Di saat dunia memilih memihak yang kuat, Seline hadir bersama Sistem Balas Dendam untuk menghukum mereka yang lolos dari hukum.
Ia akan merayu pria yang paling dicintai targetnya, meruntuhkan kepercayaan, mematahkan kesetiaan, lalu membiarkan para pelaku menyaksikan kebahagiaan yang mereka bangun di atas penderitaan orang lain runtuh dengan tangan mereka sendiri.
Ia bukan malaikat. Bukan pula iblis.
Ia adalah keadilan yang gagal diberikan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucum_alattas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
“Kakak, apa Kakak sedang marah?” tanya selina hati hati.
Helena yang memiliki wajah dingin sejak masuk mobil sama sekali tak bersuara. Sebaliknya, ia menatap adiknya yang memiliki wajah jauh lebih muda darinya, dan jauh lebih segar darinya dengan tatapan marah bercampur cemburu.
“Kak,” panggil Selina lagi.
Helena yang tak bisa menahan diri langsung menepikan mobilnya. Wajahnya muram, ia menatap adiknya tajam.
“Apa kau menyukai suamiku?” tanya helena dingin.
Selina yang mendengar itu melebarkan mata. Tubuhnya bahkan bergetar. “Kak, apa yang kau tanyakan? Bagaimana bisa aku menyukai suami kakaku sendiri.”
Helena menatap Selina penuh kecurigaan. Semenjak ia mengetahui Maxime menghilang di ruang kerja semalam, dan tidak ada satu pun orang yang mengetahui keberadaanya, ia akan mencurigai semua orang. Terlebih, Selina yang tiba tiba membawa pria ke kamarnya tepat saat Maxime menghilang.
“Kau yakin?”
“Kak, apa Kakak tidak mempercayaiku?” mata Selina memerah. Penampilannya benar benar terlalu menyedihkan.
Helena yang melihat itu memejamkan mata. Kepalanya terasa berat. Ia bahka tak bisa berpikir dengan jernih.
“Maaf, kakak hanya terlalu lelah.”
Selina tak langsung menjawab. Sebaliknya, ia menyeka sudut matanya yang basah.
“Hmmm.”
“Selina, bisakah kau membantu kakakmu.”
Selina yang mendengar itu menolehkan kepala. “Bantuan apa, Kak?”
“Tolong, mulai hari ini pindah lah ke asrama.”
Selina yang mendengar itu tertegun. Sementara Helena yang mengamati reaksi Selina mencengkram erat setir mobil. Perasaannya kembali gelisah.
“Baiklah, setelah pulang kuliah, aku akan mengemasi pakaianku.”
Helena menggelengkan kepala. “Tidak perlu, kakak yang akan mengurus semua pindahanmu. Kau hanya perlu menerimanya dengan beres.”
Selina tersenyum. Ia mengangguk. “Terimakasih, kak. Kakak selalu perhatian padaku. Sebenarnya, aku lebih suka tinggal di asrama. Jika bukan kakak yang memaksaku untuk tinggal di rumah kakak, aku akan pergi sejak awal aku pindah di kota ini.”
Helena yang mendengar itu menghela nafas lega. Kecurigaannya sedikit mereda.
Selina yang melihat itu langsung memeluk kakaknya erat.
“Aku menyanyangi kakak. Kakak boleh mencurigai siapa pun, tapi ... kakak tidak boleh mencurigaiku. Di dunia ini, hanya kakak yang baik padaku, bagaimana bisa aku menyukai milik kakakku sendiri,” bisiknya yang membuat Helena benar benar membuang seluruh kecurigaannya.
“Ya, maaf, kakak terlalu kalut. Kau tahu, kakak sudah lama mengagumi kakak iparmu. Jadi, kakak akan selalu merasakan perasaan paranoid jika ada wanita lain yang tampak menarik perhatiannya. Terlebih, kakak iparmu itu selalu perhatian denganmu. Dan kakak ... sedikit merasa cemburu.”
Selina mendongak. Wajahnya yang lembut itu semakin terlihat lembut saat menatap Helena.
“Yah, itu salahku. Aku seharusnya menjaga jarak dengan kakak iparku. Maafkan aku, Kak. Aku menerima perhatian kakak ipar, karena aku sudah menganggapnya sama seperti kakak.”
Helena tersenyum. Ia mengacak rambut adiknya. “Ya, kakak yang salah di sini.”
Selina tersenyum. Ia kembali menenggelamkan wajahnya di d4da kakaknya itu. Seperti saat ia masih kecil.
Jika saja Helena mengingat saat pertama kali ia menjalin hubungan diam diam dengan suami kedua sahabatnya, maka ia akan merasa jika adegan dalam mobil ini terlalu familiar.
