Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK
BOOOOM!!!
Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.
"Turun!" teriak Bayu.
Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.
*TAT... TAT... TAT...*
Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.
Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.
Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 : SENJATA RAMPASAN
Sinar matahari mulai menembus celah dedaunan, menciptakan bintik terang yang bergerak pelan di atas permukaan batu datar di tengah gua. Udara di sini sejuk dan lembap, jauh dari jangkauan pandangan siapa pun yang melintas di atas bukit.
Di atas batu tergeletak apa saja yang berhasil mereka rampas tadi pagi: dua senapan panjang berwarna gelap, sebilah belati, peta lipat, dan segenggam peluru yang berkilau samar terkena cahaya. Semua mata tertuju pada benda-benda itu, ada rasa takut, penasaran, dan sedikit bangga yang menyatu dalam hati setiap orang yang hadir.
"Sudah diletakkan semuanya?" tanya Bayu pelan, sambil berjongkok di sisi batu.
"Semuanya ada di sini, tak ada yang tertinggal atau terlempar," jawab Sukria sambil membetulkan letak senapan yang sedikit miring.
"Hati-hati saat menyentuhnya, pelurunya masih aktif."
Karta mendekat perlahan, tangannya terulur lalu ditarik kembali seolah ragu menyentuh benda yang selama ini hanya dilihat dari kejauhan saat menunduk hormat pada pasukan asing.
"Rasanya aneh sekali... dulu melihatnya tergantung di bahu mereka saja lutut rasanya lemas. Sekarang malah ada di hadapan kita, milik kita."
"Benda ini sendiri tak berbahaya. Yang membuatnya mengerikan adalah orang yang memegangnya dengan niat jahat," kata Pak Somad sambil membasuh kedua tangannya dengan air bersih dari tempurung kelapa sebelum mendekat.
"Mari kita pelajari perlahan. Jangan sampai salah pegang, mencelakakan kita sendiri."
Ia mengambil salah satu senapan dengan hati-hati, diletakkan mendatar di atas batu. Jari-jarinya yang kasar dan penuh kapalan bekas menempa besi menyusuri setiap lekukan, baut, dan pegas yang terlihat di bagian samping.
"Ini Mannlicher M1895, senapan standar mereka. Panjang, berat, tapi jarak tembaknya jauh dan cukup teliti kalau larasnya bersih," jelas Sukria yang ternyata pernah melihatnya lebih dekat saat dipaksa memperbaiki pagar di tangsi dua tahun silam.
"Bagian ini adalah pengaturnya, ini tempat memasukkan peluru, dan ini picu yang ditekan."
Bayu memperhatikan saksama. "Kalau salah tekan atau salah gerakkan, apakah bisa melepaskan tembakan sembarangan?"
"Bisa sekali, Yu. Makanya aturan utamanya: selama tak siap menembak, senapan selalu diarahkan ke tanah kosong, jari jangan pernah diletakkan di atas picu," tegas Sukria sambil memperagakan caranya. "Lihat begini, genggam erat pada bagian gagang dan penyangga depan. Jangan terlalu kaku, tapi jangan sampai terlepas saat di tembakan."
Karta memberanikan diri mengambil senapan yang satu lagi. Ia mencoba mengangkatnya, beratnya tak seberapa jauh dari cangkul besar yang biasa ia bawa ke ladang, tapi keseimbangannya berbeda sama sekali.
"Tapi ini tak ada bagian yang tajam, tak ada ujung yang menancap. Bagaimana caranya tahu kalau sudah siap dipakai?"
"Begini caranya," Pak Somad memutar sedikit bagian samping laras, lalu menariknya pelan ke belakang. Terdengar bunyi 'klik' halus. "Kalau sudah terdengar bunyi begini, artinya peluru sudah masuk ke ruang picu dan siap melesat kapan saja. Maka dari itu harus berhati-hati."
Embek Gombloh mendekat sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Kalau rusak, bisakah diperbaiki seperti membetulkan gagang cangkul yang copot?"
"Bisa, tapi butuh ketelitian lebih. Baut-bautnya kecil, besinya keras dan tipis. Kalau salah dipukul palu, malah bengkak dan tak bisa dipakai lagi," jawab Pak Somad sambil menunjuk bagian yang sudah sedikit berkarat.
"Ini yang paling dulu harus dibersihkan. Debu, sisa minyak lama, dan karat perlahan akan membuatnya macet total."
