Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Alena mengikat tali celemeknya kuat-kuat di pinggang, berusaha membenamkan seluruh pikiran tentang Baskara dan pernikahan kilatnya ke dalam adonan roti yang harus ia buat pagi ini.
Namun, gemerincing bel pintu depan yang berbunyi nyaring memecah fokusnya.
Alena mendongak, dan seketika tubuhnya membeku.
Di ambang pintu, berdiri Billy—mantan kekasih yang dahulu mencampakkannya demi wanita lain—berjalan masuk dengan gaya angkuh.
Tangannya merangkul mesra pinggang seorang wanita muda berpenampilan mencolok di sampingnya.
"Berikan aku roti terbaik di toko ini," ucap Billy dengan nada memerintah, menatap Alena dari balik kacamata hitamnya seolah ingin memamerkan posisinya saat ini.
Tanti yang berada di balik konter dengan sigap namun dingin mengambil beberapa kue pilihan dan menatanya di dalam piring saji.
Namun, belum sempat kue itu berpindah tangan, Billy mendengkus sinis.
"Rotinya sepertinya sudah kedaluwarsa... seperti pemiliknya yang perawan tua," ejek Billy penuh nada hinaan, sama sekali belum tahu bahwa wanita di hadapannya kini sudah menyandang status sebagai istri seorang pria kaya raya.
Bukannya terpancing emosi, Alena justru menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin.
Ia menyandarkan kedua tangannya di atas meja konter, menatap lurus mantan kekasihnya itu tanpa rasa gentar sedikit pun.
"Sepertinya kamu belum move on, sampai-sampai harus datang jauh-jauh ke toko rotiku," balas Alena tenang namun menohok.
Muka Billy memerah mendengar sindiran itu. Ia makin mempererat rangkulannya pada wanita muda di sampingnya.
"Aku belum move on?" Billy tertawa renyah yang terdengar dipaksakan.
"Lihatlah, Alena! Wanita cantik di sampingku ini masih sangat muda. Tidak seperti kamu yang tua dan tidak laku!"
Rasa gemas dan muak yang menumpuk sejak kemarin malam akhirnya meledak.
Tanpa peringatan, tangan Alena menyambar wadah kaleng di dekatnya dan melempar segenggam penuh gula halus tepat ke arah wajah Billy.
Puk!
Bubuk putih itu membumbung di udara, melapisi wajah, kacamata, dan jas rapi Billy dalam sekejap.
Wanita muda di sampingnya menjerit kaget, sementara Billy terbatuk-batuk dengan wajah
bermandikan gula.
"Pergi dari sini!!" bentak Tanti tak kalah emosi, menunjuk tegas ke arah pintu keluar seraya memegang kayu penggilas adonan.
Dengan wajah memerah menahan malu dan penampilan yang berantakan bagai kue donat,
Billy menarik tangan selingkuhannya dan terburu-buru melangkah pergi meninggalkan toko roti Alena diiringi ketakutan akan kemarahan dua wanita di dalam sana.
"Kenapa Nyonya tidak mengatakan kalau sudah menikah?" tanya Tanti penasaran, memandangi pintu toko yang baru saja tertutup keras diiringi kepergian Billy dan wanita selingkuhannya.
Alena mendengkus pelan seraya membersihkan sisa-sisa bubuk gula halus yang mengotori meja konter dengan kain lap basah.
"Buat apa, Tanti?" sahut Alena santai tanpa mengalihkan pandangannya.
"Melayani pria seperti Billy hanya akan membuang-buang waktu dan energiku saja."
Lagipula, membayangkan reaksi Billy jika mengetahui Alena menikahi pria yang jauh lebih muda dan kaya raya rasanya terlalu rumit untuk dijelaskan—terlebih pernikahan itu berawal dari sebuah ancaman gila.
Tanpa mau memikirkannya lebih jauh, Alena melepas kain lapnya dan melangkah menuju area dapur belakang.
Ia kembali memfokuskan pikirannya pada adonan roti yang sudah mengembang sempurna.
Dengan telaten, Alena memotong adonan, memberi pelapis, lalu memasukkan loyang-loyang berisi pizza mini dan berbagai varian roti hangat lainnya ke dalam oven yang sudah panas membara.
Aroma gurih mentega dan keju yang mencair perlahan memenuhi ruangan, membalut kekesalannya dan menggantikannya dengan ketenangan yang biasa ia rasakan di toko roti kesayangannya itu.
Sementara itu di tempat lain suasana di ruang rapat utama gedung pencakar langit milik mendiang Ferry terasa sangat tegang.
Para jajaran direksi senior duduk bersitegang, saling melempar pandang dengan ekspresi tidak suka ke arah ujung meja.
Seorang direksi berkepala plontos berambut perak, Hadi, mengetukkan jarinya di atas meja kaca dengan nada bicara yang menantang.
"Baskara, kami menghormati kepergian ayahmu. Tapi perusahaan ini tidak bisa dipimpin sembarangan. Sesuai wasiat pendiri di akta perusahaan, penerus mutlak harus sudah menikah untuk membuktikan stabilitas emosional dan tanggung jawab keluarga. Dan yang kami tahu... kamu masih lajang," cecar Hadi tajam, mewakili suara ketidakpuasan para pemegang saham lain.
