NovelToon NovelToon
DOSEN DUDA DINGIN

DOSEN DUDA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Dosen
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: BJP

Oliver Robert dosen tampan bersatatus duda dan dia mempunyai anak kembar, suatu hari anak kembarnya Oliver bertemu dengan salah satu mahasisa Piskolognya yang bernama Zafana
Oliver dan kedua anaknya yang sellu menutup diri dari orang lain.

Pertemuan yang tidak sengaja itu membuat Oliver sadar jika Zafana berbeda dari wanita yang lain yang pernah ia temui dari wanita lain termasuk mendiang istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BJP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

Malam harinya, ketika semua pegawai perusahaannya sudah pulang dan meninggalkan pekerjaannya, Oliver masih berada dikantornya dengan pikiran yang bercabang.

Tangannya sedari tadi mengetik sebuah surat lada laptopnya lalu dicetaknya, namun setelah kertas itu di cetak Oliver malah meremasnya dan membuangnya kesembarang arah.

Erangan demi erangan terdengar sangat keras dari luar ruangan itu. Keadaan kantornya memang sudah sangat sepi karena waktu sudah menunjukan pukul tengah malam.

Drrrtt drrrttt

Ponsel yang sejak tadi berada disampingnya bergetar tiada henti. Bahkan dari sore ponselnya selalu memperlihatkan kontak Zafana yang menelepon karena cemas. Selesai dengan acara di restoran sore tadi Zafana mengobrol dengan Aileen, dengan pintar Aileen menjelaskan bahwa Oliver sedang tidak baik-baik saja.

Kerap ia marah-marah pada kedua anaknya itu hingga membuat mereka menangis, tapi kerap kali juga Oliver mengurung diri didalam kamarnya setelah pulang kerja hingga lupa dengan kedua anaknya yang menunggu kehangatan dari sang ayah.

Dalam cerita itu lah Zafana kemudian mencemaskan Oliver Pasalnya, lelaki itu tidak pernah menceritakan apapun tentang permasalahan yang sedang ia alami.

"Mas.."

Suara lembut itu terdengar dengan langkah kaki yang juga sangat cemas. Dari ujung kepala hingga ujung kakinya semua basah, suara petir pun mengiringi langkah cepatnya.

Ceklek

Pintu ruangan Oliver terbuka, namun itu tidak membuatnya menoleh ataupun mengalihkan pandangannya dari laptop. Zafana berlari menuju Oliver lalu meraih ponsel milik lelaki itu.

"Mas 35 kali aku neleponin kamu, kok kamu gak angkat?"tanya Zafana.

Tidak ada jawaban.

"Mas jawab aku, kamu lagi kenapa mas?"

Masih tidak ada jawaban.

"Mas--"

"Bisa jangan ganggu saya? Saya harus bekerja!"ucap Oliver dengan tegas dan lantang.

Zafana menyadari bahwa petanyaan sepelenya itu salah, lalu ia beringsut dan mengusap perlahan tangan Oliver.

"Mas maaf, aku cuma khawatir sama keadaan kamu"ucap Zafana lembut.

AlOliver tidak menggubris perkataan Zafana dan kembali mencetak hasil ketikannya dari laptopnya.

"Mas, pulang yuk..istirahat dulu sebentar"ucap Zafana.

"Kamu pulang aja sendiri, kerjaan saya masih banyak"jawab Oliver dingin.

"Mas, anak-anak nungguin kamu dirumah..mereka--"

Brakk

Oliver menggebrak meja sembari bangkit dari duduknya. Napasnya menderu hingga membuat Zafana melangkah mundur karena takut.

"Sudah berapa kali saya ingatkan kamu untuk pergi! Tinggalkan saya sendiri!"tegas Oliver dengan mata yang tajam dan memerah menatap dengan tatapan menakutkan kearah Zafana.

Dengan langkah yang cepat Zafana berlari dan langsung merengkuh tubuh Oliver.

"Mas aku minta maaf, tapi jangan marah kayak gini..aku takut"gumamnya dalam pelukan itu.

Menyadari suara gemetar itu Oliver kemudian tersadar lalu menundukan kepala, menatap puncak kepala Zafana yang terlihat basah lalu beralih menatap jendela ruangan yang juga terkena percikan air hujan.