Bedanya, dia lah yang berada di posisi sahabatnya saat ini, dan Selina ... sudah jelas berada di posisinya.
****
Wajah Helena tampak dipenuhi binar. Ia meminta pelayan untuk menyiapkan makan malam romantis.
“Nyonya, anda tampak bahagia hari ini. Apa ada sesuatu?” tanya kepala pelayan ramah.
Helena yang baru saja mendapatkan info dari satpam jika semalam Maxime memang keluar, dan tidak masuk ke dalam kamar Selina masih tersenyum.
Ia bahkan berpikir, mungkin Maxime sengaja mengatakan jika ia tidur di ruang kerja hanya karena ia tidak ingin mengganggunya, atau membuat ia khawatir.
Semakin ia memikirkannya, semakin ia merasa semangat. Ia bahkan yakin, jika malam ini, malam pertama mereka akan berjalan dengan lancar.
“Tidak ada, aku hanya sedang bahagia.”
Kepala pelayan itu tersenyum. Ia mengangguk. Kemudian melakukan semuanya sesuai dengan intruksi Helena.
Sementara Selina yang sudah masuk ke kamar asrama terlihat tenang. Matanya tampak ramah, menatap teman teman barunya, bukan teman teman yang dikenalkan kakaknya untuk membawanya ke bar agar lebih cepat dewasa.
“Wah, aku tidak menyangka, akan ada orang secantik dirimu,” puji teman sekamarnya yang membuat Selina tersenyum malu.
“Kau juga cantik.”
Teriakan bahagia mulai terdengar di kamar itu. Selina yang berpikir jika tinggal di asrama bukan hal yang buruk juga mulai menikmati kehidupannya saat ini.
Berbda dengan sistem yang merasa cemas. [“Tuan, kenapa anda tidak memberitahu Maxime. Jika dia tahu anda sengaja dikirim ke asrama oleh istrinya, hubungan mereka akan semakin kacau. Kenapa anda tidak memanfaatkan momen ini?”]
Selina yang mendengar itu memutar matanya malas. Menurutnya, sistem yang menempel padanya benar benar bodoh.
Bukankah dia sistem balas dendam? Tapi kenapa, dia tidak memiliki taktik luar biasa untuk merencanakan balas dendam pada targetnya.
“Apa kau bodoh? Aku wanita polos, bagaimana bisa aku mengadu padanya?”
[“Tuan?”]
“Jika aku mengadu padanya, Maxime hanya akan marah pada helena. Tapi, jika aku hanya diam, dan membiarkan dia mengetahui semuanya dari Helena, dia tidak hanya akan marah pada Helena, tapi juga akan semakin merasa bersalah padanya. Selain itu, tinggal di asrama itu hal yang baik.”
Sistem yang mendengar itu terdiam. Ia akui, cara berpikir atasannya ini benar benar luar biasa.
“Jika aku tidak tinggal di mansion itu lagi, apa kau pikir dia akan tetap tinggal di sana?”
Mata sistem berbinar suara tepukan disertai tawa penuh kekaguman memenuhi indra pendengaran Selina.
[“Tuan, anda benar benar luar biasa.”]
“Biarkan Helena merasakan, bagaimana rasanya seorang istri rasa janda. Bukankah ia paling suka membiakan istri istri pria incarannya sendirian di rumah dan menunggu suaminya kembali tanpa tahu jika suaminya sedang memadu kasih dengannya? Maka kali ini, dia yang akan mencicipi sendiri trik yang ia gunakan untuk menghancurkan wanita wanita malang itu.”
Seringai licik tak bisa Selina tahan. Sistem yang melihat itu bahkan sedikit merinding.
Ia tak menyangka, Selina yang awalnya tampak marah saat tahu jika misinya mengharuskan ia menjadi simpanan, benar benar memiliki cara cara licik para simpanan murahan di luar sana.
“Kau harus ingat, misiku adalah, membiarkan Helena merasakan setiap perbuatan keji yang ia lakukan pada korbannya. Tidak kurang satu pun, kalau bisa, lebih.”
***
“Max,” sapa Helena dengan hangat saat melihat Maxime muncul.
Maxime yang melihat lilin lilin di meja makan itu mengerutkan kening. Matanya tanpa sadar menatap sekeliling, mencari keberadaan Selina.
Helena yang melihat kemana arah pandang Maxime itu tanpa sadar mengepalkan tangan. Senyum di wajahnya bahkan sedikit menyurut.
“Max, ayo kita ke kamar, aku akan membantumu mandi,” ajak Helena yang memilih bermain aktif saat ini. Ia benar benar tidak bisa terus terusan bersikap pasif.
Tangannya bahkan dengan lembut mengelus d4da bidang pria itu, sengaja menyentuh titik titik yang ia ketahui paling krusial bagi pria.