NovelToon NovelToon
Mantan Suami, Lihatlah Aku Sekarang!

Mantan Suami, Lihatlah Aku Sekarang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Vyyy ink

Diceraikan saat hamil dan dibiarkan mati, Clarissa bangkit dalam tubuh Elena—gadis bangsawan super kaya.

Kini Clarissa menguasai dunia, membuang status wanita tertindas, dan naik ke puncak tertinggi. Saat sang mantan suami datang merangkak memohon ampun di kakinya, Elena tersenyum sinis:

"Mantan suami, lihatlah aku sekarang! Kamu bahkan tidak pantas menyentuh ujung gaunku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyyy ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perangkap di Balik Tirai Adat

Kehancuran mental yang dialami oleh Lord Malakai di tengah-tengah aula megah Imperial Financial Hall malam itu menyisakan kepanikan yang luar biasa bagi faksi bangsawan kuno Ibu Kota. Meskipun alunan musik klasik gesek kembali dimainkan untuk menutupi rasa malu, atmosfer di sudut ruangan VIP Dewan Tetua terasa begitu mencekam. Nyonya Besar Victoria von Obsidian duduk di kursi beludru ungunya dengan rahang yang mengeras rapat. Di sampingnya, Lady Cynthia terus menangis sesenggukan, meratapi kipas emasnya yang telah hancur berantakan di atas lantai marmer.

"Bibi... kita tidak bisa membiarkan janda sialan itu menginjak-injak harga diri keluarga kita di depan seluruh kementerian!" jerit Cynthia dengan suara parau yang sarat akan kebencian yang mendalam. "Lihat bagaimana Xavier menatapnya! Pria itu sudah sepenuhnya dikendalikan oleh rubah finansial itu!"

Victoria tidak langsung menjawab. Sepasang mata abu-abu tuanya yang tajam menatap kosong ke arah gelas sampanyenya. Keberhasilan Elena dalam memborong surat utang subordinasi *Imperial Central Bank* adalah sebuah mahakarya finansial yang tidak pernah diantisipasi oleh Dewan Tetua. Elena telah mengunci leher likuiditas mereka, membuat serangan dari sektor bursa saham domestik menjadi tindakan bunuh diri secara massal.

"Diam, Cynthia! Menangis tidak akan mengembalikan hak sewa lahan stasiun kita yang sudah disita!" ketus Victoria, suaranya bergetar rendah menahan amarah yang membara. Pria tambun Lord Malakai di dekat mereka bahkan masih sibuk menyeka keringat dingin di lehernya menggunakan saputangan sutra yang sudah basah kuyup.

"Nyonya Besar Victoria..." ucap Malakai dengan suara bergetar karena ketakutan yang luar biasa. "Kita tidak bisa menggunakan kekuatan konsorsium bank lagi untuk melawannya. Jika Elena menekan tombol pencairan surat utang itu besok subuh... tiga bank utama faksi kita akan langsung dinyatakan kolaps oleh otoritas moneter internasional. Kita harus mencari jalan lain."

Victoria melipat kedua tangannya di depan dada, sebuah senyuman ular yang sangat dingin dan penuh kelicikan perlahan terukir kembali di wajah tuanya yang angkuh. "Jika kita tidak bisa menyerangnya menggunakan hukum komersial modern, maka kita akan menyerangnya menggunakan hukum yang paling ditakuti oleh Xavier. Hukum adat leluhur Obsidian."

Di dalam aturan adat kuno keluarga besar Obsidian yang berpusat di Ibu Kota, seorang kepala keluarga yang menunjuk permaisuri tanpa persetujuan tertulis dari tujuh tetua Dewan Utama, status pernikahannya dianggap cacat secara silsilah darah murni. Dan yang lebih mematikan, hukum adat tersebut memiliki hak absolut untuk membekukan sementara seluruh aset warisan personal milik Xavier yang berada di dalam brankas utama Ibu Kota sampai dewan sidang adat selesai digelar.

"Xavier mengira dia bisa melindungi Elena menggunakan seluruh kekuatan logistik domestiknya di Secilia City," bisik Victoria, suaranya berubah menjadi desisan rendah yang penuh dengan konspirasi hitam. "Dia lupa bahwa seluruh hak milik atas tanah Kastel Obsidian dan garis keturunan Obsidian Group di pusat... masih terikat oleh akta leluhur yang kupegang. Besok pagi, aku akan menggelar Sidang Mahkamah Adat Tertinggi di istana tua distrik barat. Kita akan menuntut Elena atas tuduhan penodaan darah murni keluarga bangsawan."

Cynthia yang mendengar rencana tersebut langsung menghentikan tangisannya, matanya berkilat penuh dengan rasa haus akan balas dendam yang membara. "Benar! Jika aset warisan personal Xavier berhasil dibekukan oleh dewan tetua, pria itu akan kehilangan taring militernya di Ibu Kota ini dalam semalam! Dan Elena... janda kotor itu akan dipaksa berdiri di ruang sidang adat untuk diadili oleh seluruh tetua bangsawan!"

Sementara itu, di dalam kemewahan kamar *Grand Royal Suite* Hotel The Diamond Crest yang diselimuti oleh aroma wangi kayu cedar dan teh herbal pekat, Elena duduk dengan sangat anggun di sofa beludru gadingnya. Gaun malam satin hitamnya yang mewah memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, sementara rambut peraknya yang panjang berkilau indah di bawah bias cahaya lampu kristal gantung ruangan.

Jari-jemari lentiknya bergerak dengan ketelitian tingkat tinggi di atas layar laptop, memeriksa laporan enkripsi dari jaringan informan rahasia Aethelgard Holdings yang baru saja masuk.