"Zafa---"

"Mas demi Tuhan aku cemas sama kamu, anak-anak juga cemas sama kamu...kamu boleh marahin aku mas, marahin aku aja jangan anak-anak please"ucap Zafana dengan pelukan yang semakin erat dan kedua kaki yang dihentakan pelan secara bergantian.

"Tinggalkan saya sendiri, saya butuh waktu"ucap Oliver dengan nada tenang namun sangat datar.

Pandangannya pun kembali lurus, membiarkan Zafana memeluknya seorang diri tanpa ada rasa ingin membalas pelukan itu.

Zafana mengangguk, "aku pergi sekarang mas aku pergi, tapi setelah ini aku mohon jangan lampiasin amarah kamu ke anak-anak. Mereka gak paham apa-apa soal dunia kamu"

"Lepas pelukan kamu, saya gak nyaman"

Dengan sigap Zafana segera mundur dengan napas yang sesak. Tangisan nya ia tahan karena tidak ingin membuat keadaan semakin sulit. Kepalanya pun mendunduk tidak ingin menatap kearah Oliver yang masih belum menstabilkan emosinya.

"Aku pamit, mas"lirih Zafana lalu beranjak pergi dari ruangan itu.

Oliver masih menatap lurus kedepan tanpa ingin melihat Zafana yang memutuskan untuk benar-benar pergi dan memberi Oliver waktu untuk sendiri.

Sesampainya dirumah Zafana disambut dengan tatapan cemas Clara, Aileen dan Enzi yang menunggu kedatangannya bersama Oliver.

"Nak, kamu hujan-hujanan?"tanya Clara sembari menangkup kedua bahu Zafana.

"Sedikit kok ma"jawab Zafana sembari menurunkan kedua tangan Clara.

"Mami...maafin Ai, mami jadi kehujanan gara-gara Ai"ucap Aileen dengan wajah yang sangat merasa bersalah.

"Enggak apa-apa sayang, harusnya mami yang minta maaf karena papa gak bisa mami ajak pulang"jawab Zafana sembari mengusap lembut puncak kepala Aileen.

"Papa lagi apa ma?"tanya Enzi

"Papa masih banyak kerjaan sayang, jadi kita yang sabar nunggu papa ya"jawab Zafana.

Enzi dan Aileen mengangguk.

"Yaudah, kan udah tau tuh keadaan papa gimana, sekarang Ai sama Enzi bobo yuk sama eyang, biarin mama mandi terus istirahat"ucap .

"Iya, eyang"jawab Enzi.

"Mami, jangan sakit ya"ucap Aileen sambil menggenggam tangan dingin Zafana.

"Iya sayang, makasih ya"

"Dah mami"

"Istirahat ya, Zafa ucap Clara sembari menuntun kedua anak Oliver.

"Iya ma, makasih banyak ya ma"jawab Zafana.

Enzi dan Aileen pun berjalan beriringan dengan Clara. Belum sempat mereka memasuki kamar, Enzi berbalik lalu melambaikan tangannya kearah Zafana.

-

".....papa tadi mama pulang bajunya basah karena Ai minta mama buat jemput papa pulang....mama juga nangis dikamarnya padahal Enzi mau bobo dikamar mama...

Papa nanti kalau pulang minta maaf sama mama ya pah..

Dah papa"

Oliver terdiam setelah mendengar sebuah pesan suara yang dikirimkan oleh Enzi lewat telepon genggam milik Clara. Oliver sendiri tidak mengerti kenapa Enzi bisa melakukan itu.

Tapi dibalik itu ia juga ikut memikirkan Zafana karena kesalahan yang ia buat. Lagi-lagi gadis yang tiak tahu apa-apa itu menjadi korban pelampiasan amarahnya tanpa sengaja dan berujung membuatnya menangis.

1
Desifa Juni Raya
bagus
Desifa Juni Raya
ini udh selesai apa blom
Desifa Juni Raya
krater oliver ini pemarah emosian
Syahrini Rin
Karya nya bagus dan cukup seru
Reni Anjarwani
lanjut2
Reni Anjarwani
bagus ceritanya up doubel thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!