NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Bos Dingin

Istri Rahasia Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Perjodohan
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: Ristika Rachma

Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.

Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 : Perhatian yang Tak Pernah Terduga

Meskipun hujan di luar sudah berkurang menjadi rintik halus, rasa dingin yang menusuk tulang tak kunjung hilang dari tubuhku. Saat pintu mobil terbuka, angin malam yang lembap menyapa wajah, membuatku tak sadar menggigil hebat. Jaket tebal milik Erlan yang kupakai tadi tak lagi cukup melindungiku dari sisa kedinginan yang merayap sejak tadi terjebak di bawah guyuran air. Rambut panjangku yang sebagian basah kini terasa berat menempel di bahu dan punggung, membawa rasa dingin yang perlahan merambat ke seluruh persendian.

Erlan yang melihat itu langsung melangkah cepat keluar, lalu tanpa banyak bicara ia merangkul bahuku erat seolah takut aku akan terlempar tertiup angin. Langkah kakinya lebih cepat dari biasanya, seolah setiap detik yang berlalu adalah waktu yang berharga untuk membuatku kembali hangat.

"Jangan lepaskan pelukanku," bisiknya pelan di telingaku saat kami melangkah melewati halaman yang masih basah. "Masuklah secepatnya."

Sesampainya di dalam rumah yang biasanya sunyi dan dingin, Erlan tidak memanggil Bu Ratih atau pelayan lain seperti kebiasaannya. Ia langsung menuntunku naik ke lantai dua menuju kamarku, menutup pintu rapat-rapat begitu kami masuk.

"Tolong lepaskan pakaian basahmu dan segera mandi air hangat," perintahnya tegas namun nadanya penuh kecemasan. "Aku akan menyiapkan sisanya."

Belum sempat aku mengucapkan terima kasih atau menawarkan diri untuk melakukannya sendiri, ia sudah berbalik pergi. Aku menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu kamar mandi, lalu perlahan mengikuti sarannya. Di dalam sana, air hangat sudah mengalir deras dari keran, memenuhi ruangan dengan uap yang menenangkan. Sabun dan handuk lembut sudah tersedia rapi di tempatnya, hal-hal kecil yang menunjukkan betapa telitinya dia memikirkan segalanya tanpa perlu banyak bicara.

Saat aku keluar dari kamar mandi mengenakan pakaian tidur hangat dan rambutku sudah dikeringkan sebentar dengan handuk, pemandangan di luar membuatku tertegun tak bergerak. Erlan sedang duduk bersimpuh di samping tempat tidur, di atas meja kecil di hadapannya tersaji mangkuk berisi air hangat, handuk kecil, segelas susu panas, dan beberapa butir obat yang disusun rapi.

Pria yang disebut-sebut sebagai Bos Dingin yang tak pernah peduli pada urusan orang lain, kini sedang merendahkan diri merawatku dengan tangannya sendiri.

"Duduklah," ucapnya singkat saat melihatku berdiri mematung. Ia mengulurkan tangan memintaku mendekat.

Aku berjalan perlahan mendekat, lalu duduk di tepi tempat tidur berhadapan dengannya. Tanpa bertanya lebih dulu, ia mengambil kakiku dan meletakkannya di atas pangkuannya. Ia melipat handuk kecil ke dalam air hangat, memerasnya sedikit, lalu mulai mengusap perlahan kaki dan telapak kakiku yang dingin hingga perlahan terasa hangat kembali.

"Kenapa kau melakukan ini sendiri?" tanyaku dengan suara tercekat. "Kau bisa meminta Bu Ratih melakukannya. Itu bukan tugasmu."

Erlan berhenti sejenak, lalu menatapku lekat-lekat dari bawah. "Tidak ada yang lebih berhak merawatmu selain aku. Dan aku tidak ingin ada orang lain yang melihatmu dalam keadaan lemah seperti ini."

Setelah selesai menghangatkan kakiku, ia berdiri mengambilkan segelas susu panas dan obat. "Minumlah sampai habis. Obat ini akan mencegahmu demam besok pagi."

Aku meminumnya perlahan, rasanya hangat menjalar dari tenggorokan hingga ke perut. Saat aku menyerahkan gelas kosong itu kembali, tanganku sempat menyentuh tangannya. Tangan yang biasanya hanya memegang pena, berkas dokumen, atau setir mobil mewah itu kini terasa begitu lembut dan penuh perhatian.

