NovelToon NovelToon
Batas Dimensi Takdir

Batas Dimensi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:963
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.

Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.

Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.

Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?

Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.

Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.

“Kau... masih hidup?”

Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Ancaman

Kael tidak menghiraukan ancaman Seana. Akhirnya Seana dan Lilina terpaksa keluar, diikuti prajurit. Pintu ditutup. Di dalam, Alena terus memegang tangan Raka, berusaha menenangkan pria itu. Kael memeriksa kondisi raja, lalu menghela napas. “Beliau stabil lagi. Tapi terlalu banyak ketegangan.”

Alena menunduk, air matanya jatuh ke tangan Raka. “Mereka tidak akan berhenti, Kael. Mereka ingin menyingkirkanku sepenuhnya.”

Kael mengangguk berat. “Saya tahu. Dan sekarang, setelah kejadian tadi, Ibu Suri pasti akan memakai ini sebagai alasan untuk menghukum Anda lebih berat. Melanggar keputusan dewan, menyebabkan Raja kambuh… itu cukup untuk mereka.”

Alena mengangkat wajah, matanya merah tapi penuh tekad. “Biar saja. Aku tidak akan meninggalkan dia lagi. Bahkan jika harus melawan seluruh istana.”

Di luar kamar, Seana berdiri di koridor dengan wajah penuh amarah. Lilina berdiri di sampingnya, wajah tetap lembut. “Dia semakin berani,” kata Seana geram. “Kita harus segera bertindak lebih jauh, Lilina. Aku tidak mau melihat dia kembali ke sisi kakakku.”

Lilina menatap pintu kamar yang tertutup, lalu tersenyum tipis. “Tenang, Putri Seana. Setiap pemberontakan… selalu butuh hukuman yang setimpal. Kita hanya perlu menunggu saat yang tepat.”

Di dalam kamar, Raka yang masih setengah sadar menggenggam jari Alena lemah. “Jangan… pergi…”

Alena mengecup punggung tangan itu. “Tidak. Kali ini aku yang akan bertarung… demi kita berdua.”

Pagi datang dengan langit yang lebih gelap dari biasanya. Kabut abadi di luar tembok istana bergolak seperti sedang marah, seolah merasakan ketegangan yang semakin memuncak di dalam.

Alena tidak sempat kembali ke Paviliun Tamu semalam. Setelah Raka stabil, Kael dengan berat hati memintanya pergi sebelum Ibu Suri datang. “Jika mereka menemukan Anda di sini saat fajar, hukuman akan jauh lebih berat,” bisik Kael. Alena akhirnya pergi lewat koridor rahasia.

Dia belum sampai jauh ketika empat prajurit dewan sudah menunggu di ujung koridor sayap timur. “Yang Mulia Ratu Alena,” kata pemimpin prajurit datar, “Anda diminta menghadap dewan segera. Keputusan terkait pelanggaran semalam akan dibacakan.”

Alena tidak terkejut. Dia hanya mengangguk dan mengikuti mereka dengan langkah tegap, meski dadanya terasa sesak.

Ruang dewan sudah penuh saat dia tiba. Ibu Suri duduk di kursi tertinggi, wajahnya dingin seperti es. Di sisi kanannya, Seana tersenyum tipis penuh kemenangan. Lilina duduk beberapa kursi lebih rendah, wajahnya lembut dan penuh keprihatinan. Para tetua dewan menatap Alena dengan pandangan campuran.

Salah satu tetua berdiri, membuka gulungan surat bersegel. “Yang Mulia Ratu Alena, semalam Anda terbukti melanggar keputusan dewan dengan menyelinap masuk ke kamar Yang Mulia Raja tanpa izin. Tindakan tersebut menyebabkan nyawa Yang Mulia Raja terancam. Berdasarkan adat istana dan demi menjaga ketertiban…”

Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “…Anda dihukum tahanan rumah di Paviliun Tamu selama empat belas hari. Selama masa itu, Anda dilarang mendekati sayap utara, dilarang bertemu Yang Mulia Raja, dan segala aktivitas di luar paviliun harus mendapat izin tertulis dari dewan. Jika melanggar lagi, hukuman berikutnya adalah pencabutan sementara status Ratu dan pengasingan ke menara utara.”

Seana menunduk, menyembunyikan senyum puas. Lilina menghela napas pelan seolah turut sedih. Alena berdiri tegak di tengah ruangan. “Saya menerima hukuman itu. Tapi saya ingin dewan mencatat satu hal... saya menyelinap masuk karena Yang Mulia Raja memanggil nama saya saat setengah sadar. Dan saya tidak akan meminta maaf karena melindungi orang yang saya cintai.”

Ibu Suri mengetuk tongkatnya ke lantai. “Cukup. Keputusan final. Bawa dia kembali ke paviliun.”

