Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.
Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.
Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.
Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Masa Lalu
Lentera yang menggantung di langit-langit kamar mewah itu memancarkan pendar keperakan, memantulkan bayangan kegelisahan yang nyata.
Di atas karpet bulu binatang buas yang tebal, langkah kaki Madam Elena terdengar sangat berisik.
Gaun beludru sutranya yang megah menyapu lantai saat ia berjalan mondar-mandir tak tentu arah, seperti singa betina yang terkurung dalam sangkar emas.
Di sudut ruangan, Tetua Frost duduk di kursi kebesarannya yang terbuat dari pahatan es abadi. Ia menghembuskan napas berat, mendengus pelan seraya memijat keningnya yang berdenyut kencang akibat kegelisahan istrinya.
"Duduk, Elena! Kau membuat kepalaku semakin pusing dengan terus berjalan seperti itu!" tegur Tetua Frost, suaranya berat dan menggema di dinding kamar yang luas.
Madam Elena mendadak menghentikan langkahnya. Ia menoleh cepat, memperlihatkan kilat mata yang berkobar penuh amarah yang membakar.
Ingatannya masih tertuju pada setiap kata perlawanan Kamelia tadi—sebuah kalimat yang seolah sengaja menancapkan kembali belati dendam lama jauh ke dalam lubuk hatinya.
Dengan napas yang memburu, Elena melangkah mendekat ke arah meja Frost. Sorot matanya menajam, sedingin badai salju.
"Frost... sampai kapan? Sampai kapan kau akan membiarkan kedua wanita sialan itu tetap tinggal disini?!" tuntut Madam Elena, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang nyaris pecah.
Tetua Frost tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap wanita di hadapannya dengan tatapan yang teramat lelah. "Sabar, Elena... kendalikan dirimu. Akan ada waktunya nanti aku sendiri yang akan mengusir kedua wanita itu dari Klan ini."
"Tapi kapan?!" bentak Madam Elena, akal sehatnya mulai terkikis oleh rasa frustrasi yang mendalam. Ia memukul meja kayu di hadapan Frost. "Aurelia terlahir tanpa memiliki inti roh murni! Kau tahu itu, Frost! Dia anak cacat! Dia bahkan tidak bisa mengeluarkan setitik pun sihir es. Dia sama sekali tidak berguna bagi tujuanmu... kenapa kau masih mempertahankannya?!" teriak Madam Elena, menumpahkan seluruh kemurkaannya.
KRAK!
Bunyi retakan yang tajam memotong kalimat Elena. Cangkir teh porselen berlapis perak yang berada di genggaman Tetua Frost seketika retak.
Frost bangkit berdiri, tubuhnya yang tegap memancarkan aura intimidasi yang nyala. Ia menatap Madam Elena dengan sepasang mata yang menghunus tajam, sedalam jurang es.
"Karena anak cacat yang kau sebut tidak berguna itu adalah satu-satunya kunci... satu-satunya darah yang bisa membangkitkan artefak suci Klan Es!" bentak Tetua Frost, suaranya menggelegar menghancurkan keangkuhan Elena. "Darah yang mengalir di dalam tubuh lemah Aurelia adalah milik Damian... adik kandungku!"
Keheningan yang mencekam seketika melanda kamar mewah itu. Kata 'Damian' seolah menjadi mantra yang membekukan waktu, membawa atmosfer ruangan meluncur jatuh ke dalam jurang ingatan masa lalu yang kelam.
Memori lama yang terkunci rapat kembali berputar secara otomatis di benak mereka berdua. Puluhan tahun yang lalu, sebelum Klan Es jatuh ke dalam genggaman tangan Frost, klan ini masih berdiri di bawah kepemimpinan Tetua Fray.
Fray memiliki dua orang putra yang memiliki bakat luar biasa—Frost sang sulung yang ambisius, dan Damian sang bungsu yang jenius namun berhati lembut.
Namun, takdir lebih memilih Damian sebagai pewaris takhta selanjutnya.
Keputusan itu tidak bisa di ubah, karena Damian adalah satu-satunya penyihir Es yang mampu menjinakkan dan membangkitkan Orca—sang Paus Pembunuh legendaris yang berwujud es murni, yang merupakan artefak paling langka sekaligus lambang kekuasaan tertinggi dari Klan Es.