"Terima kasih, Mas," ucapku pelan, memanggilnya dengan sebutan yang mulai terasa begitu alami di lidahku.

Mendengar panggilan itu, matanya berkilat hangat. Ia duduk kembali di tepi tempat tidur, jaraknya begitu dekat hingga aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya. "Kau tidak perlu berterima kasih pada hal yang seharusnya kulakukan sejak lama. Di kehidupan yang dulu, aku terlambat menyadari betapa berartinya kau bagiku. Kali ini, aku tidak akan pernah terlambat lagi—bahkan untuk hal sekecil apa pun."

Ia mengambil sisir kayu yang ada di meja rias, lalu perlahan menyisir rambutku yang masih sedikit lembap. Gerakannya begitu hati-hati, seolah takut menyakiti sedikit pun. Tidak ada kata-kata manis yang meluncur dari bibirnya, namun setiap gerakannya berteriak lantang bahwa perasaannya jauh lebih dalam daripada sekadar perjanjian kontrak atau rasa kasihan.

"Aku ingat saat kau sakit demam tinggi saat kelas dua SD," ucapnya tiba-tiba sambil terus menyisir rambutku pelan. "Kau tidak mau makan dan terus menangis mencari ibumu. Aku diam-diam membelikan bubur ayam kesukaanmu dan menitipkannya pada penjaga gerbang sekolah. Saat itu aku berjanji dalam hati, suatu hari nanti aku akan menjadi orang yang bisa merawatmu secara langsung, bukan lagi dari balik pagar atau dari kejauhan."

Air mata perlahan menetes di pipiku. Segala kebingungan, rasa sakit, dan ketakutan yang kurasakan belakangan ini perlahan luruh digantikan oleh rasa aman yang begitu besar. Ternyata selama ini ada seseorang yang selalu mengamatiku, yang selalu menyimpan setiap detail kecil tentang dirinya, dan yang rela menunggu bertahun-tahun hanya untuk mendapatkan kesempatan melindungiku dengan cara yang benar.

"Kau tidak pernah memberitahuku hal ini," bisikku.

"Karena aku takut," akunya jujur, suaranya terdengar rapuh sejenak. "Aku takut kau akan menganggapku gila, atau menganggapku terlalu ikut campur dalam hidupmu. Aku hanya seorang anak yang kesepian yang melihat cahaya pada seorang gadis yang selalu tersenyum meski sering diperlakukan tidak adil."

Ia meletakkan sisir itu kembali ke meja, lalu menyelimutiku hingga ke dada dengan rapi. Tangannya berhenti sejenak di atas kepalaku, mengelus puncak kepalaku dengan penuh kasih sayang yang tak terucapkan.

"Tidurlah. Aku akan duduk di sini sampai kau terlelap. Jangan khawatir, tidak ada yang akan mengganggumu malam ini."

Malam itu, aku tidak merasa dingin lagi. Tidak ada rasa takut akan bayangan masa lalu atau ancaman orang yang bersembunyi di kegelapan. Hanya ada suara napas tenang Erlan yang duduk setia di samping tempat tidurku, dan kehangatan yang menjalar dari setiap perhatian kecil yang ia berikan.

Namun di tengah rasa damai itu, sebuah pemikiran muncul di benakku, jika perhatiannya sedalam ini, apa yang akan terjadi jika Dimas mengetahui hal ini? Apakah rasa sakit hatinya akan semakin dalam melihat kami berdua begitu dekat? Dan apakah Paman Dika akan memanfaatkan kelemahan ini untuk menyerang saat kami sedang lengah dalam kebahagiaan kecil kami?

Saat mataku mulai terpejam perlahan, aku melihat Erlan mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu dengan wajah serius. Pesan itu ditujukan pada kepala tim penyelidiknya: "Perketat pengawasan di seluruh area rumah. Mulai sekarang, jangan ada celah sedikit pun. Keamanan Dian adalah prioritas utama."

Malam itu aku belajar satu hal penting: cinta sejati tidak selalu datang dalam kata-kata indah atau janji-janji manis. Ia datang dalam bentuk air hangat yang disiapkan saat kita kedinginan, dalam bentuk tangan yang menyisir rambut saat kita lelah, dan dalam bentuk kesetiaan yang diam namun tak tergoyahkan bahkan dari seseorang yang dikenal dunia sebagai sosok yang paling dingin dan tak tersentuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!