Di Benua Shenzhou yang dipenuhi oleh energi spiritual (Qi), hukum rimba berlaku: yang kuat dihormati, yang lemah diinjak-injak. Ye Chen, seorang pemuda dari Klan Ye, terlahir dengan meridian yang cacat sehingga ia tidak bisa menyerap Qi. Selama enam belas tahun, ia hidup sebagai lelucon dan bahan hinaan klannya.
Namun, takdirnya berubah drastis di suatu malam yang berdarah. Saat ia dipukuli dan dibuang ke dasar Jurang Kematian oleh sepupunya sendiri, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah liontin batu giok hitam peninggalan ibunya. Liontin itu ternyata menyimpan jiwa seorang Kaisar Naga Kuno yang telah tersegel selama puluhan ribu tahun. Dengan bimbingan sang Kaisar Naga, Ye Chen memulai jalan kultivasi yang menentang langit untuk membalas dendam dan mencari kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Berdarah dan Hantaman Petir
Lelang Akbar Tahunan Paviliun Harta Surgawi berakhir menjelang tengah malam. Saat pintu utama dibuka, ribuan kultivator berhamburan keluar bagaikan air bah.
Memanfaatkan kerumunan yang padat, Ye Chen menekan ujung caping bambunya lebih rendah dan menyelinap melalui gang-gang sempit Kota Bintang Jatuh. Telinganya menangkap suara langkah-langkah kaki tergesa yang mencoba mengikutinya, namun dengan Langkah Teratai Api, Ye Chen bergerak layaknya hantu di antara bayang-bayang. Dalam waktu kurang dari setengah jam, ia berhasil melepaskan diri dari para penguntit amatir itu dan melesat keluar melewati gerbang timur kota yang mulai sepi.
Di luar kota, padang rumput gersang terbentang luas, disinari oleh cahaya bulan yang pucat. Angin malam bertiup membawa hawa dingin yang menusuk.
Namun, baru sepuluh mil Ye Chen menjauhi tembok kota, langkah kakinya tiba-tiba terhenti.
Angin di sekitarnya mendadak berhenti bertiup. Udara terasa berat, dipenuhi oleh bau ozon yang menyengat dan fluktuasi energi spiritual yang berderak-derak. Awan hitam entah dari mana berkumpul di atas kepalanya, menutupi cahaya bulan.
ZZZAAAAP!
Sebuah kilatan petir menyambar ke tanah hanya belasan meter di depan Ye Chen, menghancurkan batu sebesar gajah menjadi serpihan berdebu.
Dari balik kepulan debu itu, sosok tinggi besar melangkah maju, memikul sebuah palu godam raksasa yang dililit oleh aliran listrik biru liar. Itu adalah Lei Kuang, Pewaris Sekte Pedang Petir. Di belakangnya, empat kultivator berpakaian biru tua dengan kultivasi tingkat ketujuh berdiri menyeringai kejam.
"Trik sembunyi-sembunyi yang lumayan," suara Lei Kuang menggelegar, sarat akan arogansi dan amarah. "Tapi di hadapan Jaring Pelacak Petir milik Sekte Pedang Petir, kau tidak lebih dari tikus yang berlarian di dalam sangkar."
Ye Chen tidak terlihat terkejut sedikit pun. Ia perlahan mengangkat wajahnya, menatap Lei Kuang dari balik bayangan capingnya. "Jadi, kau membiarkan tetuamu kembali dengan Pil Pembentukan Fondasi, sementara kau membawa anjing-anjingmu ke mari hanya untuk mengantarkan nyawa?"
"Mengantarkan nyawa?!" Lei Kuang tertawa terbahak-bahak seolah baru saja mendengar lelucon terbaik di dunia. Ia mengarahkan palu godamnya ke arah Ye Chen. "Buka matamu lebar-lebar, Tikus! Aku berada di Tahap Pengumpul Qi tingkat kedelapan puncak! Sementara kau... dari fluktuasi Qi-mu, kau hanyalah kultivator tingkat ketujuh rendahan! Beraninya kau mempermalukanku di depan ribuan orang tadi?!"