Sret...

Sesosok pria jangkung melangkah masuk dari arah balkon pribadi dengan derap langkah kaki yang tegas dan penuh wibawa. Duke Xavier von Obsidian hadir dengan setelan tuksedo formal hitamnya yang kancing atas kemejanya sudah dibuka sedikit, menampilkan kesan santai namun tetap memancarkan aura dominasi seorang penguasa bayangan yang tak tertandingi.

Xavier berjalan tegak mendekati sofa, lalu dengan gerakan yang sangat lembut namun dipenuhi oleh sifat posesif yang mutlak, kedua lengan kokohnya melingkar di pinggang ramping Elena dari arah belakang. Pria itu menarik permaisuri peraknya ke dalam dekapan hangatnya yang terasa begitu kokoh, menundukkan kepala untuk mengecup lembut permukaan kulit leher Elena yang halus.

"Bibiku tampaknya baru saja mengirimkan kurir rahasia ke seluruh rumah tetua faksi bangsawan kuno, Elena," bisik Xavier dengan suara baritonnya yang berat, dalam, dan bergetar rendah tepat di dekat telinga Elena, menyalurkan rasa aman yang mutlak. "Mereka sedang mempersiapkan Sidang Mahkamah Adat Tertinggi untuk besok pagi pukul sembilan di istana tua distrik barat. Mereka ingin menggunakan akta leluhur kuno untuk membekukan aset warisan personal milikku di Ibu Kota."

Elena tidak menunjukkan keterkejutan atau ketakutan seujung kuku pun. Sepasang mata safir birunya yang jernih tetap tenang, memantulkan dokumen regulasi adat kuno Obsidian yang sudah ia retas salinannya sejak sore tadi. Sebuah senyuman sinis yang teramat tipis namun mematikan terukir sempurna di bibir merahnya. Jiwa Clarissa di dalam dirinya telah menghadapi penderitaan maut yang jauh lebih mengerikan daripada gertakan mahkamah adat kolot peninggalan abad lalu.

"Mereka mengira hukum adat itu adalah pelindung terakhir mereka dari ranjau likuiditas yang kupasang, Xavier?" Elena terkekeh hambar, sebuah suara tawa yang begitu merdu namun sarat akan kekejaman seorang predator finansial tertinggi negara. "Victoria dan Lord Malakai terlalu bodoh untuk memahami esensi dari kekuasaan modal modern. Mereka mengira dengan membekukan aset personal milikmu... mereka bisa menghentikan langkahku?"

Elena membalikkan tubuh anggunnya di dalam pelukan hangat Xavier, menatap lurus ke dalam manik mata abu-abu gelap milik suaminya dengan binar mata safir birunya yang dipenuhi kemenangan mutlak bahkan sebelum persidangan adat dimulai. "Xavier, sampaikan perintah kepada tim pengacara internasional kita subuh besok. Kita tidak akan menghindari sidang adat bodoh itu. Kita justru akan datang ke istana tua mereka... membawa dokumen akuisisi atas seluruh sertifikat tanah dan bangunan dari istana leluhur mereka sendiri yang telah kubeli dari kementerian kebudayaan nasional dua jam yang lalu menggunakan dana tunai Aethelgard Holdings."

Elena memajukan wajah cantiknya sedikit, membiarkan cincin pernikahan berlian hitam berbentuk mahkota kecil di jari manisnya berkilau tajam di depan mata Xavier. "Besok pagi di ruang sidang adat mereka... saat bibimu mulai mengetuk palu adat untuk mengadiliku... aku yang akan membacakan perintah pengosongan fisik atas istana leluhur mereka. Mari kita lihat, seberapa kuat hukum adat kuno mereka bertahan saat aku menendang seluruh Dewan Tetua mereka keluar ke jalanan sebagai gelandangan tanpa rumah."

Xavier mempererat pelukan posesifnya pada pinggang Elena, sebuah senyuman kepuasan yang sangat menawan terukir jelas di wajah tampannya. Pria penguasa bayangan itu menundukkan kepalanya lebih dalam, mengunci bibir merah Elena dengan sebuah kecupan yang sangat dalam, hangat, dan penuh kasih sayang. "Keinginanmu adalah hukum tertinggi di atas tanah ini, Elena. Besok pagi... seluruh Ibu Kota akan menyaksikan bagaimana sepasang penguasa sejati meremukkan sisa-sisa kesombongan masa lalu mereka menjadi abu sejarah yang terlupakan."

1
Noey Aprilia
Waahhhh....
Slmt buat klian brdua....ga mst nunggu lma,clon pewaris udh hdir....
xavier pst mkin posesif.....
Noey Aprilia
Wooowww.....
Elena slalu luarrrrr biasa....mreka pnts jd raja dn ratu brkuasa,scra spa pun yg mau mnjtuhkn mreka pst akan kalh...
yg 1 pnya kuasa,yg 1 otaknya emng jenius....
btw...slmt jd gembel buat mreka yg awlnya songong.....😛😛😛
Noey Aprilia
Hai kk...
aku udh mmpir...slm knal....
btw,aku ngebut bcanya krna pgn cpt komen.....😁😁😁....
brskap songonglh slagi klian bsa,abs tu siap2 mmhon sm orng yg klian hina....🙄🙄🙄
Noey Aprilia: Sama2....smngttt....😘😘😘
total 2 replies
Raisha Mieyka
terbaik kk.. tolong up scptnyaaa episodny
VyyInk: diusahakan kka🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!