sempat mengunci dadanya.

"Kau punya banyak musuh di dalam perusahaanmu sendiri, ya?" bisik Keisha pelan tepat di telinga Alex, tanpa mengendurkan senyuman manisnya ke arah para tamu di sekitar mereka.

Alex tidak menoleh sepenuhnya, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis tipis yang hanya bisa ditangkap oleh wanita di sampingnya. "Dunia korporat bukan tempat bermain teh sore, Keisha. Setiap orang di ruangan ini mengenakan topeng. Tugas kita malam ini adalah memastikan topeng kita tidak retak lebih dulu."

"Jangan samakan aku dengan mereka yang hidup dari intrik dan manipulasi," balas Keisha tajam. "Aku berada di sini murni karena kontrak paksaan yang kau buat, Tuan Ar-Rasyid. Jadi, jangan harap aku akan tersenyum manis jika ada orang tua bangka seperti Hendra itu yang terang-terangan meremehkan profesiku."

Sebelum Alex sempat membalas ucapan pedas istrinya, alunan musik di dalam ruangan tiba-tiba berubah menjadi tempo dansa yang lebih lambat dan romantis. Lampu-lampu utama di ballroom diredupkan beberapa tingkat, menyisakan sorotan lampu sorot hangat yang berpusat di tengah lantai dansa. Suara pembawa acara mengumumkan dimulainya sesi dansa utama bagi pasangan suami istri terhormat yang hadir malam itu.

Alex menundukkan kepalanya, menatap manik mata cokelat Keisha yang memancarkan kilat perlawanan. "Waktunya berdansa, Nyonya Ar-Rasyid. Aturan pasal tiga ayat dua: kau wajib mendampingi dan mengikuti setiap agenda formal tanpa terkecuali."

Keisha memutar bola matanya malas. "Aku tidak bilang aku bisa berdansa di atas sepatu hak setinggi dua belas sentimeter ini di hadapan ratusan pasang mata yang siap menghakimi setiap salah langkahku."

"Kau tidak punya pilihan," bisik Alex dengan suara bariton yang menghanyutkan. Dengan gerakan yang tegas namun tidak menyakiti, tangan besar Alex menarik tubuh Keisha untuk melangkah bersamanya menuju tengah lantai dansa utama.

Mau tidak mau, Keisha mengikuti tarikan itu. Ia mengangkat tangan kanannya untuk bertumpu di atas bahu bidang sang CEO, sementara tangan kiri Alex kembali melingkar sempurna di pinggang rampingnya, menarik tubuh mereka merapat dalam jarak yang sangat dekat. Ketika alunan musik biola mulai menghentak pelan, mereka mulai bergerak memutar mengikuti irama.

Awalnya, gerakan mereka terasa kaku dan dipenuhi perang urat saraf. Namun, seiring dengan alunan melodi yang semakin dalam, tubuh mereka mulai menyatu dengan ritme dansa. Dari kejauhan, pasangan itu terlihat begitu serasi, sempurna, dan dipenuhi oleh aura kemewahan yang memukau siapa saja yang melihatnya. Para tamu undangan bertepuk tangan kecil atau berbisik kagum melihat sisi lain dari sang CEO dingin yang tampak begitu romantis memperlakukan istrinya.

Namun, di balik keindahan dansa tersebut, perang dingin di antara mereka justru semakin membara di tingkat yang paling intim.

"Kau belajar berdansa di mana? Gerakanmu kaku seperti patung manekin di butikmu," sindir Alex pelan saat tubuh mereka berputar mendekat, aroma cedarwood dari tubuh pria itu menguasai indra penciuman Keisha.

"Dan kau berdansa dengan arogan seperti seorang diktator yang sedang memperbudak tawanannya," balas Keisha cepat tanpa gentar, menatap tepat ke dalam manik mata hitam pria di depannya. "Jika kau menginjak kakiku sekali lagi, aku bersumpah akan mencakar wajah tampanmu ini dengan kuku-kukuku!"

Alex terkekeh kecil—sebuah suara rendah yang terdengar begitu seksi dan berbahaya. Ia menarik pinggang Keisha semakin mendekat hingga tidak ada lagi jarak tersisa di antara tubuh mereka. "Silakan coba jika kau punya nyali, Keisha. Tapi ingat, di hadapan ratusan orang di sini, kau harus tetap tersenyum manis di dalam pelukanku."

Degup jantung Keisha mendadak melompat tak beraturan. Jarak yang terlalu dekat ini membuat aliran darahnya mendesir hebat, bukan lagi karena rasa marah, melainkan karena gelombang magnetis yang terpancar dari diri Alexander Ar-Rasyid. Ada sesuatu yang sangat adiktif dan menakutkan dari cara pria itu menatapnya—sebuah intensitas yang mampu meruntuhkan benteng pertahanan es yang dibangun Keisha sejak hari pertama mereka bertemu.

Di saat yang sama, tepat di sudut tergelap dekat pilar marmer besar di sisi ruangan, sepasang mata tajam berbalut kebencian mengamati setiap detik keintiman di antara mereka. Wanita bergaun merah menyala yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik pasangan itu mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan, meninggalkan bekas kemerahan. Gelas champagne di tangannya digenggam begitu erat seolah ingin ia hancurkan berkeping-keping.

Nikmati malam kemenganganmu yang singkat itu, Alexander, batin wanita bergaun merah tersebut dengan senyuman penuh racun yang mengerikan. Permainan sebenarnya baru akan dimulai esok hari, dan wanita malang di pelukanmu itu akan hancur lebur tanpa sisa.

1
Exo L
kakk tulisannya, fashion gak sih?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!