Bara Pratama hanyalah seorang pemulung yang dihina dan dibuang oleh kekasihnya demi pria kaya. Namun, nasibnya berbalik total saat darah dari luka pukulannya tanpa sengaja mengaktifkan sebuah tungku berkarat yang terhubung dengan Sistem Daur Ulang Multiverse. Melalui sistem ini, Bara bisa memproses rongsokan tidak berharga menjadi pil kultivasi, material langka, dan barang pusaka bernilai tinggi dari dimensi Sekte Harmoni. Berbekal kekuatan dan kekayaan baru yang terus mengalir dari tumpukan sampah, Bara siap menghancurkan kesombongan orang-orang yang dulu menginjaknya dan memulai hidup baru sebagai sosok yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Brak!
Tinju Bara mendarat sangat telak tepat di tengah wajah preman itu hingga terdengar suara tulang hidung yang patah dengan nyaring.
Tubuh preman besar itu langsung terpental ke belakang sejauh dua meter dan jatuh pingsan seketika dengan darah segar yang mengucur deras dari hidungnya.
Melihat teman mereka langsung tumbang hanya dengan satu pukulan, tiga preman lainnya terbelalak kaget dan tidak percaya pada pandangan mereka sendiri.
"Brengsek, anak ini ternyata lumayan jago bela diri, ayo kita serang dia bersama-sama sekarang!" teriak preman bopeng itu mulai panik.
Ketiga preman itu serentak mencabut pisau lipat dari saku celana mereka dan langsung mengepung Bara dari tiga arah yang berbeda.
Mereka maju secara serentak berniat untuk menusuk organ vital Bara tanpa ampun layaknya pembunuh bayaran profesional.
Bara mendengus dingin dan langsung menendang lantai dengan keras hingga tubuhnya melesat maju ke arah preman di sisi kanannya.
Bugh!
Satu tendangan lurus yang sangat mematikan dari kaki panjang Bara mendarat tepat di ulu hati preman tersebut.
Preman itu memuntahkan darah segar dan langsung ambruk ke tanah sambil memegangi perutnya yang terasa seperti baru saja ditabrak truk tronton.
Bara lalu berputar dengan gerakan sangat luwes dan langsung menangkap pergelangan tangan preman bopeng yang mencoba menusuk punggungnya dari belakang.
Krak!
Bara memelintir pergelangan tangan preman bopeng itu dengan sangat mudah hingga tulang lengannya patah bergeser dari posisinya.
"Arghhh! Tanganku putus!" teriak preman bopeng itu histeris sambil menjatuhkan pisau lipatnya ke atas tanah.
Satu preman terakhir yang tersisa mendadak mematung dengan kedua kaki yang bergetar hebat melihat ketiga temannya dihabisi dalam waktu kurang dari sepuluh detik.
Pemuda tampan berjaket kulit di depannya ini sama sekali bukan manusia biasa, melainkan seekor monster mengerikan yang menyamar menjadi manusia.
"Sekarang giliranmu, mau maju menyerang sendiri atau aku yang harus menyeretmu ke sini?" tantang Bara dengan senyum mematikan yang membuat bulu kuduk berdiri.
Preman terakhir itu langsung melempar pisaunya ke tanah dan lari terbirit-birit keluar dari gang buntu itu sambil berteriak ketakutan seperti orang gila.
Bara sama sekali tidak repot-repot untuk mengejar kecoa kecil yang lari ketakutan itu.
Dia hanya membersihkan sedikit debu di jaket mahalnya dengan gerakan santai seolah tidak terjadi apa-apa barusan.
"Pemanasan yang sangat membosankan, tulang mereka ternyata terlalu rapuh untuk menerima pukulanku," gumam Bara pada dirinya sendiri.
Bara kemudian berbalik badan dan berjalan perlahan mendekati wanita cantik bernama Nadhira yang masih berdiri kaku mematung di tempatnya.
Nadhira menatap Bara dengan sepasang bola mata indahnya yang terbuka lebar menahan rasa takjub dan syok yang luar biasa.
Wanita pengusaha itu belum pernah melihat ada orang yang bisa bertarung seganas dan secepat pemuda di depannya ini di kehidupan nyata.
"Kamu tidak apa-apa Nona?" tanya Bara dengan nada suara yang sopan memecah keheningan di gang buntu tersebut.
Nadhira tersentak kaget dari lamunannya dan buru-buru merapikan jas kerjanya yang agak kusut karena ditarik oleh para preman tadi.
"A-aku tidak apa-apa, terima kasih banyak sudah menyelamatkan nyawaku hari ini," jawab Nadhira dengan suara yang masih sedikit bergetar menahan sisa rasa takut.
"Kalau kamu tidak datang tepat waktu tadi, aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi padaku dan nasib perusahaanku ke depannya."
Bara menganggukkan kepalanya pelan dan mengulurkan tangan kanannya untuk berkenalan secara formal dengan wanita itu.
"Namaku Bara Pratama, kalau boleh tahu siapa nama saingan bisnis licik yang berani mengirim preman murahan ini padamu?" tanya Bara dengan nada santai.
Nadhira menyambut uluran tangan Bara dan seketika bisa merasakan bahwa telapak tangan pria itu sangat hangat dan penuh dengan tenaga tersembunyi.
"Namaku Nadhira Larasati, dan preman-preman kotor ini adalah suruhan dari keluarga konglomerat properti ternama di kota ini," jawab Nadhira dengan wajah yang kembali muram.
"Mereka dari Keluarga Aristha, anak sulung mereka yang bernama Aris belakangan ini terus-menerus menekan bisnisku agar bangkrut dan mau dibeli dengan harga murah."
Mendengar nama Aris secara kebetulan disebut dari mulut wanita cantik ini, sudut bibir Bara langsung berkedut ke atas membentuk senyuman tipis yang sangat berbahaya.
Dunia ini ternyata sangat sempit, musuh dari wanita cantik yang baru saja dia tolong ternyata adalah pria brengsek yang sama yang sudah merebut Dela darinya kemarin siang.
"Keluarga Aristha ya? Ternyata kita berdua memiliki musuh yang sama Nona Nadhira," ucap Bara dengan tatapan mata yang tiba-tiba berubah menjadi sangat tajam mengintimidasi.
"Kurasa pertemuan kita di gang buntu hari ini bukanlah sebuah kebetulan semata."