Lei Kuang meludah ke tanah. "Serahkan Cincin Penyimpananmu, serahkan fosil itu, lalu patahkan kedua kakimu sendiri. Mungkin aku akan berbaik hati membiarkanmu merangkak kembali ke kota."
Ye Chen menghela napas panjang. Tangannya perlahan meraih gagang Pedang Besi Hitam yang terbalut kain kanvas di punggungnya.
"Kau benar-benar banyak bicara," ucap Ye Chen santai. Dengan satu tarikan keras, kain kanvas itu robek, memperlihatkan pedang besi hitam raksasa tanpa tepi yang memancarkan aura suram.
Melihat Ye Chen justru bersiap bertarung, urat di dahi Lei Kuang menonjol keluar. Ia merasa harga dirinya sebagai jenius dari sekte besar telah diinjak-injak untuk kedua kalinya.
"Bunuh dia! Cincang dia menjadi potongan daging!" raung Lei Kuang memberi perintah pada keempat anak buahnya.
"Baik, Tuan Muda!"
Keempat kultivator tingkat ketujuh itu melesat serentak dari empat arah yang berbeda, mengepung Ye Chen dengan pedang berlapis Qi elemen petir. Kecepatan mereka sangat luar biasa, menciptakan jaring serangan yang tidak menyisakan ruang untuk menghindar.
Namun, bibir Ye Chen hanya melengkung membentuk seringai iblis.
"Langkah Teratai Api."
Saat keempat pedang itu nyaris menebas tubuh Ye Chen, suara ledakan kecil terdengar dari bawah kaki pemuda itu. BUM!
Di tempat Ye Chen berdiri, sekuntum teratai api berwarna ungu keemasan mekar secara tiba-tiba. Tubuh Ye Chen memudar menjadi bayangan buram, dan keempat pedang musuh hanya menebas udara kosong!
"Apa?! Ke mana dia?!" teriak salah satu kultivator panik.
"Di atasmu," bisik sebuah suara dingin dari langit.
Sebelum kultivator itu sempat mendongak, Pedang Besi Hitam seberat 500 jin yang diayunkan dengan kekuatan fisik Tulang Naga Api menghantam kepalanya bagaikan palu keadilan.
CRASH!
Tanpa perlawanan berarti, tubuh kultivator itu hancur berkeping-keping di bawah hantaman pedang, meledak menjadi kabut darah.
Tiga rekan lainnya terbelalak ngeri. Namun, Ye Chen tidak memberi mereka waktu untuk berpikir. Kakinya kembali memijak udara, menciptakan teratai api kedua yang memberinya tolakan kecepatan tak masuk akal. Ia melesat di antara ketiga musuhnya.
Api Roh Emas Ungu meledak dari pedangnya. Ye Chen menebas secara horizontal, memotong tubuh ketiga kultivator tingkat ketujuh itu menjadi dua bagian dalam satu serangan tunggal. Panas ekstrem dari pedangnya langsung membakar organ dalam mereka, mematikan mereka sebelum tubuh bagian atas mereka menyentuh tanah.
Hanya dalam tiga detik, empat ahli tingkat ketujuh tewas mengenaskan!
Lei Kuang, yang berdiri sepuluh meter dari sana, membeku. Kesombongannya seketika menguap, digantikan oleh keterkejutan yang mengguncang jiwanya. Pemuda bertopi bambu ini... membantai kultivator setingkat dirinya semudah memotong rumput?!
"Api berwarna ungu emas... Kekuatan fisik raksasa..." Mata Lei Kuang menyipit tajam, mencoba mengumpulkan kembali ketenangannya. "Jadi, kau menyembunyikan kekuatanmu. Pantas saja kau begitu arogan. Tapi jangan samakan aku dengan sampah-sampah itu!"
Lei Kuang meraung keras. Seluruh Qi di tubuhnya meledak. Otot-ototnya membengkak hingga merobek baju bagian atasnya. Elemen petir berwarna biru pekat menyambar-nyambar liar di sekitar tubuhnya, menciptakan kawah-kawah kecil di tanah pijakannya.
