Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.28
"Aku benar-benar menepati janjiku, Rani." bisik Adrian pelan. Wajahnya dipenuhi haru, sementara tatapannya tidak pernah lepas dari wajah wanita di hadapannya.
Rani terdiam.
Jari-jarinya masih menggenggam tangan Adrian erat. Air mata mengalir perlahan di pipinya ketika kalimat itu membangkitkan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar kenangan tentang seorang anak laki-laki yang pernah ia temui.
"Janji apa?" tanya Rani lirih. Wajahnya menunjukkan kebingungan, meskipun hatinya mulai berdebar seolah mengenali sesuatu yang telah lama terkubur.
Adrian tersenyum tipis. Ia memejamkan mata sejenak. Luka di tubuhnya masih terasa nyeri, tetapi rasa sakit itu seolah menghilang ketika kenangan masa kecilnya kembali memenuhi pikirannya.
"Aku pernah berjanji padamu." jawab Adrian lembut. Wajahnya dipenuhi kerinduan. "Waktu kita masih kecil."
Rani menatapnya tanpa berkedip.
"Janji?" ulang Rani pelan. Wajahnya menunjukkan rasa penasaran yang bercampur haru.
Adrian mengangguk.
"Kalau suatu hari nanti kita sudah besar..." ucap Adrian perlahan. Wajahnya mulai dihiasi senyum kecil. "Aku akan menjadi orang yang menjagamu."
Rani terdiam. Potongan kenangan itu tiba-tiba terasa semakin jelas.
Bertahun-tahun yang lalu. Di sebuah halaman sekolah yang sederhana, seorang anak laki-laki duduk sendirian di bawah pohon besar.
Seragamnya sudah terlihat lusuh. Celana pendeknya sedikit kotor, sementara sepatu yang dikenakannya sudah mulai menganga pada bagian depan.
Anak-anak lain baru saja pergi setelah mengejeknya.
"Kau miskin, Adrian!" teriak salah seorang anak sambil tertawa. Wajah anak itu dipenuhi ejekan.
"Kau tidak pantas bermain dengan kami!" sahut anak lainnya. Wajahnya menunjukkan penghinaan.
Adrian kecil hanya menunduk. Tangannya mengepal di atas lutut. Ia berusaha menahan air mata yang sudah memenuhi pelupuk matanya.
Ia tidak ingin menangis. Namun, suara langkah kaki kecil terdengar mendekat.
Rani kecil berdiri di hadapannya. Ia masih mengenakan seragam sekolah dengan rambut dikuncir dua. Senyum cerah menghiasi wajahnya.
"Jangan dengarkan mereka." kata Rani kecil dengan suara polos. Wajahnya menunjukkan keberanian meskipun tubuh mungilnya terlihat begitu kecil dibandingkan anak-anak yang baru saja pergi.
Adrian kecil mengangkat kepalanya.
"Mereka benar." jawab Adrian kecil lirih. Wajahnya dipenuhi kesedihan. "Aku memang tidak punya apa-apa."
Rani kecil menggeleng kuat.
"Memangnya kalau tidak punya banyak uang berarti tidak boleh punya teman?" tanyanya polos. Wajahnya terlihat bingung.
Adrian kecil tidak menjawab.
Rani kemudian duduk di sampingnya.
"Mulai sekarang, aku akan jadi temanmu." ucap Rani kecil sambil tersenyum lebar. Wajahnya dipenuhi ketulusan.
Adrian kecil menatap Rani cukup lama.
"Benarkah?" tanyanya ragu. Wajahnya dipenuhi harapan yang selama ini tidak pernah ia rasakan.
Rani mengangguk cepat.
"Benar." jawab Rani kecil ceria. Wajahnya menunjukkan keyakinan penuh.
Sejak hari itu, mereka hampir selalu bersama.
Rani sering membagi bekalnya.