Baskara yang duduk di kursi utama tidak menunjukkan ekspresi gentar sedikit pun.
Ia menyandarkan punggungnya dengan santai, merapikan manset kemeja birunya, lalu melirik ke arah para direksi yang menatapnya penuh tuntutan.
Dengan suara berat dan tenang yang langsung membungkam isi ruangan, Baskara berkata,
"Saya sudah menikah. Tapi pernikahan ini masih dirahasiakan, dan belum saatnya kalian tahu."
Seketika ruang rapat mendadak sunyi senyap. Para direksi saling berpandangan dengan kening berkerut, takjub sekaligus ragu atas pengakuan mendadak sang pewaris muda.
Tak ada satupun yang berani membantah tatapan tajam Baskara yang menghunjam dingin.
Jauh sebelum ketegangan di ruang rapat itu terjadi, sebuah flashback berputar di ingatan Baskara.
Beberapa bulan lalu, di ruang kerja mendiang ayahnya, Ferry pernah memegang sebuah foto seorang wanita paruh baya berwajah teduh—Alena.
“Bas, Ayah ingin kamu mendekati wanita ini dan menikahinya,” ujar Ferry kala itu sambil menyerahkan foto Alena.
Baskara yang saat itu melihatnya langsung mengerutkan kening, menolak mentah-mentah.
“Ayah gila? Usianya sudah empat puluh tahun. Kenapa Ayah ingin menjodohkan aku dengan wanita seusia itu?”
Ferry tersenyum lemah, menepuk pundak putranya dengan penuh kehangatan.
“Kamu tidak tahu, Baskara. Alena adalah wanita yang sangat baik.”
Ferry lantas menceritakan kejadian masa lalu yang tak pernah dilupakan olehnya.
Saat itu, penyakit jantung Ferry kambuh secara mendadak di trotoar depan toko roti milik Alena hingga ia nyaris kehilangan kesadaran.
Di saat orang-orang berlalu lalang karena acuh, Alena lah yang berlari keluar, memberikan pertolongan pertama, dan menunggunya hingga ambulans datang.
Alena mungkin sudah lupa dengan wajah Ferry karena kepanikan saat itu, namun Ferry tidak pernah melupakan kebaikan budi wanita tersebut.
“Ayah ingin bertemu dengannya untuk membalas budi dan menjadikannya pendamping hidupmu, Bas,” lanjut Ferry dengan napas yang mulai tersengat lemah saat itu.
Namun takdir berkata lain. Sebelum pertemuan malam itu terwujud secara resmi, penyakit jantung Ferry kembali merenggut kesadarannya untuk selamanya.
Di detik-detik terakhir sebelum ia mengembuskan napas penghabisan di rumah sakit, Ferry menggenggam erat tangan Baskara, berpesan dengan sisa-sisa tenaganya:
“Nikahi dia, Baskara. Berhati-hatilah dengan musuh-musuh di luar sana yang mengincar perusahaan kita. Jaga Alena seperti kamu menjaga Ayahmu sendiri. Dia wanita baik-baik.”
Bayangan kenangan itu buyar. Baskara kembali menatap para direksi di hadapannya dengan rahang mengeras.
Ia tidak akan membiarkan siapa pun merendahkan istrinya, dan ia akan memastikan wasiat sang ayah terlaksana dengan sempurna—dengan caranya sendiri.
Hadi, direksi berkepala plontos itu, menyunggingkan senyum remeh mendengar jawaban Baskara.
"Ucapan saja tidak cukup, Baskara. Kami baru akan percaya jika Anda mengadakan resepsi pernikahan dan mengundang kami semua."
Baskara menatap lurus ke arah Hadi tanpa ragu sedikit pun.
Tanpa beban, ia menganggukkan kepalanya dengan tegas.
"Saya setuju," jawab Baskara telak.
"Minggu depan, kalian akan aku undang."
Seketika para direksi tertegun. Belum sempat mereka mencerna ucapan sang pewaris muda lebih jauh, Baskara langsung berdiri dari kursinya, merapikan jas biru dongkernya, lalu melangkah keluar ruang rapat kembali menuju ruangannya dengan langkah penuh wibawa.
Sementara itu, di tempat yang jauh dari gedung pencakar langit tersebut, Alena tengah duduk termenung di balik meja konter toko rotinya.
Jemarinya membolak-balikkan sekeping kartu kredit black card mengkilap pemberian sang suami.
"Aku harus pakai gaun apa nanti malam?" gumam Alena cemas, memikirkan perintah Baskara agar ia tampil memukau di acara keluarga malam nanti.
Alena mengedarkan pandangannya dan melihat Tanti yang sedang duduk santai menunggu pembeli di sofa sudut ruangan.
Tanpa buang waktu, Alena beranjak dari kursinya.
"Tanti, ikut aku belanja. Toko kita tutup hari ini," perintah Alena mantap.
Tanti membelalak kaget, bangkit berdiri dengan ekspresi tak percaya.
"Tapi, Nyonya... toko baru buka setengah hari!"
"Sudah, ayo ikut aku," potong Alena tak mau membantah, langsung menarik tangan karyawannya itu keluar toko untuk menuntaskan misi belanja gaun malam atas titah sang suami muda.
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