NovelToon NovelToon
Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Galaxy

Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.

Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.

Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1: Yang Terhina Berbalik Menyerang

Tagihan SPP Nathan Wijaya masuk lima menit sebelum Alexander Wijaya tiba di restoran.

Ia membaca angkanya sekali, lalu mengunci layar ponsel. Tidak ada gunanya menghitung ulang. Saldo rekeningnya sudah kalah sebelum angka itu muncul. Uang kos bulan depan, transportasi ke pengadilan, makan, fotokopi berkas, semuanya berdiri dalam antrean yang sama.

Lalu pesan Priscilla Salim masuk.

Jangan telat. Aku sudah pesan tempat.

Alexander memasukkan ponsel ke saku jas lamanya dan menyentuh benda kecil di saku bagian dalam.

Lencana Advokat kuningan milik Herman Wijaya.

"Aku cuma perlu bertahan malam ini," gumamnya.

Ternyata ia salah.

Di restoran mewah pusat Kota Cahaya itu, Priscilla tidak datang untuk makan malam. Ia duduk dekat jendela dengan jam tangan baru di pergelangan tangan, tas branded di kursi sebelah, dan Anthony Wongso, S.H. di sampingnya.

Anthony tersenyum ketika Alexander berhenti di depan meja.

"Akhirnya datang juga, Alex."

Priscilla bahkan tidak menyuruhnya duduk. "Kita selesai."

Kalimat itu pendek. Cukup pendek untuk membuat beberapa tamu di meja sebelah menoleh.

Alexander menatapnya. "Kamu memanggilku ke sini untuk mengatakan itu?"

"Untuk mengakhirinya dengan baik-baik." Priscilla membuka tas, mengeluarkan selembar cek, lalu mendorongnya ke tepi meja. "Ambil. Rp 500.000.000. Setelah ini jangan ganggu aku lagi."

Anthony bersandar dengan santai. "Jumlah yang besar untuk pengacara magang. Bisa bayar kos, bisa bayar SPP adikmu, bisa beli jas yang tidak membuatmu terlihat seperti staf fotokopi."

Bisik-bisik langsung menyebar.

Alexander tidak melihat cek itu lebih dulu. Ia melihat Priscilla.

"Kamu memberitahunya soal Nathan?"

Priscilla mengangkat dagu. "Aku pernah jadi pacarmu. Aku tahu hidupmu seberantakan apa."

Anthony tertawa pelan. "Jangan tersinggung. Semua orang punya kelas masing-masing. Priscilla cuma akhirnya sadar dia tidak pantas turun terlalu jauh."

Alexander mengambil cek itu.

Di atas kertas, angka setengah miliar rupiah terlihat sebagai bantuan. Di meja itu, angka yang sama berubah menjadi tali jerat.

"Kamu ingin aku menerima ini di depan saksi?" tanyanya.

"Aku ingin kamu berhenti sok bermartabat." Priscilla berdiri mendadak. Kursinya menyenggol tubuh Alexander. Saku jasnya tertarik.

Lencana Advokat kuningan jatuh.

Ting.

Suara kecil itu memotong seluruh restoran.

Lencana itu berhenti di dekat sepatu Priscilla. Ia menunduk, lalu wajahnya berubah jijik.

"Benda tua ini lagi?" katanya. "Kamu masih membawa peninggalan ayahmu seperti jimat orang miskin?"

Mata Alexander membeku.

"Jangan sentuh."

Anthony melirik lencana itu. "Oh, jadi ini sumber harga dirimu?"

Priscilla menggeser lencana itu dengan ujung sepatunya.

Tidak keras.

Tapi cukup.

Dada Alexander seperti dihantam dari dalam.

Pada detik yang sama, cahaya biru terbuka di depan matanya.

Ting! Sistem Pengacara Terkuat telah aktif.

Nama: Alexander Wijaya, S.H.

Jenjang: Lv3 Magang Hukum.

Skill dasar aktif: Teori Hukum, Logika Hukum, Pengumpulan Bukti, Basis Data Hukum, Argumentasi Hukum, Penyusunan Dokumen Hukum, Debat Persidangan.

Misi pemula terpicu: Pulihkan martabat di depan penghinaan publik.

Alexander tidak bergerak.

Anthony menyipitkan mata. "Kenapa diam? Baru sadar cek itu terlalu mahal untuk harga dirimu?"

Panel biru berubah.

Analisis dokumen berjalan...

Objek: cek dan catatan penyelesaian pribadi.

Temuan awal: tanda tangan tidak sesuai pola pemilik rekening; tanggal penerbitan bertentangan dengan riwayat blokir rekening; catatan penyelesaian tidak memiliki dasar perjanjian tertulis yang sah; indikasi penggunaan surat berharga bermasalah.