Ketika Adrian tidak membawa uang untuk membeli makanan, Rani akan diam-diam memberikan separuh makanannya.
Ketika anak-anak lain mengejek Adrian, Rani akan berdiri di depannya. Dan ketika Adrian merasa dirinya tidak berharga, Rani selalu mengingatkannya bahwa seseorang tidak dinilai dari pakaian atau jumlah uang yang dimilikinya.
Hingga suatu sore, mereka duduk berdua di bawah pohon yang sama.
Langit mulai berubah jingga. Rani kecil memainkan ujung rambutnya sambil menatap Adrian.
"Kalau nanti kita sudah besar, kita masih berteman, kan?" tanya Rani kecil. Wajahnya terlihat serius.
Adrian kecil langsung mengangguk.
"Tentu." jawabnya mantap. Wajahnya menunjukkan kesungguhan.
Rani tersenyum.
"Tapi kalau nanti kamu punya banyak teman, jangan lupakan aku." katanya sambil menunjuk Adrian. Wajahnya terlihat sedikit cemberut.
Adrian kecil tertawa kecil.
"Aku tidak akan melupakanmu." jawabnya yakin. Wajahnya dipenuhi ketulusan.
Rani kemudian terdiam sejenak.
"Kalau nanti aku punya masalah bagaimana?" tanyanya polos. Wajahnya tampak penasaran.
Adrian kecil berpikir sebentar. Kemudian ia mengepalkan tangannya kecil-kecil, seolah sedang membuat sumpah besar.
"Kalau begitu, aku akan menjagamu." jawab Adrian kecil dengan penuh keyakinan. Wajahnya terlihat sangat serius.
Rani kecil langsung tertawa.
"Memangnya kamu bisa?" ejeknya sambil tertawa. Wajahnya dipenuhi keceriaan.
Adrian kecil mengangguk kuat.
"Bisa!" jawabnya lantang. Wajahnya menunjukkan kepercayaan diri yang polos.
Rani semakin tertawa.
"Kalau ada monster bagaimana?" tanyanya lagi. Wajahnya dipenuhi rasa ingin tahu.
"Aku lawan." jawab Adrian tanpa ragu. Wajahnya terlihat serius.
"Kalau ada orang jahat?" tanyanya lagi
"Aku juga lawan." jawab Adrian kecil antusisas
"Kalau orang jahatnya banyak?" tanya Rani kecil lagi
Adrian kecil terdiam sebentar. Namun, ia kemudian mengepalkan kedua tangannya.
"Aku tetap akan menjagamu." jawabnya tegas. Wajahnya menunjukkan keberanian meskipun tubuhnya masih kecil.
Rani tertawa semakin keras.
"Kamu lucu sekali." katanya sambil terkikik. Wajahnya dipenuhi kebahagiaan.
Adrian kecil mengerucutkan bibirnya.
"Aku serius!" protesnya. Wajahnya terlihat kesal karena tidak dipercaya.
Rani menghentikan tawanya. Ia kemudian mengulurkan jari kelingkingnya.
"Kalau begitu, janji." katanya sambil tersenyum. Wajahnya dipenuhi keceriaan.
Adrian menatap jari kecil itu. Ia kemudian mengaitkan kelingkingnya dengan milik Rani.
"Janji." jawab Adrian kecil mantap. Wajahnya dipenuhi kesungguhan.
"Kalau sudah besar, kamu harus tetap menjagaku." kata Rani kecil sekali lagi. Wajahnya terlihat puas.
Adrian mengangguk.
"Aku akan menjagamu dari bahaya apa pun." jawabnya tegas. Wajahnya menunjukkan keyakinan yang begitu kuat.
Rani kecil tertawa.
Saat itu, ia menganggap semua perkataan Adrian hanya candaan anak-anak.
Ia tidak pernah menyangka bahwa anak laki-laki yang berdiri di sampingnya benar-benar menyimpan janji tersebut di dalam hatinya selama bertahun-tahun.