NovelToon NovelToon
Sistem Misi Polisi

Sistem Misi Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Time Travel
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sistem One

Nathan, seorang polisi yang gagal menjalankan tugasnya, menemui akhir yang tragis. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke masa ketika ia baru memulai karier sebagai polisi.

Kali ini, Nathan bertekad mengubah nasibnya. Dengan bantuan sebuah sistem misterius yang memberinya hadiah setiap kali berhasil menangkap penjahat, ia akan memburu para kriminal satu per satu dan memperbaiki semua penyesalan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela rumah. .

​Nathan terbangun tepat pukul enam pagi. Berkat kedisiplinan dan jam biologis sebagai anggota kepolisian, ia tak pernah bisa tidur terlalu siang.

Setelah mandi dan mengenakan kaos santai, Nathan melangkah ke dapur untuk menyeduh cangkir kopi pertamanya hari itu.

​Saat melintasi ruang tengah, ia melihat Lisa masih terlelap di sofa dengan posisi meringkuk manis di balik selimut yang ia pasangkan semalam.

Rambut sebahunya yang agak berantakan menutupi sebagian pipinya.

​Nathan menggeleng pelan, lalu lanjut menyalakan kompor dapur.

Ia membuat sarapan sederhana berupa roti panggang telur dan dua cangkir minuman hangat.

​Aroma roti panggang yang gurih perlahan memenuhi ruangan. Tak lama kemudian, terdengar suara gesekan kain dari arah sofa.

​Lisa mendudukkan tubuhnya sambil mengucek mata. Ia meraba-raba meja kopi untuk mengambil kacamatanya, memposisikannya di atas hidung, lalu mengerjapkan mata beberapa kali hingga pandangannya jelas.

​Matanya berbinar begitu melihat tumpukan roti panggang di atas meja dapur.

​"Pagi, Nathan," panggil Lisa. Suaranya masih agak serak, namun artikulasinya sudah jauh lebih jelas dari kemarin. Salep pereda nyeri dari dokter rupanya bekerja dengan sangat baik.

​Nathan menoleh sembari meletakkan piring di meja makan. "Pagi. Bagaimana mulutmu? Masih sakit?"

​Lisa berdiri, melangkah mendekat lalu menyentuh bibir bawahnya. "Sudah jauh lebih baik. Tapi rasa terbakar kemarin sebenarnya cukup menyenangkan..."

​Nathan langsung menatapnya malas. "Jangan mulai lagi."

​Lisa terkekeh renyah. Ia duduk di kursi makan, meraih sepotong roti panggang lalu menggigitnya pelan.

​"Ngomong-ngomong... terima kasih untuk selimutnya semalam, Kakek Nathan," cetus Lisa santai sebelum mengunyah rotinya.

​Nathan yang sedang menyesap kopinya hampir saja tersedak. Ia menatap Lisa heran. "Bagaimana kamu bisa tahu? Kamu kan tidur nyenyak seperti bangkai."

​Lisa mengukir senyum misterius. "Aku ini hacker, Nathan. Sensor gerak halus di lantai dan perubahan suhu tubuhku selalu aku sadari, bahkan saat tidur. Lagipula... bau minyak kayu putih dan kopi di selimut itu jelas milikmu."

​Nathan menghela napas panjang, meraup wajahnya. "Terserah kamu saja. Habiskan sarapanmu. Aku harus ke kantor polisi sebentar untuk memeriksa berkas."

​Beberapa jam kemudian, di Markas Kepolisian Distrik 1.

​Suasana ruangan penyidik cukup riuh pagi itu. Begitu Nathan melangkah masuk dengan seragam dinasnya yang rapi, beberapa anggota polisi yang bertugas semalam langsung memberikan tepuk tangan kecil dan anggukan penuh hormat.

​Reno yang sedang duduk di mejanya sembari mengunyah biskuit langsung melambaikan tangan heboh.

​"Ini dia bintang utama kita!" seru Reno keras. "Yo, Nat! Berita tentang kasus perampokan palsu semalam sudah menyebar ke seluruh distrik. Pak Martin senang setengah mati karena media tidak sempat menggoreng isu kegagalan polisi!"

​Niko yang sedang mengetik laporan di sebelah meja Reno ikut menoleh dan tersenyum bangga. "Hebat kamu, Nat. Hanya butuh waktu tak sampai dua jam dari olah TKP sampai si Bram ngaku dan nangis-nangis di depan ambulans."

​Nathan tersenyum tipis, menghampiri meja kedua rekannya itu. "Itu karena kerja sama tim juga. Tanpa tim forensik dan penelusuran CCTV cepat dari Reno, buktinya tidak akan terkunci semenit itu."

​"Ah, jangan rendah hati begitu," goda Reno sambil menepuk-nepuk bahu Nathan.

​"Nathan, dipanggil Pak Martin ke ruangannya sekarang," seru seorang petugas dari balik pintu kantor utama.

​Nathan mengangguk mengerti. Ia merapikan seragamnya sejenak, lalu berjalan menuju ruangan Komisaris Martin dan mengetuk pintunya.

​"Masuk," suara bass Martin terdengar dari dalam.

​Nathan memutar gagang pintu dan melangkah masuk. Martin sedang duduk di balik meja kerjanya yang penuh dengan dokumen. Di sudut ruangan, asap rokok menguar tipis.