Amarah Alexander tiba-tiba dingin.

Sangat dingin.

Ia berjongkok, memungut Lencana Advokat Herman Wijaya, mengusapnya dengan ibu jari, lalu memasukkannya kembali ke saku bagian dalam.

Setelah itu ia berdiri dan mengangkat cek di tangannya.

"Anthony Wongso," katanya, cukup keras untuk didengar meja-meja sekitar, "kamu yakin ingin aku menerima cek ini?"

Senyum Anthony menipis. "Apa maksudmu?"

"Pertama, tanda tangan di sini tidak sesuai dengan pola pemilik rekening. Tarikan awal terlalu ragu, tarikan akhir terlalu ditekan. Peniru tanda tangan biasanya mengejar bentuk, tapi gagal meniru ritme."

Wajah Anthony berubah sedikit.

Priscilla menoleh. "Anthony?"

"Dia menggertak," kata Anthony cepat.

Alexander menunjuk nomor cek. "Kedua, nomor seri ini berasal dari buku cek yang sudah dilaporkan bermasalah dan diblokir. Tanggal penerbitannya justru lebih baru daripada tanggal blokir. Itu bukan kelalaian kecil. Itu jejak."

Bisik-bisik tamu semakin keras.

Anthony berdiri. "Hati-hati. Tuduhan pemalsuan bisa membuatmu dilaporkan."

"Silakan." Alexander menaruh cek itu kembali di meja, tepat di depan Anthony. "Ketiga, catatan di belakang cek menyebut penyelesaian hubungan pribadi dan kerahasiaan. Tidak ada perjanjian tertulis, tidak ada saksi kontrak, tidak ada dasar kontraprestasi yang jelas. Kalau tujuannya membuat aku diam soal perselingkuhan kalian, catatan ini justru memperlihatkan upaya membeli diam."

Priscilla memucat.

"Kamu bilang dia menjebakmu?"

Alexander menatapnya. "Aku bilang kamu memilih berdiri di sebelah orang yang mengira kemiskinan bisa dipakai sebagai perangkap."

Anthony menghantam meja dengan telapak tangan. Gelas bergetar. "Cukup!"

"Belum." Alexander mengeluarkan ponsel dan memotret cek itu dari dua sisi. "Keempat, kamu memilih restoran terbuka, membuat Priscilla menyerahkan cek ini, lalu menunggu aku marah atau menerimanya. Kalau aku ambil, kamu bisa menuduh pemerasan. Kalau aku meledak, kamu bisa menuduh pengancaman. Rencananya rapi. Sayangnya bukti juga rapi."

Manajer restoran mendekat dengan wajah tegang. "Maaf, Bapak. Ada masalah?"

Anthony langsung menunjuk Alexander. "Dia membuat keributan."

Alexander menoleh kepada manajer. Suaranya berubah formal. "Pak, saya meminta restoran mengamankan CCTV malam ini. Dokumen di meja ini berpotensi menjadi barang bukti. Banyak saksi melihat siapa yang menyerahkannya dan siapa yang menolak menerimanya."

Manajer itu menatap cek, lalu menatap Anthony. Dalam satu tarikan napas, sikapnya berubah.

"Kami akan amankan rekaman, Pak."

Anthony kehilangan warna di wajahnya.

Priscilla mencengkeram tasnya. "Anthony, bilang sesuatu."

Sejak Alexander datang, baru kali ini Anthony kehilangan kalimat siap pakai.

Alexander memasukkan ponsel ke saku. "Priscilla, kita memang selesai. Tapi bukan karena aku tidak pantas berada di lingkaranmu."

Ia menatap Anthony.

"Karena lingkaran seperti ini terlalu sempit untuk hukum yang benar."

Ia berbalik.

Tidak ada yang menghentikannya.

Di belakangnya, suara tamu-tamu restoran naik seperti gelombang. Manajer memberi isyarat kepada staf keamanan. Anthony berdiri kaku di samping cek yang tadi ia kira akan menjadi senjata, sementara Priscilla menatap lencana di saku Alexander seolah baru sadar ia telah menendang sesuatu yang tidak bisa ia beli kembali.

Pintu kaca restoran terbuka.

Udara malam Kota Cahaya dingin. Alexander berhenti di trotoar, menekan saku bagian dalam tempat Lencana Advokat Herman Wijaya tersimpan.

Panel biru muncul lagi.

Ting! Misi pemula selesai.

Martabat dasar dipulihkan. Musuh pertama telah teridentifikasi.

Hadiah sedang dihitung...

Alexander melihat pantulan Anthony di kaca restoran. Pria itu masih berdiri tanpa bergerak.

"Kau baru saja mengetuk pintu yang salah," gumam Alexander.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!