NovelToon NovelToon
Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Kapten
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**

Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.

Malam itu mengubah segalanya.

Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.

*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.

Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.

Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26

Wibawa Sang Cucu Sulung

"Malam ini jangan menyelamatkan siapa pun."

Adrian mengatakan itu saat mereka berdiri di depan pintu aula Naga Emas.

Kayla menatapnya. "Kalau ada yang tersedak, aku harus memeriksa izin keluarga dulu?"

"Maksudku, jangan memberi mereka kesempatan mengundangmu lagi hanya untuk mendapat dokter gratis."

Pintu terbuka. Puluhan anggota keluarga Gunawan dan relasi bisnis memenuhi aula. Engkong Herman mengadakan makan malam keluarga dengan alasan memperkenalkan susunan baru perusahaan, tetapi Ema Lanny telah mengubahnya menjadi panggung lain untuk menilai Kayla.

Vanessa hadir dalam gaun merah dan duduk di sebelah Ema Lanny. Reyner ikut sebagai kakaknya, meski tatapannya lebih sering mencari Kayla daripada mengikuti percakapan.

"Akhirnya datang," kata Ema Lanny. "Vanessa sudah menunggu sejak tadi."

Adrian menarik kursi untuk Kayla. "Saya datang bersama istri saya. Kalau Ema mengundang orang lain untuk menunggu saya, itu bukan tanggung jawab saya."

Vanessa memucat.

Ema Lanny belum menyerah. Ia memanggil pelayan menukar kartu tempat duduk agar Vanessa berada lebih dekat dengan Adrian.

"Vanessa dibesarkan untuk menghadapi acara seperti ini," katanya kepada kerabat di meja utama. "Dia mengerti yayasan, pergaulan bisnis, dan nama baik keluarga."

Reyner meletakkan sendok. "Vanya datang sebagai adik saya, bukan calon istri orang. Adrian sudah menikah."

Vanessa menoleh tajam. "Ko tidak perlu bicara untukku."

"Kalau kamu tidak mau dipermalukan, jangan biarkan orang lain menaruhmu di antara pasangan suami istri."

Adrian mengembalikan kartu tempat duduk ke posisi semula dan tetap di samping Kayla.

Kayla menatap Ema Lanny. "Kalau Ema ingin memuji Vanessa, silakan. Tidak perlu memakai pernikahan saya sebagai hadiah untuknya."

"Kamu takut dibandingkan?"

"Tidak. Saya hanya tidak bersaing untuk sesuatu yang sudah menjadi pilihan saya dan Adrian."

Melinda tersenyum kepada para tamu. "Adrian selalu terus terang. Sayangnya, tidak semua keputusan yang cepat dibuat menghasilkan pasangan yang siap membawa nama keluarga."

"Benar," sambung Tante Cindy. "Setelah kejadian arisan, nama Gunawan menjadi bahan pembicaraan."

Kayla mengambil air. "Karena saya menyelamatkan tamu Tante?"

"Karena kamu berdebat di depan siaran langsung."

"Siaran itu dibuat tanpa memberi tahu saya bahwa acara amal akan berubah menjadi pemeriksaan harga gaun."

Seorang kerabat tertawa kecil. "Dokter memang pandai menjawab. Tapi menjadi istri pewaris membutuhkan lebih dari keberanian bicara."

"Adrian sudah mundur sebagai calon penerus," kata Kayla. "Jadi kalian perlu memilih. Saya tidak bisa sekaligus dihina karena menikahi pewaris dan dianggap tidak berguna karena suami saya bukan pewaris."

Beberapa tamu saling pandang.

Alwin mengangkat gelas. "Justru itu masalahnya. Ko Adrian meninggalkan tanggung jawab besar demi pernikahan yang bahkan belum berumur sebulan."

"Aku meninggalkan posisi yang dipakai keluarga untuk mengatur hidupku," jawab Adrian. "Bukan tanggung jawab kepada karyawan atau saham milikku."

"Tanpa Gunawan, apa yang tersisa?" tanya Herwan.

Aula sunyi.

Adrian memberi isyarat kepada Manajer Mahdi. Layar presentasi di belakang panggung menyala, menampilkan laporan tahunan Naga Emas.

"Karena pertanyaan itu terus diulang, malam ini saya jawab sekali."