Dul Kalong mengambil sehelai kain kering kasar. "Kalau begitu mari kita kerjakan sama-sama. Bagian luar saya dan Karta yang menggosok, Pak Somad yang memeriksa bagian dalam, Sukria yang mengajari cara menyimpan pelurunya."
"Setuju," kata Bayu. Ia masih memperhatikan selembar demi selembar lipatan peta, matanya menyusuri garis-garis yang melengkung dan titik-titik kecil yang ditandai tinta merah.
"Lihat ini, jalur sumber air kita juga ditandai jelas. Artinya mereka sudah merencanakan ini jauh sebelum kampung kita diratakan."
"Memang begitu kebiasaan mereka. Datang seolah ramah, mencatat segala hal, lalu datang lagi membawa api dan besi," ucap Pak Somad sambil mulai menggosok karat halus di ujung laras.
"Tapi sekarang catatan itu ada di tangan kita. Kita yang tahu apa yang mereka rencanakan, sedangkan mereka tak tahu apa yang ada di pikiran kita."
Suara gesekan kain dan sikat halus terdengar berirama di dalam gua. Sesekali ada pertanyaan sederhana yang terlontar, lalu dijawab pelan oleh yang lebih paham. Tak ada yang merasa malu bertanya, tak ada yang merasa lebih hebat dari yang lain. Semua sadar bahwa kemampuan memegang senjata ini adalah nyawa mereka di masa depan.
"Jumlah pelurunya sedikit sekali, Yu," kata Sukria tiba-tiba sambil menghitungnya kembali di telapak tangannya.
"Hanya sembilan butir saja dari dua senapan ini. Kalau terbuang sia-sia, tak ada tempat untuk kita membelinya."
"Benar sekali. Maka peluru ini tak boleh dipakai untuk latihan sasaran sembarangan," putuskan Bayu segera. "Kita pakai sasaran dari bambu, kayu, dan batu. Peluru ini hanya boleh keluar kalau benar-benar terdesak dan nyawa kawan atau warga terancam."
Karta berhenti menggosok sejenak, menatap ujung senapan yang kini mulai berkilau bersih.
"Dulu saya pikir yang terpenting seberapa tajam mata parang yang kita punya. Ternyata belajar hal baru ini jauh lebih berat di hati."
"Karena parang kita pakai untuk membelah kayu, memanen padi, memberi makan keluarga. Senjata ini tugasnya lain. Tugasnya melindungi agar semua hal baik itu bisa terus kita lakukan," ucap Pak Somad lembut namun tegas.
"Jangan takut memegangnya, tapi jangan pernah menyayanginya melebihi rasa sayang kita pada damai."
Matahari makin meninggi, udara mulai terasa hangat menyusup masuk dari mulut gua. Perlahan kedua senapan itu sudah kembali mulus, bersih, dan siap digunakan kapan saja. Sukria memperagakan sekali lagi dari awal sampai akhir: cara memegang, memeriksa keamanan, mengisi peluru, mengarahkan, hingga menyimpannya kembali dengan benar. Semua menyimak saksama, mengulang gerakan dengan tangan kosong agar hafal betul.
"Terakhir," kata Bayu saat semuanya selesai, "di mana sebaiknya benda ini disimpan? Kalau jatuh ke tangan yang salah, bahayanya tak terkira."
"Di bagian paling dalam gua, di balik dinding batu yang sudah tertutup akar pohon besar," usul Mbah Kartareja yang sedari tadi diam memperhatikan dari sudut teduh.
"Tak ada yang tahu jalan masuknya selain kita bertujuh. Setiap kali dipakai, harus diketahui dan disaksikan oleh minimal dua orang pemimpin."
Semua mengangguk setuju. Tak ada yang membantah.
Bayu mengangkat salah satu senapan itu perlahan, mengarahkannya ke tanah kosong jauh dari mereka. Ia merasakan beban yang sesungguhnya bukan pada besi yang digenggamnya, melainkan pada tanggung jawab yang menyertai benda itu.
"Hari ini kita belajar satu hal besar: musuh tak selamanya lebih kuat hanya karena punya benda asing," ucapnya lantang.
"Kita hanya belum tahu cara menggunakannya. Sekarang setelah tahu, kita harus menjadi tuannya, bukan menjadi ketakutan melihatnya."
Satu per satu mereka menyentuh senapan itu sekilas, seolah berjanji akan menjaganya sebaik menjaga diri sendiri. Lalu disimpanlah benda itu ke tempat persembunyian yang paling rahasia, menanti hari saat kehadirannya benar-benar diperlukan demi mempertahankan sisa kehidupan yang masih tersisa di tanah Rancagaok.