NovelToon NovelToon
Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius / Penyesalan Suami / Teman lama bertemu kembali
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 010

Hari pertama penuh di Jakarta International Preschool dimulai dengan kegiatan menggambar keluarga.

Guru menaruh kertas putih di meja kecil. Anak-anak mengambil krayon, beberapa langsung menggambar rumah, beberapa menggambar matahari yang terlalu besar. Tiffany mengambil krayon merah muda. Ethan mengambil hitam, biru, dan entah bagaimana sebuah pensil mekanik yang seharusnya tidak ada di kelas TK.

Darren duduk di meja sebelah, memegang krayon abu-abu.

Sejak pagi, ia belum bicara. Namun matanya beberapa kali bergerak ke arah Ethan.

Ethan pura-pura tidak melihat selama sepuluh menit. Setelah guru sibuk membantu anak lain, ia menggeser kursinya sedikit.

"Aku Ethan," katanya pelan.

Darren menatapnya.

"Kamu sudah tahu."

Darren mengangguk.

"Mommy-ku Keira."

Jari Darren yang memegang krayon menegang.

Ethan menatap pintu kelas, memastikan guru tidak mendengar. "Kamu Koko-ku."

Darren berkedip.

Kalimat itu terlalu langsung. Terlalu besar. Ia menatap wajah Ethan yang sama dengan wajahnya sendiri, tetapi penuh keberanian yang tidak ia miliki.

"Kamu yakin?" tanya Darren akhirnya.

Ethan tersenyum kecil. "Aku anak jenius. Kalau belum yakin, aku bilang kemungkinan statistik."

Darren tidak mengerti seluruh kalimat itu, tetapi ia mengerti bagian yakin.

Ethan membuka saku ranselnya dan mengeluarkan satu foto kecil yang dilaminasi. Foto itu sudah agak pudar. Di atasnya ada gambar USG lama dengan tiga bayangan kecil. Di sudut bawah tertulis tanggal lima tahun lalu.

"Mommy simpan ini," kata Ethan. Suaranya melembut. "Dulu dokter bilang ada tiga bayi."

Foto itu bukan bukti hukum, tetapi bagi anak-anak, gambar tiga titik kecil di layar hitam putih sudah seperti surat dari masa sebelum mereka lahir. Tiffany menyentuh sudutnya dengan ujung jari, sementara Darren memandangnya seolah takut napasnya bisa merusak foto itu.

Darren menatap foto itu lama sekali.

Tiga.

Selama ini dunianya hanya Daddy, Pak Hadi, rumah besar, dan kamar yang terlalu rapi. Ia pernah bertanya pada Kevin tentang Mommy, tetapi pertanyaan itu selalu mati di tenggorokan sebelum keluar. Ia takut membuat Daddy sedih. Ia takut jawabannya lebih buruk daripada diam.

Sekarang ada foto.

Ada anak yang wajahnya sama dengannya.

Ada suara gadis kecil yang memanggilnya Koko.

"Jadi..." Darren menelan ludah. "Masih ada satu?"

"Ada aku!"

Tiffany muncul dari belakang rak buku dengan senyum terlalu cerah untuk misi rahasia. Ia memegang gambar keluarga yang baru setengah selesai.

Ethan menepuk dahinya. "Tiffi, kamu seharusnya menunggu kode."

"Kode kamu lama."

Darren menatap Tiffany.

Tiffany melambai kecil. "Aku Tiffany. Tapi Koko boleh panggil Tiffi. Aku adik."

Darren menatap gambar di tangan Tiffany. Ada seorang perempuan berambut panjang, dua anak laki-laki yang wajahnya sama, satu anak perempuan, dan satu ruang kosong di sebelah perempuan itu.

"Ini untuk siapa?" tanya Darren.

"Untuk Daddy," jawab Tiffany polos. "Tapi Mommy bilang jangan buru-buru kasih."

Ethan batuk keras. "Itu bagian rahasia."

Tiffany menutup mulut. "Ups."

Darren melihat ruang kosong itu. "Daddy siapa?"

Ethan dan Tiffany saling pandang.

Ini bagian yang sulit.

Ethan mencondongkan tubuh. "Daddy kamu mungkin Daddy kami juga."

Darren memegang foto USG lebih erat.

"Daddy Kevin?"

Ethan mengangguk pelan. "Kami belum punya bukti final. Mommy bilang harus pakai DNA, hukum, dan orang dewasa membosankan lainnya. Tapi wajah kita sudah teriak duluan."

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Darren bergerak. Bukan senyum penuh. Hanya retak kecil pada dinding yang terlalu lama berdiri.

Tiffany melihat itu dan langsung berseri-seri. "Koko Ren senyum!"

Darren buru-buru menunduk.

Ethan tidak menggoda. Ia tahu ada hal-hal yang rapuh, bahkan untuknya.

"Kamu mau ketemu Mommy lagi?" tanya Ethan.

Darren mengangguk tanpa ragu.

"Mau tinggal sama Mommy?"

Darren diam. Ia memikirkan Kevin. Daddy yang menggendongnya saat demam. Daddy yang duduk di samping tempat tidurnya ketika mimpi buruk. Daddy yang dingin kepada semua orang, tetapi menyelimuti Darren pelan-pelan agar tidak membangunkannya.

"Aku mau Mommy," katanya pelan. "Tapi aku juga mau Daddy."

Tiffany langsung mengangguk cepat. "Bagus! Berarti Daddy dan Mommy harus bersama."

Ethan menatap adiknya. "Kamu terlalu cepat masuk babak akhir."

"Apa itu babak akhir?"

"Nanti."