"Bagaimana bisa Leluhur memilihmu, Damian?!" suara Frost menggema di koridor sepi, tatapannya menghunus tajam pada adiknya yang berdiri di depan altar suci. "Aku yang pertama lahir! Aku yang mempelajari hukum es sejak kita masih kecil! Tapi mereka memilihmu hanya karena artefak sialan itu?!"
Damian menghela napas, tangannya terangkat lembut saat seekor pasang aura biru raksasa berbentuk Orca berenang samar di udara sekitarnya—lambang artefak langka kekuasaan Klan Es. "Ini bukan tentang siapa yang lahir lebih dulu, Kak. Artefak suci ini memilih jiwanya sendiri. Aku tidak pernah meminta takhta ini."
"Omong kosong!" desis Frost, mengepalkan tinjunya hingga es di lantai retak.
Sejak hari pelantikan yang mengguncang klan itu, benih-benih rasa iri yang beracun mulai tumbuh dan mengakar kuat di dalam hati Frost. Ia merasa hak sulungnya telah dirampas oleh sang adik.
Ketegangan itu kian memuncak hingga suatu hari, demi memperkuat posisi politik klan, Tetua Fray memutuskan untuk menjodohkan Damian dengan Elena, putri tunggal dari klan bangsawan nomor satu yang paling berpengaruh di wilayah Klan Es.
"Tidak, Ayah," jawab Damian lantang, memotong titah ayahnya tanpa ragu. "Aku menolak perjodohan ini. Jantungku sudah menjadi milik Kamelia. Tidak ada wanita lain."
Wajah Tetua Fray mengeras, matanya berkilat murka. "Kamelia? Dia hanya rakyat jelata! Seorang wanita tanpa garis keturunan sihir es tidak punya tempat di dalam Klan Es! Kau tidak bisa egois, Damian!"
"Jika takhta ini menuntutku mengorbankan wanita yang kucintai, maka ambillah kembali takhta ini," ujar Damian dingin.
Malam itu juga, Damian menggandeng tangan Kamelia dan melarikan diri dari istana Klan Es, memicu kepanikan besar. Tetua Fray segera memerintahkan seluruh prajurit terbaik untuk memburu mereka hidup-hidup.
Mendengar keputusan Damian, Tetua Fray murka dan menentang keras hubungan itu. Bagi sang pemimpin tertinggi, Kamelia hanyalah seonggok sampah tak berharga, seorang rakyat jelata yang tidak memiliki silsilah darah murni dan hanya akan merusak kemurnian garis keturunan penyihir es mereka.
Di sudut lain istana, Elena yang dipenuhi rasa hina dan murka karena penolakan itu, menemui Frost secara rahasia. Tatapannya penuh racun.
"Kau menginginkan takhta itu, bukan, Frost?" tanya Elena dengan senyum sinis yang dingin. "Dan aku menginginkan kehormatanku kembali. Damian telah mempermalukanku. Mari bekerja sama untuk menghancurkannya. Bunuh dia, dan aku akan memastikan seluruh dewan bangsawan mengangkatmu sebagai pemimpin Klan Es yang baru."
Frost menyeringai gelap. "Kesepakatan yang sempurna, Elena."
Malam pertumpahan darah pun tiba, bertepatan dengan badai salju paling mengerikan. Di sebuah gubuk tersembunyi di pinggiran hutan abadi, Kamelia sedang bertaruh nyawa, bersiap melahirkan putri mereka, Aurelia. Namun, ketenangan mereka pecah saat pintu gubuk hancur berkeping-keping.
"Kalian...?" Damian terkejut setengah mati, langsung berdiri pasang badan saat melihat Frost, Elena, dan sepasukan penuh prajurit berbaju besi mengepung tempat persembunyiannya. "Frost... kau membawa pasukan Klan untuk membawaku? Jika itu yang kau mau, maka pergilah... karena aku akan tetap disini."
"Aku tidak datang untuk membawamu pulang, Adikku sayang," bisik Frost, menghunus pedang es hitamnya yang mematikan. "Aku datang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku."
"Kau gila!" teriak Damian, mengeluarkan sihir perlindungan terbaiknya. "Pergi dari sini, Kamelia! Bawa anak kita pergi!"