Di layar muncul struktur kepemilikan klub, perusahaan teknologi logistik, investasi armada darat, serta dua portofolio minoritas. Nilai aset tidak seluruhnya ditampilkan, tetapi pendapatan, jumlah karyawan, pajak, dan program kesejahteraan tercatat jelas.

"Naga Emas saya bangun bersama Ci Michelle," kata Adrian. "Modal awal berasal dari aset Mama yang dikelola keluarga Sanjaya dan penghasilan kami sendiri. Tidak satu rupiah pun berasal dari kas Argatama."

Bisik-bisik memenuhi aula.

Beberapa kerabat yang tadi mengejek toko Halim kini membuka laporan dengan wajah serius. Manajer Mahdi menyebut jumlah tenaga kerja tetap, program beasiswa anak karyawan, dan perluasan dapur pusat. Kayla melihat mereka akhirnya diam bukan karena memahami dirinya, melainkan karena angka yang mereka hormati. Ia tidak menyukai ukuran itu, tetapi setidaknya Adrian sedang memakainya untuk menutup mulut mereka.

"Saya tidak membutuhkan laporan ini untuk tahu nilai suami saya," kata Kayla. "Dan saya juga tidak membutuhkan nama Gunawan untuk tahu nilai diri saya. Kalau malam ini kita masih ingin bicara sebagai keluarga, berhentilah memperlakukan pernikahan kami seperti tender perusahaan."

Michelle menjadi orang pertama bertepuk tangan. Kevin menyusul, lalu Hendra dan Winnie. Tepuk tangan itu tidak ramai, tetapi cukup membuat Melinda serta Cindy kehilangan kesempatan membalas.

Hansen mencondongkan tubuh. "Angka ini sudah diaudit?"

Vincent menyerahkan salinan laporan. "Diaudit kantor independen. Ringkasannya juga tercatat untuk kepatuhan pajak."

Adrian melanjutkan, "Perusahaan logistik saya melayani beberapa klien Argatama dengan kontrak terbuka. Investasi lain dikelola tanpa jaminan keluarga Gunawan. Jadi ketika saya melepaskan posisi penerus, saya tidak kehilangan kemampuan menghidupi rumah tangga."

Manajer Mahdi mengganti layar. Kali ini yang terlihat bukan nilai perusahaan, melainkan daftar mitra dan jadwal pembukaan dua pusat distribusi baru.

"Pak Adrian juga tidak menarik dividen selama dua tahun pertama," katanya. "Keuntungan dipakai membayar gaji saat pembatasan usaha dan mempertahankan seluruh pegawai tetap."

Seorang paman yang sebelumnya mengejek pekerjaan pilot menutup laporan perlahan. "Kenapa hal sebesar ini tidak pernah diumumkan?"

"Karena perusahaan berjalan tanpa memerlukan nama Gunawan sebagai iklan," jawab Michelle. "Kami tidak bersembunyi. Kalian hanya tidak pernah bertanya karena mengira Adrian tidak punya apa-apa di luar Argatama."

Om Hendra mengangkat gelas kepada Adrian. "Kalau begitu, selamat. Bukan karena angkanya. Karena kamu membangunnya tanpa menginjak orang lain."

Kevin ikut mengangkat gelas. Sean dan Nico yang berdiri di sisi ruangan melakukan hal yang sama.

Herwan tidak menyentuh gelasnya. Ia baru menyadari putra yang selama ini disebut membuang masa depan telah membangun masa depan lain tanpa meminta restu.

Kayla melihat wajah-wajah yang sebelumnya penuh iba berubah menghitung.

Ema Lanny mengetukkan tongkat. "Kekayaan tidak mengubah asal istrimu."

"Saya tidak berniat mengubahnya."

Adrian berdiri dan meletakkan tangan di sandaran kursi Kayla.

"Kayla adalah dokter yang membangun karier tanpa nama keluarga, menyelamatkan orang ketika ruangan ini hanya bisa merekam, dan tidak pernah meminta satu saham pun dari saya. Kalau asal seperti itu masih dianggap memalukan, ukuran kalian yang rusak."

Tidak ada yang menyela.

"Mulai malam ini," lanjut Adrian, "siapa pun yang menghina istri saya tidak akan menjadi tamu di Naga Emas, tidak akan mendapat akses ke perusahaan saya, dan tidak akan memakai hubungan keluarga untuk meminta bantuan."

Tante Cindy menegang. Beberapa kerabat yang memiliki keanggotaan klub langsung menunduk.