"Amukan Petir Penghancur Bumi!"
Lei Kuang melompat setinggi belasan meter ke udara. Ia mengangkat palu godam raksasanya dengan kedua tangan, mengumpulkan seluruh elemen petir di udara, lalu menghantamkannya lurus ke arah Ye Chen layaknya meteor biru yang jatuh dari langit.
Tekanan dari serangan kultivator tingkat kedelapan puncak ini benar-benar mengerikan. Tanah di sekitar Ye Chen amblas dan retak sebelum palu itu bahkan menyentuhnya.
"Jangan menghindar, Bocah! Benturkan apimu dengan petirnya! Biarkan dia merasakan apa itu dominasi naga!" provokasi Ao Tian.
Ye Chen mendongak. Angin liar meniup caping bambunya hingga terlepas, memperlihatkan wajahnya yang memancarkan niat bertarung yang membara.
"Mari kita lihat, sekeras apa tulangmu!" teriak Ye Chen.
Ia tidak mundur selangkah pun. Seluruh Dantiannya bergemuruh. Qi Naga disalurkan secara maksimal, bercampur sempurna dengan Api Roh Emas Ungu. Pedang Besi Hitam di tangannya kini menyala terang, mengubah warna bilahnya menjadi ungu keemasan yang menyilaukan. Suhu di padang rumput itu langsung melesat naik, menguapkan embun malam dalam sekejap.
Dengan kekuatan dari Tulang Naga Api, Ye Chen mengayunkan pedangnya dari bawah ke atas, menyongsong hantaman palu petir Lei Kuang.
BOOOOOOOOOOMMMMMM!!!
Benturan antara Api Ungu dan Petir Biru menciptakan ledakan energi yang membutakan mata. Gelombang kejut (shockwave) yang sangat dahsyat menyapu area seluas puluhan meter, meratakan rerumputan, menghancurkan bebatuan, dan menciptakan kawah raksasa berdiameter lima belas meter di titik pusat benturan!
Suara gemuruh itu memekakkan telinga, terdengar hingga ke gerbang Kota Bintang Jatuh, membuat para penjaga tembok kota gemetar ketakutan.
Di pusat kawah yang dipenuhi asap dan percikan listrik serta sisa-sisa api, kedua senjata raksasa itu beradu dalam kebuntuan.
Lengan Lei Kuang bergetar hebat. Matanya melotot nyaris keluar dari rongganya. Ia menyalurkan seluruh Qi-nya, namun palunya seolah menghantam sebuah gunung berapi yang mustahil untuk digoyahkan. Panas ekstrem dari pedang hitam lawannya mulai melelehkan aura petirnya, dan hawa membakar merayap naik ke tangannya.
"T-tidak mungkin... Aku berada di tingkat kedelapan puncak! Bagaimana mungkin tenaga fisikmu lebih besar dariku?!" jerit Lei Kuang tidak terima.
Ye Chen menatap Lei Kuang dari balik pedangnya. Kilatan emas menyala di pupil matanya, menyerupai mata seekor naga purba yang menatap serangga kecil.
"Kekuatanmu mengesankan untuk ukuran manusia fana," suara Ye Chen terdengar sedingin es, mengatasi suara derak petir dan api. "Tapi di hadapanku... kau terlalu lemah."
KRAAAAK!
Otot lengan Ye Chen membesar sesaat. Sebuah tenaga ledakan kedua yang jauh lebih mengerikan—murni berasal dari ketangguhan Tulang Naga Api—menyembur keluar.
Palu godam kebanggaan Lei Kuang retak, lalu hancur berantakan menjadi kepingan logam!
"TIDAAAK!"
Pedang Besi Hitam terus meluncur ke atas tanpa hambatan, menabrak dada Lei Kuang dengan kekuatan yang bisa menghancurkan tembok benteng.
Lei Kuang memuntahkan darah bercampur serpihan organ dalam. Tubuhnya terlempar melengkung ke udara sejauh puluhan meter, menghantam sebuah tebing batu karang hingga tebing itu runtuh menimbun dirinya.