Malam itu menjadi saksi bisu takdir yang kejam, di mana seorang kakak tega membantai adiknya sendiri demi sebuah takhta.
Di tengah dentingan pedang dan jeritan badai, Kamelia dengan sisa tenaganya berhasil melarikan diri ke dalam kegelapan malam, memeluk erat bayi mungilnya yang baru lahir, Aurelia.
Setelah kematian Damian, Tetua Fray yang berduka—tanpa mengetahui kelicikan putra sulungnya—akhirnya mengangkat Frost sebagai pemimpin baru Klan Es dan perjodohan kembali di lanjutkan dengan Frost yang menikah dengan Elena.
Namun, takhta ternyata tidak cukup memuaskan dahaga keserakahan Frost.
Di malam yang sama, di bawah bayang-bayang pilar istana yang sepi, Frost menatap tajam ke arah ayahnya yang sedang membelakanginya. Tanpa keraguan, tanpa belas kasihan, sebuah belati es tajam menembus dada sang ayah.
"Maafkan aku, Ayah," bisik Frost dingin di telinga Tetua Fray yang terengah-engah dalam napas terakhirnya. "Tapi kematianmu adalah harga yang kecil untuk kekuatan yang akan kuraih."
Target Frost selanjutnya adalah kolam air suci di sebelah barat istana. Langkah kakinya terdengar tergesa-gesa saat mendekati air jernih tempat artefak langka Klan kembali tertidur.
Dengan seringai kemenangan, Frost mencelupkan tangannya ke dalam kolam, mencoba membangkitkan artefak tersebut.
Namun, seketika itu juga, gelombang energi murni menolak tangannya dengan keras hingga terlempar. Artefak itu bergetar hebat, memancarkan aura penolakan yang nyata.
Malam itu, Frost menyadari sebuah kebenaran kelam di dekat kolam: kekuatan artefak itu menolak keras jatuh ke tangan yang bukan haknya.
Hanya darah dari Damian yang bisa membangkitkan kembali artefak suci tersebut. Sifat kejam Frost menuntunnya pada keputusan paling mengerikan dalam hidupnya.
"Jika aku butuh darah Damian, maka keturunannya lah yang harus membayar harganya," desis Frost dengan mata membelalak penuh kegilaan.
Pencarian besar-besaran yang kejam dimulai. Selama berbulan-bulan, pasukan Frost mengobrak-abrik seluruh wilayah, hingga akhirnya Kamelia yang malang berhasil tertangkap dalam kondisi tak berdaya. Itu adalah awal dari segala penderitaan panjang yang merenggut martabatnya.
Di hadapan publik, Frost memutarbalikkan fakta demi menjaga rahasianya sendiri. Status Kamelia dijatuhkan serendah-rendahnya, dihina oleh seluruh wilayah klan sebagai wanita jelata yang menggodanya hingga melahirkan seorang anak perempuan bernama Aurelia.
Anak kecil yang tak berdosa itu tumbuh besar dengan cap sebagai 'anak haram' yang kotor dan memalukan.
Namun, di balik dinding-dinding yang penuh dengan cemoohan dan tatapan jijik itu, tersimpan sebuah rahasia besar yang terkunci rapat oleh takdir.
Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu—bahwa Aurelia, anak haram yang setiap hari mereka hina, adalah satu-satunya orang yang pantas menduduki kekuasaan tertinggi di Klan Es karena darah Damian yang mengalir kuat di nadinya.
Lebih dari itu, Kamelia, wanita yang mereka ludahi sebagai rakyat jelata tak berguna, sebenarnya adalah putri tersembunyi yang paling berharga dari Klan Bayangan—Klan terkuat dan tersembunyi yang paling ditakuti dari lima klan yang ada di benua.
Demi cintanya yang sangat besar kepada Damian, Kamelia telah rela membuang mahkotanya, memutuskan hubungan dengan Klannya, dan melepaskan kekuasaan agung sebagai pemilik sihir Bayangan nomor satu demi hidup bersama pria yang ia cintai--- meskipun akhirnya harus tragis.
Sampai detik itu, tidak ada satu pun yang mengetahui rahasia masa lalu tersebut, sementara badai penderitaan baru saja dimulai bagi sang pewaris sejati.