"Kamu mengancam keluarga sendiri?" tanya Herwan.

"Saya menetapkan batas di tempat milik saya."

Engkong Herman yang sejak tadi diam mengangkat cangkir teh. "Batas yang jelas lebih baik daripada keluarga yang pura-pura akur. Lanjutkan makan malam."

Kalimat itu terdengar seperti izin sekaligus pengakuan.

Alwin menatap laporan dengan rahang keras. Hansen membalik halaman audit lebih cepat. Melinda berhenti tersenyum.

Vanessa meraih lengan Ema Lanny. "Saya sebaiknya pulang."

"Duduk," bisik Ema. "Belum selesai."

Namun bagi seluruh ruangan, persoalannya sudah selesai. Adrian tidak membutuhkan kursi Gunawan untuk berdiri lebih tinggi daripada orang-orang yang memperebutkannya.

Kayla menyentuh punggung tangannya. "Kamu menyiapkan presentasi ini sejak kapan?"

"Sejak Cindy mengirim undangan."

"Jadi larangan menyelamatkan orang hanya pengalih perhatian?"

"Aku perlu memastikan kamu masuk tanpa membawa proyektor sendiri."

Kayla tertawa. Ketegangan di bahunya akhirnya turun.

"Aku tidak ingin kamu membuka semuanya hanya karena mereka menghina keluargaku," katanya lebih pelan.

"Aku tidak membuka semuanya."

Kayla menatapnya curiga.

"Itu baru bagian yang boleh dibaca tamu," jelas Adrian. "Dan aku tidak melakukannya agar mereka menerima asalmu. Aku melakukannya agar mereka berhenti memakai uangku sebagai alasan untuk merendahkanmu."

"Kalau besok mereka menemukan alasan lain?"

"Besok kita tutup pintu."

Kayla menggenggam tangannya di bawah meja. Kali ini tepuk tangan atau angka di layar tidak penting. Yang penting Adrian tidak meminta Kayla berubah agar layak dipertahankan.

Di seberang meja, Reyner mengamati pertukaran itu. Ia merasa bersalah karena datang dengan tujuan lain, tetapi hasil verifikasi pengacara baru tiba sore tadi. Nama Rosa Halim cocok dengan perempuan pada registrasi persalinan lama.

Ia masih membutuhkan bukti biologis sebelum mengganggu hidup Kayla dengan dugaan sebesar itu.

Pengacara telah memberinya nomor laboratorium swasta yang dapat memeriksa sampel hubungan biologis untuk keperluan informasi. Hasilnya tidak dapat dipakai di pengadilan dan laboratorium tetap menyarankan pengambilan ulang dengan identitas serta persetujuan semua pihak.

Reyner tahu jalan yang benar adalah berbicara kepada Kayla.

Ia juga tahu satu dugaan yang salah dapat membuat perempuan itu merasa sedang diperebutkan oleh keluarga asing. Ketakutan kehilangan Yaya mendorongnya mencari kepastian lebih dulu, meski caranya mengkhianati batas yang baru kemarin ia janjikan.

Setelah jamuan selesai, tamu mulai berpindah ke lobi. Kayla meletakkan cangkir tehnya di meja samping saat Michelle memanggilnya untuk menemui seorang donor.

Reyner melihat cangkir itu.

Ia teringat janjinya sendiri untuk tidak mengambil barang pribadi tanpa izin.

Tangannya tetap bergerak.

Dengan saputangan bersih, ia memegang bagian bawah cangkir dan memasukkannya ke kantong sampel yang dibawa pengacaranya. Sampel itu tidak memiliki rantai pengawasan resmi dan tidak bisa dipakai sebagai bukti hukum. Hanya petunjuk awal, katanya dalam hati.

Namun pelanggaran tetaplah pelanggaran.

"Ko Reyner?" panggil Vanessa dari belakang.

Ia menutup tas sebelum berbalik. "Ya?"

"Kita pulang."

"Sebentar lagi."

Vanessa menatap tas di tangannya, tetapi Alicia datang mengajak bicara sebelum ia sempat bertanya.

Di bawah lampu aula, Reyner menggenggam kantong berisi cangkir itu lebih erat lalu berjalan masuk ke kerumunan.

Sebuah tes yang belum sah untuk membuktikan apa pun kini membawa rahasia yang dapat menjungkirbalikkan dua keluarga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!