Guru mendekat. Ketiganya langsung pura-pura menggambar. Ethan menyembunyikan foto USG di balik buku gambar. Darren memegang krayon abu-abu, tetapi kali ini ia mengambil warna biru juga.

"Wah, Darren menggambar keluarga?" tanya guru dengan lembut.

Darren menatap kertasnya. Biasanya ia hanya menggambar rumah tanpa orang. Hari ini tangannya bergerak pelan, menggambar satu perempuan, satu pria tinggi, dan tiga anak kecil.

Guru terkejut, tetapi tidak ingin mengganggu.

Saat jam istirahat, Ethan membawa Darren dan Tiffany ke taman kecil belakang kelas. Di sana ada pohon kamboja, ayunan pendek, dan bangku yang terlindung dari kamera utama oleh sudut bangunan.

"Kita harus bikin rencana," kata Ethan.

Tiffany mengangkat tangan. "Rencana pertama, Koko Ren pulang ke rumah Mommy."

"Itu bukan rencana. Itu tujuan."

Darren menatap Ethan. "Bagaimana?"

Ethan membuka botol minum, pura-pura minum sambil berbisik, "Kita tukar tempat."

Tiffany langsung bertepuk tangan kecil. "Seru!"

Darren tampak bingung. "Tukar?"

"Malam ini kamu pulang ke Mommy. Aku pergi ke Hartono Estate jadi kamu."

Darren menggeleng. "Daddy tahu."

"Belum tentu. Wajah kita sama."

"Kamu banyak bicara."

Ethan terdiam. Tiffany menahan tawa.

Darren menambahkan dengan sangat serius, "Aku tidak banyak bicara."

Ethan memegang dagu, berpikir. "Benar juga. Aku harus latihan diam."

Tiffany langsung berkata, "Koko Eth pasti gagal."

"Aku bisa."

"Kamu baru diam tiga detik sudah gatal."

Darren tiba-tiba tertawa kecil.

Suara itu pendek, hampir malu-malu, tetapi cukup untuk membuat Ethan dan Tiffany berhenti berdebat.

Mereka menatap Darren.

Darren menunduk, tetapi senyumnya belum hilang.

Di balik jendela kelas, guru melihat tiga anak itu duduk berdekatan. Ia tidak tahu apa yang sedang mereka rencanakan. Ia hanya merasa aneh karena Darren Hartono, anak yang selama ini nyaris tidak pernah tersenyum, hari itu tampak seperti menemukan bagian dirinya yang hilang.

Saat pulang sekolah, Pak Hadi datang menjemput Darren. Keira menjemput Ethan dan Tiffany dari sisi lain. Kevin tidak muncul, tetapi mobil Hartono menunggu di depan gerbang.

Darren berjalan di samping Pak Hadi, lalu menoleh kepada Ethan.

Suaranya sangat pelan.

"Malam ini?"

Ethan menyeringai kecil.

"Malam ini."

Tiffany memegang tangan Keira, lalu berbisik kepada dua kakaknya, "Operasi bawa Koko pulang dimulai."

Keira menunduk. "Tiffi, apa yang dimulai?"

Tiga anak itu langsung memasang wajah paling polos di dunia.

"Menggambar, Mommy," jawab Ethan.

Keira menatap mereka lama.

Ia tidak tahu rencana apa yang sedang tumbuh di kepala anak-anaknya.

Namun ia tahu, sejak hari itu, Darren tidak lagi sendirian.

Dan kadang, bagi seorang anak yang terlalu lama diam, satu teman yang memegang rahasia yang sama sudah cukup untuk membuat dunia berubah warna.

1
sunaryati jarum
Kamu minta maaf bukan merasa bersalah hanya takut perusahaan kamu koleb
sunaryati jarum
Berarti ibu Rosalind masih hidup
Tri Septi
apakah Leon kakaknya Kevin? dia mirip Raymond ayahnya Kevin ya 🤔🤔🤔
Tri Septi
lanjut thor🙏🙏🙏🙏
Tri Septi
mama keira hilang diculik, mama Kevin juga ada di mana ??? makin rumit aja
Tri Septi
semangat Kevin 💪 terima kasih author meski sedikit 😁🙏🙏🙏
Tri Septi
Kevin, ayo buktikan bahwa kamu bersih dan mereka yang berbuat jahat terbukti bersalah /Casual/
Tri Septi
sepandai-pandai tupai melompat suatu saat akan gagal juga....niat jahat semoga dpat digagalkan😆💪🙏
Tri Septi
orang bertopeng ini apakah sama dengan yang mengambil Darren waktu bayi ya......banyak yg terlibat, musuh keira banyak😠 semoga bisa segera terungkap 💪🙏
Tri Septi
penyesalan selalu di akhir
Tri Septi
mama Rosalind mungkin jenius, sehingga ada yg berniat menyembinyikan dan memanfaatkan nya /Frown//Frown//Frown/
Tri Septi
selamat datang kembali "Kei" 😍😍😍
Tri Septi
ada konspirasi....apa motifnya ya /Casual/
Siti Maryati
sampe.ikut berdesir mambaca "kamu punya aku"
Tri Septi
yang dibelakang Maya patut diwaspadai /Casual/ makin penasaran thor😄😄😄
sunaryati jarum
Berarti saudara seibu artinya ayahnya beda
sunaryati jarum
Semoga kalian cepat bersatu
Tri Septi
Kevin mau pdkt apa menyelidik? 🤣🤣🤣
Tri Septi
seperti induk ayam yang melindungi anak2nya, keira semangat 💪💪💪
Tri Septi
musuh dalam selimut 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!