​"Laporan yang sangat bagus, Nathan," buka Martin tanpa berbelit-belit. Ia menyodorkan map berkas kasus semalam yang sudah ia tandatangani. "Pengakuan tersangka Bram sudah mengunci semuanya. Motifnya murni mementingkan diri sendiri, klaim asuransi dan konflik rumah tangga. Kamu menangani kasus ini dengan sangat bersih."

​"Terima kasih, Pak. Ini sudah menjadi kewajiban saya," balas Nathan tegas.

​Martin bersandar di kursi kulitnya, menatap Nathan dengan pandangan dalam. "Namun... ada hal lain yang ingin kubicarakan denganmu."

​Nathan menyipitkan mata. "Soal apa, Pak?"

​Martin menarik napas panjang, menghembuskan asap rokoknya pelan. "Laporan dari Distrik 2. Sejak kepulangan kalian beberapa waktu lalu, kasus pembunuhan berantai anak remaja di sana resmi ditutup oleh Polsek setempat."

​"Ditutup?" alis Nathan terangkat.

​"Ya. Mereka menyatakan pelakunya tewas dalam kebakaran di rumah persembunyiannya sendiri akibat kecelakaan ledakan bahan kimia," jelas Martin datar. "Namun... kamu dan aku tahu betul ada yang tidak beres dengan laporan resmi itu, kan?"

​Nathan terdiam. Dalam pikirannya, bayangan Devan yang berdiri di tengah kobaran api dengan pisau berdarah kembali terlintas.

Devan telah menyusun narasi penutupan kasus tersebut dengan sangat sempurna di Distrik 2 untuk menutupi aksi main hakim sendirinya.

​"Devan..." gumam Nathan pelan.

​Martin menatap Nathan lekat-lekat. "Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian berdua di sana, Nathan. Tapi firasat-ku mengatakan bahwa polisi muda bernama Devan itu adalah bom waktu yang berbahaya. Tetap waspada. Jika suatu hari dia melangkah melewati batas... aku ingin kamu menjadi orang pertama yang menghentikannya."

​Nathan berdiri tegap, memasang raut wajah serius. "Dimengerti, Pak. Saya tidak akan membiarkan siapa pun merusak keadilan di distrik ini."

​Martin tersenyum puas, melambaikan tangannya. "Bagus. Sekarang kembalilah ke meja kerjamu."

​Sore harinya, Nathan berjalan kembali menuju rumahnya.

​Saat melangkah mendekati pekarangan rumah, Nathan tertegun.

​Di teras depan rumah yang baru saja dicat bersih, Lisa tampak sedang duduk santai di atas kursi kayu.

Wanita itu mengenakan sweater tebal berwarna krem, memangku sebuah laptop canggih yang terhubung dengan beberapa kabel kecil ke kotak penerima sinyal.

​Mendengar langkah kaki Nathan, Lisa mendongak. Ia mendorong posisi kacamatanya ke atas hidung lalu tersenyum lebar.

​"Selamat datang rumah, Pak Polisi," sapa Lisa ramah.

​Nathan mendekati teras, menatap laptop Lisa dengan curiga. "Apa yang sedang kamu lakukan di situ?"

​Lisa memutar layar laptopnya memperlihatkan sebuah peta digital Distrik 1 yang dipenuhi oleh titik-titik hijau kecil yang berkedip.

​"Aku merasa bosan seharian di rumah," ujar Lisa santai. "Jadi aku berinisiatif menghubungkan seluruh jaringan CCTV kota Distrik 1 dan sinyal radio kepolisianmu ke dalam satu server terenkripsi milikku. Mulai sekarang, jika ada kejahatan atau hal mencurigakan sekecil apa pun di distrik ini... aku bisa memberitahumu lima menit lebih cepat sebelum panggilan darurat kepolisian masuk."

​Nathan membelalak kaget. "Kamu... membobol jaringan server keamanan kota?!"

​Lisa mengedipkan sebelah matanya jahil. "Bukan membobol, Nathan. Hanya 'meminjam akses'. Anggap saja ini bentuk pembayaran uang sewaku karena sudah menumpang di rumahmu."

​Nathan mengusap tengkuknya yang mendadak terasa pegal.

​Nathan menggelengkan kepala sembari mengukir senyum tipis. "Dasar wanita gila... Buatkan aku kopi lagi, Lisa."

​Lisa terkekeh girang, menutup laptopnya dengan sigap. "Siap, Kakek Nathan!"

1
Kaisar surgawi
sorry ini gw skip , karna apa ? sistemnya cuman memberikan uang, tidak kemampuan
Maul: gapapa kak. terima kasih sudah baca /Pray/
total 1 replies
Dragonovic
up👍👍👍
Dragonovic
up👍
Jonatan Revan
novel yang sangat baguss
Maul: terima kasih banyak atas ulasannya. yuhuh🍜/Determined/
total 1 replies
Jonatan Revan
saran yah thor bab nya bisa di kasih panjang lagi gak terlalu pendek
Maul: di usahakan ya hehe/Smile/
total 1 replies
Maul
🍝
Maul
🍜
Maul
/Coffee//Rice/
Maul
/Coffee/
Maul
🍜/Coffee/
Maul
🍝🥘
Maul
🍔🍹
Maul
/Rice/🍜
Maul
/Coffee//Watermalon/
Maul
/Cake/
Maul
/Rice/
Maul
/Coffee/
Maul
𝙃𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙛𝙞𝙠𝙨𝙞 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙠𝙖. 𝙨𝙚𝙢𝙤𝙜𝙖 𝙨𝙪𝙠𝙖
Maul
...
Maul
𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙘𝙖 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!