Tahanan rumah dimulai. Paviliun Tamu kini terasa seperti penjara mewah. Dua prajurit berjaga di depan pintu siang malam. Dayang yang melayani Alena diganti dengan orang-orang pilihan Ibu Suri—wajah mereka datar, mulut mereka rapat. Makanan yang diantar selalu terasa hambar, dan Alena curiga ada yang dicampurkan, meski dia tidak pernah menemukan bukti.

Setiap hari, dia mendengar laporan samar dari Kael yang sesekali berhasil mengirim pesan lewat celah. Raka sudah lebih sering sadar, tapi masih sangat lemah. Dia terus menanyakan keberadaan Alena. Setiap kali, Seana atau Lilina yang menjawab dengan lembut, “Ratu sedang istirahat di paviliun lain demi adat, Yang Mulia. Beliau sendiri yang meminta demikian.”

Raka tidak percaya. Suatu sore, saat kesadarannya cukup jernih, dia memarahi Seana dengan suara serak. “Jangan bohongi aku. Alena tidak akan meninggalkanku dengan sukarela. Kau dan Ibu… kalian yang mengusirnya.”

Seana pura-pura tersinggung. “Kakak, kami hanya mengikuti keputusan dewan. Jika kau terus membela dia, luka mu tidak akan sembuh.”

Lilina yang duduk di sisi lain langsung menimpali dengan suara lembut. “Yang Mulia, tolong jangan marah. Emosi hanya akan memperburuk kondisi. Biarkan saya ganti balutan luka Anda…”

Raka menolak. “Jangan sentuh aku. Panggil Kael. Aku ingin bicara dengannya sendirian.”

Di Paviliun Tamu, Alena hampir gila karena ketidakpastian. Pada hari ketiga tahanan, dia nekat mencoba keluar lewat jendela belakang. Tapi prajurit sudah mengantisipasi. Dia ditangkap di taman dalam dan digiring kembali dengan kasar. Berita itu langsung sampai ke Ibu Suri. Malam itu, Ibu Suri datang sendiri ke Paviliun Tamu. Wanita tua itu masuk tanpa diumumkan, diikuti Seana.

“Kau memang tidak bisa diam,” kata Ibu Suri dingin. “Hukuman empat belas hari rupanya terlalu ringan.”

Alena berdiri di tengah ruangan, menatap mereka tanpa gentar. “Saya hanya ingin tahu kabar Raka. Itu saja.”

Seana melangkah maju. “Kakakku mulai sadar dan terus memanggil namamu. Tapi kami sudah bilang kau yang meminta dipisahkan. Lama-lama dia akan percaya. Dan saat itu, kau tidak akan punya tempat lagi di sisinya.”

Alena tertawa pahit. “Kalian bisa membohongi seluruh istana, tapi tidak bisa membohongi Raka selamanya. Dia bukan orang yang mudah dikendalikan.”

Ibu Suri menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. “Benar. Makanya kami sedang menyiapkan langkah berikutnya. Jika hukuman ini tidak membuatmu tunduk, kami akan pakai cara lain. Misalnya… membuka kembali kasus kepergianmu dulu. Ada banyak rahasia yang bisa digali, Alena. Rahasia yang bahkan putraku tidak tahu.”

Alena membeku. “Apa maksud Anda?”

“Kau tahu sendiri,” jawab Ibu Suri pelan. “Darah bulan, segel, dan alasan sebenarnya kau melarikan diri dulu. Jika dewan mendengar versi kami… status Ratu mu bisa dicabut sepenuhnya. Bahkan Raka tidak akan bisa melindungimu.”

Setelah Ibu Suri dan Seana pergi, Alena duduk di lantai, memeluk lututnya. Rasa takut yang sebenarnya mulai muncul. Bukan takut pada hukuman fisik, tapi takut pada kemungkinan Raka akan mendengar kebohongan tentang masa lalunya sebelum dia sempat menjelaskan sendiri.

Hari kelima. Kael berhasil menyelinap masuk ke Paviliun Tamu lewat jalur rahasia. Wajahnya lelah. “Yang Mulia, Raja sudah cukup sadar. Beliau menolak makan jika tidak bertemu Anda. Beliau bahkan mengancam akan menolak pengobatan. Dewan mulai goyah karena takut kondisi Raja memburuk.”

Alena mengangkat wajah cepat. “Kalau begitu, ada kesempatan?”

Kael mengangguk. “Saya sedang mendorong beberapa anggota dewan yang masih setia pada Raja untuk mengajukan peninjauan ulang hukuman. Tapi Ibu Suri dan Putri Seana tidak tinggal diam. Mereka membawa Lilina lebih sering ke sisi Raja. Gadis itu… berbahaya dengan cara yang berbeda. Dia membuat Raja merasa bersalah setiap kali menolak perawatannya.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!